
Natan dan Juna sudah sampai di kantin. Ternyata tidak hanya mereka berdua, ada juga beberapa siswa yang sedang makan di kantin.
Juna dan Natan memilih tempat duduk paling belakang yang tidak terlalu tampak dari luar kantin.
"Lo yang pesan minuman apa gue?" tanya Juna.
"Lo aja. Gue titip minuman jus jeruk ya. Gue mau yang kecut-kecut," jawab Natan lalu duduk di bangku dekat kantin yang menjual minuman serta makanan. Seperti biasa, Natan ada di kantin milik Mbak Yuni. Sepertinya Natan sudah menjadi pelanggan tetap di kantin tersebut.
"Oke siap," balas Juna yang kemudian melangkah masuk ke kantin dan memesan dua minuman pada Mbak Yuni.
"Mbak, jus jeruk dua ya. Oh ya sama gorengannya jangan lupa," ucap Juna dengan santainya. Juna sudah akrab dengan Mbak Yuni.
Mbak Yuni yang sedang mencuci piring pun menjawab, "Iya Jun, tunggu sebentar. Mbak masih cuci piring."
"Oke, Mbak." Kemudian Juna melangkah keluar dan kembali menemui Natan.
"Udah pesan?" Natan bertanya saat Juna duduk di depannya.
"Udah, Mbak Yuni masih cuci piring," jelas Juna kemudian tersenyum tipis.
Juna tiba-tiba kepikiran dengan Thalita. Cewek yang selama ini Juna taksir tapi sampai sekarang dia tidak percaya diri saat ingin mendekati Thalita.
"Nat, lo kenal Thalita, nggak?" tanya Juna.
Natan sedikit mengerutkan keningnya lalu berkata, "Kenal. Emang kenapa?"
"Gue boleh jujur nggak?" Juna sedikit ragu ingin mengatakannya pada Natan. Karena jujur baru kali ini Juna curhat masalah cewek.
"Boleh." Natan mengangguk.
"Gue sebenernya naksir sama Thalita, udah lama banget gue naksir sama dia, tapi gue ngerasa kurang pede." Juna berkata jujur dan tidak dibuat-buat.
Natan hanya mengangguk-angguk lalu berkata, "Ya kalau naksir sama Thalita. Lo harus percaya diri mengungkapkan perasaan. Cowok tuh harus gentleman." Lalu Natan diam sejenak dan kembali berbicara dengan nada pelan, "Gue juga mau nembak Denathan."
Rupanya Juna dapat mendengar ucapan Natan yang terakhir, "Apa? Lo mau nembak Denathan?"
Natan sedikit gelagapan saat Juna bertanya seperti itu, yang akhirnya Natan lakukan adalah berbicara jujur. "Iya, gue mau nembak Denathan. Gue sama dia udah lama saling dekat."
Juna mengangguk-angguk. "Oh gitu. Ya udah, lo cepetan tembak aja si Denathan sebelum direbut sama cowok lain. Gue lihat-lihat Denathan itu cewek tomboi ya."
"Nah itu yang gue suka dari Denathan. Dia cewek pemberani. Nggak mudah nangis," jelas Natan sambil tersenyum membayangkan wajah Denathan yang manis.
__ADS_1
"Bagus sih bro, punya cewek kayak Denathan. Gue yakin sih Denathan bukan golongan cewek yang bilang terserah kalau ditanya mau apa. Ahahah." Juna tertawa. Dia membuat lelucon soal cewek.
Natan pun ikut tertawa, "Hahah bener banget. Kadang bikin cowok kesel kalau ditanya tapi jawabnya gitu. Giliran ditawari ini itu, eh ceweknya bilang nggak mau. Ahahahah."
"Bener, kan, ahahah," kata Juna.
Mbak Yuni yang mengantarkan minuman serta gorengan pesanan Juna pun tersenyum saat melihat Natan dan Juna sedang tertawa-tawa. Kedua cowok itu seakan terlihat sangat bahagia.
"Eh duo kasep, seneng pisan, ngomongin apa atuh?" tanya Mbak Yuni sambil meletakkan dua gelas jus jeruk dan sepiring gorengan di hadapan Natan dan Juna.
Juna menjawab, "Biasa Mbak, lagi bahas cewek. Natan aja seneng banget, Mbak, sampai ketawa-ketawa."
Mbak Yuni tersenyum lalu bergantian menatap Natan dan Juna. "Oh Mbak tahu ini. Kalian pasti mau cari pacar, kan?"
"Kok tahu, Mbak? Ahaha," ucap Juna diakhiri tertawa singkat.
"Oh jelas tahu, orang tadi Mbak nggak sengaja denger obrolan kalian. Ngomong-ngomong, Natan sama Denathan kapan atuh jadian? Mbak lihat kamu sering berduaan sama Denathan di kantin, oh atau kamu udah pacaran sama Denathan?" ucap Mbak Yuni. Dia hanya menebak-nebak saja. Karena sering menemui Denathan dan Natan berduaan di kantin.
Natan tersenyum malu-malu. Dia tidak menyangka ada orang yang menganggap bahwa dia dan Denathan adalah pasangan kekasih. Padahal sebenarnya sahabat.
"Nggak, kok, Mbak. Aku sama Denathan hanya teman dekat," balas Natan seadanya.
"Ah masak? Tapi Mbak lihat-lihat kalian kayak pacaran. Kalau memang teman dekat, enggak apa-apa atuh kalian pacaran. Kamu sama Denathan cocok pisan. Denathan cantik manis, kamu ganteng pisan," jelas Mbak Yuni sesuai apa yang dilihatnya selama ini. Menurut Mbak Yuni, Denathan dan Natan sudah seperti pasangan kekasih yang sangat serasi.
"Diusahain apa atuh? Nembak Denathan? Ooh Mbak dukung deh kalau kamu mau nembak Denathan. Ayo semangat sebelum Denathan sama yang lain." Mbak Yuni menyemangati Natan.
"Ahaha, makasih, Mbak. Nggak perlu disemangatin, aku udah semangat," balas Natan bergurau.
"Ahahah." Juna dan Mbak Yuni tertawa hampir bersamaan.
"Udah ya, Mbak mau lanjut goreng-goreng lagi. Habis ini pasti banyak anak-anak datang ke kantin." Kemudian Mbak Yuni kembali ke lapaknya dan melanjutkan kegiatannya menggoreng tahu isi yang tadi sempat tertunda.
Juna berpikir bahwa ucapan Mbak Yuni tadi ada benarnya. Denathan dan Natan sangat cocok apabila menjadi sepasang kekasih. "Menurut gue, bener kata Mbak Yuni, lo sama Denathan cocok."
"Mungkin begitu," balas Natan seraya mengangkat tangan.
Kemudian Juna berkata, "Gue besok bakal coba bilang sama Thalita kalau gue naksir sama dia. Semoga aja dia nggak kaget."
"Iya semoga berhasil," kata Natan menyemangati Juna.
Juna menepuk pundak kanan Natan, "Thanks, Bro."
__ADS_1
Tidak lama kemudian bel istirahat berbunyi. Semua siswa yang kelasnya dekat dengan kantin datang berbondong-bondong menuju ke kantin. Lalu disusul siswa dari kelas lain. Dan tak lama setelah itu Aditya dan Erik datang ke kantin. Mereka berdua mencari keberadaan Natan yang mereka tidak ketahui bahwa Natan ada di meja kantin paling belakang.
Natan melihat kedua sahabatnya yang kebingungan mencarinya pun hanya tertawa pelan.
"Nat, gue mau pesen pecel lele, lo pesen makanan nggak? Biar sekalian gue pesenin," ujar Juna menawarkan Natan.
Natan menjawab, "Iya, pesenin gue mie ayam ya."
Juna hanya mengangguk lalu memesan makanan di kantin sebelah lapak milik Mbak Yuni. Mbak Yuni memang menjual makanan, tapi tidak menjual makanan berat seperti pecel lele dan mie ayam. Mbak Yuni hanya menjual minuman dan makanan ringan seperti roti dan gorengan. Tak lama memesan, Juna kembali ke mejanya. Dia duduk di depan Natan.
"Lihat deh, Erik sama Aditya nggak tahu kalau kita ada di sini, hahaha. Lucu banget tadi celingak-celinguk nyari gue," ucap Natan seraya menunjuk Erik dan Aditya yang duduk di meja kantin paling depan karena yang di bagian tengah dan bagian belakang sudah diisi penuh oleh siswa-siswa yang lain.
Juna menoleh ke belakang dan melihat sesuai arah yang ditunjuk Natan. "Hahah, biarin mereka di sana. Kita di sini aja. Lebih enak di belakang," ujarnya.
"Bener."
Sementara itu Aditya dan Erik berbincang-bincang membahas Natan dan Juna yang tidak mereka ketahui keberadaannya.
"Rik, Natan sama Juna sebenarnya ke mana sih? Kok nggak di kantin ya?" tanya Aditya.
"Ya mana gue tahu. Gue aja nggak tahu, kok lo malah tanya gue," jawab Erik sambil mengangkat kedua bahunya.
"Apa mereka balik ke kelas? Soalnya, kan, mereka udah di kantin dari tadi."
"Bisa jadi." Erik menimpali sekenanya.
"WOII!!" Tiba-tiba Denok and the gang datang dari luar dan mengangetkan Erik serta Aditya.
"Astaghfirullah, jahanam!!" ujar Aditya yang begitu terkejut. Cowok itu kemudian berdiri, menoleh ke belakang, dan melihat Denok berserta kawan-kawannya sedang menertawakannya.
"Ahahah, lucu banget sih lo!" ujar Denok. Cewek gemuk itu memukul-mukul lengan Aditya. Kebiasaan Denok kalau ketawa pasti pukul-pukul orang.
"Nok, lo jangan pukul-pukul gue juga. Tangan lo kayak tongkat bisbol, sakit banget anjir," ucap Aditya sambil mengusap-usap lengannya.
"Hahaha. Tongkat bisbol nggak tuh," sahut Tia.
"Aaah Bang Adit ada-ada aja sih. Jadi pacarku dong Abang ganteng." Denok dengan sengaja merangkul lengan Aditya dan menempelkan pipinya ke pundak Aditya.
Hal itu membuat Erik, Renita, Tia, dan Thalita tertawa kencang. Sedangkan Denathan lebih memilih duduk di kursi yang bersebelahan dengan Erik. Tidak tertarik dengan candaan Denok.
"Iih, jijik aku. Aaa, aku nggak mau punya pacar kayak Denok." Aditya sengaja berlogat layaknya cowok ngodek sambil berusaha melepas tangan Denok dari lengannya.
__ADS_1
Renita, Tia, Thalita, dan Erik pun semakin tertawa terbahak-bahak. Apalagi Tia sampai terpingkal-pingkal sambil memukul-mukul meja. Aditya dan Denok memang dua orang yang humoris dan teman-temannya terhibur dengan candaan mereka.
"Eh iya, kemana Natan?"