
Tepat pada pukul setengah sembilan malam, pihak bengkel sudah sampai di rumah Aditya. Mereka mengantarkan mobil milik Aditya yang sudah diperbaiki menggunakan truk angkut. Salah seorang pria turun dari truk, sementara sopir truk tidak ikut keluar. Pria itu kemudian melangkah mendekati pintu gerbang rumah Aditya yang tertutup tapi tidak dikunci. Lalu dia menekan bel yang terletak di dekat tembok, sehingga bunyi bel yang sangat kencang tersalurkan ke dalam rumah. Membuat si pemilik rumah seketika keluar rumah.
Aditya dan Denathan sudah keluar rumah. Mereka berdua melihat keberadaan seorang pria yang berdiri di depan gerbang.
"Mas, itu sepertinya orang bengkel nganterin mobil kita," ucap Denathan sambil menunjuk ke arah gerbang.
"Iya benar. Ya sudah aku ke sana dulu, kamu tetap di sini, ya." Kemudian Aditya melangkah menuju ke depan gerbang. Sementara Denathan menunggu di teras rumah.
Setelah sampai di sana, Aditya segera menggeser pintu gerbang rumahnya itu sampai terbuka lebar. Lalu Aditya menemui pria di depannya.
"Bagaimana, Pak?" tanya Aditya.
"Mobil Mas Adit sudah selesai diperbaiki. Tadi ban mobilnya saya ganti karena sudah rusak parah, lalu saya menemukan satu peluru yang menancap di ban mobilnya, Mas." Pria itu menjelaskan selama memperbaiki ban mobilnya.
Aditya mengangguk-angguk lalu menjawab, "Ya sudah, enggak apa-apa. Sekarang mobilnya sudah dibawa ke sini, kan?"
"Sudah, Mas. Mobilnya siap diturunkan," jawab pria itu sembari berjalan mendekati truk untuk menginformasikan kepada sopir truk agar segera menurunkan mobil milik Aditya.
"Pak, mobilnya turunkan di halaman rumah saya!" instruksi Aditya kepada sopir truk.
Aditya segera melangkah menjauh dari tempatnya. Kemudian si sopir truk menjalankan truk bermuatan mobil itu masuk ke halaman rumah Aditya. Sementara salah satu pria tadi menginstruksikan si sopir supaya memposisikan truknya untuk menemukan posisi yang tepat saat nanti menurunkan mobil. Setelah menemukan posisi yang pas, si sopir dengan perlahan-lahan menurunkan mobil itu dari tempatnya. Mobil perlahan-lahan turun sampai ke bawah. Selesai itu, sopir kembali meletakkan tempat atau semacam bak untuk mobil tadi ke posisi semula.
"Berapa total biayanya, Pak?" tanya Aditya pada pria di depannya.
"Tadi hanya ganti ban mobil, jadi biayanya 650 ribu, Mas. Itu sudah termasuk ban mobil yang kualitasnya paling bagus," jelas pria itu dengan jujur dan tidak menaikkan harga sama sekali. Harga ban mobil memang mahal. Yang murah saja harganya masih di atas 300 ribu.
"Oh, sebentar." Aditya mengeluarkan uang tujuh ratus ribu dari dalam dompet, lalu diberikan kepada pria di depannya. "Ini uang untuk biayanya, ya, Pak."
"Kembaliannya lima puluh ribu ya, Mas," ucap pria itu setelah menghitung jumlah uang di tangannya.
"Kembaliannya untuk Bapak saja. Anggap saja bonus dari saya," kata Aditya yang merasa tidak perlu menerima kembalian.
"Wah ... Makasih banyak, Mas Adit," jawab pria itu dengan nada bahagia, sambil tersenyum lebar. Begitu senang mendapat uang lima puluh ribu.
__ADS_1
"Iya sama-sama, Pak." Aditya tersenyum ramah.
"Ya sudah, kalau gitu saya permisi dulu. Mau balik ke bengkel." Pria itu berpamitan kepada Aditya. Setelah itu dia masuk ke dalam truk.
Beberapa saat kemudian, truk itu pergi meninggalkan rumah Aditya.
****
"Mas, bagaimana?" tanya Denathan saat melihat suaminya masuk ke rumah.
Aditya baru saja selesai memasukkan mobilnya ke dalam garasi.
"Aman, ban mobilnya udah diganti," jelas Aditya sambil lalu menuju ke dapur.
Denathan sekarang sedang menonton televisi yang menyiarkan acara malam. Kebanyakan sih acara penelusuran tempat angker. Sebagai pemilik kemampuan supernatural, Denathan dapat melihat makhluk-makhluk tak kasat mata yang muncul di dalam acara tersebut. Hanya orang-orang sepertinya saja yang dapat melihatnya. Orang dengan mata normal hanya dapat menyaksikan tempat-tempat angker yang ditampilkan dalam acara tersebut.
"Kamu nonton apa?" tanya Aditya.
Aditya mengangguk-angguk, "Ooohh... kayaknya seru tuh.
Denathan bertanya, "Mau nonton juga, Mas? Biasanya takut kalau lihat acara ginian."
"Iya, aku mau nonton. Soalnya aku belum ngantuk." Aditya kemudian duduk di samping Denathan. Laki-laki itu membawa dua toples camilan, satunya ditaruh di atas meja. Sedangkan satunya lagi dia pegang sambil dimakannya satu persatu.
"Iya sudah." Denathan kemudian mengambil toples camilan lalu mengemilnya sambil menonton televisi, agar tidak bosan. Sesekali dia mengobrol dengan suaminya diselingi dengan candaan.
Hingga akhirnya mereka menonton acara televisi itu sampai menunjukkan pukul dua belas malam. Udara di sekitar mereka terasa semakin dingin, membuat Denathan mendekatkan tubuhnya ke tubuh suaminya supaya hangat. Aditya sepertinya peka dengan tingkah istrinya, lalu pria itu memeluk tubuh istrinya dengan satu tangan.
"Sudah nggak dingin?" tanya Aditya.
"Enggak." Denathan merespons ucapan suaminya dengan menggeleng, tapi matanya tetap fokus menatap layar televisi.
"Nggak ngantuk?" Aditya bertanya lagi.
__ADS_1
"Belum ngantuk," jawab Denathan.
Aditya tersenyum lalu beralih mengelus-elus puncak rambut istrinya. Karena sudah merasa kantuk, tanpa sadar Aditya memejamkan mata lalu tidur di sofa dengan posisi duduk dan tangan kanannya berada di atas kepala Denathan. Namun, hal tersebut tidak disadari oleh Denathan karena fokus menonton televisi.
"Mas." Denathan memanggil suaminya, tapi tak ada respons.
"Mas." Memanggil sekali lagi. Sama, juga tak ada respons.
"Mas. Kok diam aja?" Denathan bertanya. Lalu perempuan itu merubah posisinya, yang awalnya menyender di dada suaminya, kemudian beralih duduk. Dia menoleh ke samping, mendapati suaminya sudah tidur.
"Pantesan dipanggil nggak jawab, udah tidur ternyata," monolog Denathan sambil menatap wajah suaminya yang tampak damai.
Denathan pun akhirnya menonton acara horor itu sendirian. Lagipula dia tidak takut. Baginya acara itu sudah terlalu biasa untuk dirinya yang sudah seringkali melihat makhluk halus. Bahkan sejak dia masih kecil.
Sepertinya Denathan sudah merasa kantuk dan lelah, tapi perempuan itu tetap menonton acara tersebut. Sehingga kemudian dia kembali menyenderkan kepalanya di dada suaminya yang bidang. Rasanya begitu nyaman dan hangat. Ingin sekali wanita itu memejamkan matanya sekarang juga. Kemudian Denathan mematikan televisinya, lalu dia tanpa sadar tidur di pelukan suaminya.
****
Pukul dua dini hari, Aditya terbangun. Dia cukup terkejut ketika mendapati dirinya tidur di sofa dengan istrinya yang sekarang tertidur di pelukannya. Teringat semalam tadi dia menonton televisi bersama Denathan. Lalu pria itu membangunkan Istrinya.
"Hei, bangun, bangun," kata Aditya sambil menepuk pelan pipi Denathan.
Tentunya hal tersebut membuat Denathan terbangun. Wanita itu kemudian membuka matanya. Dia mengeluh masih kantuk.
"Kenapa, Mas? Aku masih ngantuk."
"Bangun, ayo kita pindah ke kamar. Jangan tidur di sofa," kata Aditya.
Mendengar ucapan suaminya, Denathan seketika membuka matanya lebar-lebar. "Kita tidur di sofa?"
"Iya, semalam kita ketiduran," jelas Aditya.
Lalu Denathan berdiri, dan mengajak suaminya untuk pindah ke kamar. Tanpa aba-aba, Aditya segera menggendong Denathan ala bridal style, lalu membawa istrinya itu ke kamar di lantai dua.
__ADS_1