
Satu Minggu kemudian...
Denathan dan Aditya sudah banyak menghabiskan waktunya di Bali untuk bulan madu. Mereka juga sudah mengunjungi tempat wisata yang populer di Bali. Mulai dari Pura Uluwatu, Old's Man Canggu, Crystal Beach, Waterboom Bali, dan beberapa tempat lainnya. Sekarang mereka sudah sangat puas menghabiskan waktunya untuk bulan madu di Bali selama satu minggu. Kini mereka tengah bersiap-siap untuk meninggalkan Pulau Bali dan kembali ke Jakarta.
Mereka mengemasi barang-barang dan beberapa pakaian yang mereka bawa, memasukkannya ke dalam koper. Setelah semua siap, mereka juga sudah berpakaian lengkap, Denathan dan Aditya memutuskan untuk segera keluar dari hotel. Sebelumnya mereka menyerahkan kunci kamar kepada resepsionis hotel. Lalu mereka keluar hotel sambil menyeret koper dan menggendong tas ransel. Mereka sekarang sedang menunggu taksi di depan hotel.
Kemarin mereka sudah memesan tiket pesawat, sehingga mereka sekarang tinggal menuju ke bandara dan menunggu pesawat berangkat ke Jakarta Selatan pada pukul sembilan pagi, sesuai jadwal tiket.
Tak lama kemudian taksi yang mereka pesan datang menjemput mereka di depan hotel. Lalu Aditya dan Denathan segera naik ke dalam taksi. Dan taksi pun segera membawa mereka menuju ke Bandara Ngurah Rai Bali.
Selama di perjalanan, Denathan sesekali menengok ke luar jendela kaca mobil. Matanya tidak henti-hentinya mengamati sekitarnya, mengamati orang-orang yang berjalan di trotoar, mobil-mobil yang berlalu-lalang di sekitar jalan raya, dan mengamati berbagai aktivitas manusia sepanjang jalan.
Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di bandara. Aditya dan Denathan keluar dari taksi. Setelah membayar ongkos, mereka berdua segera melangkah masuk ke bandara, lalu menyerahkan karcis kepada resepsionis di lobi utama bandara. Kini mereka tinggal menunggu pengumuman pesawat akan berangkat.
Singkat cerita... Denathan dan Aditya sudah naik pesawat. Pesawat Lion Air itu membawa banyak penumpang yang sama-sama bertujuan pergi ke Jakarta Selatan. Menit-menit berlalu, pesawat Lion Air itu terbang ke udara dengan kecepatan tinggi, seakan membelah gumpalan awan yang berkumpul di langit.
Satu jam kemudian... pesawat itu sudah sampai di bandara yang terletak di Jakarta Selatan. Perlahan-lahan pesawat bertubuh kecil itu mendarat melewati jalur yang sudah disediakan.
Kini Denathan dan Aditya sudah sampai di Jakarta Selatan. Setelah keluar bandara, mereka memesan taksi online untuk mengantarkan mereka pulang ke rumah. Setelah taksi datang, mereka segera naik dan taksi itu membawa mereka menuju ke rumah mereka yang terletak di wilayah perumahan elit Jakarta Selatan.
****
Seminggu kemudian...
"Mas," Denathan berlari ke kamar mandi ketika merasakan akan mual. Dia berdiri di depan wastafel sambil menundukkan kepalanya, rasa mualnya semakin bertambah tapi anehnya tidak mengeluarkan muntahan makanan.
Mendengar sang istri mual-mual di dalam kamar mandi, Aditya setengah berlari terburu-buru masuk ke dalam, lalu pria itu memegang bahu istrinya dan memijat tengkuk leher Denathan untuk membantu meredakan mual.
Denathan berhenti mual, air liurnya terlihat menetes dari sudut bibirnya, lalu dia mengusapnya menggunakan punggung tangan. Napasnya terdengar tidak teratur.
"Kamu kenapa, Sayang? Kamu masuk angin?" tanya Aditya dengan perasaan khawatir.
"Aku nggak tahu, Mas. Perasaan tadi malam aku tidur pakai selimut," jawab Denathan sambil mengingat tadi malam. Dia memang tidur pakai selimut tapi tidak memakai sehelai benang pun karena dia dan suaminya habis melakukan perang malam.
__ADS_1
Aditya akan berangkat kerja tapi niatnya itu urung karena istrinya terlihat sedang sakit. Jadi mungkin Aditya hari ini akan meminta izin cuti kerja.
"Mas, kalau mau kerja, kamu berangkat saja, aku tidak apa-apa," ucap Denathan saat menyadari suaminya sudah berpakaian lengkap. Dasinya pun sudah terpasang rapi di kerah bajunya.
"Enggak, Sayang. Kamu keliatannya sedang sakit. Aku hari ini izin cuti saja," balas Aditya.
"Enggak, Mas. Aku nggak apa-apa, cuman--." Belum sempat mengatakan lebih lanjut, tiba-tiba rasa mual kembali menyerang perut Denathan. Lalu wanita itu cepat-cepat menghadap wastafel dan mual-mual, tapi tidak sampai mengeluarkan isinya.
Aditya makin panik, lalu pria itu kembali memijit tengkuk leher Denathan. "Kamu mau ke dokter? Biar diperiksa," kata Aditya.
"Tidak usah, Mas. Mungkin aku hanya masuk angin saja," jawab Denathan.
"Masuk angin?" beo Aditya.
"Iya," jawab Denathan. Lalu perempuan itu berjalan keluar kamar mandi.
Aditya mengikuti langkah Denathan. Namun sebelum benar-benar keluar kamar mandi, Denathan kembali berlari mendekati wastafel dan mual-mual lagi.
Denathan pasrah saat suaminya memaksa agar dia diperiksakan ke dokter. Aditya membawa istrinya sampai ke dalam mobil. Laki-laki itu segera mengendarai mobilnya menuju ke klinik terdekat untuk memeriksakan kondisi istrinya.
****
Denathan sudah diperiksa, seorang dokter wanita tersenyum cerah ketika berjalan menemui Aditya yang menunggu di ruangannya, sementara Denathan diperiksa di ruangan sebelah.
"Bagaimana istri saya, Dokter?" tanya Aditya, sesaat dia heran karena sang dokter selalu tersenyum.
Dokter dengan tanda pengenal Susi itu duduk di depan Aditya. Mereka berhadap-hadapan di antara meja yang menjadi pembatas.
"Selamat ya, Pak. Anda akan segera memiliki momongan, istri Anda sedang hamil, Pak. Kehamilannya baru sekitar satu minggu."
Sesaat Aditya mematung di tempat duduknya. Dia masih kaget dan sedikit kurang percaya dengan ucapan sang dokter. Seketika kebahagiaan membuncah di dalam hatinya. Akhirnya keinginannya untuk memiliki anak akan segera terwujud.
"Alhamdulillah, Dok. Istri saya hamil?" tanya Aditya sambil tersenyum lebar. Kedua matanya berbinar-binar tanda bahagia.
__ADS_1
"Iya, Pak. Mari ikuti saya." Dokter itu berdiri lalu mengajak Aditya ke ruangan tempat Denathan diperiksa.
Saat mengetahui Denathan berbaring di ranjang sambil mengelus-elus perutnya, Aditya tersenyum makin lebar lalu laki-laki itu segera menghampiri sang istri.
Denathan juga bahagia mengetahui dirinya hamil. "Mas, aku hamil."
"Iya, aku sangat bersyukur kamu hamil, Sayang. Aku bahagia sekali," ucap Aditya sambil memegang tangan kanan Denathan. Pria itu selalu mengembangkan senyumannya.
Susi mengajak Aditya dan Denathan untuk kembali ke ruangannya. Dokter cantik itu akan memberikan arahan dan bimbingan mengenai ibu hamil kepada pasangan suami-istri itu.
"Untuk Ibu yang baru pertama kali hamil, sebaiknya Ibu jangan melakukan aktivitas berat ya. Boleh melakukan aktivitas tapi jangan terlalu sering. Saya sarankan, selama Ibu hamil, sebaiknya makan makanan yang sehat, banyak makan sayur, dan minum susu ibu hamil. Supaya apa? Supaya kandungan Ibu tetap kuat." Susi menjelaskan panjang lebar dengan nada lembut yang sopan masuk telinga.
"Iya, Dok. Terimakasih sarannya." Denathan menjawab sambil mengangguk dan tersenyum.
Lalu Susi beralih menatap wajah Aditya. "Nah, untuk Bapaknya. Sebaiknya selama istri Anda hamil, Anda harus selalu memperhatikan istri Anda. Memperhatikan kondisi kesehatannya, makanannya, dan menjaga agar istri Anda tidak melakukan aktivitas berat. Mengerti, Pak?"
"Saya mengerti, Dok. Saya akan selalu memperhatikan kondisi istri saya selama dia hamil," jawab Aditya dengan yakin.
****
"Sayang, apa kamu perlu asisten pribadi?" tanya Aditya.
Sekarang Aditya dan Denathan ada di dalam kamar. Mereka sedang mengobrol tentang kehamilan.
"Buat apa?" Denathan bertanya dengan bingung.
"Aku tidak bisa selalu menemanimu, Sayang. Karena aku harus kerja. Kalau kamu punya asisten pribadi, dia bisa membantumu membersihkan kamar, menyiapkan sarapan, atau aktivitas lain. Dia juga bisa menemanimu selama kamu hamil. Aku khawatir sama kamu," kata Aditya sambil memegang kedua tangan istrinya.
Denathan menggeleng. "Nggak, Mas. Nggak perlu. Kan, ada Bi Etik."
"Bi Etik nggak bisa, Sayang. Biarkan dia fokus pada pekerjaan dapur dan rumah," jawab Aditya.
Tanpa pikir panjang Denathan menyetujui ucapan suaminya. "Ya sudah, nggak apa-apa deh, Mas. Terserah kamu saja."
__ADS_1