
"Sayang, kamu mau pergi bulan madu nggak?" Aditya bertanya kepada Denathan yang sedang berganti pakaian. Wanita itu sehabis mandi wajib. Sedangkan Aditya sudah mandi wajib sejak pagi tadi.
"Bulan madu?" beo Denathan sambil menoleh ke arah suaminya. Wanita itu sekarang berdiri di depan cermin.
"Iya, bulan madu. Mumpung kita baru nikah, kan, baru beberapa hari yang lalu. Kamu nggak pengen jalan-jalan ke luar negeri atau ke mana gitu?" jelas Aditya.
"Ya sebenarnya aku pengen sih, Mas. Tapi emang nggak ganggu kerjaan kamu?" Denathan menimbang-nimbang perkataan suaminya.
"Enggak, Sayang. Kalau kamu mau, aku bisa bilang sama Natan, kalau kita akan pergi bulan madu. Natan juga pasti bakal ngizinin, kok," jawab Aditya meyakinkan istrinya. Mereka bisa pergi bulan madu tanpa menganggu pekerjaan. Lagipula bosnya Aditya adalah Natan yang notabenenya adalah teman dekatnya.
"Iya sudah, nggak apa-apa deh, Mas. Mumpung kita baru nikah, ya," kata Denathan.
"Nah begitu. Kamu yakin, kan, mau bulan madu?" Aditya bertanya sekali lagi untuk memastikan.
"Iya yakin, Mas. Tapi kita bulan madu nggak usah keluar negeri ya. Ke Bali aja gimana? Di sana juga banyak tempat wisata, yang penting, kan, kita sama-sama senang." Denathan memberikan usul untuk berlibur di Pulau Bali saja. Tak payah keluar negeri.
"Iya deh, nanti aku pikir-pikir lagi. Aku akan cari rekomendasi tempat yang cocok untuk bulan madu," jawab Aditya sambil tersenyum.
"Iya Mas. Nanti aku juga akan cari referensi gitu."
Sekarang sudah pukul enam pagi. Aditya siap-siap akan berangkat kerja. Sebelumnya dia harus sarapan dulu agar nanti bisa fokus ketika dihadapkan oleh pekerjaan.
Denathan mengajak Adiknya pergi ke dapur untuk makan pagi. Sudah ada nasi, sayur serta lauk pauk yang tersedia dia atas meja makan. Aditya makan dengan porsi sedang. Tak perlu waktu lama, pria itu sudah selesai makan, tepat pada pukul enam lebih lima belas menit. Kini Aditya berpamitan kepada istrinya lalu berangkat ke kantor dengan mengendarai mobil.
"Hati-hati, Mas!" teriak Denathan saat suaminya sudah menjalankan mobilnya keluar dari pelataran rumah. Aditya hanya membalas teriakan Denathan dengan lambaian tangan.
****
__ADS_1
Aditya sudah sampai di kantor tempatnya berkerja. Laki-laki itu memarkirkan mobilnya di area parkir yang terletak di depan gedung perusahaan tersebut. Gedung perusahaan itu adalah perusahaan milik Natan yang bergerak dalam bidang industri. Perusahaan toko emas yang sudah memilik banyak cabang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Merupakan perusahaan turunan dari orang tua yang sekarang dipegang oleh Natan.
Aditya akan masuk ke dalam gedung disambut oleh dua satpam yang berjaga di depan pintu.
"Selamat pagi, Pak Adit," sapa salah satu satpam.
Aditya tersenyum dan mengangguk menanggapi sapaan satpam tersebut. Lalu Aditya melangkah memasuki gedung. Harus menaiki lift untuk sampai di tempatnya berkerja, yaitu lantai 25. Kantor tempat di mana pemimpin perusahaan melakukan pekerjaannya. Termasuk Aditya yang berkerja sebagai asisten.
Aditya melangkah masuk ke dalam kantor dan sudah mendapati Natan yang sedang berdiri di depan kaca besar yang menampakkan pemandangan berupa bangunan gedung-gedung, rumah-rumah warga, dan bangunan lain di bawah gedung.
"Selamat pagi, Bos," sapa Aditya saat sudah masuk ke dalam kantor.
Natan memutar badan menghadap ke arah Aditya. "Selamat pagi juga," sapanya balik.
"Kamu selalu datang tepat waktu," ucap Natan. Lalu pria berperawakan tinggi dan gagah itu melangkah menuju ke sofa, dan duduk di sana. Aditya menyusul duduk.
"Mungkin untuk hari ini, tidak ada yang harus kita diskusikan," ucap Natan, "Aku rasa semua berjalan baik-baik saja." Lanjutnya.
"Kebetulan kalau begitu, Bos," sahut Aditya.
"Kebetulan, apa maksudmu?" Natan bertanya dengan raut wajah bingung.
"Saya mau minta izin sama Bos," kata Aditya sambil tersenyum.
"Minta izin apa?" Natan bertanya dengan nada santai.
"Rencananya saya sama istri saya mau bulan madu," jawab Aditya.
__ADS_1
Natan mengangguk-angguk paham. Teman sekaligus asistennya itu baru menikah beberapa hari yang lalu, jadi tak ada salahnya jikalau dia ingin bulan madu. Sebagai bos yang baik, Natan tetap mengizinkan Aditya pergi.
Aditya berkata lagi ketika Natan tidak segera menjawab ucapannya, "Bagaimana, Bos? Kalau tidak boleh--."
Belum sempat Aditya mengatakan lebih lengkap, Natan segera menyahut, "Boleh-boleh saja, asalkan bulan madunya jangan lama-lama. Aku kasih kamu waktu paling lama satu minggu. Karena minggu depan, kita harus pergi ke luar kota."
"Oh ... baik, Bos. Saya nggak akan lama-lama pergi bulan madu, mungkin tiga hari saja sudah cukup," jawab Aditya sembari tersenyum tipis.
"Rencananya kamu mau bulan madu ke mana?" tanya Natan. "Kalau aku sama Thalita kemarin, pergi bulan madu ke luar negeri." Lanjutnya.
"Mungkin saya sama Denathan pergi bulan madu ke Bali, karena tempatnya juga nggak terlalu jauh dari Jakarta. Kalau ke luar negeri, butuh waktu berhari-hari, Bos. Dana saya juga kurang kalau harus pergi ke luar negeri," jawab Aditya sesuai unek-uneknya.
"Iya, semoga kamu menikmati bulan madumu ya. Selama satu minggu ke depan, saya nggak akan ganggu kamu sama istri kamu selama bulan madu."
"Iya, Bos. Makasih," kata Aditya.
Natan dan Aditya pun melanjutkan mengobrol, membahas tentang banyak hal. Satu pembahasan selesai, berlanjut membahas hal lain. Seakan-akan mereka tidak kehabisan topik pembicaraan.
****
Denathan sekarang tengah asyik mencari rekomendasi tempat wisata di Bali yang cocok untuk honeymoon. Dia mencari rekomendasi lewat google dan bermodalkan ponsel pintarnya. Cukup banyak tempat wisata yang menarik bagi Denathan. Salah satunya adalah Pantai Kristal atau Diamond Beach yang terdapat di Pulau Bali. Pantai dengan keindahan alam yang tidak usah diragukan lagi. Sepertinya Denathan tertarik akan mengunjungi pantai itu bersama suaminya.
Untuk mengingatnya Denathan perlu mencatat beberapa rekomendasi tempat wisata itu. List pertama, Denathan akan pergi ke Pantai Kristal, kedua ke tempat yang bernama Pura Uluwatu, ketiga Waterboom Bali, dan beberapa tempat yang kemungkinan menarik untuk dikunjungi.
"Oke, sudah selesai. Semoga aja Mas Adit diberi libur panjang sama Natan, biar bisa pergi bulan madu sampai puas," ucap Denathan dengan gembira dan tersenyum. Dia membayangkan bagaimana serunya dan asyiknya pergi berdua hanya dengan Aditya.
Lalu Denathan mencari referensi barang-barang yang wajib dibawa saat pergi bulan madu. Supaya nanti ketika dia dan suaminya akan pergi, mereka tidak akan kebingungan menentukan barang-barang yang sesuai. Denathan pagi ini lebih sibuk mencari rekomendasi, referensi, dan informasi mengenai tempat, barang, dan hal-hal lain yang indentik dengan bulan madu. Dia tidak ingin bulan madunya nanti tidak memuaskan atau malah mengecewakan. Yang pasti, apa pun itu yang berhubungan dengan honeymoon harus selalu dibawa happy.
__ADS_1