DAWAI CINTA POPEYE

DAWAI CINTA POPEYE
64. Duka


__ADS_3

Puluhan panggilan telepon dari Tari,dibiarkan nya ponsel nya terus berdering,sesekali Rendi hanya melirik nya,tangan nya masih asik memandikan si jago ayam jantan kesayangan nya yang selama sebulan ini sudah menjuarai beberapa kali kontes sabung ayam.


" Anak pinter,anak ganteng,harus juara terus ya biar duit kita banyak "Rendi menyirami ayam nya dengan air rebusan mawar yang di yakini nya menjadi sumber kekuatan ayam jantan nya.


Tiba - tiba ibu nya tergopoh gopoh datang sambil berlari dari dalam rumah


Dengan ekspresi panik


" Ren.... Ren...." Suara ibu nya melengking membuat Rendi kaget


" Ada apa sih bu " Teriak nya


" Anak mu Ren " ibu nya masih terbatq bata


Rendi meninggalkan aktifitas nya,kemudian menghampiri ibu nya " Anak ku kenapa Bu " tanya nya sedikit penasaran


" Tari barusan nelpon anak mu meninggal di Rumah sakit "


" Apaaaaaa" Rendi sangat kaget,rupanya sedari tadi handphon nya berdering Tari ingin mengabarkan berita ini,tanpa menghiraukan ibu nya yang masih panik,Rendi berlari mengambil Ponsel nya, 15 panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Tari, dengan tangan bergetar Rendi membuka pesan tersebut


" Kak,tolong angkat penting saya mau bicara,urgen " pesan pertama yang di kirim 3 jam yang lalu


Kemudian dibuka lagi pesan selanjutnya


" Kau dimana,saat ini anakmu kritis, mencari tau keadaan anak istrimu pun tidak,manusia seperti yang menikahi kakak ku, kalau masih punya hati secepat nya menyusul"


jantung Rendi semakin kencang berdetak..,rasanya badan nya lunglai lemas tidak bertenaga.


Kemudian diberanikan membuka pesan selanjutnya


" Dedek sudah tidak ada,apa kah kau puas sekarang heh "


Degh......,tumpah sudah air mata Rendi


Dia hanya sebatas mengetahui putri nya lahir prematur dari pesan singkat dari Tari,setelah itu sudah tidak pernah mau tau tentang keadaan putri dan istri nya


" Bagaimana ini buuuu" tangisnya pecah memeluk ibu nya


" Sabar nak,sabar mau bagaimana lagi "


Hanya jawaban itu yang keluar dari mulut ibu nya.


Rendi melepas kan pelukan nya menatap tajam ibu nya.


" Andaikan ibu tidak melarangku ke sana pasti aku masih bisa melihat putri ku bu " Rendi berteriak seperti kesetanan.

__ADS_1


Hancur sekali rasanya kehilangan bayi nya yang bahkan belum sempat di lihat apa lagi di gendong nya


" Maafkan ayah nak,maaf "


Rendi memukul mukul kepalanya,kenapa justru lebih asik dengan hobi nya dan mendengar perkataan ibu nya. Titah wanita yang sangat di takuti nya,yang selalu mengancam tidak akan memberikan sepeserpun harta kalau tidak menurutinya.


Selama ini Rendi mengikuti semua kemauan Ibu nya,mengabaikan keluarga nya anak istri nya.


Tatapan nya nanar,sesekali di seka nya air mata nya,memberanikan diri untuk menelpon Tari. Tangan nya masih bergetar ada rasa sakit sekali yang menusuk hatinya


" Halo dek" suara nya bergetar saat mendengar suara Tari dari ujung telpon terdengar parau


" Apa lagi,puas hah,apa kau puas sekarang,anak mu sudah tidak ada,dan kakak ku masih terbaring di sini " Tari meluapkan semua emosinya,Rendi hanya tertunduk pilu


" Maaf" hanya kata itu yang mampu keluar


" Manusia seperti apa kau ini " suara Tari masih terdengar penuh emosi


" Kalau kau merasa punya tanggung jawab,cukup sekarang kau siapkan pemakaman anakmu, kalau kau tidak mau saya bisa mengurusnya sendiri "


" Sudah pasti Ibu mu tidak menginginkan cucu nya apa lagi jenazah nya,kuburkan anak mu di samping makam kakek nya " titah Tari


Suara Tari terbata bata di ujung telpon


" Iya ,kakak ke tempat Ibu sekarang "


" Jadi bagaimana, di kubur di mana " suara ibu nya menyadarkan lamunan Rendi


" di kampung Selvi " Rendi menjawab singkat


" Kau memang tidak bisa ambil keputusan selalu istrimu dan keluarga nya yang mengatur "


Rendi berbalik menatap ibu nya


" Apa kah ibu pernah menginginkan anak anak ku buu "


" Apa ibu pernah anggap Selvi sebagai menantu ibu "


" Apa ibu lupa bahkan sampai detik ini ibu masih berusaha untuk memisahkan kami "


" Aku tidak butuh harta mu lagi Bu"


" Aku sudah kehilangan satu anak ku "


" Aku tidak mau kehilangan istri dan juga ketiga anak ku" Rendi melangkah meninggal kan ibu nya yang masih syok mendengar ucapan putra sulung nya

__ADS_1


" Berani kamu ya,gara gara perempuan itu melawan ibu mu "


" Dari dulu aku memang tak sudi menerima istrimu "


" Kau saja yang keras kepala menikahi nya,kalau saja kau mendengar kan ibu mu kau sudah bahagia hidup dengan anak juragan sapi "


Nafasnya terengah engah menahan emosi sementara Rendi terus berlalu masuk kedalam rumah.


Dari jauh Ayah Rendi memperhatikan istri nya kemudian berjalan tergopoh mendekati nya,keributan apa lagi yang terjadi.


" Ada apa bu " tanya nya sambil berjalan mendekati istri nya


" Itu anak mu berani melawan ku " dengan berkacak pinggang istrinya masih menahan amarah


" Sabar..minum dulu" laki laki tua itu memberikan botol minuman yang sedari tadi di bawanya


Glek glek glek,air pun ludes di minum istri nya


" Sudah tenang sekarang " tanya nya penuh kasih,istrinya hanya mengangguk


" Ada apa, malu di dengar tetangga " di tuntun nya wanita yang 40 tahun lebih mendampingi nya itu,di duduk kan nya pada kursi anyaman di teras rumah mereka.


" Anak mu pak, dari dulu sampai sekarang tidak berani sama istri nya ,di atur terus sama keluarga istri nya "


Laki laki tua itu hanya menghela nafas nya,konflik yang sudah sepuluh tahun yang tidak ada habisnya,istri nya masih keras kepala tidak bisa menerima menantu nya


" Ada masalah apa lagi sama Selvi " tanya nya lembut pada istrinya


" Itu menantu mu sudah tau hamil ke puncak katanya wawancara kerja"


laki laki itu hanya terdiam pasti menantu nya berusaha mencari biaya lahiran, setiap kali dia datang diam diam ingin memberikan uang menantunya selalu menolak sopan " kasian kamu nak "


" Kemudian akhirnya pendarahan terus operasi anak nya prematur "


" Jadi bagaimana sekarang " tanya nya antusias pada istrinya


" Anaknya baru meninggal,keluarga nya minta di kubur di kampungnya keterlaluan "


Degh.... Kaget sudah pasti mendengar berita ini


" Inalillahi wa inna ilaihi rojiun"


" Dalam keadaan seperti ini kamu masih saja menyalahkan mantu dan keluarga nya bu, keterlaluan "


" Tidak punya hati nurani kamu buk..buk, yang meninggal itu cucu mu lo buk,darah daging kita... Anak nya Rendi "

__ADS_1


Laki laki itu begitu emosional kesal sekali rasanya pada istri nya yang tidak pernah membuka hati untuk menantu dan cucu cucu nya.


Bersambung.....


__ADS_2