DAWAI CINTA POPEYE

DAWAI CINTA POPEYE
66. Konflik


__ADS_3

Rendi memacu motor nya dengan kecepatan tinggi,hati nya serasa hancur berkeping,bayangan wajah istri nya menari di pelupuk matanya


" Maafkan aku sayang,maafkan suami mu ini "


Ditengah tengah isak nya hanya kata itu yang terlontar.


Kata maaf yang selama ini tidak pernah di ucapkan nya selama sepuluh tahun berumah tangga


" Aku terlalu banyak melukaimu dan anak anak kita sayang "


" Aku sudah gagal sebagai suami "


" Maafkan aku yang belum bisa membahagiakan kalian "


Di balik peristiwa pahit Allah membukakan pintu hidayah,hati yang selama ini keras bagai batu entah kenapa tiba tiba mencair seperti bongkahan es di pegunungan,longsor,mencair dan mengaliri seluruh pembuluh darah


Rendi mengingat senyum manis istrinya yang sudah lama menghilang setelah dipersunting nya,wajah yang dahulu ceria yang selalu di hiasi senyum manisnya sekarang tak pernah lagi ada, senyum yang membuat nya jatuh cinta se jatuh jatuh nya.


" Bahkan senyum mu pun sudah tak ada selama menikah denganku sayang "


" aku juga yang sudah menghilangkan senyuman mu sayang "


" Suami macam apa aku ini "


Pilu sekali hati Rendi,dahulu dia juga yang meyakinkan Selvi bahwa dia mampu menjaga nya,mampu membahagiakan nya bahkan mampu untuk membantu mengurus ibu dan adik adiknya tapi kenyataan nya justru merekalah yang tidak hentinya direpotkan, sebagai kepala keluarga Rendi sudah sangat gagal,tidak bisa melindungi istrinya dari cacian ibunya dan keluarga nya, selama ini hanya diam dan diam,bahkan saat anak anak nya pun di acuhkan keluarganya dia pun tidak peduli


" Zalim sekali aku selama ini "


" Akan ku perbaiki semuanya sayang "


" Aku tidak ingin kehilangan lagi "


Motornya melaju menuju rumah mertua nya,dari kejauhan sudah nampak kesibukan di depan rumah mertuanya,tenda pun sudah terpasang,bendera putih tanda duka pun terpampang


" Ya Allah, ini nyata ternyata "


Rendi memarkirkan motornya,kerabat sudah berdatangan begitu juga tetangga sekitaran rumah


" Sabar ya Nak " pelukan hangat dari paman istrinya di ikuti pelayat yang lain


Dari dalam keluarlah mertuanya dengan wajah sendu tak bisa menutupi kesedihan nya


" Ibuuuuuuk" Rendi berlari memeluk wanita sepuh itu


" Maafkan Rendi Buk,maaf " hanya kata itu yang terucap


" Sudah Nak..sudah, sabar ya " dengan penuh kasih di tepuk tepuk pundak menantu nya yang selama ini begitu melukai nya


" Ini semua ujian Nak "


" Ini semua ketetapan Nya "


" Sabar... Tawakal "


" Jaga baik baik Anak anak dan istrimu Nak, hanya itu yang ibu minta "


" Mereka itu amanah mu Nak" sambil menunjuk ke tiga cucunya yang berdiri di belakang ayah nya

__ADS_1


Bahkan melihat ayahnya datang pun mereka hanya diam tanpa reaksi,sungguh peran Rendi sudah tidak berarti sama sekali


Tanpa di sadari sikapnya yang selama ini yang tidak memperhatikan mereka menjadi bumerang,rasanya seperti melihat orang asing bukan sebagai ayah


Hal yang selama ini di anggap biasa,toh mereka tau siapa orang tua nya,ternyata tidak sesimpel itu,anak anak menjadi terbiasa tanpa peran nya.


Rendi melangkah ingin memeluk mereka,tapi mereka justru berlari menghindar " sakit sekali rasanya "


Di usapnya air matanya yang mengalir disudut matanya


" Inilah karma ku "


" Bahkan buah hatiku pun asing denganku "


Wajar saja mereka hanya bertemu sesekali saja kadang dua bulan sekali bahkan lebih,mengajak mereka main pun tak pernah,bahkan sedari bayi bisa dihitung dengan jari dia menggendong anak anak nya.


Momen inilah yang sudah Rendi lewatkan begitu saja,momen melihat ketiga anak nya tumbuh


" Sini nak peluk ayah " Rendi masih berusaha mendekati anak anak nya


" Tatuttttttt " justru kata itu yang keluar dari putra ke tiga nya


" Pigi dek,lalii " lanjut teriakan anak ke dua nya


Mereka pun menjauhi ayah nya.


luar biasa sakitnya melihat respon anak anak nya


" Jangan begitu Nak, ini ayahmu " titah Nenek nya yang berusaha mendekati cucu cucu nya tapi mereka malah melenggang pergi dan tidak mengindahkan panggilan Nenek nya.


" Liat itu anak nya sampai tidak mengenali ayah nya " bisik bisik tetangga tidak luput melihat adegan itu


" Heran gini kok Selvi bisa hamil lagi " celetuk seorang kerabat


" Makanya Ren,punya anak itu di urus "


" Jangan mau enak nya saja bikin,ngurus ndak mau "


" Kasian istrimu kan "


" Anak anak bukan boneka bisa besar sendiri tanpa di urus,di rawat,di didik "


Seorang kerabat dengan tanpa ampun menyerang mental Rendi,sudah teramat gemes melihat tingkah polah suami ponakan nya ini. Nikah hanya status tapi praktek nya nol besar dalam mengurus rumah tangga nya


Rendi hanya tertunduk, melawan pun tak ada guna memang begitulah ada nya.


" Kalau aku punya mantu seperti kamu sudah tak pites "


" Istrimu terlalu sabar Ren,mertua juga adik adikmu di sini "


" Coba dapat mertua macam aku sudah lama tamat riwayat mu " seorang tante nya Selvi meluapkan emosinya


" Sudah... Sudah, jangan menambah keributan lagi " mertua Rendi datang,melerai semua keributan,sekesal apa pun hati nya Rendi tetaplah menantu nya pilihan Putri nya sendiri,jika sekarang takdirnya begini semoga akan berubah dan memperbaiki semua nya


" Belain terus biar makin besar kepala menantu mu "


" Cucu mu sampai meninggal juga karena bapak nya tidak becus mengurus istri nya "

__ADS_1


" Istri hamil besar malah di biarkan pergi jauh sendiri,nyari kerja pula "


"Kalau sudah seperti ini yang kasian Selvi juga kan "


Tante Ratih masih mengeluarkan unek unek nya


" Bagus ya Ren keluarga istrimu mempermalukan mu dan kau hanya diam "


Rupanya ibu Rendi datang dan mendengar ucapan keluarga Selvi


" Ibu " Rendi kaget bukan kepalang


" Ayo kita pulang,tempat mu bukan di sini "lanjut ibu nya


" Maaf bu,silahkan duduk" mertua Rendi datang tergopoh menyambut besan nya


" Tidak perlu,saya juga malas menginjak kan kaki di sini kalau tidak terpaksa" dengan berkacak pinggang ibu nya Rendi berbicara


" Bawa saja putra tidak berguna mu ini dari tempat ini, tanpa kalian pun kami bisa mengurus pemakaman ini " suara tegas dari Tante Ratih yang sangat merasa terhina


" Sudah dek..sudah " hanya kata itu yang terucap dari mertua Rendi


" Cukup kak, selama ini mertua Selvi sudah sangat merendahkan anak kakak dan keluarga nya "


" Harus nya ibu malu tidak bisa mendidik anak Laki Laki ibu untuk bertanggung jawab terhadap Anak istri nya "


" Orang tua macam apa yang mendukung anak nya untuk menelantarkan menantu dan cucu cucu mu "


Wajah Ibu Rendi memerah seperti tertampar rasanya malu seperti di kuliti


" Kita pulang Ren " suara nya bergetar menahan emosi


" Tidak Buk,aku akan menguburkan anak ku dengan tanganku sendiri "


" Sudah cukup aku jadi boneka mu bu "


" Aku juga berhak untuk hidup dengan jalan ku bu " Rendi meluapkan kekesalan nya


" Kalau kau lebih memilih istrimu, ibu pastikan kau tidak akan dapat sepeserpun harta ibu "


" Aku tidak butuh bu...aku tidak butuh itu semua, anak istriku lebih berharga dari kekayaan ibu "


" Silahkan ibu coret Rendi,Aku sudah tidak peduli "


Rendi meninggalkan ibu nya yang masih mematung syok melihat reaksi anak kesayangan nya.


" Anak tidak bisa di untung " teriak ibu nya kemudian melangkah pergi


Bersambung.....


Dukung terus karya ini ya


Jangan Lupa like,komen,vote nya


Terima kasih


Salam Sayang

__ADS_1


Penulis


Kinara Riswari


__ADS_2