Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
THALITA BERKATA JUJUR


__ADS_3

❦︎❦︎❦︎


Hari Senin pagi...


Denathan membuka matanya. Dia baru bangun tidur. Saat kedua matanya melirik ke jam dinding, seketika dia terkejut dan terperanjat dari tidurnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lebih lima menit. Itu artinya dia telat bangun dan tak ada waktu yang lebih lama untuk dia agar tidak terlambat sekolah.


"Mampus," ucap Denathan sambil menepuk jidat.


Saat sadar waktunya mepet, Denathan pun cepat-cepat turun dari ranjang dan segera melangkah ke kamar mandi tanpa memedulikan rambut serta baju tidurnya yang acak-acakan. Dia di kamar mandi hanya cuci muka dan gosok gigi. Dia tidak mandi. Bodoamat. Nanti dia bisa memakai minyak wangi untuk menyamarkan bau badannya.


Setelah gosok gigi, cuci muka, dan merapikan rambut, Denathan segera keluar kamar lalu mencari baju seragam di lemarinya. Dia buru-buru karena tidak ingin terlambat sekolah. Meski tomboi, tapi Denathan adalah murid yang disiplin. Dia tidak pernah terlambat sekolah selama di SMA. Jangan sampai nama baiknya berkurang di mata guru hanya gara-gara satu kali terlambat sekolah.


Denathan mengambil minyak wanginya di atas meja, kemudian disemprotkan ke seluruh seragamnya.  Lalu ia mengoleskan deodorant di ketiaknya untuk menghilangkan bau kecut.


"Udah beres," ucapnya. "Gue harus cepet." Lanjutnya sembari mengambil tasnya yang terdapat di atas meja. Untungnya tadi malam, Denathan sudah menyiapkan buku pelajaran. Sehingga dia bisa langsung berangkat sekolah.


Denathan turun ke lantai satu sambil menenteng tasnya. Ketika melewati ruang tengah, ia melihat mamanya sedang menyapu. Dia menghampiri mamanya, lalu berpamitan.


"Ma, aku berangkat ya," kata Denathan seraya mencium punggung tangan Desi hanya sebentar. Kemudian gadis itu setengah berlari keluar rumah.


Sadar anaknya belum sarapan, Desi berteriak saat anaknya membuka pintu rumah. "Nak, kamu belum sarapan. Sarapan dulu, jangan buru-buru."


Denathan refleks menoleh ke arah mamanya. "Nggak, Ma. Nanti aku makanan di kantin aja. Sekarang udah mau telat." Kemudian dia segera keluar rumah.


Desi melihat jam dinding di tembok. Terlihat jam itu menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat.


"Pantesan buru-buru. Denathan, Denathan, udah Mama bilang tadi malam jangan begadang, masih aja begadang," monolog Desi lalu melanjutkan menyapu.


Denathan membuka hapenya dan mendapat notif pesan masuk dari Natan. Gadis itu membaca pesan tersebut. Natan mengirim pesan, dia tidak bisa menjemput Denathan karena dia berangkat sekolah dengan Anastasya. Natan menyuruh agar Denathan naik motor sendiri.


Tanpa pikir dua kali, waktu juga sudah mepet, Denathan pun cepat-cepat menuju ke garasi untuk mengambil sepeda motor matic-nya. Setelah memakai helem, Denathan melajukan motornya keluar pekarangan rumah dengan kecepatan cukup tinggi. Dia lewat jalan sepi menuju ke sekolah agar tidak terjebak macet.


Denathan semakin menambah kecepatan sepeda motornya saat melihat gerbang sekolah akan ditutup oleh Satpam. Gadis itu mengerem sepeda motornya tepat sebelum gerbang tertutup. Seketika dia langsung bernapas lega.


Dia berteriak, "Pak, jangan ditutup dulu!!"


Satpam menghentikan gerakannya yang akan menutup pintu gerbang. Lalu melihat ke arah luar.


"Iya, Neng," ucap Satpam itu, "Neng hampir aja telat." Lanjutnya sambil membuka gerbang lebih lebar.


"Iya, Pak. Saya lega banget gak jadi telat," jawab Denathan sambil menuntun sepeda motornya.


"Ya sudah, Neng. Langsung masuk. Bentar lagi bel mau bunyi," kata Satpam mempersilakan Denathan masuk.


"Iya, Pak. Makasih." Kemudian cewek itu kembali menuntun sepeda motornya ke arah parkiran.


❦︎❦︎❦︎


Waktu istirahat. Jam sepuluh. Sekarang Denathan dan sahabatnya ada di kantin. Mereka memesan makanan dan minuman seperi biasanya. Sembari menunggu pesanan datang, mereka mengobrol untuk mengisi waktu luang. Denok yang tampaknya lebih banyak berbicara dibandingkan teman-temannya.


Denathan hanya menonton Denok berbicara dengan Tia dan Renita. Dia tidak berniat mengobrol dengan mereka, karena menurutnya obrolan mereka membosankan. Sama halnya seperti Thalita yang sedari tadi memainkan hapenya.


Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Dua orang perempuan datang ke meja mereka dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan.


"Pesanan kalian sudah datang," ucap salah satu perempuan bernama Mbak Ayu. Dia merupakan penjual makanan di kantin. Dia memang sudah akrab dengan para siswa.


"Wah, nggak sabar makan," ucap Denok dengan mata berbinar. Cewek berbadan gendut itu memang sangat suka makan.


"Denok, tumben cuman pesen makanan satu, biasanya dua, hahah," ucap Mbak Ayu berniat bercanda.

__ADS_1


"Dia katanya mau diet, Mbak," sahut Denathan asal-asalan.


"Oh... mau diet?" beo Mbak Ayu.


"Eh enggak. Siapa yang mau diet sih. Gara-gara uang saku gue kurang, makanya gue cuman pesen satu," jawab Denok.


"Lah, biasanya uang saku lo lima puluh ribu, masih kurang?" tanya Renita.


"Uang saku gue aja cuman dua puluh ribu, Nok," kata Denathan.


"Noh, Denathan yang anak orang kaya, uang sakunya cuman dua puluh ribu aja santai tuh," balas Renita.


"Denok juga anak orang kaya, Ren," ujar Tia.


"Iya gue tau," balas Renita.


"Bukan gitu. Tadi pagi gue lupa minta uang saku ke Papi gue," jawab Denok.


"Ohh lupa minta uang saku," jawab Denathan sambil mengangguk-angguk.


"Iyaa," jawab Denok.


Setelah Mbak Ayu pergi, Thalita lebih memilih untuk langsung memakan makanannya daripada mendengarkan obrolan teman-temannya yang membosankan.  Denathan pun sama, karena tadi pagi tidak sarapan, dia sekarang merasa sangat lapar. Dia pun segera memakan makanannya dengan sangat lahap.


"Lo kelaperan Den?" tanya Tia saat menyadari Denathan makan dengan sangat cepat.


"Hah?"


"Lo laper banget?" tanya Tia lagi.


Denathan mengangguk sambil berucap, "Hahaha, iya, tadi pagi gue belum sarapan."


Thalita menghentikan aktivitas makannya saat tak sengaja melihat Natan dan teman-temannya masuk ke kantin. Pandangan Thalita sepenuhnya tertuju kepada Natan yang tampak lebih mencolok daripada siswa lain, karena tinggi badan cowok itu dan tubuhnya yang gagah. Thalita terus mengamati pergerakan Natan, mulai dari Natan memesan makanan, memilih tempat duduk sampai cowok itu duduk dan mengobrol bersama teman-temannya.


Denok menyadari gelagat Thalita. Seperti orang bengok. Dia berniat menyadarkan Thalita.


"Thal, lo ngapain liat ke sana mulu?" tanya Denok.


Thalita gelagapan, cewek itu cepat-cepat menoleh ke arah Denok. "Enggak apa-apa," jawabnya sambil geleng-geleng kepala.


"Sebenarnya lo liat apa sih? Kok kayak ada sesuatu gitu," kata Denok.


"Gue nggak liat apa-apa, kok." Thalita menjawab.


Denok hanya mengangguk-angguk, lalu melanjutkan makannya. "Mencurigakan," ucapnya dengan suara lirih.


Thalita menyenggol lengan Denathan yang duduk di sebelahnya.


Denathan menoleh ke arah Thalita, "Kenapa?"


Thalita menjawab dengan suara pelan, "Nanti setelah makan, ikut gue ke taman."


"Mau ngapain ke sana?"


"Pokoknya lo ikut."


"Iya."


❦︎❦︎❦︎

__ADS_1


"Lo ngajak gue ke sini, mau ngapain sih?" tanya Denathan ketika ia dan Thalita sudah ada di taman sekolah yang sepi. Mereka duduk di kursi yang terdapat di bawah pohon rindang.


"Gue, mau curhat sama lo," jawab Thalita.


"Curhat?" Denathan mengulangi.


"Iya, makanya gue ngajak lo ke sini."


"Kalau lo mau curhat, gue bakal dengerin. Emangnya lo mau curhat apa?" Denathan bertanya.


"Hmmm, gue boleh tanya soal Natan?" Thalita malah balik bertanya.


"Hah, soal Natan, maksud lo?" Denathan jelas bingung.


"Gue tanya, boleh nggak?"


"Ya boleh. Lo sebenarnya mau curhat atau mau tanya soal Natan sih? Bingung gue," kata Denathan.


"Dua-duanya sih."


"Ya udah, lo mau tanya apa?"


"Lo sama Natan udah berapa lama sahabatan?" tanya Thalita basa-basi sebelum dia mengatakan yang sebenarnya kepada Denathan.


"Udah dari kecil. Bahkan sebelum gue sekolah," jawab Denathan apa adanya.


"Udah lama banget dong berarti."


"Iya jelas dong. Orang tua gue sama orang tuanya Natan itu teman dekat."


"Pantesan."


"Nggak tanya lagi?" tanya Denathan.


"Tanya lagi, heheh," jawab Thalita sambil terkekeh.


"Apa lagi?"


"Lo suka sama Natan?" Thalita bertanya dengan percaya diri.


"Hah, kok lo tanya gitu sih?" Denathan mengerutkan keningnya.


"Gue cuman pengin tau aja."


"Ya kalau dibilang suka sih ya emang gue suka sama Natan, tapi suka sebatas sahabat, nggak lebih."


"Lo beneran suka sama Natan?" beo Thalita.


"Iya, tapi gue suka sama Natan, bukan berarti gue cinta sama dia. Gue sama dia cuman sahabatan, kok."


Thalita hanya mengangguk-angguk merespons ucapan Denathan.


Denathan bertanya, "Emang kenapa sih, lo tanya begitu ke gue?"


Thalita ragu ingin menjawab. Dia diam beberapa saat. Setelah yakin dengan dirinya sendiri, Thalita berkata, "Hhmm ... jujur, sebenarnya gue suka sama Natan."


"Hah?"


❦︎❦︎❦︎

__ADS_1


𝑻𝒐 𝑩𝒆 𝑪𝒐𝒏𝒕𝒊𝒏𝒖𝒆...


__ADS_2