
Denathan dan Thalita ada di kantin. Di sana hanya ada mereka berdua karena sekarang belum waktunya jam istirahat. Masih jam 9 pagi, sedangkan istirahatnya jam 10. Mereka berdua memang sengaja datang ke kantin dengan alasan jenuh di kelas karena tidak ada guru yang mengajar alias jam kosong. Sebenarnya Thalita tidak ingin ke kantin, tapi karena Denathan yang memaksa, akhirnya gadis itu menuruti kemauan Denathan.
Denathan berbincang-bincang dengan Thalita, membahas soal rencana yang Denathan buat tadi malam saat di rumah Thalita.
"Gimana, lo mau nggak ngelakuin sesuai rencana gue?" tanya Denathan.
"Nggak mau lah. Menurut gue rencana lo itu terlalu pasaran," jawab Thalita.
"Ya elah, lagian itu mudah banget. Nunggu momen yang pas, udah deh lo tinggal beraksi," ujar Denathan seraya menyenggol lengan Thalita.
"Apa sih!" Thalita risih dengan sikap sahabatnya itu.
"Ya udah sih kalau nggak mau deket sama Natan." Denathan kemudian menyeruput es tehnya dengan santai.
"Ih kok gitu sih." Thalita sedikit kesal mendengar ucapan Denathan.
Denathan tertawa pelan lalu menjawab, "Lah katanya rencana gue terlalu pasaran? Kan yang penting gue udah ngasih saran buat lo."
"Tapi ada saran lain yang lebih mempan gitu," ujar Thalita.
"Oh ada." Denathan kemudian mengambil batu kecil yang terdapat di bawah meja.
"Kok lo malah ngambil batu?" Thalita tidak habis pikir dengan Denathan.
"Nah lo tau, batu ini berfungsi banget buat Natan biar peka sama lo."
"Caranya?" Thalita mengerutkan kening. Memangnya hanya dengan sebuah batu, Natan bakal peka dengan perasaannya.
"Caranya cukup lemparkan batu ini ke arah Natan. Nah kalau sudah kena Natan, dia bakal--."
Thalita dengan cepat memotong ucapan Denathan sebelum Denathan ngelantur kemana-mana. "Nggak, nggak! Jangan ngawur deh. Bisa-bisa Natan jauhin gue. Dikira nanti gue cewek gila."
Denathan ngakak dengan jawaban Thalita. "Hahahah, lucu banget. Gue nggak serius, kok. Tadi cuman bercanda."
Thalita memanyunkan bibirnya lalu melempar Denathan dengan kulit kacang. "Ih lo ngeselin banget!"
"Hahaha biarin!" Denathan menjulurkan lidahnya mengejek Thalita.
Thalita hanya memutar kedua bola matanya malas. Membuang-buang waktu saja kalau dia terus-terusan meneladani Denathan.
Jam istirahat pun tiba. Tepat pukul dua belas siang, bel berbunyi sangat kencang sampai terdengar ke seluruh penjuru sekolah. Denathan dan Thalita dari tadi belum kembali ke kelas. Mereka berdua masih asyik mengobrol. Sampai waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Bersamaan dengan banyaknya siswa yang datang ke kantin, ada satu siswa yang paling menarik perhatian Thalita, siapa lagi kalau bukan Natan.
__ADS_1
"Nah itu Natan. Pas banget." Denathan menjentikkan jarinya sambil tersenyum.
"Tapi dia duduknya jauh banget." Thalita sedikit kecewa saat melihat Natan duduk sangat jauh dari tempatnya sekarang.
Denathan menyenggol lengan Thalita lalu berkata, "Ya elah, apa susahnya tinggal duduk di sebelahnya. Kan jadinya deket."
Thalita mengembuskan napas panjang lalu berkata, "Masalahnya--."
Denathan langsung menjawab, "Masalahnya apa? Lo kalau suka sama Natan. Langsung aja gas, jangan setengah-setengah."
"Hiihhh Nathaaaa. Masalahnya gue malu!" Thalita geregetan dengan sahabatnya yang satu ini. Ingin sekali mencari sahabat baru, tapi teman seperti Denathan sangat jarang dia temui. Denathan anak yang tidak memandang kasta dalam pertemanan.
"Astaga Thalita. Kalau lo malu terus. Kapan lo bisa dekat sama Natan? Emangnya lo nggak mau dimanja sama cowok?" Denathan menaik-turunkan alisnya sambil menatap wajah Thalita.
Thalita hanya mengangkat kedua bahunya. Dia jadi tidak mood bicara. Diam saja lebih baik sambil memikirkan strategi yang tepat agar di-notice Natan.
"Diam bae lu." Denathan kemudian ikut diam sambil menatap satu persatu siswa yang datang ke kantin. Lama-lama kantin dipenuhi oleh siswa-siswi yang membutuhkan pasokan makanan di perutnya alias lapar.
"Udah yuk, kita ke kelas. Kantin juga udah mulai penuh," kata Denathan saat menyadari dia harus pergi dari kantin agar siswa yang lain kebagian tempat duduk.
"Halo Dena, Thalita. Kok kalian tadi gak di kelas?" tanya Denok yang tiba-tiba muncul di hadapan Thalita dan Denathan.
"Gue bosen di kelas mulu. Lagian, kan, jam kosong," jawab Denathan santai.
"Lo serius?" Thalita kaget. Kalau soal tugas dia tidak bisa menghindarinya. Dia harus mengerjakannya.
"Bener. Tapi tenang, Pak Dayat cuman ngasih tugas habis itu keluar kelas,' jelas Tia.
"Nah berarti sama aja jam kosong. Nggak ada guru yang ngajar," ucap Denathan.
"Tapi nggak jam kosong juga, Den," balas Renita.
"Sama aja jam kosong." Denathan kemudian melangkah keluar kantin. Dia ingin pergi ke toilet untuk buang air kecil.
"Nat, lo mau ke mana?" Tia bertanya.
"Gue ke toilet bentar!"
"Oh ya kalian ke sini mau beli apa?" Thalita bertanya kepada tiga sahabatnya.
"Gue mau beli minum," kata Renita.
__ADS_1
"Kalau gue beli camilan," kata Denok.
"Gue sama kayak Reni," imbuh Tia.
"Oh ya udah. Gue balik ke kelas dulu ya." Thalita pun cepat-cepat keluar kantin.
"Eh, eh. Main kabur gitu aja!" teriak Renita.
****
Robert sengaja menghadang Denathan di toilet perempuan. Kali ini Robert sendirian tanpa dua temannya yang biasanya selalu ikut bersama Robert.
"Mau lo apa?" Denathan menantang Robert sambil bersedekap tangan di dada.
Robert tersenyum miring sambil melangkah mendekati Denathan yang masih bersikap menantang. Cowok itu berbicara pelan tapi penuh tekanan, cukup bisa mengintimidasi Denathan.
"Kemarin-kemarin lo sok jagoan ngelawan gue. Sekarang mungkin lo nggak bisa ngelawan gue. Lo sama aja cewek lemah. Cupu lo."
Denathan masih bersikap santai walaupun dia ingin menghajar cowok itu sekarang juga. Dia tidak boleh terburu-buru melayangkan pukulan, tapi harus mengerti strategi Robert untuk melemahkannya. Bisa saja cowok itu menggunakan cara yang tidak Denathan pikirkan.
"Apa buktinya kalau gue cupu?" Denathan juga berbicara dengan nada pelan tapi penuh tekanan.
Robert kemudian sedikit mundur dari hadapan Denathan. Cowok itu tertawa, "Hahaha. Lo pikir gue nggak tahu kelemahan lo?" Kemudian Robert mengangkat tangannya seolah memberi isyarat kepada seseorang. Entah siapa.
Tiba-tiba dua orang siswa berbadan besar memegang kedua tangan Denathan dari arah belakang. Denathan tidak langsung panik. Dia sekarang mengerti strategi Robert.
"Seret dia ke kamar mandi. Jangan beri ampun!" Robert memerintah dua cowok itu.
Denathan tidak melawan, pura-pura pasrah saat dua cowok itu menyeretnya dengan kasar ke dalam kamar mandi.
Cih, strategi rendahan, Denathan berbicara dalam hati.
Robert pun dibuat bingung dengan sikap Denathan yang tidak seperti biasanya. Jika biasanya Denathan akan langsung melawan, tapi kali ini tidak. Seakan-akan cewek itu sengaja memasrahkan diri.
"Tumben ngalah. Gue harus waspada. Bisa saja Denathan mempunyai strategi," monolog Robert.
Tak lama setelah Denathan dibawa ke kamar mandi, terdengar suara Denathan seperti mendesah.
"Ah, teruskan, Sayang. Aahhh... Sayang, aku nggak kuat. Aahh.."
"Anjir!" Robert mengumpat mendengarnya. "Cewek murahan!"
__ADS_1
Padahal yang sebenarnya terjadi di dalam kamar mandi, Denathan sedang menghajar dua cowok gemuk itu yang lunglai sehabis mendapatkan pukulan dan tendangan dari Denathan. Cewek itu sengaja mendesah agar Robert berpikir bahwa dia sedang melakukan aktivitas seksual.
Denathan memang mempunyai pemikiran yang out of the box.