
Natan sekarang ada di depan rumah sedang menunggu Tasya yang masih memakai sepatunya.
"Mau bareng aku apa diantar Papa?" Natan bertanya. Cowok itu sudah siap menjalankan motornya.
"Bareng Kakak aja. Papa katanya nggak bisa nganterin aku," jawab Tasya dengan suara keras.
Setelah Tasya selesai memasang sepatunya, dia berdiri lalu setengah berlari mendekati kakaknya. Tanpa menunggu perintah, Tasya segera menaiki boncengan motor kakaknya yang tinggi. Kemudian gadis itu berpegangan pada jaket Natan.
"Udah siap?" tanya Natan.
"Udah, Kak. Ayo jalan!"
"Oke." Natan pun menjalankan motornya. Jalan raya pagi ini cukup lengang kendaraan sehingga Natan bisa melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi.
"Kak, hati-hati. Jangan kenceng-kenceng," ucap Tasya yang ketakutan dibonceng Natan karena kakaknya itu menjalankan motornya semakin cepat.
Natan berteriak, "Pegangan yang kenceng!"
"Iya, Kak!" Tasya menurut lalu memeluk tubuh Kakaknya dari belakang supaya dia tidak jatuh.
"Nah gitu, biar kamu gak jatuh," ucap Natan ketika merasakan tangan adiknya memeluk perutnya.
Lima belas menit kemudian, Natan sudah sampai di sekolah. Cowok itu menjalankan motornya pelan-pelan saat memasuki area parkir. Ada beberapa siswi yang memerhatikan Natan juga Tasya. Beberapa diantaranya ada yang berbisik-bisik, mengira bahwa Natan berboncengan dengan pacarnya, padahal mereka enggak tahu aja kalau Natan sedang membonceng adiknya.
"Kak, makasih ya," kata Tasya kemudian turun dari jok motor.
Natan hanya mengangguk lalu melepas helmnya. Saat Tasya akan menjauh, Natan mencegahnya. "Tunggu sebentar."
Tasya berhenti dan menoleh ke arah Natan, "Iya kenapa, Kak?"
"Nanti pulang sekolah aku ada ekstra basket. Kemungkinan pulangnya jam lima. Kalau kamu nggak sabar nunggu aku pulang, kamu pulang bareng Kak Dena ya," jelas Natan lalu turun dari motornya.
__ADS_1
Tasya langsung menjawab tanpa pikir panjang, "Enggak deh, Kak. Aku nunggu kamu aja. Lagian aku juga pengin lihat Kak Natan main basket."
"Ya sudah, terserah kamu," kata Natan kemudian menggandeng tangan adiknya itu. "Ayo ke kelas!" Lanjutnya. Kemudian adik-kakak itu berjalan secara bersamaan menuju ke kelas. Saat sampai di koridor mereka berpencar arah untuk menuju ke kelas masing-masing.
"Hati-hati ya. Nanti istirahat temui aku di kantin," ujar Natan sebelum ke kelasnya.
"Iya, Kak!" Kemudian Tasya melanjutkan langkahnya.
Sesaat sebelum melangkah, Tasya sempat melihat Denathan sedang berlari menuju ke taman belakang sekolah. Entah ada apa dengan kakak kelasnya itu, Tasya tidak mengerti.
"Kak Denathan ngapain lari-lari? Apa aku ikutin aja ya?" monolog Tasya sambil berpikir. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk mengikuti Denathan ke taman belakang.
Tasya setengah berlari agar tidak tertinggal jauh. Setelah melewati lorong yang menghubungkan ke taman belakang, akhirnya dia sudah sampai di taman. Dan dari jarak cukup jauh Tasya dapat melihat Denathan sedang berbicara dengan seorang cowok. Yang Tasya ketahui cowok itu adalah Robert.
"Kak Robert sama Kak Denathan ngapain ya? Pasti mereka berantem lagi," tebak Tasya seraya menempelkan tubuhnya ke tembok agar dirinya tidak diketahui oleh Denathan maupun Robert.
Denathan rupanya sedang memperingati Robert agar tidak mengganggu kehidupannya lagi. Ternyata semalam Robert telah mengirim sosok makhluk halus yang ditugaskan agar mengganggu Denathan, tapi sepertinya sosok makhluk halus kiriman Robert gagal menjalankan tugasnya karena ada Mbah Wayan yang melindungi Denathan. Sosok kiriman Robert berhasil dikalahkan Mbah Wayan hanya dengan satu gerakan tangan.
Dan mimpi yang dialami Denathan semalam juga ada hubungannya dengan santet yang dikirim oleh Robert. Karena tidak bisa mengganggu Denathan di kehidupan nyata, akhirnya makhluk halus kiriman Robert beralih mengganggu Denathan lewat mimpi dengan memakai perantara orang-orang terdekat Denathan.
Dulu saat Denathan masih SMP, juga pernah dikirimi santet oleh seseorang yang membencinya, tapi santet kiriman itu sama sekali tidak mempan dan bahkan kembali lagi ke pengirim santet itu sendiri. Untungnya Robert tidak terkena imbas dari santet yang dia kirim ke Denathan.
"Bukan gue serius. Gue nggak pernah main dukun," elak Robert yang sudah terpojokkan
"Lo jangan nipu gue ya! Lo pikir gue nggak tahu! Mau gue tonjok lo!?" Denathan bersiap akan memukul Robert tapi mendadak terdengar suara Tasya dari arah belakang.
"Kak Dena, jangan bertengkar, selesaikan masalah secara baik-baik!" teriak Tasya sambil berlari mendekati Denathan.
Refleks Denathan dan Robert menoleh ke sumber suara.
"Tasya. Kamu jangan ke sini, terlalu bahaya," kata Denathan sambil memegang kedua pundak Tasya, "Kamu kembali ke kelas ya. Urusanku sama Robert biar aku selesaikan sendiri."
__ADS_1
"Tadi aku lihat Kak Dena mau mukul Kak Robert. Kak Dena sama Kak Robert jangan bertengkar dong. Kak Robert juga gitu, jangan ganggu Kak Dena lagi. Kasihan Kak Dena," ucap Tasya berbicara seperti anak kecil yang sedang menasihati kakak-kakaknya.
"Tasya, aku sama Robert nggak bertengkar kok. Kita sedang menyelesaikan masalah dengan cara--."
Ucapan Denathan terpotong saat tiba-tiba Natan berteriak dari kejauhan.
"TASYA, LO KENAPA DI SITU!? Ayo masuk kelas!"
Natan setengah berlari mendekati Tasya yang sedang berbicara dengan Denathan.
"Kak Natan, kok tahu aku ke sini?" tanya Tasya kebingungan.
Natan langsung menjelaskan, "Tadi gue ngikutin lo ke sini. Ayo masuk kelas. Ngapain lo ke sini?"
"Aku mau bilangin Kak Dena biar dia nggak bertengkar sama Kak Robert. Habisnya mereka tuh nggak akur-akur," ucap Tasya sambil menunjuk Denathan.
Robert lagi, Robert lagi, kapan tuh anak tobatnya, batin Natan sambil menatap Robert yang terdiam di dekat tembok pembatas taman sekolah dan jalan raya. Lalu cowok itu menatap wajah Denathan hanya sekilas dan beralih melihat Tasya.
"Nggak, biarin mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, kamu jangan ikut campur. Ayo ke kelas, bentar lagi udah jam pelajaran." Tanpa banyak bicara lagi, Natan menggandeng tangan adiknya dan membawa Tasya menjauh dari Denathan serta Robert.
"Kamu kalau deket-deket sama Denathan, kamu juga bakal dapat masalah. Denathan itu cewek nggak bener," ucap Natan memarahi adiknya. Entah sadar atau tidak, Natan seakan mengolok-olok Denathan.
"Apa sih, Kak? Kak Denathan itu baik. Dia sering bertengkar sama Kak Robert gara-gara Kak Robert yang cari masalah duluan!" Tasya berusaha membela Denathan, lalu dengan kasar dia menghempaskan tangan Natan yang memegangi tangannya.
Kemudian Tasya berlari menjauh dari Natan sambil menangis. Tasya memang mudah menangis jika hatinya tersinggung.
"Tasya!!" Natan memanggilnya tapi tidak dihiraukan.
****
Denathan menatap tajam ke arah Robert lalu berbicara, "Urusan kita belum selesai ya. Awas aja kalau sampai lo kirim santet ke gue lagi, lo bakal tahu akibatnya!"
__ADS_1
Kemudian Denathan meninggalkan Robert di tempat itu. Robert menggertakkan giginya. Matanya menatap tajam karena marah.
"Ini masih permainan awal. Lo belum tahu permainan ke dua gue," monolognya.