Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
BERCANDA ATAU SERIUS?


__ADS_3

Sore hari jam empat saat ini Denathan sedang rebahan di kasur. Tadi sehabis pulang dari sekolah, cewek itu memutuskan untuk langsung mandi dan berganti baju.


Rasa bosan melandanya, Denathan kemudian mengambil hapenya yang ada di atas meja. Dia menyalakan hape itu lalu membuka aplikasi Tik Tok. Sebuah aplikasi yang isinya kumpulan video pendek yang bermacam-macam.


Denathan ketawa kencang saat melihat video orang sedang cosplay menjadi Rapunzel yang dalam animasinya berambut panjang tapi cosplayer itu memakai rambut panjang yang terbuat dari tali rafia warna merah. Sungguh kreatif dan menghibur plus lucu.


"Anjir, lucu banget! Ahahah." Denathan sampai terpingkal-pingkal.


Lalu dia men-scroll layar ke bawah. Dan menampilkan sebuah video pendek berupa orang yang sedang memparodikan serial india Utaran--tokohnya Icha dan Tapasya. Itu sangat lucu dan menggemaskan, apalagi pemeran Icha yang begitu menghayati. Membuat penonton dibuat ngakak sampek jungkir balik.


"Whaahaha, nggak bisa, nggak bisa, ahahaha." Tanpa sadar Denathan menjatuhkan hapenya ke atas mukanya.


"Anjir, hape sialan." Lalu dia mengambil hapenya dan menonton video selanjutnya.


Di video ini tampil-lah kucing oren yang sedang digendong majikannya memakai gendongan bayi. Hal yang paling lucu adalah kucing oren itu dibawa di belakang punggung. Majikannya sedang menyetir sepeda motor. Dapat ditebak kucing oren itu diajak jalan-jalan sama majikannya.


"Ih gemes banget loh. Jadi pengen punya kucing. Lanjut."


Kali ini ada yang spesial, video yang ditampilkan berbeda dari video sebelumnya. Yang satu ini lebih kocak, lebih bikin ngakak, lebih bikin jungkir balik. Seseorang sedang berjoget memakai rok dari pohon pisang lalu ditambah pakai baju ala Tinker Bell yang ciamik dan keren. Sejujurnya kreatif tapi bikin ngakak plus jungkir balik.


"Ahahaha. Ampun deh. Kreatif juga sih. Oke lanjut." Denathan sampek enggak sadar udah nge-scroll video Tik Tok sebanyak 10 kali.


Kali ini bikin ngakak lagi. Seekor monyet sedang mendandani perempuan dengan sangat lucu. Dandannya belepotan ke sana ke sini, sudah seperti lukisan abstrak. Denathan sampek ngakak mengeluarkan air mata gara-gara monyet sialan itu.


"Ahahah, astaghfirullah. Demi konten kayak gini amat."


Saat Denathan men-scroll video selanjutnya, ada notifikasi pesan dari Natan. Enggak nunggu lama, Denathan memencet notif itu dan diarahkan ke WhatsApp. Lalu dia membaca pesan itu.


Natan,


Den ayo telpon, gue pengen ngobrol sama elo.


Denathan,

__ADS_1


Oke gass. Gue juga lagi gabut.


Dua sahabat itu pun memulai bertelepon. Denathan yang memulai obrolan.


"Halo Sayangku, Natan," ucap Denathan blak-blakan.


Natan tentu kaget dengan ucapan Denathan, "Eh gimana-gimana? Kurang jelas lo ngomong apa barusan."


Denathan menepuk jidatnya, seharusnya dia tidak berbicara seperti itu. Lagi pun Natan hanya sahabatnya. Dia harus berbicara wajar seperti biasa.


"Oh enggak-enggak, gue tadi--."


Natan memotong ucapan Denathan, "Gue udah tau, kok, kalau lo emang sayang sama gue. Gue juga sayang sama lo."


"Enggak, Nat. Enggak begitu." Denathan mengelak meski dalam hatinya dia memang sayang dengan Natan.


"Terus maksudnya gimana?" tanya Natan.


"Nah berarti kalau kita sahabat. Kita juga harus saling sayang. Sayangnya dalam konteks sahabat."


"Enggak, Nat!" Denathan tetap tidak setuju jika Natan mengatakan seperti itu.


Lalu Natan menyanggah, "Denathan, gue jelasin ya. Kita, kan, sahabat. Iya kan? Nah berarti sebagai sahabat kita juga harus saling menyayangi. Kita saling sayang biar persahabatan kita tetap langgeng."


Denathan mengembuskan napas panjang. Sebenarnya benar ucapan Natan, tapi Denathan merasa kurang sreg. Sejujurnya Denathan tidak ingin Natan mencintainya, dalam artian persahabatan mereka nantinya berubah menjadi pacaran. Sungguh sulit sekali, dari sahabat menjadi kekasih.


Denathan terdiam. Sampai suara Natan di seberang telepon menyadarkannya.


"Den." Natan memanggil.


"Kenapa?"


"Kok lo diem mulu?"

__ADS_1


Denathan menjawab simpel, "Enggak tau mau ngomong apa."


Natan memberanikan diri berkata, "Gue sebenarnya suka sama lo, Den. Gue pengen lo jadi pacar gue. Gue cinta sama lo."


Denathan membelalakkan matanya begitu terkejut mendengar pernyataan Natan. Benar dugaannya, Natan ingin menjadikannya pacar.


"Natan, lo serius, kan? Lo nggak bohong, kan? Lo enggak--."


Natan tertawa pelan, "Hahah, gue serius, Den. Bahkan dulu saat kita masih kelas sepuluh, gue pengen nembak lo, tapi gue enggak berani. Sampai sekarang gue cinta sama lo, Den."


Denathan menggelengkan kepala. Sungguh dia tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Natan. Apa yang didengarnya itu seakan seperti mimpi. Dia sungguh tidak menyangka, sahabatnya dari kecil menyimpan rasa cinta kepadanya. Apa yang harus Denathan lakukan sekarang, dia sangat bingung. Sekarang Denathan sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk menolak secara halus agar tidak menyinggung perasaan Natan.


Natan di seberang telepon kembali berbicara karena Denathan tidak kunjung meresponsnya.


"Gue tau, Den. Lo pasti nggak bisa nerima kenyataan sahabat lo ini cinta sama lo. Gue bener-bener cinta sama lo, Den. Gue pengen jadi orang pertama yang siap jaga lo." ujar Natan tulus dari hatinya.


Denathan menjawab dengan halus, "Tapi maaf, Nat. Gue enggak bisa. Lo sadar, kan? Kita udah sahabatan sejak kita masih kecil. Gue nggak mau tiba-tiba lo jadi pacar gue. Lo cukup jadi sahabat gue, gue udah seneng, Nat."


Natan memohon-mohon. Nada bicara lelaki itu berubah sedikit merengek, "Tolong, Den. Tolong banget lo mau jadi pacar gue. Gue nggak bakal sia-siain lo. Kalau lo mau jadi pacar gue, gue bakal selalu ada di sisi lo. Gue siap jaga lo, Den."


Denathan rasanya ingin menangis mendengar rengekan Natan yang seolah-olah menusuk kalbu. Natan benar-benar membuatnya sedikit banyak perasaan.


Lalu Natan berbicara lagi, "Please, Den. Tolong. Gue tersiksa nyimpen perasaan cinta sama lo udah lama banget, baru sekarang gue berani bilang sama lo. Seenggaknya lo terima cinta gue, gue bakal lega banget."


Denathan tersenyum tipis lalu menjawab, "Enggak bisa, Nat. Kita sahabat. Enggak bisa langsung jadi pacar gitu dong."


"Denathan, gue mohon. Satu permintaan gue. Lo terima cinta gue. Gue nggak bisa nahan cinta sama lo terlalu lama. Sakit, Den. Sakit."


"Maaf, tetap nggak bisa. Natan, lo sahabat gue. Dan selamanya kita akan tetap menjadi sahabat. Udah ya, lo nggak usah drama nangis-nangis gitu. Mending lo tidur."


Setelah itu Denathan langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu respons dari Natan. Setelah itu Denathan menaruh hapenya di atas meja. Sesaat kemudian, Denathan mengambil gulingnya lalu meringkuk memeluk guling. Tanpa sadar dia meneteskan air mata saat mengingat ucapan Natan tadi. Sebenarnya Denathan juga merasakan hal yang sama seperti Natan. Dia juga mencintai Natan, tapi persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak lama membuat Denathan sangat sulit menerima cinta dari Natan. Tidak mudah bagi Denathan untuk menerima perasaan cinta dari sahabatnya sendiri.


"Hiks, Natan maafin gue. Gue nggak bisa nerima cinta lo, hiks..." Denathan menangis sesenggukan. Air matanya menetes sedikit membasahi ujung gulingnya.

__ADS_1


__ADS_2