Cuek Itu Normal

Cuek Itu Normal
Taktik menarik hati


__ADS_3

Sudah seminggu ini Sadam mengajari Zahira, tidak banyak keaulitan karena Zahira belajar dengan cepat. Dia bahkan sudah mampu melakukan pembobolan akun yang memiliki kualitas pengamanan menengah kebawah.


"Ini sudah pukul 6 lewat, dia pasti sudah menunggumu di bawah," kata Sadam. Mereka duduk dalam satu ruangan penuh komputer dan seperangkatnya.


"Dia tidak menyerah meski kamu memperlakukannya sesukamu?" tanya Sadam. Zahira menghela nafas dan melirik Sadam sekilas.


"Aku tahu dia menahannya. Sikapnya tetap sama seminggu ini. Seolah tidak terganggu dan masih datar," jawab Zahira.


"Juga ... wanita yang dijodohkan dengnnya, selalu datang seriap hari. Aku tidak tahu apa rencananya, tapi dia kelihatan tidak terganggu. Mereka berbicara layaknya teman," lanjutnya.


"Kamu cemburu?" Pertanyaan yang mendapatkan delikan tajam. Sadam tertawa pelan sebelum bangkit, membuka pintu ke ruang utama dan mengambil air putih. Zahira mengikutinya.


"Kalau kamu terganggu katakan padanya, aku yakin dia akan langsung mengusir wanita itu," usul Sadam.


"Kenapa aku harus melakukannya?" jawabnya dengan ketus. Sadam berjalan ke arahnya dan berhenti tepat di hadapannya, menyentil pelan keningnya dengan gemas.


"Jangan menyesal jika dia nanti berpaling."


"Tidak akan, malah ba__" Perkataan Zahira terpotong karena suara bel. Keduanya menoleh ke arah pintu. Sadam mengklik layar di komputer dan menunjukkan siapa orang yang ada di depan pintunya.


"Kamu dalam masalah, sudah aku katakan tadi dia pasti sudah menunggu," kata Sadam dengan senyum geli. Sadam membuka otomatis pintu dari komputernya. Begitu pintu terbuka, Kenzo langsung menatap kedunya bergantian.


"Kalian sudah selesai?" tanyanya dengan nada dingin. Zahira bahkan bisa merasakan bulu kuduknya sedikit merinding.


"Tentu," jawab Sadam singkat.


Zahira mengambil tasnya ke dalam ruangan tadi, meninghalkan sesaat dua sahabat yang masih perang dingin itu. Sesungguhnya hanya Kenzo yang melakukan permusuhan, Sadam hanya diam dan bersikap seperti biasa.


"Aku pulang dulu, sampai jumpa," kata Zahira dari arah belakangnya, melewati Kenzo begitu saja.


Kenzo tidak mengatakan apapun, dia hanya melayangkan tatapan tajam seperti biasa. Sadam tidak ambil pusing, dia tahu sahabatnya itu hanya sedang menahan diri.


"Apa rencanamu saat ini?" gumam Sadam saat keduanya tidak ada lagi.


.


Kenzo mengikuti Zahira yang langsung berjalan ke dapur dan menuang minuman pada air putih. Duduk di salah satu bangku untuk minum.


"Mulai besok kamu bisa belajar dengan ahli IT pilihanku. Aku akan menyiapkan salah satu ruangan," kata Kenzo.


Zahira meletakkan gelasnya dan bangkit, berdiri tepat di depan Kenzo. Menatap pria itu dengan menantang tampa rasa takut sedikitpun.


"Aku pikir kamu tidak akan memgaturku lagi, jadi hanya bertahan seminggu?"


"Kamu tahu aku membencinya sekarang," Zahira menyunggingkan senyum sinis mendengar jawaban Kenzo.

__ADS_1


"Apa persahabatan kalian bertahun-tahun tidak bearti sama sekali bagimu? hanya karena satu ketidak jujuran yang bahkan tujuannya adalah melindungi perasaanmu ... kamu memusuhinya seolah dia sudah melakukan penghianatan besar,"


"Kenapa kamu selalu berpihak padanya?" geram Kenzo, dia sudah mengepal tangannya.


"Berhenti kekanakan, lagi pula Sadam temanku sekarang, kenapa kamu selalu memojokkannya?" sahut Zahira mulai tersulut, suaranya mulai meninggi.


"Apa kamu menyukainya?" tanya Kenzo, Zahira mengernyit mendengar pertanyaan itu.


"Dia temanku sekarang tentu sa__"


"Sebagai pria?" potong Kenzo dengan raut wajah yang sulit di baca.


Zahira tidak menjawab, bukan karena tidak tahu jawabannya tapi karena Kenzo selalu menuduhnya. Dia lelah dan muak, tidak ingin menjelaskannya lagi. Maka ia memutuskan melangkah pergi. Namun baru saja beberapa langkah ia mendengar suara benturan kursi dan meja yang cukup keras. Saat ia berbalik, dia berlari menahan tubuh Kenzo yang jatuh begitu saja menghantam kursi dan hampir merosot ke lantai kalau saja Zahira tidak memahannya.


Karena suara yang cukup keras itu dua bodyguard berlari ke arah mereka dan menolong Zahira membopong Kenzo ke kamar.


Zahira dengan cepat menelepon Jimi dan menyuruhnya menghubungi dokter pribadi keluarga Kenzo. Dalam waktu 20 menit dokter datang dan memeriksanya. Jimi juga ikut karena dia yang mengantarkan dokter yang sudah tua itu.


"Dia hanya kelelahan dan stres. Agak demam tapi dia baik-baik saja. Jika demamnya tidak turun tolong bawa ke rumah sakit," ucap dokter itu dan memberikan resep pada Jimi.


"Apa dia sering menunda makan?" tanya dokter.


"Tuan ... sudah seminggu ini tidak nafsu makan. Tidak makan siang dan sore juga hanya habis sedikit sekali. Dia juga terlalu banyak minum kopi ... dia juga terus-terusan bekerja. Bahkan saat sudah di rumah ... dia akan menelfon saya beberapa kali meminta data, itu artinya Tuan juga kurang istirahat," jawab Jimi.


Zahira yang selama ini sibuk dengan kemarahannya sendiri sangat tidak memperhatikan hal-hal kecil seperti itu. Dia tidak tahu kalau Kenzo tidak sarapan karena ia sarapan terlebih dahulu dan langsung menunggu di mobil ketika selesai. Di kantor juga Zahira sering bersama Jimi di luar karena sibuk belajar. Zahira bahkan makan di meja kerja Jimi. Apa lagi saat Susan datang, Zahira akan cuek sekali bahkan tidak melirik sama sekali saat Kenzo lewat menuju ruang rapat. Dia akan menyusul jika Kenzo sudah sampai duluan.


Zahira melangkah keluar menuju kamarnya dengan perasaan campur aduk. Masuk kedalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri. ketika selesai, dia mematung di depan cermin menatap pantulan dirinya sendiri.


"Kenapa perasaanku jadi sakit begini?" gumamnya.


Zahira bangkit dan keluar dari kamarnya turun ke bawah. Saat ia melihat pelayan membawa makanan ke kamar Kenzo, Zahira menghentikannya dan mengambil alih nampan.


"Biar saya saja, Bi."


"Ah ... baik Nona," jawab pelayannya.


Zahira menarik nafas pelan sebelum membuka pintu dengan lengannya. Zahira berdehem pelan saat memyadari kedua ibu mereka ada di sana. Kenzo sudah sadar dan hanya menatapnya dengan mata sayunya. Tampaknya kedua ibu mereka mengerti sehingga memilih keluar.


"Makanlah dulu, kenapa kamu menyiksa dirimu sendiri," kata Zahira dengan nada canggung, beberapa saat lalu mereka baru saja bertengkar dan rasanya Zahira merasa bersalah karena tidak menyadari keadaan Kenzo yang ternyata sedang sakit.


"Aku hanya perlu tidur," katanya lemah.


"Makan dulu," kata Zahira tidak mau kalah.


Kenzo menutup matanya sesaat, ia merasa sangat lemas dan juga kedinginan meski sebenarnya suhu tubuhnya sedang panas.

__ADS_1


"Apakah ... kamu jatuh cinta padanya?"


Zahira yang tadi sedang mengaduk bubur untuk Kenzo di mangkuknya berhenti seketika. Merasa sedikit bersalah karena membiarkan kesalah pahaman Kenzo semakin lama. Apa karena memikirkan hal itu dia jadi tidak nafsu makan? itulah yang ada di kepalanya saat ini.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" tanya Zahira. Kenzo tidak menjawab, dia hanya menunggu.


"Entah kenapa aku nyaman saat mengobrol dengannya. Dia juga selalu menghibur dengan kepribadiannya, kamu pasti tahu akan hal itu. Sadam bisa memikat siapapun bersimpati padanya karena dia sangat pintar bergaul. Tapi ... bukan bearti aku jatuh cinta padanya. Aku hanya nyaman sebagai teman. Dia teman pertama yang membuatku nyaman. Berbeda dengan Wewen yang bersikap layaknya seorang kakak laki-laki. Sadam seperti sahabat yang memahamimu, dia dengan cepat bisa memahami pemikiranku dan membantuku," jawab Zahira.


"Sepertinya ... dia lebih beruntung dariku," gumam Kenzo, menatap kosong dinding kamar.


"Jangan berpikiran macam-macam lagi dan cepat makan, kamu harus minum obat."


Zahira menyendokkan bubur dan mengarahkannya ke mulut Kenzo, tapi Kenzo malah berpaling. Membuat Zahira berdecak jengkel. Rasa bersalah yang hinggap sedikit di hatinya tadi musnah begitu saja.


"Jangan kekanakan!" Zahira meletakkan mangkuk dan berusaha menarik bahu Kenzo agar menghadapnya atau minimal telentang. Tapi Kenzo dengan cepat menangkap tangannya dan menarik tubuhnya sehingga kini ia berbaring di dalam pelukannya.


"Dengar__" bisik Kenzo. Tangannya mengelus rambut Zahira yang kepalanya berada di dadanya.


"Jantungku selalu seperti ini saat di dekatmu. Dia selalu seperti ini saat aku menyadari aku jatuh cinta padamu," lanjutnya.


Zahira mengutuk dalam hati karena merasakan gelenyar aneh di perutnya dan pipinya yang terasa memanas. Dia memang dengan jelas mendengar suara jantung itu memompa begitu kencang.


"Aku merindukanmu bahkan saat kamu berada di hadapanku, Aku merindukanmu dan ingin meraihmu ... tapi kamu selalu berpaling." Jika wanita itu bukan Zahira yang memiliki sikap cuek dan tidak peka, dipastikan wanita yang ada di pelukannya itu sudah menangis karena terharu. Namun karena wanita itu adalah Zahira, Kenzo hanya mendapatkan respon diam tampa suara. Bahkan Zahira sudah menambah jumlah umpatannya dalam hati karena merasa tidak nyaman di perutnya mendengar kalimat itu. Seperti ada ribuan kupu-kupu terbang di sana dan pipinya sudah terasa terbakar. Namun ia enggan bicara.


"Aku mencintaimu, sangat," bisik Kenzo lagi. Kalimat terakhir yang akhirnya membuat Zahira mengeluarkan suaranya.


"Bolehkan aku memukulmu?"


Kenzo melonggarkan pelukannya sehingga Zahira bisa mendongak. Menatap matanya dengan wajah merahnya.


"Bicara menggelikan seperti itu lagi aku benar-benar akan memukulmu tidak peduli kamu sakit! Bahkan kemarin kamu masih dingin padaku," katanya dengan suara semakin mengecil di akhir kalimat.


Kenzo tersenyum manis, menatap Zahira yang kini menurunkan pandangannya.


"Sadam belum membuatmu jatuh cinta, Kan?" tanyanya memastikan.


"Sudah aku bilang kami hanya__"


"Kalau begitu bagaimana perasaanmu padaku? Apa benar tidak ada sedikitpun?" potong Kenzo.


"Aku mengantuk, aku tidak bisa berpikir. Kalau kamu tidak mau makan terserah. Aku mau tidur," jawabnya dan lamgsung memejamkan mata.


Ya, Zahira bilang akan tidur tapi dia tidak beranjak dari sana atau berusaha melepaskan diri. Dia bahkan menyamankan posisinya. Membuat jantung pria yang memeluknya itu semakin berdetak kencang. Kenzo bahkan seperti remaja yang kebingungan. Tidak menyangka Zahira akan bersikap seperti itu. Namun ekspresi itu hanya bertahan sesaat. Setelahnya, air mukanya berubah menjadi penuh seringaian. Dia tersenyum penuh kemenangan.


'Aku sangat mencintaimu, sudah aku katakan aku akan terus mengikatmu dan melakukan apapun untuk itu'

__ADS_1


__ADS_2