
Sudah pukul empat sore. Denathan bangun dari tidurnya yang pulas. Dia menoleh ke samping, mendapati suaminya masih tertidur. Dengkuran halus terdengar keluar dari napas laki-laki itu. Tadi jam dua siang, setelah mereka pulang jalan-jalan dari Jakarta Timur, mereka memutuskan untuk bersih-bersih, mandi, dan tidur.
Denathan tersenyum, dia berkata, "Pasti Mas Adit kecapaian. Ya udah biarin aja, nggak usah dibangunkan."
Lalu perempuan itu mengikat rambutnya yang berantakan. Dia kemudian turun dari ranjang, mengambil air putih yang sudah ada di atas meja, lalu meminumnya setengah gelas. Setelah itu Denathan melangkah ke kamar mandi untuk membasuh mukanya yang berminyak agar bisa segar kembali. Tidak butuh lama, perempuan itu selesai mencuci muka, lalu dia melangkah keluar kamar mandi. Berpapasan dengan itu, Aditya mendadak ada di depannya, sehingga membuat Denathan terkejut.
"Astaga, Mas Adit! Kok tiba-tiba di sini." Denathan mengelus-elus dadanya yang berdebar efek terkejut.
"Maafkan aku, aku baru bangun tidur. Aku nggak tahu kalau kamu ada di kamar mandi. Aku pikir kamu udah keluar kamar," jelas Adit sambil mengelus-elus pundak istrinya agar tenang.
"Iya, Mas. Enggak apa-apa. Aku juga baru bangun tidur, terus cuci muka." Denathan kemudian melangkah ke arah meja riasnya. Lalu Denathan mengambil secarik tisu dari dalam wadahnya. Perempuan itu mengusap-usap wajahnya dengan tisu untuk mengeringkan wajahnya. Kemudian membuang tisu itu ke tempat sampah yang terletak di bawah meja.
Denathan melihat pantulan dirinya di depan cermin. Lalu berbicara, "Aku tetap cantik ternyata." Dia baru sadar, meski wajahnya terdapat luka lebam di bagian pipi, tapi tidak mengurangi aura kecantikannya.
Aditya baru keluar dari kamar mandi lalu memanggil Denathan. "Sayang."
"Iya, kenapa, Mas?" Denathan bertanya.
"Kamu mau masak apa nanti?" Aditya bertanya, lalu laki-laki itu melepas kaosnya. Sekarang dia bertelanjang dada, dan kemudian menyampirkan kaos itu di gantungan baju.
"Hmm, belum tahu sih, Mas. Tapi Mas mau makan apa? Nanti aku bakal masakin," jawab Denathan.
"Sup ayam juga boleh," jawab Aditya tanpa pikir panjang. "Ayamnya di kulkas masih ada, kan?" Lanjutnya.
"Sup ayam ya, Mas? Ya udah, nanti aku bakal masak sup ayam. Kebetulan sih, di kulkas masih ada ayam," kata Denathan. Perempuan itu kemudian mengambil salep wajah untuk dioleskan pada bagian pipinya yang terluka. Dia sedikit meringis ketika merasakan sakit di pipinya yang terluka.
"Mas, pipiku makin biru." Denathan sadar pipinya terlihat lebih biru karena bekas lebam. Sebelumnya tidak sebiru itu.
"Wajar, Sayang, itu darah di pipi kamu mengering di dalam kulit, makanya biru. Nanti lama-lama pipi kamu sembuh, kok," jelas Aditya dengan kalem.
"Nggak apa-apa deh, Mas. Lagian aku dari dulu udah terbiasa begini." Denathan menutup wadah salep itu lalu kembali meletakkannya di tempat semula.
"Aku masih ngantuk, aku tidur sebentar ya," kata Aditya sambil menutup mulutnya yang menguap. Dia masih mengantuk. Dengan tidur sebentar adalah solusi yang tepat.
"Iya, Mas. Aku ke dapur, mau masak sama Bi Etik."
__ADS_1
Aditya tidak merespons ucapan istrinya karena laki-laki itu sudah kembali tidur. Denathan kemudian melangkah keluar kamar, menuruni anak tangga menuju ke lantai satu, dan menuju ke arah dapur. Di dalam dapur, ada Bi Etik yang sedang menyapu lantai.
"Eh ada Non Denathan," kata Bi Etik saat melihat Denathan masuk ke dapur.
"Oh, Bibi masih nyapu lantai ya?" Denathan refleks bertanya seperti itu.
"Iya, Non. Baru aja," jawa Bi Etik.
"Ya sudah, Bibi sapu lantainya dulu. Soalnya nanti saya mau masak," jelas Denathan. "Saya keluar dulu ya, Bi."
"Iya, Non." Setelah Denathan keluar, Bi Etik melanjutkan aktivitas menyapunya.
Tidak menunggu waktu lama, Bi Etik pun sudah selesai menyapu lantai. Kemudian Denathan berjalan memasuki dapur, menemui Bi Etik yang sedang minum.
"Bi, stok ayam di kulkas masih ada, kan? Soalnya kemarin saya belum beli stok ayam." Denathan bertanya kepada Bi Sari.
Bi Etik menjawab, "Sepertinya masih ada Non. Coba, Non periksa dulu."
Lalu Denathan membuka pintu kulkas dan mengecek daging ayam di bagian bawah, ternyata masih tersisa satu potong ayam. "Untungnya masih ada sih, Bi. Soalnya Mas Adit mau dimasakin sup ayam."
Denathan menyiapkan bumbu-bumbunya, sementara Bi Etik menyiapkan alat-alat untuk memasak seperti panci, wajan, sudip, dan sendok. Mereka berdua pun mulai memasak.
Di tengah-tengah aktivitas itu, Bi Etik tidak sengaja melihat ke arah pipi Denathan yang terluka. "Maaf, Non, pipinya terkena apa ya?"
Denathan tersenyum tipis lalu menjawab, "Oh ini, tadi saya jatuh di kamar, pipi saya terbentur lantai."
"Hmm, kalau gitu Non istirahat saja. Biar saya saja yang memasak." Bi Etik khawatir dengan keadaan Denathan yang sedang terluka.
"Nggak usah, Bi."
****
Malam harinya pukul tujuh lebih lima menit, Aditya dan Denathan sedang makan malam bersama. Mereka sekarang ada di dapur. Di atas meja makan, sudah tersedia nasi dan sup ayam buatan Denathan dan Bi Etik.
"Mas, ini sup ayamnya," kata Denathan sembari menyuguhkan sup ayam di depan suaminya.
__ADS_1
Aditya mengangguk lalu menuangkan kuah sup ayam itu ke dalam piringnya yang berisi nasi. Setelah itu Aditya mulai memakannya. Pertama kali sup ayam itu masuk ke dalam mulutnya, Aditya langsung merasakan sensasi yang begitu nikmat yang tiada duanya. Masakan istrinya sangat nikmat sampai membuatnya ingin mengatakan kalimat pujian.
"Hmm, masakan kamu enak banget," kata Aditya.
"Syukurlah deh, Mas. Tadi aku dibantu sama Bi Etik," jawab Denathan. Perempuan itu kemudian mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
"Iya. Ya sudah, sekarang ayo kita makan."
Aditya dan Denathan pun makan malam bersama. Sedangkan Bi Esih saat ini ada di kamarnya. Wanita paruh baya itu akan makan malam setelah majikannya sudah selesai makan. Sebenarnya tadi, Denathan sudah mengajak Bi Etik untuk makan malam bersama, tetapi Bi Etik menolak dengan alasan tidak enak hati. Kurang pantas saja jika seorang asisten makan bersama majikan.
Denathan dan Aditya makan dengan tenang dan anteng. Mereka berdua tidak mengobrol. Adab makan yang benar memang seperti itu. Beberapa menit kemudian, akhirnya Aditya sudah selesai makan. Dia kemudian meminum air sebanyak satu gelas, lalu menaruh gelas kosong itu ke atas meja.
"Alhamdulillah kenyang," ucap Aditya sambil mengusap-usap perutnya yang kenyang.
Denathan juga sudah selesai makan. Dia menjawab perkataan suaminya, "Iya, Mas. Aku juga kenyang banget."
"Ya sudah, aku ke kamar dulu ya." Aditya kemudian berdiri, dia melangkah keluar, lalu melanjutkan langkahnya menuju ke lantai dua, dan sampai di kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Aditya mendengar ponselnya berdering di atas meja. Pertanda ada telepon masuk dari seseorang.
"Ada yang telpon kayaknya," kata Aditya lalu berjalan mendekat ke arah meja, dan mengambil ponselnya. Aditya mengecek nama si penelepon, ternyata adalah nomor telepon bengkel langganannya.
Aditya pun mengangkat telepon itu. Dia memulai pembicaraan, "Halo, Pak."
"Iya, halo, Mas Adit. Mobil Mas Adit sudah selesai diperbaiki, kemungkinan nanti bisa diantarkan ke rumah," kata orang di seberang telepon langsung menjelaskan ke intinya tanpa bertele-tele.
"Oh baik, Pak. Saya tunggu secepatnya ya. Karena besok, mobil itu saya pakai untuk berkerja," jawab Aditya dengan perasaan lega.
"Iya, Mas. Secepatnya saya akan mengantarkan mobil Anda ke rumah."
"Ya sudah, saya akhiri teleponnya ya."
"Iya, Mas Adit."
Kemudian Aditya mengakhiri teleponnya. Dengan perasaan lega, laki-laki itu tak sabar menanti mobilnya yang akan diantarkan ke rumahnya oleh pihak bengkel.
__ADS_1