
Tari termangu diruang jenazah,hatinya begitu hancur rasanya,ponakan nya harus lebih dulu berpulang,operasi nya berjalan lancar tapi setelah tindakan kondisinya drop dan akhirnya bayi mungil itu menyerah dan menghembuskan nafas terakhirnya.
"Bagaimana caraku menyampaikan hal ini kepada kak Selvi " lagi lagi tangisan Tari pecah,hati nya begitu sakit. Menguatkan hati disaat buruk seperti ini tentulah tidak mudah,di Tatapnya ponsel nya lekat lekat,menyampaikan hal buruk ini pada Ibu nya tentu saja bukan hal mudah,takut kalau ibu nya kaget dan syok
" Bismillah, Ya Allah,mudahkan...,kuatkan kami " Tari memencet nomor telepon Ibu nya,hatinya bergemuruh
" Hallo...
" Halo... " Assalamualaikum Nak "
Suara lembut dari ujung telepon membuatnya kembali tersadar
" Ii- iya Wa'alaikumsalam Bu " Tari berusaha menguasai dirinya,berusaha untuk tetap tenang agar Ibu nya tidak panik
" iya Nak, Apa kabar nya,kakak sama ponakan mu gimana Nak "
" Ibu dari pagi tidak tenang rasanya, semua baik baik saja kan Nak "
Suara penuh khawatir itu semakin membuat Tari sesak,firasat seorang Ibu tentunya tidak pernah salah
" Iiya bu,kak Selvi sudah mendingan "
" Ta.. Tapiii "
Tari menghentikan ucapan nya sejenak
" tapi apa nak" suara ibu nya terdengar panik
" Ibu tenang ya" Tari berusaha menguatkan Ibu nya
" iya nak "
" Bu...,Dengan berat hati Tari mau mengabari Ibu, cucu ibu sudah tidak ada bu, 25 menit yang lalu " Tari sekuat tenaga mencoba bersikap tenang agar ibu nya tidak panik
" Ya Allah "
" innalilahi wa inna ilaihi rojiun "
" ya Allah Nak " terdengar tangisan ibu nya pecah
" Sabar ya Bu, kita semua harus kuat demi Kak Selvi "
" Saya sudah sampaikan ke Kak Rendi Bu,dedek di makamkan di samping Bapak "
" Malam ini Tari bawa dedek pulang ya Bu "
" Doakan semoga perjalanan kami lancar "
Tari berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang,tidak mudah pastinya hal ini bagi ibu nya.
" Tari tutup telepon nya ya bu "
" Iya Nak, ini ujian kakak mu juga kita semua Nak "
" Sudah hak Allah untuk mengambil miliknya "
__ADS_1
" Kuatkan kakak mu ya Nak "
" Baik bu" hanya itu yang bisa Tari ucapkan, kemudian menutup telepon nya, mengabari Ibu, Ipar dan adik nya sudah yang terberat adalah menyampaikan berita ini pada kakak nya,beruntung saja kondisi Selvi sudah berangsur membaik semoga kakaknya bisa menerima semua ujian ini dengan lapang dada dan di kuatkan hati nya.
Tari meninggalkan ruang jenazah dengan langkah gontai, menghadapi hal ini sendirian tentunya hal yang sangat berat,setelah mengurus semua hal tentang jenazah ponakan nya saat ini yang terpenting adalah bagaimana menguatkan Selvi
Sesampainya di Ruang perawatan kakak nya, Tari sangat terkejut melihat Selvi sudah menangis histeris di tenangkan beberapa orang suster
" Ada apa sus,kakak saya kenapa" Tari berlari menuju kakak nya
" Maaf bu,Bu Selvi sudah mengetahui kematian putri nya " jawab seorang suster setengah berbisik
Degh...... Jantung Tari serasa mau copot rasanya, " bagaimana bisa sus,siapa yang menyampaikan "
" Kak yang sabar ya kak " Tari berusaha menenangkan kakak nya
" Rendi bilang anak ku meninggal,itu bohong kan dek " Selvi menatap Tari dengan penuh harap bahwa semua yg Rendi katakan itu bohong
" Sabar ya kak "
" Dedek sudah tidak ada "
" Kakak harus kuat "
Tari memeluk erat erat Selvi,men-support nya agar bisa menerima hal berat ini
" Tidak mungkin "
" Aku belum melihat anak ku dek "
" Aku bahkan belum menyusui dan menggendong anakku "
Selvi menangis sejadi jadinya di pelukan adik nya,tidak di sangka perjalanan nya untuk mencari kerja justru mengantarkan anak nya menghembuskan nafas yang terakhirnya
" Maafkan bunda nak,maafkan bunda yang tidak bisa menjagamu dengan baik "
" Maafkan bunda Nak" Selvi terus menangis, hal yang tidak terbayang sedikitpun harus kehilangan anak bungsu nya secepat ini
" Kita pulang ya kak, kakak harus kuat "
" Kita bawa pulang Dedek ya kak,kita kuburkan dekat dengan kakek nya "
Tari berusaha menguatkan kakaknya,sudah pasti hal ini sangatlah berat bagi Selvi,bahkan luka bekas operasi nya pun belum sembuh harus menerima kenyataan pahit ini.
Selvi hanya mengangguk pilu
" Ini semua salahmu Ren "
" Tidak akan ku maafkan "
Tangisannya kembali pecah, rasanya sakit sekali mengingat ketidak pedulian suami nya,bahkan dia harus sampai di tempat ini pun karena ingin memenuhi kebutuhan hidup anak anak nya yang selama ini tidak mendapatkan nafkah dari ayahnya.
" Kita urus sendiri pemakaman anak ku dek,jangan libatkan Rendi apa lagi Ibunya yang sudah pasti akan senang dengan kepergian anak ku "
Tari hanya mengangguk dalam keadaan seperti ini sudah pasti kakaknya sangat terpukul,wajar saja menyalahkan suami nya yang memang tidak bertanggung jawab sebagai seorang suami selama ini. Bahkan Tari pun merasa sangat marah pada Rendi yang bersikap acuh tak acuh dengan keadaan anak dan istrinya " awas saja kalau tidak mengurus pemakaman anak nya,akan ku pastikan menyesal seumur hidup" Tari menggerutu dalam hati.
__ADS_1
" Tenang ya kak, sabar "
Tari menepuk nepuk pundak kakaknya yang masih saja menangis
" Kakak harus kuat "
" Allah sayang dedek kak,anak anak yang meninggal akan menjadi penjemput orang tua nya di pintu surga "
"Kakak harus ikhlas ya kak "
" Kalau kakak begini gimana kita bisa bawa dedek pulang kak "
"Perjalanan kita jauh kak,kakak harus kuat biar kita bertiga bisa pulang "
Selvi hanya mengangguk hati nya sangat hancur saat ini,tentu saja dia pun ingin mengantarkan bayi pulang,biarpun itu hanya jenazah nya
Paling tidak ada waktu untuknya bersama buah hati nya
" Setelah saya sembuh nanti antar kan kakak mengurus perceraian Dek"
" Sudah cukup kesabaran ku "
" Selama ini kakak hanya diam dan menahan,sekarang tidak lagi "
" Untuk apa air mata nya setelah anak ku pergi "
" Aku tidak butuh laki laki pengecut seperti Rendi yang selalu bersembunyi dibawah ketek ibu nya "
" Suami macam apa,bahkan saat aku kabari pendarahan jawaban nya sibuk dan tidak punya waktu "
" Lalu untuk apa sekarang menangis "
Selvi meluapkan semua kekesalan nya.
Tari hanya mengiyakan agar kakaknya tenang.,dan merasa lega.
" Sus apakah kakak saya bisa ikut serta di ambulan yang sama "
Tari menanyakan kepada suster,tentu saja semua hal harus di konsultasikan terlebih dahulu untuk memastikan semua aman
" Kita tunggu konfirmasi dari Dokter dulu ya Bu, kalau pun belum bisa tetap kami akan melakukan pengawalan sampai rumah sakit rujukan di kota ibu "
" Baik sus,terima kasih "
Dalam situasi berat pun harus tetap memikirkan jalan keluar yang baik,setidak nya kalau sudah di rujuk ke kota nya akan banyak yang bisa bergantian menjaga paling tidak ibunya pun akan lebih lega karena rumah sakit nya hanya berjarak 15 menit dari rumah
Luar biasa ujian mu kak
Bersambung..
Dukung terus karya ini ya
Jangan Lupa Like,komen dan Vote nya
Salam Sayang
__ADS_1
Penulis
Kinara Riswari