DAWAI CINTA POPEYE

DAWAI CINTA POPEYE
38. Nelangsa


__ADS_3

Tari berpamitan kepada Ibu nya,wanita yang sudah sepuh itu pun memeluk erat putri nya


" Bawa kembali kakak dan Ponakanmu ya nak"


" Pulanglah kalian semua dalam keadaan selamat tanpa kurang satu apa pun" sembari berkomat kamit membacakan doa pada ubun ubun putri nya,setelah itu mengusap ujung kaki nya kemudian mengoleskan pada dahi putri nya


filosofi nya " Ibu Meridhoi semua langkah anak nya.


Hal sederhana yang sudah di lupakan ibu ibu moderen yang masih di pegang teguh orang tua Al


"Tari pamit ya Bu"kemudian menjabat dan mencium tangan ibunya


setelah itu mengulurkan tangan kepada dua Bocah kesayangan nya


" mam Ti pergi jemput Bunda ya Nak ?


"Inget pesen Mam Ti apaaa ?


Tari menatap penuh cinta dua ponakannya


"Jangan nakal, dengel Nenek, tidak boleh beltengkaaal...,Ngaji,cembayang" Tiwi menyebutkan di amini Daffa adik nya


"anak pintar" Tari mengusap kepala anak anak kesayangan nya,kemudian menciumi pipi dan pucuk kepala mereka


kemudian berlalu naik ke mobil yang sudah di pesan nya lewat aplikasi


Tari melambaikan tangan nya..


kemudian driver itu pun melaju menuju terminal yang jaraknya sekitar 45 menit dari rumahnya..setelah itu Tari akan melanjutkan perjalanan ke kota tempat Selvi di rawat kurang lebih 13 jam perjalanan jalur darat.


Bisa di bayangkan bagaimana Selvi tidak mengalami kontraksi perjalanan yang di tempuh terbilang cukup jauh,belum lagi kondisi jalan yang tidak mulus..


Kakaknya sangat keras kepala bersikeras tetap mengikuti interview di kota itu,tergiur dengan gaji yang terbilang lumayan dan juga peminat nya tidak terlalu banyak,ya ini mungkin terpaksa di lakukan karena akan bersalin beberapa bulan lagi pasti butuh biaya yang tidak sedikit meskipun di cover asuransi tapi pasca lahiran biaya merawat bayi tidaklah sedikit,sementara suami nya menutup mata tidak peduli dan malah asik dengan hobi barunya berjudi Ayam,sangat sangat luar biasa untuk ukuran laki laki beristri dan beranak tiga yang sebentar lagi lahir yang ke 4.


Begitulah sedihnya kalau mempunyai suami yang minim ilmu dan akhlak, tidak berfikir bahwa setelah menikah tanggung jawab nya dunia akhirat untuk membahagiakan istri apa lagi amanah titipan Allah yaitu anak anak yang tidak berdosa,sungguh miris kalau berfikir membesarkan dan mendidik anak hanya tanggung jawab istri tanpa berfikir itu semua akan di pertanggung jawabkan nya., bukan hanya soal Nafkah tapi juga bagaimana dia mendidik istri dan anak anak nya..


Huff.... Tari mengembuskan nafas berat,sesak rasanya harus melihat kehidupan kakak ya selama hampir 10 tahun ini


" KOK BETAH KAK SELVI HIDUP DENGAN SUAMI TAK BERTANGGUNG JAWAB "


*****


Sementara itu di Rumah sakit Neta dan Wawa masih di kesibukan dengan urusan obat obatan,transfusi darah dan segala hal yang cukup memusingkan mereka.., bagaimana tidak kondisi Selvi masih sangat mengkhawatirkan sementara bayi nya pun harus ekstra perawatan..cukup melelahkan juga rasanya,tapi sudah kadung membantu harus total sampai keluarga nya datang .


'


'


'


Neta akhirnya mendonorkan darahnya untuk Selvi,tak apalah total membantu toh golongan darahnya pun sama,dari pada harus repot repot lagi pergi ketempat penyimpanan donor darah di kota itu


Setelah mendonorkan darahnya dia berpamitan ke pada Adiknya untuk kembali ke hotel beristirahat sejenak dan mengurus semua pembayaran kamar Selvi, sayangkan kalau orang nya di rumah sakit tetap menyewa kamar


Neta memindahkan barang barang Selvi ke kamar nya,toh dirinya masih 2 atau 3 hari lagi di kota ini,jadi cukup ada waktu untuk membantu Selvi, masih ada hal penting yang harus di selesaikan nya dengan Nadia.,sekali dayung dua pulau terlampaui begitu pikir nya


Neta merebahkan dirinya,rasanya penat sekali..,di pandangi nya tasbih yang terbuat dari kayu pemberian Ummi Nyai ya begitu kalau tidak salah orang memanggilnya ya tadi


mencoba memaknai kejadian yang menimpa nya,hal yang sangat berat menurutnya,menjelang hari bahagia nya namun tak mampu lagi rasanya melanjutkan langkah nya


'


'


'


Tentang perpisahan itu,


langkah kaki sudah berbeda arah.


Namun terkadang tergenang di ujung mata setiap kali mengingatnya, serasa sesak di dada setiap kali mengingat kenangannya.


Aku yang sudah patah ini.


Saat ini, aku sudah tidak tertarik lagi mencintai siapapun,


dekat dengan siapapun bahkan dirimu..


setelah kehilangan kepercayaan rasanya sulit sekali untuk bisa menerima kembali


Rasanya sulit untuk membuka lembaran itu

__ADS_1


dan melangkahkan kaki bersama menapaki bahtera yang disebut rumah tangga


Mungkin luka ini belum sepenuhnya pulih,


dan setelah kejadian yang pedih itu,


aku terlalu penakut untuk memilih.


Saat ini aku benar-benar mati rasa,


aku benar-benar buta memandang cinta,


aku seperti tidak memiliki hati lagi,


aku seperti enggan mengenalmu


aku seperti jadi orang yang paling pasrah dan terserah.


Sudah terlalu banyak membohongi hatiku,


dengan berpura-pura baik-baik saja,


padahal lukaku sedang terluka parah.


Pada akhirnya,


selamanya dihatimu,


aku hanyalah seseorang yang tak memiliki tempat.


Kehilanganmu,


aku kehilangan bahagiaku juga.


Tak perlu kau tanyakan kenapa aku sehancur ini,


serapuh ini selemah ini.


Karna kau tak pernah merasakan bagaimana dilukai,


oleh seseorang yang kau anggap adalah penyembuh.


Sesakit apapun lukaku oleh mu,


Aku kadang masih merindukanmu


Setiap harinya aku selalu merasa hampa,


Tak ada sedikitpun warna,


Yang mampu membuat 'ku kembali tertawa,


Ataupun bisa kembali menikmati dunia,


Barangkali sebentar saja.


kadang rasa itu muncul kembali


Saat hadirmu menyapa pagi 'ku,


Senyummu membangunkan 'ku,


Disetiap harinya,


Menjadi penyulut api yang terus berapi-api,


Hingga aku mencintaimu, tanpa tau bagaimana caranya berhenti.


Rasa tentram yang hadir,


Membuat 'ku tak ingin semua ini berakhir,


Aku menikmati setiap detik waktu bersamamu,


Berharap setiap saat akan ada dirimu dalam cerita 'ku.


Sesederhana itu,


Hadirmu saja mampu menenangkan resah 'ku,


Menerangkan gelap 'ku,

__ADS_1


Meneduhkan badai 'ku,


Dan menghidupkan, kematian jiwaku.


Aku nyaman hanya dengan sosokmu..


Kamu hidup 'ku,


Penyemangat 'ku,


Kekuatan 'ku,


Tumpuan hidup 'ku,


Dan aku, tak bisa hidup tanpamu,


Pelitaku.


Itu dulu.....!!!!


sebelum luka ini menggerogoti jiwa ku...


Aku tidak memintamu untuk kembali.


Namun, jika ada yang bertanya,


"Masih sayang sama dia?".


"Rindu tidak sama dia?".


Jawabanku, " Iyah".


Kadang aku juga bertanya


Bagaimana harimu tanpa diriku,


Dan hariku tanpamu.


Terlepas dari semua itu,


Ada dan tidaknya kesempatan untuk kita bersama lagi,


Aku siap!


Terima kasih,


Aku telah banyak belajar tentang kehidupan darimu,


Dan maaf jika aku terlalu banyak kekurangan.


Aku tahu,


Manusia tidak ada yang sempurna,


Kamu berhak berbuat salah.


Tetapi, jangan sampai membuat


kesalahan yang lebih buruk dari ini.


Sampai jumpa di versi terbaik kita


Dengan kisah kita yang mungkin bersama orang yang berbeda pula


Entahlah.....


Neta masih saja merasa kan pilu saat dirinya sendiri..


Rasanya masih bingung untuk menjelaskan semuanya kepada keluarga besarnya terutama orang tua nya


Melukai mereka,mempermalukan mereka tentunya menjadi momok yang menakut kan bagi nya.


"Terkadang,dirinya bertanya tanya harus berapa kali kah disakiti sampai akhirnya dirinya dapat berhenti peduli ?"


" Butuh berapa kali di selingkuhi sampai akhirnya benar benar patah hati ? "


" Bagian paling menyedihkan adalah mengucapkan selamat tinggal pada seseorang yang dulu sangat kita harapkan bisa menghabiskan waktu berdua seumur hidup"


" Mungkin saat ini aku bisa sejenak menghilang dari pandangan matamu,tapi hati ini terkadang sulit untuk kompromi"


"kenapa harus Aku dan kamu mas Desta " pekik Neta dalam kepiluan hati nya

__ADS_1



__ADS_2