Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
CITA - CITA (ENDING)


__ADS_3

Natan sudah memantapkan hati akan mengungkapkan perasaannya kepada Thalita. Cewek itu yang sepertinya akan menjadi cinta pertamanya. Denathan sudah gagal masuk ke dalam cinta pertama Natan karena Denathan menginginkan persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak kecil akan tetap terjalin sampai akhir hayat.


Natan mengajak Thalita berkeliling taman kota. Ini hari Minggu sehingga mereka libur sekolah dan bebas berlibur ke mana pun. Tadi Natan yang mengajak Thalita jalan-jalan, tentu Thalita tidak menolak dan menerima ajakan Natan. Sebenarnya Denathan juga diajak, tapi Denathan menolak karena Denathan ingin memberi waktu berdua untuk Natan dan Thalita. Kalau Denathan ikut, sudah pasti Denathan hanya akan menjadi obat nyamuk dan Natan juga bisa grogi saat menyatakan perasaannya kepada Thalita.


"Udaranya segar banget ya, Nat. Gue suka banget. Lo tumben ngajakin gue jalan-jalan," ujar Thalita yang berjalan beriringan di samping Natan.


"Iya, gue sengaja ngajak lo. Niatnya mau ngajak Denathan, tapi Denathan nggak mau. Katanya lagi mager keluar rumah." Natan hanya beralasan saja.


Thalita pun tertawa pelan, "Hahaha, sejak kapan Denathan mager? Biasanya juga dia paling semangat kalau diajak keluar."


"Nggak tau, mungkin sejak sekarang, hahaha," balas Natan berniat bercanda.


Thalita pun tertawa lagi, "Ahaaha. Ada-ada aja sih lo."


"Lucu, kan? Hahah..." Natan tertawa.


"Iya, hahaha." tawa Thalita.


Saat Thalita tidak sengaja melihat penjual es krim yang ada di tepi jalan cukup dekat dari area taman, cewek itu tiba-tiba ingin membeli es krim. "Natan, lo mau temenin gue beli es krim, nggak?"


Natan melihat ke arah penjual es krim di sana. "Oh mau gue beliin?"


Thalita menggeleng sambil menjawab, "Enggak, nggak usah, Nat. Orang gue bawa uang sendiri. Gue kalau keluar mesti harus bawa uang."


"Enggak apa-apa gue beliin." Natan tetap memaksa.


"Enggak usah. Kalau lo nggak mau ikut ya sudah. Tapi lo tunggu gue di sini," ujar Thalita yang segera berjalan mendekati tukang es krim itu sebelum pindah ke tempat lain.


"Thal, gue ikut!" Natan setengah berlari mengejar Thalita.


"Pak beli es krim rasa strawberry satu ya!" Thalita langsung memesan setelah sampai di hadapan penjual es krim itu yang tidak ramai pembeli. Tinggal dua orang anak yang dilayani.


"Iya, Neng. Tunggu sebentar," jawab mas-mas penjual es krim itu. Jika dilihat dari wajahnya, sepertinya dia tidak terlalu tua. Mungkin umurnya 30 tahunan ke atas.


"Lo mau es krim nggak, Nat? Tapi lo beli sendiri." Thalita menawari Natan.


"Iya, gue beli," jawab Natan. "Mas, aku es krim satu rasa coklat ya." Lanjutnya.


"Oke," balas si penjual itu sambil menautkan jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf 'O'.


Setelah melayani dua anak tadi, Mas penjual es krim itu mulai menyiapkan es krim pesanan Thalita dan Natan. Dimulai dari Thalita yang memesan es krim strawberry.


"Neng, mau pakai topping meses apa tidak?" tanya mas itu.


"Enggak, Pak. Tapi aku pengen topping coklat itu aja," jawab Thalita sambil menunjuk bubuk coklat yang ada di wadah. Sepertinya itu topping untuk es krim juga.


"Oh, topping coklat. Oke, Neng." Mas itu mengambil topping bubuk coklat pakai sendok lalu ditaburkan di atas es krim milik Thalita. "Sudah, Neng? Nggak pakai topping lain?"


"Enggak, Pak. Ini aja, pasti sudah enak," jawab Thalita sambil menerima es krim itu. "Berapa satunya, Pak?" Thalita ingin membayar tapi Natan mencegahnya.


"Tunggu dulu," ujar Natan.


"Kenapa sih, Nat? Gue kan mau bayar."


Mas penjual es krim bertanya, "Masnya mau bayarin Neng ini ya?"

__ADS_1


Natan mengangguk-angguk dan sedikit tertawa. Penjual es krim itu tahu saja kalau dia yang akan membayarnya. "Nah bener, Mas. Saya nanti yang bayarin. Tolong buatkan es krim untuk saya dulu."


"Oke, Mas." Penjual itu pun berlanjut membuatkan es krim untuk Natan.


"Natan, nggak usah, biar gue bayar sendiri aja. Lo mah." Thalita tetap mengeluarkan uangnya untuk membayar tapi lagi-lagi Natan mencegah.


"Nggak usah, gue aja yang bayar. Gue ikhlas beliin lo es krim."


Selesai menyiapkan es krim rasa coklat, mas penjual itu memberikannya kepada Natan. "Ini, Mas. Es krimnya."


Natan menerimanya lalu memberikan uang lima puluh ribu kepada penjual itu, "Berapa harga dua es krimnya, Mas?"


"Sepuluh ribu saja, satu es krim harganya lima ribu," jelas penjual itu.


Dalam hati Natan berkata, "Murah banget. Gue beli di tempat lain harganya bisa sampai sepuluh ribu."


"Mas, kembaliannya nggak usah. Buat Mas aja. Saya ikhlas memberi," kata Natan dengan tulus.


Seketika membuat penjual es krim itu bahagia. Tidak menyangka ada orang sebaik Natan yang rela memberikan kembaliannya. "Wah, makasih banyak loh, Mas. Saya sangat bersyukur atas pemberian ini. Sekali lagi, terima kasih banyak, Mas. Semoga Allah membalas kebaikan, Mas."


Natan tersenyum dan mengangguk pelan. Dia sudah terbiasa memberi uang kepada orang yang membutuhkan. Jika dilihat dari tampang penjual es krim itu, sepertinya dia hidup pas-pasan. Tidak kaya tapi juga tidak terlalu miskin.


Bagi Natan, uang jajan yang diberikan papanya terlalu banyak sampai dia bingung harus menghabiskannya. Jalan satu-satunya adalah memberikannya kepada orang yang membutuhkan tanpa meminta imbalan apa pun. Dia iklhas memberi.


"Aamiin, makasih juga, Mas. Ya sudah saya pergi dulu." Natan dan Thalita berucap amin hampir bersamaan. Thalita juga kagum dengan Natan yang suka memberi.


"Wah, cowok idaman gue banget. Suka berbagi lagi. Tapi sayangnya dia nggak suka sama gue. Maybe," ucap Thalita di dalam hatinya. Dia begitu bangga melihat sosok laki-laki seperti Natan yang suka berbagi.


"Iya, hati-hati, Mas. Makasih," jawab penjual itu sebelum akhirnya Natan pergi menuju ke area taman bersama Thalita.


Selesai menghabiskan es krimnya. Natan dan Thalita kembali berbincang. Saat ini mereka duduk di kursi taman yang berada di bawah pohon mangga.


"Lo emang sering berbagi sama orang lain ya? Gue kagum sama lo," kata Thalita saat mengingat tadi Natan memberikan kembaliannya kepada penjual es krim.


"Nggak sering juga. Gue nggak asal ngasih duit ke orang lain. Gue cari yang bener-bener membutuhkan. Penjual es krim tadi kayaknya orang yang kurang mampu, makanya gue iklhas ngasih kembalian ke penjual tadi." Natan menjelaskan sambil tersenyum.


"Wah hebat loh, jarang-jarang ada anak muda yang suka berbagi kayak lo," ujar Thalita.


"Karena uang jajan gue kebanyakan, Thal. Papa gue kalau ngasih uang nggak kira-kira. Gue mesti dikasih uang 10 juta perbulan. Padahal kebutuhan gue nggak sebanyak itu," ucap Natan mengingat bagaimana saat papanya memberikannya uang tanpa pikir-pikir dulu, seakan-akan uang tidak berarti apa-apa.


Thalita sudah tidak terkejut dengan ucapan Natan. Karena papanya Natan adalah seorang pengusaha toko emas yang sudah sangat terkenal di Indonesia dan memiliki banyak cabang di berbagai wilayah di Indonesia. Hal tersebut yang membuat Sultan--papanya Natan-- memiliki kekayaan yang tidak main-main. Belum lagi Sultan juga menanam saham di perusahaan tambang emas yang menambah aset kekayaannya.


"Gue nggak heran, Papa lo, kan, pengusaha kaya," jawab Thalita.


"Iya, gue bersyukur banget Papa gue diberi rezeki berlipat sama Allah," jawab Natan tidak ingin sombong. Dia tetap mengingat Tuhan yang telah memberikan rezeki kepada papanya berlipat-lipat.


"Gue juga bersyukur kok, Nat. Papa gue sedang merintis usahanya. Papa sekarang masih kerja di perusahaan mobil." Thalita memberi tahukan pekerjaan orang tuanya.


"Papa lo mau buka usaha apa?" tanya Natan.


"Hmm, usaha bengkel motor dan mobil. Kan Papa gue kerja di perusahaan mobil sebagai montir, seenggaknya Papa mau memanfaatkan keahliannya di bidang mesin," jelas Thalita.


"Wah bagus itu, Thal. Punya keahlian yang bisa dimanfaatkan. Gue punya cita-cita. Tapi cita-cita gue nggak pengin nerusin bisnis Papa, gue mau mendirikan perusahaan mobil." Natan menjelaskan tentang cita-citanya.


"Terus kalau lo nggak nerusin bisnis Papa lo, siapa yang mau nerusin bisnisnya kalau misalnya Papa lo udah nggak ada?"

__ADS_1


"Mungkin adek-adek gue. Tasya bisa atau Devano juga bisa," jawab Natan tanpa pikir panjang.


"Ya begitu juga enggak-enggak apa sih, Nat. Semoga cita-cita lo mau mendirikan perusahaan mobil tercapai ya." Thalita tersenyum tipis menatap wajah Natan.


"Iya, Aamiin. Setiap habis solat gue selalu berdoa sama Allah, biar cita-cita gue dikabulkan. Insyallah kalau Allah berkehendak," ucapnya.


"Aamiin." Thalita mengamini.


Natan kemudian tersenyum menatap wajah Thalita yang cantik. Selain cantik juga manis. Lalu cowok itu memegang kedua pundak Thalita membuat Thalita menatapnya heran.


"Kenapa Nat?" tanya cewek itu.


"Selain cita-cita gue tadi, ada satu lagi cita-cita yang akan segera gue gapai," ungkap Natan dengan suara pelan tapi jelas.


"Memangnya lo punya cita-cita apa lagi?" tanya Thalita yang belum mengerti.


"Cita-cita gue pengen mencintai orang yang gue suka," jawab Natan.


Thalita makin dibuat bingung dengan Natan. Hatinya berkata bahwa orang yang disukai Natan adalah dirinya. Ah tapi mana mungkin. Sejenak Thalita mengingat Denathan, pasti Natan menyukai Denathan. Secara, kan, mereka sudah kenal dekat sejak kecil. Namun pemikirannya itu salah saat Natan mengatakan...


"Dan orang yang gue sukai itu lo, Thal.   Gue suka sama lo," jelas Natan tulus dari hati.


Deg. Thalita seketika terpaku. Jantungnya seakan berhenti beberapa detik. Hatinya seolah berbunga-bunga dan kebahagiaan seketika membuncah dalam hatinya. Dia sekarang tidak dapat berkata apa-apa. Dunianya seakan berubah menjadi warna-warni. Natan--cowok yang selama ini dia sukai, akhirnya mengungkapkan perasaan kepadanya. Thalita tidak dapat menahan rasa senangnya sekarang.


"Apa kamu mau menjadi pacarku?" tanya Natan memastikan.


Thalita tetap diam. Jantungnya berdegup kencang karena saking bahagianya. Kemudian Thalita mengangguk pelan. "Iya, Natan. Aku mau."


Seketika membuat Natan tersenyum lebar. Dia begitu lega mendapat balasan cinta Thalita. Benar apa kata Denathan waktu itu, bahwa dia harus mencoba untuk mengungkapkan perasaannya kepada Thalita. Semua itu terbukti benar, sekarang Natan merasa sangat bahagia.


"Makasih, Thalita. Aku akan selalu menjagamu," ucap Natan sangat senang lalu dia bertindak memeluk Thalita dan mencium rambutnya berkali-kali. Rambut Thalita sangat lembut dan wangi membuat Natan betah menciumnya.


Thalita meneteskan air mata di pelukan Natan. Tangisan bahagia itu yang selama ini Thalita impikan. Bisa menjadi kekasih Natan adalah hal terbesar yang dia inginkan. Natan sekarang sudah menjadi pacarnya, sekaligus orang yang akan selalu menjaganya. Thalita begitu bahagia saat ini.


"Makasih juga, Natan. Akhirnya kamu menyatakan perasaan kepadaku. Aku sudah lama menunggumu," ucap Thalita pelan. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik Natan. Cowok itu badannya kekar dan gagah, sangat nyaman berada di pelukannya. Bahkan seharian pun sepertinya Thalita betah.


Natan melepas pelukannya lalu mengapit pipi Thalita dengan kedua telapak tangannya. Kini Natan dan Thalita saling pandang. Hati mereka sama-sama bahagia. Jantung mereka sama-sama berdebar. Mereka sama-sama memiliki perasaan cinta dan sayang. Satu hal lagi, mereka sekarang resmi menjadi sepasang kekasih muda.


Tanpa mereka sadari, ada Denathan yang sedang memerhatikan mereka dari kejauhan. Cewek itu memandang kedua sahabatnya yang akhirnya berhasil menjalin cinta. Dia ikut bahagia melihatnya.


"Natan dan Thalita, dua sahabat gue akhirnya pacaran. Dan nggak sadar sekarang mereka udah nikah aja." Denathan berkata sambil tersenyum, lalu menutup buku diary-nya yang isinya bertuliskan tentang kehidupannya dan kehidupan kedua sahabatnya. Dia sudah selesai membaca semua halaman di buku diary-nya itu sampai ke halaman terakhir. Banyak kenangan indah dan pahit yang Denathan ceritakan di buku itu. Dia menyimpan buku itu sampai sekarang untuk dijadikan sebagai kenang-kenangan. Terkadang Denathan membacanya jika sedang merindukan masa-masa SMA-nya dulu.


Di usianya yang sekarang sudah menginjak umur 25 tahun, Denathan belum menikah, dia masih menjalin hubungan pertunangan dengan Aditya. Cowok yang saat di SMA dulu adalah teman biasa Denathan, tapi sekarang malah menjadi tunangannya. Benar sekali apa yang dikatakan Renita dulu, jodoh tidak ada yang tahu dan bisa saja dari orang terdekat. Tetapi bukan Natan jodohnya. Aditya adalah jodoh Denathan yang sebenarnya. Mungkin jika Tuhan menghendaki.


Teman-teman dekat Denathan yang lain juga sudah menikah, selain Natan dan Thalita. Renita, Denok, dan Tia, mereka sudah menemukan pasangan dan jodoh mereka masing-masing. Ketiga teman dekatnya itu sudah menikah dan menjalani kehidupannya masing-masing. Sekarang mereka tidak sering berkumpul seperti dulu. Kalau ada waktu luang mereka tetap menyempatkan untuk berkumpul sekaligus untuk mengenang masa-masa SMA dulu.


"Sayang, kamu sedang membaca apa? Aku tunggu di ruang tamu, kamu lama sekali." Aditya baru masuk ke kamar Denathan dan langsung bertanya.


Denathan menoleh ke belakang lalu menjawab, "Membaca buku diary kenanganku waktu SMA, Mas."


Aditya tertawa, "Hahah, pantas saja kamu masih ingat cerita kita waktu SMA. Aku sempat membacanya dan itu lucu sekali."


"Iya, aku waktu SMA dulu, suka menulis buku diary, Mas. Biar bisa jadi kenang-kenangan," jawab Denathan.


"Benar Sayang. Sekarang ayo kita pergi ke toko busana, kita akan membeli baju pengantin untuk pernikahan kita bulan depan." Aditya menggandeng tangan Denathan keluar dari kamar.

__ADS_1


Iya, Aditya dan Denathan akan mengadakan resepsi pernikahan mereka pada bulan Mei mendatang. Mereka berdua akan menikah dan menjalani kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang penuh ujian serta rintangan.


__ADS_2