
Dua hari kemudian...
Dua hari telah berlalu, sekarang hari Senin. Denathan sudah bisa kembali bersekolah, luka di kaki, tangan dan pipinya sudah kering dan sembuh. Namun begitu luka di pipinya tidak mengurangi kecantikan cewek itu. Denathan tetap cantik alami masih seperti dulu.
Sesuai janji yang Natan katakan dua hari yang lalu, bahwa cowok itu akan selalu siap menjaga Denathan kapan pun dan di mana pun. Denathan tersenyum mengingat ucapan Natan yang tulus.
"Den, gue janji sama lo. Gue bakal siap jaga lo, enggak peduli di mana pun lo berada. Gue nggak mau lo kayak gini lagi. Gue yang awalnya berpikir lo cewek kuat, sekarang gue tahu lo juga nggak selamanya kuat. Lo butuh seseorang yang siap jaga lo kalau lo kenapa-napa." Natan tersenyum setelah mengatakan itu.
Denathan menampakkan senyum yang tulus. Dia bangga mempunyai sahabat seperti Natan. "Natan, lo nggak perlu janji sama gue. Bisa aja lo nanti lupa sama janji lo. Yang penting lo harus bisa ada di sisi gue kalau gue butuh lo. Lo juga enggak selamanya sama gue. Masa depan kita enggak ada yang tau."
"Tapi gue harap, kita bisa selamanya bersama. Jodoh nggak ada yang tau, kan? Bisa saja gue jodoh lo."
Denathan ingin tertawa mendengar ucapan Natan, tapi tidak mungkin dia lakukan karena pipinya sedang sakit. Membuka mulut untuk bicara saja sudah terasa sakit apalagi tertawa.
"Ya sudah, gue balik ke sekolah dulu ya. Lo harus cepat sembuh. Kalau sekolah gue bakal jemput lo."
Denathan tersenyum lebar saat dia melihat Natan bersama motornya, datang menuju ke rumahnya. Cowok itu, seperti biasa, selalu tampan dan keren.
Natan membunyikan bel motornya saat sudah sampai di teras rumah Denathan. "Kita berangkat," ucap Natan sambil menampakkan senyum lebar.
"Ayo!" Denathan bersemangat. Dia kemudian turun ke halaman dan mendatangi Natan.
"Lo tetep cantik ya, meski pun ada luka di pipi lo." Natan sengaja menggoda Denathan, lalu terkekeh, "Hehehe."
Denathan tersenyum malu-malu. "Lo bisa aja. Namanya cewek juga cantik lah."
"Hahah, iya udah. Sekarang lo naik." Natan menyuruh Denathan untuk naik ke motornya.
Tanpa lama-lama Denathan menaiki motor Natan. Sesaat kemudian Natan menjalankan motornya keluar pelataran rumah Denathan. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di sekolah.
Denathan masuk ke kelasnya, langsung disambut oleh para sahabatnya dengan heboh 'palagi saat melihat wajah Denathan yang lukanya belum kering.
"Ya Allah, Den. Akhirnya lo bisa sekolah. Gimana wajah lo? Belum sembuh ya?" Renita bertanya begitu Denathan duduk di depannya.
"Denathan, gue kangen sama lo. Dua hari tanpa lo rasanya kayak ada yang kurang gitu." Denok mendekati Denathan.
"Iya gue juga!" teriak Tia yang datang dari arah pojok. Dia tadi menghampiri pacarnya yang duduk di kursi pojok. Diam-diam Tia sudah punya pacar.
Denathan membalas sangat santai, "Gue juga kangen sama kalian." Lalu dia memeluk Denok deblong yang duduk di sebelahnya.
"Uuh, kangen," ujar Denok sangat manjah.
Renita cemburu karna dia seperti tidak dianggap sama sahabatnya sendiri. Lagian kenapa Denok si gajah itu yang cuman dipeluk Denathan. Kan, Renita juga ingin dipeluk.
__ADS_1
"Den, kok cuman si gajah yang lo peluk?" Renita seperti sengaja mengejek Denok.
Sudah pasti Denok menunjukkan ekspresi jengkel. Dia tidak terima dan sangat tidak suka dipanggil gajah. Dia, kan, manusia. Bukan binatang berbelalai panjang itu.
"Eh jaga mulutnya yah! Gue manusia tercantik tauk!" Denok berbicara dengan percaya diri.
Renita langsung menyahut, "Tapi lo, kan, emang kayak gajah! Anjir, anjay, gajah lo!"
Denok ya jelas gregetan gara-gara omongan Renita yang enggak ada akhlak. Akhlaknya nol! Attitude nol! Enggak mikir dulu kalo mau ngomong. Enggak ada saringannya tuh mulut, makanya omongannya nyakitin ati.
"Jaga mulut lo yah! Omongannya dijaga!" Denok mau nyakar wajahnya Renita tapi dia enggak mau ngelakuin itu. Kalau dicakar takut nanti wajahnya Renita jadi buruk rupa kayak gembel di jalanan yang enggak mandi sampek badannya full kotor.
"Untung gueh masih sahbar yah!" Denok membanting muka ke arah lain. Dia enggak mau lihat wajahnya Renita yang bikin muak.
Renita malah ngejek omongan Denok deblong yang kayak digae-gae. "Iyah, gueh mahsih sahbar yah!"
"Tolol anjir kalian semua!! Udah ya, jangan pada ribut." Denathan berkata dengan nada keras. Dia tidak ingin kedua sahabatnya itu bertengkar hanya karena hal sepele.
"Siap Bos!" Denok membalas ucapan Denathan dengan sikap hormat yang lucu.
Saat Denathan akan berdiri, mendadak dari arah luar kelas, muncul sosok perempuan yang sangat Denathan kenal.
"Denathan, lo ikut gue sekarang juga!" Ternyata itu Sarah. Sarah dengan kasar menarik tangan Denathan dari depan bangkunya. Membuat Denathan terpaksa berdiri.
"Eh apa-apaan sih lo! Jangan tarik-tarik Denathan kayak gitu ya!" Thalita melepas tangan Sarah yang memegang tangan Denathan.
"Denathan masih sakit anjir, lo jangan tarik-tarik dia. Kasar banget," ujar Renita yang ikut membela Denathan.
"Den, ayo ikut gue!" Sarah tidak memedulikan Renita dan Thalita. Dia memaksa Denathan untuk ikut bersamanya.
Denathan menurut. "Iya, tapi lepasin tangan gue dulu."
Sarah melepas tangan Denathan lalu berkata, "Ayo ikut gue."
"Denathan, lo jangan ikut! Dia mau jebak lo!" Denok berusaha mencegah Denathan dengan memegang pergelangan tangan kanan Denathan.
"Lo nggak tahu apa-apa. Ayo Denathan, ikut gue!" Kemudian Sarah menarik tangan Denathan keluar dari kelas.
Sontak teman-teman Denathan panik. Renita, Denok, Tia, dan Thalita melakukan pengejaran terhadap Sarah yang membawa kabur Denathan. Tapi sayangnya mereka sudah kehilangan jejak, seakan Sarah mempunyai kekuatan yang membuatnya cepat berlari.
"Anjir, mereka pergi ke mana?" Renita mengedarkan pandangannya ke sekeliling koridor.
"DENATHAN!!"
__ADS_1
****
Tiba di taman belakang, Sarah langsung memeluk Denathan dan menangis.
"Denathan, maafin gue ya. Gue enggak ada maksud buat nyakitin lo waktu itu. Gue waktu itu nggak bisa nahan emosi. Maaf ya," ujar Sarah dengan tulus.
Denathan tersenyum lebar. "Iya gue maafin lo. Gue juga minta maaf sama lo. Kita sama-sama salah.
Kemudian mereka saling melepas pelukan. Tidak lama kemudian, muncul Devi dan Rieke dari arah belakang.
"Hebat ya kalian, saling minta maaf. Mana pelukan lagi. Jijik. Sarah, lo sekarang temenan sama cewek jadi-jadian itu ya?" ujar Rieke seperti mengujarkan kebencian kepada Denathan.
"Kenapa sih lo? Gue udah enggak mau temenan sama lo. Lebih baik gue temenan sama Denathan yang jelas-jelas nggak munafik." balas Sarah.
Rieke tersenyum sinis lalu berjalan mendekati Sarah. Kemudian Rieke menatap wajah Sarah dengan tajam. "Oh jadi selama ini gue nggak tulus temenan sama lo? Gue munafik?"
"Iya, lebih parah dari setan!"
"Anjing!!" Rieke marah lalu dia bertindak memukul Sarah tapi dengan cepat Denathan mencekal tangan Rieke.
"Udah, udah! Kalian jangan ribut! Masalah ini bisa diselesaikan baik-baik!" kata Denathan yang sudah muak dengan pertengkaran.
Tapi yang terjadi selanjutnya malah sebaliknya. Rieke dan Sarah malah tertawa. Devi juga ikut-ikutan.
"Ahahah, ahahahah, ahahah," ketawa mereka bertiga.
Tentu saja Denathan bingung. Sebenarnya apa yang terjadi di depannya?
"Hahah, sorry, kita prank!" ujar Rieke sambil menepuk-nepuk pundak Denathan.
Dalam hati Denathan mengumpat. Lalu Rieke berkata, "Maafin gue ya Den. Gue udah cari gara-gara sama lo waktu itu."
Seketika membuat Denathan lega setelah mendengar ucapan Rieke. "Gue juga minta maaf sama lo. Kita sama-sama salah."
"Gue juga minta maaf ya." Devi menyahut.
"Sekarang kita berteman. Ahahah." Keempat cewek tertawa bahagia, kemudian mereka saling berpelukan.
Mereka tidak menyadari bahwa ada empat cewek lain yang cemburu melihat mereka berpelukan.
"Gue harap Denathan enggak lupa sama kita."
"Denathan, lo sekarang bukan sahabat kita."
__ADS_1
"Denathan tetap sahabat kita kok. Mungkin mereka saling minta maaf."
"Bener tuh kata Thalita."