Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
MASA LALU


__ADS_3

Denathan terkejut begitu Natan memeluknya cukup erat. Cewek itu ingin memberontak tapi seakan sangat sulit. Kejadian itu disaksikan oleh beberapa siswa yang melewati lorong.


Di pelukan Natan, Denathan menangis, bukan menangis bahagia melainkan menangis karena sedih. Dia tidak ingin Natan mencintainya.


"Natan! Lepasin gue!" Denathan memberontak tapi Natan semakin memeluknya.


"Gue enggak bakal lepasin lo, sebelum lo--."


"Lepas, anjir!" Denathan langsung menonjok perut Natan sangat keras hingga membuat Natan terhuyung dan secara paksa melepas pelukannya. Kemudian cewek itu menatap Natan hanya sebentar lalu cepat-cepat berlari menjauhi Natan sambil menangis. Air matanya tidak berhenti menetes.


"Bangsat, sakit banget." Natan memegangi perutnya yang terasa nyeri akibat pukulan Denathan.


Tanpa menyerah, Natan berlari untuk mengejar Denathan tapi sayangnya sudah kehilangan jejak cewek itu. Denathan sudah sangat jauh berlari. Entah kemana perginya gadis itu.


"Anjing, bangsat!" umpat Natan sangat kesal saat tidak melihat keberadaan Denathan. Lalu Natan kembali ke kelas dengan keadaan lesu tidak bersemangat.


****


"Hiks, Natan. Hiks, lo kenapa cinta sama gue sih? Dulu lo pernah janji sama gue, kita akan menjadi sahabat selamanya. Kenapa sekarang jadi begini? Hiks, hiks, hiks, gue nggak bisa kayak gini. Gue pengen kita sahabatan aja. Nggak begini, hiks, hiks." Denathan sekarang ada di dalam toilet yang berdekatan dengan area kelas 10 yang tentunya jauh dari area kelasnya. Cewek itu menangis sesenggukan dan tidak tertahankan.


Denathan yang biasanya tidak pernah menangis meski tubuhnya luka sekali pun, tapi sekarang dia tidak dapat menahan tangisannya karena memikirkan sahabat sejak kecilnya yang tiba-tiba mencintainya. Denathan tidak bisa menerima kenyataan itu. Dia masih syok.


Denathan mengingat, dulu waktu dia dan Natan masih SD.


Flashback on,


Natan sedang bermain kejar-kejaran bersama Denathan di kebun belakang rumah Natan. Kedua anak itu sudah menjalin persahabatan sejak balita, sampai sekarang mereka sudah menginjak kelas tiga SD, persahabatan mereka tetap langgeng.


"Natan, kamu nggak bakal bisa kejar aku, hahah..." ujar Denathan sangat ceria. Gadis kecil itu berlari berputar-putar di bawah pohon rindang. Sedangkan Natan mengejarnya tanpa henti di belakangnya.


"Aku pasti bisa menangkap mu, ahahah." kata Natan kemudian tertawa.


Mendengar ucapan Natan, Denathan semakin berlari kencang agar Natan tidak dapat menangkapnya. Denathan kemudian berlari ke arah kolam ikan yang berada tidak jauh dari tempatnya sekarang. Natan tidak berhenti mengejarnya membuat Denathan sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Natan tidak sampai di dekatnya. Sial saat Denathan berbelok arah, dia tidak sengaja menginjak batu cukup besar hingga membuatnya tergelincir dan jatuh terjerembap ke tanah yang sedikit becek.


"Aduh, sakit, hiks, hiks, Natan. Sakit." Denathan langsung menangis saat itu juga. Bajunya kotor penuh lumpur, tak hanya baju, tapi juga wajah tangan dan kakinya.


Sontak Natan terkejut melihat Denathan jatuh. Lalu anak laki-laki itu mendekati sahabatnya dan segera menolongnya.


"Denathan, jangan nangis, ayo aku bantu," ujar Natan panik seraya memegang tangan kanan Denathan untuk membantunya berdiri.


Setelah berdiri Denathan tetap menangis malah semakin kencang sampai terdengar oleh Narulita yang saat itu sedang menyirami tanaman di depan halaman. Narulita cepat-cepat mendekati Natan dan Denathan.


"Mama, tadi Denathan jatuh di sana. Aku yang menolongnya," ucap Natan yang sedang memapah Denathan.


"Ya Allah, Nak. Kenapa bisa begini?" tanya Narulita panik.


Denathan tetap menangis karena matanya perih sedikit kemasukan lumpur. "Huaa, huuaa..."


"Kenapa bisa begini, Natan?" Narulita bertanya kepada Natan lalu wanita itu menggendong Denathan. Dia tidak peduli bajunya ikut terkena lumpur.


Natan menjelaskan dengan wajah takut. Takut mamanya menyalahkannya. "Tadi dia jatuh di situ, Ma. Aku yang menolongnya."


"Ya sudah, kamu jangan main di sini lagi, ayo ikut Mama pulang ke rumah." Kemudian Narulita menggandeng tangan Natan sambil menggendong Denathan dengan satu tangan. Wanita itu terburu-buru masuk ke rumah lewat pintu belakang yang menghubungkan ke kamar mandi.


Untungnya tidak ada Desi--ibunya Denathan. Kalau ada Desi pasti wanita itu akan menyalahkan Natan. Tadi pagi Desi memang mengajak Denathan ke rumah Narulita. Berhubung Denathan tidak ingin pulang, akhirnya Desi menitipkan anaknya kepada Narulita dan akan dijemput pada sore hari.


"Kalau Tante Desi sampai tahu Denathan jatuh, kamu akan kena marah, Natan," ucap Narulita yang sudah masuk ke kamar mandi. Natan juga ikut masuk.


Natan jadi menangis karena merasa disalahkan, padahal dia menolong Denathan. "Huaa, aku nggak salah, Ma. Denathan jatuh sendiri. Aku yang menolongnya. Huaa..."


Narulita tidak memedulikan tangisan Natan karena membersihkan tubuh Denathan lebih penting. Lalu Natan keluar dari kamar mandi sambil menangis. Denathan menatap Natan dengan perasaan kasihan. Gara-gara dirinya Natan disalahkan oleh mamanya.


Denathan tetap menangis sambil berbicara, "Huaa, Tante, Natan nggak salah. Aku tadi jatuh sendiri, huaa..."


"Iya Tante tahu, Natan nggak salah," jawab Narulita sambil memandikan Denathan. Bajunya Denathan yang kotor tadi sudah Narulita taruh di bak kecil khusus baju kotor.


Natan berlari masuk ke rumah melewati dapur sampai membuat Bi Sari yang sedang memasak kebingungan melihat sikap anak majikannya itu.

__ADS_1


"Den Natan, kenapa atuh? Kok nangis?" Bi Sari menghentikan Natan.


"Mama jahat, Bi. Aku disalahkan, padahal Denathan jatuh sendiri. Huaa..." jawab Natan sambil menangis.


Kebetulan ada Sultan yang masuk ke dapur. "Kenapa, Bi, kenapa Natan menangis?" tanya pria itu begitu mengetahui anak pertamanya menangis.


"Saya tidak tahu, Tuan, tadi saat masuk ke dapur, Den Natan sudah menangis," jelas Bi Sari.


Kemudian Sultan menggendong Natan dan berbicara, "Ya sudah. Bibi lanjut masak." Ajaibnya saat sudah ada di gendongan papanya, Natan berhenti menangis.


"Natan, kenapa menangis? Siapa yang bikin anak Papa menangis?" tanya Sultan sambil berjalan menuju ke kamar di lantai tiga.


"Mama, Pa. Mama menyalahkan aku," jelas Natan yang sudah berhenti menangis.


"Menyalahkan bagaimana?" Sultan bingung dengan ucapan anaknya.


"Tadi Denathan jatuh. Dia jatuh sendiri, Pa. Tapi Mama menyalahkan aku," jawab Natan.


Sultan memaklumi Natan yang masih anak kecil, jadi pemikirannya tidak dewasa.


"Ya sudah, kamu jangan nangis lagi. Nanti Papa ajak kamu pergi jalan-jalan sama Denathan sama Adek Tasya ya?"


"Adek Devano nggak diajak, Pa?" tanya Natan. Devano adalah anak ketiga Sultan.


Sultan tersenyum lalu menjelaskan, "Adek Devano nggak ikut. Biar nanti di rumah sama Mama.


"Iya, Pa."


****


Denathan masuk ke kamar anak, menemui Natan yang sedang bermain bersama Tasya beralaskan tikar. Denathan sudah mandi dan memakai baju milik Tasya yang hampir tidak muat di badannya, tapi tetap dipaksakan untuk memakainya karena Denathan tidak mempunyai baju ganti.


"Natan, aku ikut main ya," ucap Denathan sambil mendekati Natan dan Tasya.


Tetapi sayangnya Natan tidak memberi respons, mungkin Natan masih jengkel dengan mamanya yang seakan-akan menyalahkannya penyebab Denathan jatuh.


Denathan berekspresi murung saat melihat Natan yang tidak mempedulikannya. Lalu dia tersenyum melihat Tasya dan berjalan menghampiri Tasya. "Aku ikut main ya."


"Iya, Kak. Kak Natan tadi nggak mau diajak main sama aku," jelas Tasya sambil melihat Natan yang sedang asyik sendiri bermain mobil-mobilan.


"Kenapa Natan nggak mau kamu ajak main?" Denathan bertanya sambil mengambil satu boneka beruang milik Tasya.


"Aku nggak tau, Kak." Tasya menggeleng.


Denathan hanya mengangguk-angguk dan melanjutkan bermain bersama Tasya.


"Bonekanya cantik kan, Kak?" Tasya mengambil boneka Barbie yang ada di kotak kardus yang khusus untuk menyimpan boneka.


Denathan tersenyum saat melihat boneka itu, "Iya, cantik banget. Aku suka."


"Kak Dena mau boneka ini?" tanya Tasya.


"Iya, aku mau ini," ucap Denathan lalu mengambil boneka Barbie itu.


Saat Denathan mengambilnya, tiba-tiba Natan mencegah. "Tasya, jangan berikan sama Denathan. Itu boneka mahal. Nanti rusak."


Seketika Tasya panik dan langsung mengambil boneka itu dari tangan Denathan. "Iya, Kak Natan."


Denathan terdiam melihat Tasya mengambil boneka itu begitu saja. Dia mendadak merasa sedih.


"Jangan main sama Denathan, nanti kamu disalahkan kalau dia menangis," ujar Natan yang seakan-akan membenci Denathan.


"Natan, aku kan mau main sama Tasya," kata Denathan merengek.


Natan hanya sekilas melihat Denathan lalu menatap Tasya. "Sini Dek main sama aku aja. Denathan biar main sendiri."


Tasya bimbang antara menuruti kemauan kakaknya atau tetap bermain bersama Denathan. Tasya diam karena bingung.

__ADS_1


"Tasya, ayo main sama aku. Aku ada mobil-mobilan baru nih," bujuk Natan seraya menunjukkan mainan mobil-mobilannya yang baru dibelikan papanya satu hari yang lalu.


Akhirnya Tasya memilih bermain bersama Natan. "Kak, aku main sama Kak Natan ya. Kak Dena main sama boneka aku aja. Ini, Kak." Lalu Tasya menggeser kardus berisi bonekanya ke hadapan Denathan. Tapi yang terjadi selanjutnya Natan mencegahnya.


"Jangan beri bonekamu sama Denathan. Bawa ke sini saja."


Mau tidak mau Tasya menuruti perintah kakaknya, "Maaf ya Kak Dena." Lalu Tasya membawa kardus berisi mainannya itu.


Denathan terdiam melihat sikap Natan yang seakan-akan membencinya, tapi gadis kecil itu tidak langsung bersedih. Dia tetap mendekati Natan lalu duduk di sebelah Natan.


"Aku ambil mainanmu yang ini ya?" Denathan mengambil mainan Natan berupa rumah-rumahan.


Natan mengembuskan napas kasar lalu bertindak mengambil mainan itu. "Nggak boleh. Kamu jangan ikut main ya! Main sendiri saja!"


Seketika membuat Denathan cemberut dan bersedih, tapi dia tidak menangis. Dia tidak menyerah sampai Natan mau mengajaknya bermain.


"Natan, aku ingin main sama kamu. Sama Tasya," kata Denathan merengek.


Tasya yang melihat itu pun merasa kasihan. "Kak Natan, Kak Dena kasihan, dia mau main sama kita."


Natan menatap Denathan hanya sebentar lalu mengajak Tasya untuk menjauh dari Denathan. "Ayo kita ke kamar Mama saja."


"Kak Natan, aku mau main sama Kak Dena. Kak Natan jahat!" Tasya memberontak saat Natan menariknya keluar kamar.


"Nggak boleh, kamu ikut aku ke kamar Mama saja." Natan memaksa Tasya.


"Biarin Tasya di sini. Aku mau main sama dia," ujar Denathan yang kemudian berdiri dan mendekati Tasya. Lalu menarik tangan Tasya. Sekarang Tasya diperebutkan oleh Denathan dan Natan.


"Tasya sama aku aja!" Natan menarik lengan Tasya lebih kuat.


"Nggak mau, sama aku aja!" Denathan tidak mau kalah.


"Aku sama Kak Dena. Aku nggak mau sama Kak Natan! Huuaaa." Tasya berteriak. Dia kesakitan karena tangannya ditarik-tarik. Lalu yang terjadi selanjutnya Tasya menangis kencang.


Natan panik adiknya menangis. Lalu anak laki-laki itu sengaja melepaskan tangan adiknya hingga membuat adiknya itu jatuh telentang di lantai bersamaan dengan Denathan.


Mendengar tangisan Tasya tentu membuat Narulita yang ada di kamar sebelah buru-buru mendatangi anaknya. "Ada apa ini? Kenapa, Natan?"


Natan bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Dia malah menyalahkan Denathan yang sekarang sedang berusaha menenangkan Tasya. "Tadi Denathan yang mendorong Tasya, Ma. Aku nggak tau apa-apa."


Narulita tidak memedulikan ucapan Natan lalu segera masuk ke kamar. "Tasya, nggak apa-apa, Nak?"


"Ma, Kak Dena jahat, huaa, hiks..." Tasya menjawab sambil menangis. Sepertinya Tasya tidak sadar telah menyalahkan Denathan.


Sudah pasti Natan sangat senang karena Tasya menyalahkan Denathan. Anak laki-laki itu menatap Denathan dengan pongah, lalu dia berjalan ke kamar mamanya.


"Denathan, apa benar kata Tasya?" Narulita bertanya kepada Denathan untuk memastikan, bisa saja bukan Denathan.


Denathan tampak ketakutan, dia tidak menjawab dan hanya menggeleng pelan. Dia kemudian segera berdiri, berlari keluar kamar, dan mengejar Natan. Narulita melihat tingkah Denathan dengan ekspresi bingung. Tetapi sesaat kemudian Narulita memaklumi sifat anak kecil yang memang suka bertengkar.


"Sudah Tasya, kamu jangan menangis lagi." Narulita menenangkan Tasya.


Denathan masuk ke kamar sebelah mengikuti Natan. Di kamar itu tidak ada siapa-siapa selain dirinya dan Natan.


"Natan, kenapa kamu menyalahkan aku?" Denathan tidak terima disalahkan.


"Gara-gara kamu aku yang disalahkan sama Mama. Aku kan yang menolongmu," jawab Natan. Rupanya Natan hanya ingin balas dendam.


"Tapi aku bilang sama Tante Narulita kalau kamu nggak salah."


"Kamu bohong! Aku nggak percaya." Natan berkata dengan keras. Lalu anak laki-laki itu mendekati Denathan dan mendorong Denathan hingga membuat Denathan jatuh ke lantai.


Hebatnya Denathan tidak langsung menangis meski pantatnya terasa sakit. Dia mendongak menatap Natan dengan wajah murung. Matanya berkaca-kaca seperti akan menangis, tapi dia berusaha menahannya.


Natan yang melihat itu pun hanya memalingkan muka lalu berkata, "Aku tidak kasihan sama kamu!"


Flashback lanjut di bab selanjutnya...

__ADS_1


__ADS_2