
Denathan keluar dari kamar mandi sambil tersenyum lebar penuh kesombongan setelah berhasil melumpuhkan dua lawannya yang berbadan gemuk. Seharusnya dua lawannya tersebut dapat melawan Denathan dengan mudah karena Denathan badannya lebih pendek dari mereka. Tapi ternyata keadaan sebaliknya, justru Denathan yang menang. Oh bukankah Denathan adalah perempuan yang berjiwa laki-laki. Dapat dipastikan bahwa cewek itu mempunyai jurus pamungkas untuk menghalau berbagai serangan.
"Gimana puas?" Denathan menaikkan satu alisnya sambil berkacak pinggang di hadapan Robert.
Robert menunjukkan ekspresi wajah yang bingung sangat kentara. Cowok itu melirik ke belakang Denathan. Menyaksikan dua temannya terkapar di kamar mandi.
"Temen lo itu cuman badannya yang gede. Nyalinya mah kecil. Kayak kutu segini nih!" Denathan mengejek seraya menyentuh ujung jari telunjuknya dengan jari jempolnya. Bermaksud mengukur betapa kecilnya nyali teman Robert.
"Anjing!" Robert mengumpat. "Lo lawan gue!" Dia menantang Denathan.
"Hah gak salah denger gue? Lo mau lawan gue? Hahahaha. Gak level!" Denathan kemudian melangkah meninggalkan Robert yang masih mematung di depan kamar mandi.
"ANJIINNG!! GUE BAKAL BALAS DENDAM!!" Robert berteriak sambil menunjuk ke arah dua temannya yang masih terkapar di dalam kamar mandi. "LO BERDUA GAK GUNA!"
"Hahaha, Robert banci," monolog Denathan setelah mendengar teriakan Robert.
****
Setelah memesan minuman jus jeruk, Thalita membawa pesanannya itu ke salah satu meja bersamaan dengan Denathan yang tiba-tiba duduk di depannya.
"Gue minta minumnya." Denathan cepat-cepat mengambil jus jeruk milik Thalita lalu meminumnya sampai tersisa setengah gelas.
Hal itu membuat Thalita geram lalu berkata, "Astaga Denathan!! Kalau lo mau minta, ya minta baik-baik, jangan langsung diminum. Mana habis setengah gelas lagi. Untung lo sahabat gue!"
"Maaf banget. Gue haus soalnya."
"Lagian lo kayak ngos-ngosan gitu. Habis dari mana?" Thalita menyadari napas Denathan tidak teratur.
"Gue habis dikeroyok sama Robert sama dua temannya. Haduh capek banget habis ngehajar mereka." Denathan berkata dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh siswa lain.
"Astaghfirullah, serius lo dikeroyok? Wah kurang ajar banget tuh cowok. Beraninya kok sama cewek," ucap Thalita yang cukup tercengang mendengar penuturan Denathan.
"Tapi nggak apa-apa. Gue udah biasa ngadepin cowok kayak Robert. Malah gue yang menang. Buktinya gue gak kenapa-napa, kan?" Denathan menunjuk wajahnya yang tidak lebam.
"Iya gue tahu, lo emang jago. Tapi lo tuh cewek, Den. Gak pantes tau, cewek bertengkar sama cowok. Apalagi sampai pukul-pukulan." Thalita menasihati.
"Ya habisnya gimana. Robert tuh ngeselin! Pengen dia mati aja sekalian."
__ADS_1
"Astaga lo jangan ngomong gitu. Nggak baik!"
Natan tidak sengaja mendengar obrolan Denathan dan Thalita. Lalu Natan menuju ke meja mereka berdua sambil membawa nampan berisi dua gelas minuman yang baru Natan pesan. Sialnya ketika sampai di meja Thalita, Natan tidak sengaja menginjak tali sepatunya hingga membuatnya hilang keseimbangan, menyebabkan salah satu gelas di atas nampan yang dia bawa jatuh mengenai kaki Thalita. Untungnya gelas tersebut tidak pecah hanya retak-retak.
Seketika Thalita dan Denathan terkejut sekaligus panik. Thalita cepat-cepat berdiri saat Natan menaruh nampan ke atas mejanya lalu cowok itu berjongkok untuk mengambil gelas yang jatuh.
"Aduh, kaki gue basah," ucap Thalita saat melihat kakinya yang basah terkena jus stroberi.
Natan menaruh gelas retak itu ke atas meja dan meminta maaf kepada Thalita. Sebagian siswa menatap ke arah mereka berdua, termasuk teman-teman Natan yang tadi menyaksikan kejadiannya secara langsung.
"Maaf gue nggak sengaja. Gue tadi hampir jatuh," ucap Natan dengan raut wajah bersalah.
Thalita sebenarnya tidak terima--selain kakinya yang basah, rok dan sepatunya juga basah sebagian. Tapi karena Natan cowok yang Thalita suka, Thalita pun tidak jadi marah.
"Nggak apa-apa, kok. Nggak masalah." Thalita menjawab dengan senyuman malu-malu.
Denathan menatap Thalita dengan tampang bingung serta heran. Seharusnya Thalita memarahi Natan bukan malah seperti itu. "Ya elah, kalau suka mah beda," ucapnya pelan menyindir Thalita.
Thalita memberi isyarat kepada Denathan lewat matanya agar Denathan diam. Supaya tidak mengganggu suasana hatinya yang sedang bahagia karena bertatap muka langsung dengan Natan tapi juga ingin marah. Entahlah Thalita bingung dengan perasaannya sekarang.
Denathan mengerti isyarat Thalita. Cewek itu memutar kedua bola matanya dengan rasa malas.
Thalita dengan sangat lembut dan tulus memaafkan Natan. "Iya, Natan. Gue maafin lo, kok. Sudah ya, jangan minta maaf lagi."
"Hmm tapi sepatu sama rok lo basah." Natan melihat ke bawah. Dia jadi merasa tidak enak hati kepada Thalita.
"Nggak masalah, kok. Nanti juga kering," ucap Thalita lalu kembali duduk di kursinya. Hati Thalita sekarang benar-benar bahagia karena bisa bercengkrama dengan Natan. Cowok yang Thalita suka selama lima tahun kalau enggak salah.
Denathan tidak ikut berbicara. Lebih baik dia minum jus milik Thalita sambil menyaksikan dua sahabatnya itu sedang mengobrol.
"Hmm, gue ada roti buat lo. Anggap aja sebagai permintaan maaf dari gue." Natan memberikan rotinya yang tadi dia beli kepada Thalita.
Thalita menolak dengan halus, "Oh nggak usah, Nat. Lo makan aja. Gue juga udah beli, kok."
"Ya udah, kalau gitu gue mau balikin gelas ini ke Mbak Yuni. Oh ya, itu jus stroberi satunya buat lo aja. Gue mau beli lagi. Jus itu udah gue bayar tadi." Natan kemudian beranjak pergi ke kantin milik Mbak Yuni untuk mengembalikan gelas yang retak dan nampan.
"Maaf banget loh, Mbak. Gelasnya tadi nggak sengaja jatuh. Atau mau diganti rugi?" Natan juga tidak enak hati pada Mbak Yuni.
__ADS_1
"Halah, santai aja, Nat. Mbak nggak masalah, nggak usah diganti rugi. Yang penting kamu mau tanggung jawab balikin gelasnya," ucap Mbak Yuni sambil menerima gelasnya yang retak dari tangan Natan. Lalu wanita muda itu menaruh gelas retak itu di dekat cucian. Dia nanti akan membuangnya.
"Tapi saya nggak enak sama, Mbak. Diganti rugi aja ya, Mbak." Natan akan mengeluarkan uang tapi Mbak Yuni langsung mencegahnya.
"Eit nggak perlu. Uang itu simpan aja. Lagian cuman satu gelas, Mbak juga nggak bakal rugi."
"Iya Mbak. Sekali lagi aku minta maaf."
"Iya. Kamu mau pesan minuman lagi?"
"Iya, Mbak. Jus stroberi satu," ucap Natan.
"Oke." Mbak Yuni pun membuatkan Natan jus stroberi.
Sementara itu di tempat Thalita dan Denathan terjadi percakapan antara mereka berdua.
"Gue nggak masalah walaupun rok sama sepatu gue basah," ucap Thalita.
"Itu karena lo suka sama Natan. Coba aja kalau lo nggak suka. Pasti lo marah-marah."
"Nggak gitu. Gue orangnya emang nggak suka marah-marah." Thalita membela diri. Sebenarnya apa yang diucapkan Denathan memang benar.
"Halah, semua cewek juga kayak lo. Kalau sama cowok yang mereka suka, mereka nggak bakal marah-marah."
"Ada apa nih? Ada apa?" Aditya menghampiri meja Thalita dan Denathan karena melihat keributan antara Natan dan Thalita tadi.
"Nggak ada apa-apa. Tadi Natan cuman nggak sengaja jatuhin gelas," jawab Thalita.
"Bohong, padahal Natan sengaja." Denathan membalas dengan gampangnya.
"Apa sih, Den? Natan nggak sengaja."
"Sengaja itu."
"Enggak ya."
"Kalian berdua kenapa malah ribut. Yang bener yang mana?" Aditya bertanya dengan raut wajah bingung.
__ADS_1
"Gue yang bener!" Tiba-tiba Natan sudah berdiri samping mereka.