
Desi mengetuk pintu kamar Denathan sambil berkata, "Nak, ada Natan. Katanya dia mau ngajak kamu jalan-jalan."
Denathan yang ada di kamar tidak menggubris ucapan mamanya. Cewek itu saat ini tengah meringkuk di atas ranjang sambil meneteskan air mata saat mengingat masa-masa kecilnya dulu bersama Natan.
Lama menunggu jawaban dari anaknya, Desi berkata lagi, "Denathan. Kamu sedang apa di dalam? Natan menunggumu di ruang tamu loh."
Denathan akhirnya menjawab, "Suruh Natan pulang saja, Ma. Aku mau tidur!"
Desi kaget dengan jawaban anaknya. Sejak kapan Denathan seperti itu? Biasanya anaknya itu akan langsung bersemangat jika Natan datang ke rumahnya.
"Kenapa, Nak? Nggak biasanya kamu seperti itu. Natan bawa oleh-oleh buat kamu loh! Kasihan Natan kalau nggak ketemu sama kamu," ujar Desi.
"Biarin, Ma! Aku pengen sendiri. Oleh-olehnya buat Mama aja," teriak Denathan jengkel.
"Denathan, nggak bisa. Oleh-oleh itu khusus buat kamu. Ayo, temui Natan. Kasihan Natan sudah lama menunggumu. Kalian, kan, udah kenal dekat," ujar Desi lalu membuka pintu kamar anaknya secara paksa. Pintu itu pun terbuka lebar.
Denathan terkejut melihat mamanya membuka pintu begitu saja tanpa izin darinya. "Mama kok langsung buka pintunya!"
"Mama harus maksa kamu buat ketemu sama Natan. Ayo temui Natan, jangan buat sahabatmu kecewa," kata Desi tetap memaksa anaknya untuk menemui Natan.
"Natan bukan sahabatku, Ma. Dia hanya teman biasa!" balas Denathan tanpa pikir panjang. Sekarang Denathan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menganggap Natan sebagai sahabatnya. Mungkin jika dia tidak berubah pikiran.
Seketika ucapan anaknya itu membuat Desi terkejut bukan main. Setahunya selama ini, Denathan dan Natan sudah saling kenal dekat dan bahkan sudah berteman dekat sejak kecil. Lalu kenapa mendadak anaknya seperti berusaha menjauh dari Natan. Desi yakin, Denathan sedang ada masalah dengan Natan. Setiap pertemanan memang tidak luput dari masalah.
Desi tersenyum tipis lalu bertanya dengan nada pelan, "Kamu sedang ada masalah sama Natan ya? Makanya kamu begini. Kalau ada masalah ceritakan ke Mama, selesaikan dengan baik-baik. Jangan seperti ini. Kasihan, kalau kalian akhirnya nggak dekat lagi. Kamu, kan, sudah berteman dekat sama Natan sejak kecil."
"Aku nggak ada masalah sama Natan. Memang Natan bukan temanku," balas Denathan santai lalu kembali merebahkan tubuhnya.
Desi sepertinya harus sabar menghadapi sikap anaknya. "Denathan, dengerin Mama. Natan itu teman dekat kamu. Mama yang jadi saksi kalau kamu sudah berteman sama Natan sejak kamu masih bayi. Mama pernah ajak kamu ke rumah Om Sultan dan Tante Narulita. Tante Narulita dulu juga teman dekat Mama. Tapi sejak Mama menikah, Mama jarang banget ketemu sama Tante Narulita. Kadang Mama kangen sama dia. Sampai Mama nangis-nangis pengin ketemu sama sahabat Mama. Berpisah sama sahabat rasanya berat sekali, Nak."
Denathan memejamkan mata seolah tidak memedulikan ucapan mamanya, padahal dalam pikirannya gadis itu sedang memikirkan ucapan mamanya yang ada benarnya.
Desi mengembuskan napas panjang saat mengetahui anaknya malah mengabaikannya. Mungkin dia harus menuruti kemauan anaknya. Dia akan menyuruh Natan pulang.
"Ya sudah, kalau kamu nggak mau ketemu sama Natan, Mama terpaksa menyuruhnya pulang," kata Desi.
Mendengar penuturan mamanya, Denathan membuka mata dan langsung menyahut. "Tunggu dulu, Ma."
Desi menatap wajah anaknya, "Kenapa?"
"Aku berubah pikiran. Aku ingin menemui Natan, tapi Natan harus datang ke kamarku."
__ADS_1
Desi bingung, "Kenapa begitu? Nggak boleh anak laki-laki sama anak perempuan berduaan di kamar, apalagi kalian belum nikah."
Denathan malah menjawab, "Nggak apa-apa, Ma. Aku nggak bakal ngapa-ngapain kok sama Natan. Cuman mau bicara berdua aja. Kalau Natan mau ngapa-ngapain aku, aku bakal hajar Natan!"
"Ya sudah, tunggu sebentar." Desi menuruti kemauan anaknya. Kemudian dia keluar kamar, menuju ke ruang tamu untuk memanggil Natan.
Tidak lama setelah itu Natan datang ke kamar Denathan seorang diri. Desi tidak ikut bersama Natan, karena kata Denathan hanya ingin berbicara empat mata dengan Natan.
"Denathan, gue tau lo masih marah sama gue soal kejadian di sekolah. Gue minta maaf sama lo soal itu," ucap Natan yang baru masuk ke kamar Denathan.
Denathan duduk di tengah ranjang lalu memanggil Natan untuk mendekat, "Lo ke sini. Gue mau bicara sama lo."
Natan mendekati Denathan. Cowok itu berdiri di dekat ranjang. "Mau bicara apa?"
"Lo duduk di situ." Denathan menunjuk kursi yang ada di depan meja belajar.
Natan menurut lalu duduk di kursi itu. Tangan kanannya membawa sesuatu untuk Denathan. Entah apa isinya. Nanti saja Natan akan memberikannya kepada Denathan.
Denathan menarik napas panjang lalu diembuskan perlahan, dia harus siap mengatakannya panjang lebar.
"Jadi, gue mau ngomong. Kalau lo tetap mau sahabatan sama gue, lo jangan pernah cinta sama gue. Karena gue nggak mau persahabatan kita jadi rusak gara-gara salah satu di antara kita menyimpan rasa cinta. Cukup lo sayang sama gue sebagai sahabat, nggak lebih dari itu. Cukup lo perhatian sama gue sebagai sahabat. Dan kalau memang lo masih cinta sama gue, terpaksa gue bakal jauhin lo."
Natan mengangguk, "Iya gue ingat banget."
Denathan melanjutkan, "Nah, Thalita suka sama lo sejak lama. Gue mau lo mengungkapkan perasaan sama Thalita. Gue kasihan sama Thalita. Udah nahan bertahun-tahun suka sama lo, tapi dia nggak berani bilang sama lo."
"Gue tahu soal itu," jawab Natan sedikit menunduk.
"Terus?" Denathan bertanya.
"Tapi gue ngerasa kurang cocok sama dia. Gue cocoknya sama lo, Den." Natan menjawab sesuai pemikirannya.
Denathan menjawab santai, "Nggak begitu, Nat. Lo belum coba, lo jangan ngomong kurang cocok. Coba ungkapin perasaan ke Thalita biar Thalita juga seneng."
"Tapi--." Ucapan Natan terpotong.
"Nggak ada tapi-tapian. Coba dulu, jangan langsung ngomong nggak cocok. Mungkin awalnya lo emang nggak suka sama Thalita, tapi lama-lama gue yakin lo bakal suka sama dia."
****
Juna mengembuskan napas panjang. Dia harus siap untuk mengungkapkan perasaannya kepada Thalita. Cewek yang selama ini Juna suka, tapi baru kali ini dia mendapat kesempatan untuk menyatakan perasaannya.
__ADS_1
"Mau ngomong apa, Jun?" tanya Thalita karena Juna tidak kunjung berbicara.
Saat ini mereka berdua ada di kafe. Juna tadi memesan ruangan spesial hanya untuk berdua. Supaya Juna bisa lebih tenang dan tidak gugup saat menyatakan perasaan.
"Oke, gue mau ngomong. Sebenarnya selama ini, gue suka sama lo. Gue cinta sama lo, Thalita. Gue udah suka sama lo sejak kita masih kelas sepuluh. Waktu itu gue nggak berani menyatakan perasaan gue sama lo. Dan sekarang gue baru ngomong sama lo soal ini," ungkap Juna jujur. Jantung cowok itu berdebar bersamaan dengan hatinya yang senang. Dia juga merasa takut kalau Thalita akan menolak cintanya.
Thalita terdiam mendengar ungkapan perasaan hati Juna. Dia kurang percaya sekaligus tidak menyangka. Ternyata Juna sudah menyukainya sejak lama tapi dia sama sekali tidak menyadari hal itu. Hati Thalita menjadi bimbang. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Di sisi lain Thalita menyukai Natan. Sudah lima tahun Thalita menyukai Natan tapi sampai sekarang dia belum berani menyatakan perasaannya kepada Natan. Justru sekarang Juna yang menyatakan perasaan kepadanya. Lalu Thalita harus bagaimana? Dia begitu bimbang dan bingung.
"Bagaimana Thalita? Kamu menerima cintaku? Aku janji sama kamu, aku bakal jaga kamu. Aku bakal selalu ada di sisi kamu. Aku nggak bakal nyakitin kamu. Karena aku benar-benar suka sama kamu. Sungguh," ucap Juna dengan serius dan tulus dari hatinya.
Namun Thalita tetap diam. Entah harus bagaimana dia sekarang. Di dalam hatinya dia tidak tega membuat Juna kecewa. Tapi hati terdalamnya menyimpan rasa cinta kepada Natan. Mungkin Thalita tidak akan bingung menentukan pilihan jika bisa melihat ketulusan di hati Juna. Seandainya Juna tidak tulus mencintainya atau hanya sekedar suka, maka Thalita akan menolaknya, tetapi kalau Juna memang tulus mencintainya, dia akan menerima cinta dari Juna meski harus merelakan Natan. Ah, dunia percintaan memang rumit.
"Gue bingung, Jun." Akhirnya Thalita menjawab.
Juna mengerutkan kening lalu bertanya, "Kenapa kamu bingung? Jangan bingung. Aku benar-benar tulus mencintaimu, Thal."
"Bukan begitu, tapi gue bimbang." Thalita terlihat sedang melirik ke arah lain, yang menandakan dia sedang bingung.
"Kenapa?" Juna bertanya lembut.
"Gue mikir-mikir dulu ya. Kalau gue udah siap, gue bakal ngomong sama lo," jawabnya. Thalita sebenarnya ingin langsung menolak, tapi dia tidak tega membuat Juna kecewa.
"Kamu jujur aja sekarang sama aku, jangan ditunda-tunda. Menunggu kepastian itu sakit, Thal," kata Juna. Dia tidak ingin Thalita menunda-nunda jawaban kepastiannya.
"Tapi gue--."
"Thalita mending kamu sekarang jujur sama aku. Aku siap mendengar keputusan kamu." Juna mendesak Thalita untuk segera menjawab pernyataannya.
Akhirnya mau tidak mau Thalita berbicara jujur sesuai isi hatinya. "Maafin gue, Jun. Gue sebenernya nggak suka sama lo. Gue juga belum ada niatan mau pacaran, kok."
Jeder. Jantung Juna terasa berdebar lebih kencang. Hatinya merasa sakit, sungguh kecewa. Dugaannya di awal sangat benar, Thalita pasti akan menolak cintanya. Sungguh kalau tahu begini, Juna tidak akan mengungkapkan perasaannya kepada Thalita. Tetapi setidaknya ada sedikit—sangat sedikit rasa lega karena sudah menyatakan perasaan kepada cewek itu meski akhirnya ditolak.
Juna tersenyum. Senyuman kecewa yang dia tampilkan saat ini. Dia menjawab dengan tenang walau pun hatinya sakit. "Enggak apa-apa, kamu nolak aku. Yang penting kamu udah jawab jujur."
"Maafin gue ya Jun. Gue--."
Juna memotong ucapan Thalita, "Nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah."
Thalita menunduk, merasa bersalah sekaligus tidak enak hati kepada Juna. Cowok itu memang menyukainya, tapi sayangnya hatinya menolak karena menyimpan rasa cinta kepada Natan.
"Lebih baik gue kecewa di awal daripada nunggu kepastian kalau ujung-ujungnya, akhirnya lo tetap nolak."
__ADS_1