Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
DENATHAN MASUK, THALITA SAKIT


__ADS_3

"Woi, Bos. Kemarin lo ke mana? Kok nggak masuk sekolah?" Aditya menepuk pundak Natan dari belakang.


Mereka saat ini berada di tempat parkir.


Tepukan tangan Aditya pada bahunya membuat Natan terkejut. "Bikin kaget aja lo!"


Aditya sedikit tertawa lalu mengulangi pertanyaannya tadi, "Kemarin lo ke mana? Kenapa nggak masuk sekolah?"


"Gue sakit, masuk angin," balas Natan sekenanya.


"Tumben seorang Natan yang biasanya nggak sakit tiba-tiba sakit," ejek Aditya.


Natan menjawab dengan nada santai, "Ya emang kenapa kalau gue sakit? Menurut lo gue nggak bisa sakit gitu? Gue juga manusia kalek."


Aditya sedikit menggaruk tengkuk lehernya, benar juga apa yang dikatakan Natan. Setiap manusia pasti pernah merasakan sakit. Enggak ada manusia yang selamanya sehat tuh enggak ada.


"Tapi maksud gue bukan itu." Aditya ingin menjelaskan maksud ucapannya.


"Terus?" Natan melirik Aditya yang berjalan di sampingnya.


"Maksud gue, biasanya lo--."


Belum sempat Aditya berkata dengan lengkap, tiba-tiba Erik menepuk bahunya membuat Aditya menghentikan ucapannya.


"Anjir lo ya!" Aditya terkejut.


"Hahah, sorry," jawab Erik. Lalu dia menoleh ke samping dan mendapati Natan sedang berjalan di sebelah Aditya.


Lalu Erik beralih posisi di sebelah Natan. "Nat, kemarin gue nyariin lo tau. Lo kenapa nggak masuk?"


Natan menjawab dengan jawaban yang sama seperti saat Aditya menanyainya. "Gue sakit, masuk angin."


Erik sedikit tertawa, "Hahah. Bisa masuk angin juga lo. Gue pikir lo nggak bakal bisa sakit."


Natan memutar kedua matanya jengah mendengar ucapan Erik. "Lo pikir gue bukan manusia nggak bisa sakit?"


Erik seketika terdiam. Dia sadar telah salah berucap. Yang namanya manusia pasti bisa sakit, meski pun sebelumnya sama sekali tidak pernah sakit. Lalu Erik mengalihkan pembicaraan.


"Kemarin lo juga nggak aktif pas gue telpon," kata Erik.


"Kalau itu, hape gue kuotanya habis. Pagi tadi gue baru sempet beli." Natan menjelaskan dengan jujur.


"Oh pantesan. Tapi nggak apa-apa. Yang penting lo sekarang udah sehat." Erik merangkul Natan dan menepuk-nepuk bahu Natan.


****


"HALO BESTTIEE, GUE KANGEN BANGET SAMA LO!"


Baru saja masuk kelas, Denathan sudah disambut oleh teriakan Denok yang cempreng, tapi menggelegar. Lalu Denok memeluk tubuh Denathan erat-erat. Membuat seluruh siswa yang di kelas menatap Denathan dan Denok yang sedang berpelukan.


Denathan sedikit risih karena Denok memeluknya tanpa aba-aba. "Iya, kangen ya kangen, tali nggak usah lebay."

__ADS_1


"Heheh, maafin." Denok kemudian melepas pelukannya pada tubuh Denathan.


Kini Denathan dapat bernapas lega. Pelukan Denok yang erat cukup membuatnya susah bernapas, meski pun tinggi badan Denok hanya sebatas bahunya.


"Eh Denathan udah masuk sekolah," kata Tia yang sedang duduk di kursinya.


Denathan tidak membalas perkataan Tia. Dia langsung menaruh tas di kursinya. Dia baru sadar kursi sebelahnya masih kosong, berarti Thalita belum masuk ke kelas.


Kemudian Denathan bertanya kepada Renita yang duduk di belakangnya. "Ren, Thalita ke mana? Tumben belum masuk kelas."


Renita yang bermain hape pun seketika mendongak menatap wajah Denathan. "Thalita sakit. Gue baru aja di-chat sama dia. Katanya udah chat ke elo, tapi belum lo baca."


"Seriusan? Ya udah gue periksa sekarang." Denathan kemudian mengambil hapenya yang ada di tasnya. Lalu dia mengecek pesan masuk. Dan benar saja Thalita sudah mengirimkan pesan kepadanya sejak pagi tadi saat Denathan di perjalanan menuju ke sekolah.


"Eh beneran Thalita nge-chat gue." Denathan membaca pesan dari Thalita.


Thalita,


Natha, hari ini gue gak masuk, gue sakit. Pagi tadi gue muntah. ✓✓


"Bener, kan?" Renita bertanya kepada Denathan.


"Bener. Thalita nge-chat," balas Denathan.


Lalu Denathan membalas pesan Thalita.


^^^Denathan,^^^


Tak lama Thalita membalas pesan Denathan.


Thalita,


Oke Natha. Oh ya, gue pernah titip buku tulis satu pak sama lo ya. Udah dibeliin belum? Kalau belum besok gue beli sendiri. ✓✓


^^^Denathan,^^^


^^^Udah gue beliin. Nanti pulang sekolah, gue ke ✓✓ rumah lo.^^^


Thalita,


Oke bestie. Lo emang sahabat gue yang terbaik. Sayang sama lo banyak-banyak. 💛💛💛 ✓✓


^^^Denathan,^^^


^^^✓✓ Aaa so sweet...💛💛💛^^^


Thalita,


Mweheheh... ✓✓


^^^Denathan,^^^

__ADS_1


^^^Udah ya chat-nya. Pak Bambang udah masuk ✓✓ kelas nih.^^^


Thalita,


Oke. ✓✓


Denathan dan Thalita pun mengakhiri chat mereka. Seorang guru matematika memasuki kelas. Namanya Pak Bambang. Dia cukup garang membuat siswa ketakutan jika guru itu marah.


Pak Bambang memulai pelajaran. "Selamat pagi!"


"Selamat pagi juga, Pak!" balas semua siswa yang ada di kelas.


"Oke pelajaran Bapak kali ini adalah Bahasa Indonesia." Pak Bambang rupanya sedang bercanda.


Seketika membuat semua siswa bingung dan kaget. Sebagian ada yang tertawa. Mana mungkin Pak Bambang beralih profesi menjadi guru Bahasa Indonesia hanya dalam waktu singkat. Ah semua siswa di kelas itu tahu, Pak Bambang hanya bercanda.


"Bercandanya receh, Pak. Nggak lucu!" teriak salah satu siswa cowok yang duduk di kursi paling pojok.


"Ahahah, Pak. Ada-ada aja!" Salah satu siswa perempuan ikut-ikutan.


"Iya, Bapak hanya bercanda. Biar kalian tertawa. Tapi sepertinya candaan Bapak nggak lucu."


"Emang nggak lucu, Pak!" balas salah satu siswa laki-laki.


Pelajaran matematika pun dimulai. Denathan, Renita, Denok, dan Tia menyimak Pak Bambang yang sedang menjelaskan di depan dengan seksama. Semua murid tidak ada yang ramai karena tahu bagaimana Pak Bambang jika mengajar. Waktu berlalu cepat, jam pelajaran pun berganti, berlanjut lagi dan lagi, sampai akhirnya jam istirahat tiba. Semua siswa di kelas itu bersorak gembira.


"Uhh, akhirnya istirahat juga," kata Denok sembari mengelus-elus perutnya yang sudah keroncongan. "Gue laper."


"Ayo ke kantin. Kayaknya lo nggak bawa bekal." Renita memerhatikan gerak-gerik Denok.


"Den, lo ikut ke kantin nggak?" Tia bertanya kepada Denathan.


Denathan menjawab, "Sebentar ya, gue mau ke kelasnya Natan."


"Iya-iya yang setiap hari deket sama Natan!" ucap Tia hanya bercanda.


"Apa sih? Orang gue sama Natan cuman sahabatan."


"Tapi awas jatuh cinta. Kayak lagu, awas nanti jatuh cinta ... cinta kepada diriku.. jangan-jangan kau jodohku." Tia bernyanyi.


Denathan membalas dengan santai, "Nggak bakal."


"Yang namanya jodoh kita nggak tahu, Den. Jodoh itu bisa dari orang terdekat. Contohnya lo sama Natan. Awalnya emang sahabat dekat eh ujung-ujungnya malah nikah. Udah banyak yang kayak gitu," ujar Renita seraya men-scroll layar hape.


Renita sedang menonton video tik tok. Saat menemukan video orang yang menikah dengan sahabatnya sendiri, Renita pun langsung menunjukkan video itu kepada Denathan.


"Nah, nah, ini contohnya. Nikah sama sahabatnya sendiri. Ini ceritanya sahabatan dari kecil, eh gedenya nikah. Bener-bener definisi jodoh sejak balita," ujar Renita menggebu-gebu.


Denok pun membalas ucapan Renita, "Gue doain, semoga Denathan dan Natan berjodoh. Aamiin."


Tia menyahut, "AMIN paling kenceng gue!"

__ADS_1


Seketika membuat semua siswa yang masih di kelas menoleh ke arah Tia. Denathan tidak memedulikan ketiga temannya itu. Dia pun segera keluar kelas untuk menemui Natan di kelasnya.


__ADS_2