
Siang ini rumah sangat ramai,keluarga berdatangan dan ngumpul bareng untuk sekedar makan siang bersama.
Neta masih mengunci diri di kamar,beralasan tidak enak badan adalah senjata ampuh nya agar tidak ada yang mengganggu nya.
" Penganten nya sudah di pingit,nggak keluar keluar " celetuk bude Sari,kakak ibu nya yang juga berkunjung kerumah
" Lagi tidak enak badan mbakyu, Neta istirahat " jawab Ibu nya lembut
" Kalau acara sudah dekat pamali pergi jauh jauh,kalau bisa wes dirumah saja ojo keluyuran wisata wisata ra jelas " lanjut bude Sari mengomeli adik nya, dalam keluarga yang masih kental adat jawanya meskipun sudah merantau di pulau lain tentu nya sebagai yang di tuakan bude Sari wajib mengingatkan adik juga ponakan nya
" Ngeh Mbakyu " jawab Ibu Neta singkat agar tidak terjadi perdebatan,sudah karakter kakak nya kalau di debat akan melebar dan membawa bawa pesan leluhur padahal bagi Ibu Neta zaman sudah berubah pola pikir anak anak pun juga sudah tidak sama lagi,selama mereka tidak melanggar agama,tidak mempermalukan keluarga dan bisa menjaga nama baik dan harga diri ya silahkan lakukan toh anak anak sudah cukup dewasa untuk melakukan hal yang mereka senangi.
" Sesekali refreshing ya nggak apa apa to bude sayang,biar ndak pusing kepala kebanyakan mikir " Wawa datang memeluk bude nya,sedari kecil bungsu ini memang sangat dekat dan jadi anak emas bude nya berbeda dengan Neta yang tidak pernah benar di mata bude nya
" Cah ndablek, kalau mau nikah banyak hal yang harus di jaga nduk " bude lanjut nerocos menjelaskan perkara adat istiadat dan sebagainya,mitos ini dan itu yang tidak bisa di langgar
" Kamu juga kalau nyapu yang bersih biar dapat suami cakep "
" Wah aku suka nya yang brewokan bude,jadi sengaja nyapu nya sisain sedikit debu nya hehehehe " wawa meledek budenya sambil nyomot tempe mendoan kemudian berlalu dari keributan di dapur
" Bocah iki kalau di kandani wong tuo ( anak ini kalau di tanya orang tua ) "
Bude Sari gemes melihat tingkah ponakan ponakan nya.
Menurut nya adiknya punya pola pikir yang aneh,anak anak nya sekolah tinggi tinggi sampai lewat umur untuk menikah,berbeda dengan dirinya anak anak nya cukup tamatan SMA kalau ada yang melamar yo monggo memang tugas perempuan ya dapur,tempat tidur,sumur begitu prinsipnya
Sangat berbeda dengan Ibu Neta anak anak nya harus berpendidikan tinggi,entah suatu saat ilmu nya akan di gunakan dalam bekerja atau tidak,anak perempuan harus berpendidikan tinggi agar punya wawasan yang luas,bisa mendidik anak anak nya lebih baik tentunya,ibu yang cerdas tentunya akan menghasilkan generasi yang cerdas juga.
Soal jodoh biarkan mereka yang mencari,toh mereka juga yang akan menjalani. Jadi tidak ada patokan kriteria mantu seperti apa yang penting bisa membahagiakan anak anak nya,berkeyakinan yang sama tentunya,pemikiran yang sangat demokratis
Anak anak yang terlalu dikekang,akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit menerima dan beradaptasi dengan lingkungan baru nya,biarkan anak anak mengeksplor dunia nya sesuai tingkat usia nya tentunya dengan bimbingan orang tua,terlalu banyak larangan justru akan membuat anak anak semakin ingin tau suatu hal yang akhirnya sembunyi sembunyi mencoba hal baru yang malah akibat nya merusak diri mereka.
Setelah makan siang bersama mereka pun satu persatu meninggalkan rumah termasuk bude Sari,eyang pun ikut serta kerumah bude Sari ingin berjalan jalan kata nya begitu juga dengan anggota keluarga lain nya.
Tinggallah ibu nya dan kakak perempuan nya yang masih berbincang menikmati Teh dan pisang goreng buatan Bi ijah
Neta memberanikan diri untuk berbicara dengan ibu nya,sebelumnya dia sudah vidio call dengan kakak nya di singapure,Wawa pun menemani nya
" Buk,mas Anto ingin bicara " Neta memulai pembicaraan mencari waktu yang tepat untuk memulai,hal yang sudah di rencanakan oleh mereka bertiga agar ibu nya tidak kaget. Wawa pun sudah membawa barang bukti berupa foto foto Desta dengan Nadia juga dengan wanita lain,serta percakapan di rumah sakit
__ADS_1
"Dek bicaralah,suara kakak nya di telepon menyadarkan Neta "
" Ada apa, Ibu jadi heran melihat kalian bertiga" ibu nya menatap satu persatu putra putri nya
" Ada apa nduk " ditatap nya Neta lekat lekat
Neta segera memeluk ibu nya dan menangis sejadi jadi nya
" Ada apa Nak,kamu kenapa "
Hanya kata itu yang ibu nya ucapkan melihat tingkah aneh putri nya
" Maaf kan Neta Bu,sepurane bu" Neta memegangi lutut ibu nya dan bersimpuh,bukan hanya ibu nya kakak nya pun di buat heran
" Kamu kenapa ada apa dek" teriak nya ikut panik
Wawa berusaha menenangkan kakak nya
" Ngomong saja Dek,mas dukung kamu " suara Anto di ujung telepon mensupport adik kesayangan nya,pilu sudah pasti melihat adik nya sehancur ini
Neta mengusap air matanya,di tatap nya wajah ibu nya
Degh....
Ibu nya kaget raut muka nya pun jadi berubah,ada tanda tanya besar dalam pikiran nya
" Ada apa Nak,apa kamu sadar yang kamu ucapkan " ibu nya berusaha bersikap tenang agar putrinya berterus terang tanpa merasa takut, di tuntunnya putri cantiknya untuk duduk disamping nya.
" Sini nduk,duduk sini, ada apa " ditatapnya lekat lekat putrinya di genggam nya erat erat jemari anak nya ,sesekali tangan nya mengusap air mata yang terus mengalir di sudut mata putri nya, di usap lembut rambut panjang nya..kemudian di dekap nya putri nya selayak nya bayi kecil nya yang saat ini butuh pelukan hangat ibu nya.
" Ibu tidak akan marah nduk,semua hak mu,tapi ibu harus tau apa yang membuatmu mengambil keputusan seperti ini "
" ini bukan masalah sepele Nak,ini sudah melibatkan keluarga "
" Ibu harus tau, ada apa "
Neta masih terisak tidak mampu menjelaskan pada ibu nya
Dengan sigap Wawa membuka ponsel nya
__ADS_1
" Ini Bu" sambil memperlihatkan adegan adegan calon menantu nya yang tidak senonoh
" Innalillahi "
" Sejak kapan "
" Apa ini benar Nak" ibunya menatap Wawa yang sekarang melanjutkan menceritakan kronologi yang di alami oleh kakak nya dan dia pun saksi mata nya.
" Sudah tidak waras laki laki itu " Ayu kakak mereka bereaksi,syok melihat bukti bukti yang di tunjukan oleh adiknya
" Minta di gebukin itu orang ,mau coba coba mempermainkan adik ku " emosi nya meledak
" Kalau gini otomatis batal bu, dan keluarga malu dibuat nya " lanjutnya lagi
" Harus di beri pelajaran orang seperti itu "
Tiba Tiba Anto bersuara
" Mbak....,sudah, yang penting Neta belum menikah,itu sudah cukup melegakan,apa jadi nya kalau bersuami laki laki seperti itu"
" Tidak perlu buat runyam mbak,cukup selesaikan baik baik dan segera putuskan masalah ini secepatnya dengan keluarga nya sebelum pernikahan semakin dekat "
" Nggak masalah Rugi ini itu yang penting Neta diselamatkan dari kehidupan yang buruk di masa depan nya "
" Ingat Bu,selesaikan baik baik ngeh Bu, jangan ada pakai emosi "
" Jangan merendahkan harga diri di depan manusia seperti itu "
" Insya Allah adik ku jodohnya lebih baik lagi"
" Kalian harus sabar,jangan salahkan Neta dan siapa pun Ini cara Allah untuk membuka semua hal buruk "
" Kamu kuat ya dek,harus semangat,ingat keputusan mu sudah benar,mas selalu dukung "
" Tenangkan dirimu, semua akan baik baik saja seiring berjalan nya waktu "
Kata kata adem dari pemuda itu mampu membuat suasana menjadi lebih tenang,dalam hal ini emosi pun juga percuma,toh semua sudah terjadi,memperbaiki juga bukan hal yang mudah tentu nya.
Kepala boleh panas tapi hati harus selalu dingin.
__ADS_1