
Denathan dan Aditya sudah turun dari taksi. Lalu Denathan mengambil masker dari dalam tasnya. Dia harus memakai masker untuk menutupi sisi pipinya yang lebam agar orang-orang tidak mencuri-curi pandangan ke arahnya.
"Mas, aku pakai masker dulu ya," kata Denathan.
"Iya, tutupi pipi kamu yang luka, takutnya nanti orang-orang lihatin kamu terus," jawab Aditya.
Setelah itu, Aditya mengajak Denathan untuk segera masuk ke puskesmas. Gedung puskesmas itu lumayan besar dan cukup ramai orang yang ingin berobat.
"Rame banget, Mas. Dapat nomor antrian ke berapa kita nanti," ucap Denathan dengan suara pelan di samping suaminya.
"Nggak tau, kita antri saja. Yang sabar," jawab Aditya.
Setelah memasuki puskesmas, Aditya dan Denathan mengambil nomor antrian mereka di loket, yang diberikan oleh petugas khusus yang bertugas memberikan nomor antrian kepada pasien.
Denathan kaget ketika melihat nomor antriannya. Nomor antrian 50. Sedangkan suaminya mendapat nomor antrian 51.
"Mas, bakal lama kita di sini," ucapnya setengah berbisik agar orang-orang yang tengah menunggu di ruangan tidak mendengar ucapannya.
Aditya sedikit memajukan kepalanya ke arah telinga Denathan. Dia berbisik, "Nggak apa-apa. Kamu yang sabar."
"Bosen, Mas, nunggunya. Tau gitu kita pulang aja tadi, nggak usah berobat segala." Denathan menggerutu dengan suara pelan.
Aditya tidak memedulikan ucapan istrinya. Lagipula tidak penting juga. Dia lebih memilih untuk memainkan ponselnya sembari menunggu nomor antrian dipanggil.
Daripada Denathan tidak melakukan apa-apa dan bengong di sana, akhirnya dia ikut-ikutan suaminya dengan memainkan ponsel. Denathan membuka aplikasi WhatsApp. Sebenarnya tidak ada yang mengirim pesan, dia hanya melihat status WhatsApp teman-temannya. Denathan salah fokus saat melihat status Natan yang berfoto dengan Thalita sambil berpelukan. Ada yang berbeda dari perut Thalita, terlihat besar dan menonjol. Melihat hal tersebut, Denathan langsung berpikir bahwa Thalita sedang hamil.
"Thalita udah hamil ternyata." Denathan sebelumnya tidak mengetahui Thalita hamil karena Thalita tidak memberikan kabar itu kepadanya. Saat bertemu di mal beberapa jam lalu, Thalita tidak bilang-bilang soal kehamilannya.
Denathan menyikut lengan Aditya, membuat Aditya menolehkan kepala ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Aditya.
"Thalita hamil, Mas." Denathan menunjukkan status Natan kepada Aditya.
"Iya tahu, aku udah lihat tadi. Memangnya kenapa kalau Thalita hamil?"
Denathan memberengut lalu menjawab, "Kan, aku cuman ngasih tau doang, Mas."
__ADS_1
"Ooh..." Aditya mengangguk-angguk. Kemudian dia menggoda istrinya, "Kamu pengen hamil juga?"
Ucapan Aditya membuat Denathan kaget. "Eh, astaga, Mas. Kita baru aja nikah langsung pengen punya anak. Nggak dulu," jawab Denathan.
"Banyak tuh orang-orang yang baru nikah, beberapa minggu kemudian istrinya langsung hamil," ungkap Aditya. Teman-temannya yang lain, termasuk Erik, sudah mempunyai anak.
Ngomong-ngomong soal Erik, teman dekat Aditya dan Natan itu sudah menikah beberapa bulan lalu, menikah lebih dulu dari Natan yang menyusul dua bulan berikutnya, lalu Aditya menyusul menikah dengan Denathan empat bulan kemudian. Erik sekarang tinggal di luar Jawa, tepatnya di Kalimantan Selatan.
"Kita jangan buru-buru pengen punya anak, Mas. Tunggu sampai waktu yang tepat," balas Denathan.
"Iya, nggak masalah, yang penting jangan sampai kita udah tua tapi belum punya anak."
Tak lama kemudian terdengar dari arah speaker suara petugas puskesmas yang menyebutkan nomor antrian. "Nomor antrian lima puluh."
Denathan segera masuk ke ruangan resepsionis untuk menyerahkan nomor antriannya. Kemudian resepsionis menanyakan tujuannya datang ke puskesmas.
"Mbak, ada yang bisa dibantu?" tanya resepsionis itu.
***
"Mbak, nanti jangan lupa minum obat pereda sakit, dan salep kulit ini untuk mempercepat proses penyembuhan luka di pipinya. Terus jangan lupa istirahat. Untuk obatnya diminum setelah makan atau sebelum makan juga boleh," kata dokter spesialis kulit itu dengan suara lembut.
Setelah melakukan pembayaran untuk obat dan salep, Denathan memakai masker lagi sebelum keluar dari ruangan dokter, lalu menemui Aditya yang sedang menunggunya di luar.
"Bagaimana? Sudah selesai?" tanya Aditya saat melihat Denathan menghampirinya.
"Sudah, Mas."
Sesaat kemudian, setelah Denathan keluar, terdengar suara seorang resepsionis yang menyebutkan nomor antrian selanjutnya, yaitu nomor antrian 51. Sudah pasti Aditya.
"Mas, giliran kamu," ucap Denathan.
"Iya." Aditya menuju ke ruangan resepsionis. Setelah menyerahkan nomor antriannya, dia berjalan menuju ke ruangan dokter spesialis kulit yang tadi memeriksa Denathan.
Setelah melakukan pemeriksaan, mendapat nasihat dari dokter, dan diberikan resep obat dan salep, Aditya melakukan pembayaran lalu keluar dari ruangan dokter dengan senyuman lega di wajahnya.
"Mas, sudah selesai?" tanya Denathan saat melihat suaminya keluar.
__ADS_1
"Sudah. Sekarang kita bisa pulang." Aditya kemudian menggandeng tangan Denathan, membawa istrinya itu menuju ke halaman puskesmas yang cukup luas. Ada tempat berteduh berupa pohon rindang. Mereka berteduh di sana dulu, sementara Aditya memesan taksi online.
"Mas, kamu pesan taksi online dulu, kita tunggu di sini saja," ujar Denathan yang duduk di kursi yang terletak di bawah pohon.
"Iya, aku pesan taksi online dulu," jawab Aditya. Dia membuka aplikasi Go-car lalu memesan taksi online.
Aditya duduk di samping Denathan dan berkata, "Sekarang, kita tinggal menunggu taksinya datang."
"Iya, Mas." Denathan mengangguk. Lalu perempuan itu mengamati sekitar puskesmas yang dipenuhi banyak orang yang ingin berobat. Tak jarang pula ada anak-anak, dan kebanyakan dari mereka adalah orang lanjut usia.
Setelah menunggu setengah jam, akhirnya taksi online yang dipesan oleh Aditya tadi tiba di tempat tujuan. Aditya dan Denathan segera mendekati taksi tersebut.
"Apakah Anda Pak Aditya?" tanya sopir taksi yang berada di dalam mobil.
"Betul, saya Aditya," jawab Aditya sambil mengangguk.
"Baiklah, silakan masuk Pak Aditya." Sopir taksi tersebut mempersilakan Aditya untuk naik ke dalam mobil.
Aditya duduk di kursi sebelah kanan, sementara Denathan duduk di kursi sebelah kirinya.
"Siap, Pak. Mari kita berangkat," ucap Aditya sambil menginstruksikan sopir taksi untuk mulai berkendara.
Sepanjang perjalanan ke Jakarta Selatan, Aditya dan Denathan tidak banyak berbicara. Mereka hanya memperhatikan jalanan yang ramai dilalui berbagai kendaraan.
***
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya Denathan dan Aditya tiba di rumah mereka di Jakarta Selatan. Aditya membayar ongkos taksi sebelum turun dari mobil.
"Berapa harga tarifnya?" tanya Aditya.
"Empat puluh lima ribu Rupiah, Pak," jawab sopir taksi tersebut.
Aditya kemudian memberikan lima puluh ribu Rupiah kepada sopir taksi. Ketika sopir taksi tersebut akan memberikan uang kembalian lima ribu Rupiah, Aditya menolak dengan ramah. "Tolong bagiannya untuk Bapak saja."
"Oh, terima kasih banyak, Pak." Sopir taksi tersebut tersenyum bahagia. Dia merasa senang karena masih ada penumpang seperti Aditya yang tidak merasa perlu menerima kembalian.
"Baiklah Pak, saya turun ya." Selanjutnya, Aditya keluar dari mobil bersama Denathan.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah, mereka langsung beristirahat dan menunggu kabar dari bengkel tentang mobil mereka yang sedang dalam perbaikan.