
"Denathan, makasih udah bantu gue ngerjain tugasnya. Kalau nggak ada lo gue nggak bakal bisa," kata Thalita yang begitu lega setelah selesai mengerjakan tugas bahasa Indonesia menulis cerita pendek bertema horor dengan dibantu oleh Denathan dari pukul tujuh malam tadi.
Denathan mendengar ucapan Thalita pun tersenyum lebar lalu menjawab dengan santai, "Iya sama-sama. Enak tuh kalau punya tugas dikerjain bareng-bareng."
Thalita menyetujui ucapan Denathan. "Iya bener, cepat selesainya."
"Makanya itu, lain kali kalau ada tugas kita kerjain bareng lagi ya. Tapi kalau ada waktu sih," ucap Denathan seraya mengambil tasnya. Dia bersiap-siap akan pulang ke rumah.
"Oke," balas Thalita singkat.
"Ya udah, karena sekarang udah jam setengah delapan, gue pulang dulu ya."
"Iya, lo hati-hati di jalan."
"Pasti gue bakal hati-hati," balas Denathan seraya mengangguk mantap.
Setelah berpamitan kepada Thalita, Denathan melangkah keluar kamar sambil menggendong tasnya di pundak.
Lalu Denathan menemui Dewi yang sekarang ada di ruang keluarga. Wanita paruh baya itu sedang menonton televisi bersama suaminya.
"Om, Tante, aku pamit pulang ya," kata Denathan sambil menyalami tangan papanya Thalita, lalu berlanjut menyalami tangan Dewi.
"Kok buru-buru pulang sih? Tante pikir kamu mau nginep di sini," ujar Dewi.
"Iya, sekalian nginep di sini enggak apa-apa. Thalita juga nggak ada teman tidur," sahut Brandon--papanya Thalita.
Denathan tersenyum tipis kemudian berkata, "Makasih, Om, Tante. Aku mau pulang aja. Soalnya Mama suruh aku pulang."
Brandon dan Dewi saling bertatapan muka seolah sedang bertukar pikiran lalu kembali menatap wajah Denathan.
"Ya sudah, enggak apa-apa. Kamu hati-hati di jalan ya. Ini udah malam loh," kata Dewi.
"Iya, Tan. Aku bakal hati-hati, kok. Kalau gitu aku pulang dulu ya, Om, Tante." Setelah itu Denathan melangkah menuju ke luar rumah.
"Denathan anaknya cantik manis ya, Pa. Terus baik, sopan pula. Nggak salah Thalita temenan sama dia."
"Iya, Ma. Bener. Denathan persis Darma, ayahnya."
"Katanya Denathan juga anak indigo loh, Pa."
__ADS_1
"Serius, Ma? Papa baru denger."
"Iya, aku dikasih tahu sama Thalita sih, Pa."
Brandon mengangguk-angguk paham, "Ooh pantesan ada yang beda dari Denathan."
****
Denathan sampai di rumahnya tepat pada pukul delapan malam. Dia memasukkan sepeda motornya ke dalam garasi, lalu dia melepas sepatunya sebelum masuk ke rumah melewati pintu garasi yang menghubungkan ke ruang keluarga. Sehingga pintu garasi itu bisa menjadi alternatif bagi Denathan untuk masuk ke rumah tanpa masuk lewat pintu utama.
Di ruang keluarga ada Darma dan Desi yang sedang menonton acara televisi. Kedua orang tuanya itu belum mengetahui kehadiran Denathan. Baru beberapa saat kemudian, Desi menyadari anaknya sudah masuk ke rumah.
"Denathan!" Desi memanggil anaknya yang akan menaiki tangga menuju ke lantai dua.
"Apa, Ma?" Denathan berdiri di anak tangga paling bawah.
"Kamu kenapa pulang malam-malam begini? Dari mana saja kamu?" tanya Desi tidak santai. Bagaimana mau santai melihat anaknya pulang sekolah larut malam. Memangnya ada sekolah yang mengharuskan murid-muridnya pulang malam? Sepertinya tidak ada.
"Ya Allah, Ma. Kan, aku tadi udah bilang sama Mama kalau aku belajar di rumahnya Thalita. Tadi aku ngerjain tugas sama Thalita. Sekalian pulang sekolah aku ke rumahnya dia, daripada bolak-balik, kan, capek." Denathan menjelaskan panjang lebar dan tidak berbohong.
"Bener apa yang kamu bilang?" Desi memastikan.
"Bener, Ma. Aku, kan, nggak pernah bohong sama Mama." Denathan tersenyum tipis.
"Iya Ma. Aku ke kamar dulu ya." Kemudian Denathan melanjutkan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Iya, sebelum tidur kamu mandi dulu, jangan lupa solat!" ujar Desi.
"Iya, Ma!" Denathan menyahut saat sudah sampai di lantai dua.
Di dalam kamar, Denathan melepas seragamnya dan meninggalkan kaos dalamnya. Kemudian dia menyampirkan seragamnya ke gantungan baju. Setelah itu Denathan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sedikit bau keringat.
Tidak lama-lama waktu yang Denathan butuhkan untuk mandi. Cukup enam menit gadis itu sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan tubuh yang segar dan wangi.
"Segernya habis mandi," ucapnya seraya mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah.
Kemudian Denathan mengambil pakaiannya yang ada di lemari. Setelah itu dia memakainya satu persatu. Kini gadis itu sudah berpakaian lengkap.
"Apa gue langsung tidur aja ya," monolog Denathan yang kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tanpa disadari Denathan pun sudah terlelap tidur.
__ADS_1
Keesokan harinya Denathan pergi ke sekolah. Sampai di sekolah gadis itu tidak langsung pergi ke kelas, tapi dia pergi ke taman sekolah. Di taman dia sendirian, sama sekali tidak ada satu pun siswa yang menemaninya.
Sampai beberapa saat kemudian, Denathan melihat Natan dan Thalita sedang bergandengan tangan menuju ke taman. Tentu saja hal tersebut menimbulkan pertanyaan di benaknya. Sejak kapan Natan dan Thalita pacaran, setahu Denathan mereka belum pernah ada tanda-tanda saling dekat. Lalu kenapa tiba-tiba pacaran? Ah membingungkan.
Natan dan Thalita sepertinya tidak mengetahui keberadaan Denathan karena setelah itu mereka berdua duduk di bangku taman yang jaraknya cukup jauh dari tempat Denathan. Denathan pun berniat mendatangi mereka.
Sampai di dekat Natan dan Thalita, Denathan menyapa mereka berdua. "Halo Natan, Thalita. Tumben deketan. Kalian udah pacaran ya?"
Ada yang berbeda dari diri Thalita, cewek itu menatap wajah Denathan dengan tatapan tajam. Tidak seperti Thalita yang biasa Denathan temui. Kali ini sangat berbeda.
"Thal, lo kenapa? Lo nggak suka gue ke sini?" Refleks Denathan berbicara seperti itu saat melihat wajah Thalita yang tidak mengenakkan.
Thalita berbicara dengan nada keras, "Lo siapa, hah? Gue nggak kenal sama lo ya! Lo tuh bukan siapa-siapanya gue. Lagian lo kenapa sok akrab sama gue!?"
Hal itu menimbulkan keterkejutan di hati Denathan. Mana mungkin seorang Thalita yang dikenal baik hati, lembut, dan sopan, mendadak berbicara dengan keras lagi membentak seperti itu. Itu bukan Thalita yang Denathan kenal. Thalita tidak seperti itu.
Denathan memegang pundak Thalita lalu mengguncangkan tubuh Thalita sambil berbicara, "Thal, lo kenapa? Sadar wei, gue sahabat lo. Denathan. Gue Denathan!"
Thalita dengan sangat kasar menghentakkan tubuh Denathan agar menjauh darinya. "GUE NGGAK KENAL SAMA LO. DAN LO BUKAN SAHABAT GUE! MENDING LO PERGI! SEKARANG!"
Dorongan kasar dari Thalita membuat Denathan terhuyung ke belakang lalu jatuh terduduk di tanah yang becek. Denathan sangat tidak mengerti apa yang menyebabkan sahabatnya itu berubah menjadi jahat kepadanya. Dan Natan--sahabatnya sejak kecil itu juga tidak menunjukkan reaksi apa pun saat tahu dia jatuh. Seharusnya cowok itu langsung sigap menolongnya. Tapi apa? Justru Natan hanya diam sambil menatapnya, lalu timbul senyum mengerikan di wajah Natan.
"NATAN! LO KENAPA DIAM AJA!? LO UDAH DIPENGARUHI SAMA THALITA? GUE SAHABAT LO, NAT! HARUSNYA LO NGGAK DIEM AJA!" Kemudian Denathan berdiri dan bertindak memukul Thalita, tidak peduli Thalita sahabatnya, karena sepertinya Thalita sudah bukan sahabatnya. Thalita seperti dirasuki iblis.
Namun hal yang tidak terduga terjadi, ketika pukulan Denathan hampir mengenai wajah Thalita, tanpa diduga Thalita dapat menahan tangan Denathan hanya dengan tangan kanannya. Lalu Thalita menyunggingkan senyuman mengerikan.
"Lo pikir, lo bisa mukul gue!?" Thalita berbicara tapi suaranya berat dan mengerikan.
"Thal! Lo bukan manusia! LO IBLIS!!" Denathan membentak di hadapan Thalita dengan sangat keras.
Namun Thalita hanya tersenyum lalu menjawab, "GUE EMANG IBLIS!" Lalu cewek itu tertawa sangat kencang, menggelar dan wajahnya berubah menjadi sangat mengerikan. "HAHAHAHAHAH! KAU MUSUHKU!! HAHAHAHA!!"
Kemudian Thalita--ralat, sosok mengerikan itu dengan mudahnya mengangkat tubuh Denathan hanya dengan satu tangannya yang panjang, lalu sosok itu melemparkan tubuh Denathan sangat kencang hingga Denathan...
Seketika Denathan terperanjat bangun, napasnya ngos-ngosan, keringat dingin memenuhi wajahnya. Ternyata kejadian tadi tidak benar-benar nyata, dia hanya bermimpi. Cepat-cepat Denathan mengambil air minum yang ada di meja samping ranjang, lalu meminum air itu sampai habis. Dan kembali meletakkan gelas yang sudah kosong itu ke atas meja.
Denathan mengusap-usap wajahnya berusaha menghilangkan mimpi buruk tadi yang sangat mengerikan.
"Ya Allah, lindungilah aku."
__ADS_1
Dan baru Denathan sadari, dia belum melaksanakan sholat isya. Mungkin hal itu yang menyebabkan Denathan mimpi buruk. Mungkin juga Mbah Wayan memperingati Denathan lewat mimpi agar Denathan tidak lupa untuk melaksanakan sholat.
"Astaghfirullah, aku lupa sholat."