
Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba, akhirnya hari Minggu ini Aditya dan Denathan dapat berangkat ke Bali untuk pergi bulan madu. Sekarang mereka sudah ada di Bandara. Setelah menyerahkan karcis pesawat dan mendapatkan boarding pass, kini Aditya dan Denathan tengah naik ke dalam pesawat.
Pesawat Indonesia AirAsia akan berangkat ke Bali pada pukul delapan pagi. Sementara sekarang, dua orang pramugari tengah menghitung jumlah penumpang pesawat, memastikan bahwa jumlah penumpang sudah pas dan tidak ada yang kurang. Jika terjadi hal demikian, maka terpaksa jam terbang pesawat akan diundur untuk beberapa waktu sampai penumpang pesawat dinyatakan sudah lengkap sesuai data dari pembelian tiket pesawat ke Bali.
Jam delapan yang ditunggu-tunggu sudah tiba, kini pesawat sudah siap berangkat. Satu orang pramugari terdengar sedang mengumumkan kepada penumpang pesawat bahwa sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Detik-detik berlalu, menit-menit berlalu, Pesawat AirAsia terlihat berjalan begitu cepat melewati landasan dan perlahan-lahan terbang ke udara, semakin tinggi dan semakin tinggi sampai batas ketinggian jelajah yang sudah ditentukan oleh pilot.
Denathan dan Aditya duduk di kursi yang sudah ditentukan oleh panitia penerbangan. Mereka berdua duduk di tempat yang sama dengan dua kursi. Aditya terus memegangi tangan Denathan selama perjalanan.
Satu jam lebih lima puluh menit kemudian, Pesawat AirAsia sudah sampai di Bandara Gusti Ngurah Rai Bali. Kendaraan terbang itu perlahan-lahan mendarat pada jalur yang sudah disediakan khusus untuk tempat pendaratan pesawat.
Singkat cerita, Denathan dan Aditya sudah keluar dari bandara. Denathan menyeret satu koper besar yang berisi pakaiannya serta pakaian suaminya. Sementara Aditya sendiri membawa tas ransel yang berisi barang-barang untuk bulan madu.
Mereka memesan taksi, lalu tak lama kemudian taksi online sudah datang tepat waktu. Kemudian taksi tersebut membawa Denathan dan Aditya ke sebuah hotel bintang empat yang ada di sekitaran Bandara.
Aditya dan Denathan segera check-in di hotel dan menyewa kamar hotel selama satu Minggu. Selama mereka berbulan madu, mereka akan tidur di hotel tersebut. Denathan dan Aditya mendapat kamar di lantai lima.
Segera, Denathan dan Aditya masuk ke lift lalu menuju ke lantai lima. Sampai di lantai lima, mereka mencari kamar hotel nomor 115 yang mereka sewa. Akhirnya mereka menemukan kamar itu, lalu Aditya membuka pintunya menggunakan kunci kamar yang sebelumnya sudah diberikan kepadanya oleh resepsionis hotel.
Aditya dan Denathan masuk ke kamar. Pertama kali memasuki kamar, tatapan mereka langsung mengedar ke seluruh ruangan kamar. Mereka cukup kagum dengan desain interior kamar yang mewah dan cantik. Sepertinya mereka akan nyaman tidur di hotel selama satu Minggu.
Kemampuan supernatural Denathan tentunya masih berfungsi. Wanita itu dapat melihat sosok makhluk halus perempuan yang berdiri di pojok kamar. Mungkin karena kamar hotel yang jarang ditempati sehingga sering disinggahi oleh makhluk tak kasat mata. Tetapi untungnya sosok wanita yang berdiri di pojok kamar itu memiliki aura cukup positif, sehingga dia tidak akan mengganggu Denathan atau Aditya selama mereka di sana.
"Mas, kamu yang tenang ya. Sosok itu nggak bakal ganggu kita, kok. Dia cuman berdiri aja di pojokan," ucap Denathan memberitahukan kepada suaminya soal sosok itu.
__ADS_1
"Iya, aku nggak takut, kok." Aditya bersikap santai, selama masih ada istrinya semuanya akan baik-baik saja. Istrinya itu bisa menjadi pawang hantu. Agaknya memang lucu, tapi kenyataannya memang begitu. Denathan dapat menangkal kekuatan jahat yang sewaktu-waktu menyerangnya. Kalian pasti ingat kalau Denathan punya khodam yang terus mengikuti kemana pun Denathan pergi.
"Ya sudah, Mas. Aku mau mandi dulu ya. Badanku udah lengket, gerah rasanya," kata Denathan sambil melepas jaketnya. Lalu wanita itu menyampirkan jaketnya ke gantungan baju yang telah disediakan pihak hotel.
"Iya, kamu mandi dulu aja nggak apa-apa. Sementara aku akan memindahkan pakaian kita ke lemari," jawab Aditya sambil melepas kemejanya. Pria itu sekarang bertelanjang dada, dengan tujuan untuk mengeringkan keringat di tubuhnya.
"Astaga, Mas. Baru aja sampek kamar langsung lepas baju," kata Denathan yang mengambil handuk dari dalam koper.
"Aku gerah, makanya lepas baju. Kamu juga gerah, kan?" jawab Aditya sambil mencari-cari remote AC. Di kamar ada AC-nya, maka Aditya memanfaatkannya untuk menyegarkan ruangan.
"Iya gerah sih, Mas. Makanya aku mau langsung mandi," ujar Denathan yang kemudian melangkah menuju ke arah kamar mandi.
Aditya tersenyum lega setelah menemukan remote AC yang ternyata tersimpan di dalam lemari berbentuk laci. Tak perlu lama-lama, Aditya segera menyalakan AC agar udara di sekitarnya menjadi dingin. Kemudian Aditya membuka jendela kamar dan menyingkap gordennya, seketika cahaya matahari langsung menerobos masuk ke kamar dan menjadikan kamar terang benderang. Laki-laki itu menggeser kursi ke dekat jendela, lalu dia duduk sambil memandang ke bawah, mengamati rumah-rumah warga yang terlihat kecil dari ketinggian beberapa meter di dalam hotel.
Beberapa menit kemudian, Denathan keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk yang melilit tubuhnya. Wanita itu melihat suaminya tengah duduk di dekat jendela.
"Aku sedang berangin-angin, biar keringatku cepat kering," jawab Aditya sesuai keadaannya saat ini.
Denathan mengangguk-angguk. "Oh begitu."
Kemudian wanita itu membuka lemari dan mengambil dua setel pakaiannya. Tadi Aditya sudah memindahkan pakaiannya juga pakaian istrinya dari koper ke lemari.
Denathan sudah berpakaian lengkap. Wanita itu mendekati Aditya, lalu dari belakang melingkarkan tangannya ke pundak Aditya dan menaruh dagunya ke bahu suaminya yang kokoh. Denathan ikut melihat pemandangan kota.
__ADS_1
Aditya tersenyum sambil melirik istrinya. Dia bertanya, "Kenapa?"
"Indah ya, Mas. Rumah-rumah warga kecil banget kalau dilihat dari atas sini," jawab Denathan.
"Iya dong, kan kita ada di ketinggian," balas Aditya.
"Kamu nggak mandi, Mas? Badanmu bau kecut," ucap Denathan ketika mencium keringat suaminya yang kecut bercampur wangi parfum. Meski begitu, Denathan tetap betah di dekat suaminya.
"Kalau aku bau kecut, kenapa kamu betah peluk aku?" Aditya bertanya balik.
"Karena aku sayang sama kamu, Mas," jawab Denathan berniat bercanda.
Aditya seketika tertawa karena ucapan istrinya, "Hahaha. Bisa aja sih, kamu."
Denathan mengibaskan rambutnya lalu menjawab dengan percaya dirinya, "Aku gitu loh, Mas."
Aditya merasa gemas dengan istrinya. Lalu laki-laki itu mencium pipi kanan Denathan tepat setelah Denathan kembali meletakkan dagunya ke bahunya.
"Ih Mas Adit, mah," kata Denathan yang jengkel karena Aditya tiba-tiba menciumnya.
"Hahaha, habisnya kamu lucu. Bikin aku gemes aja," kata Aditya lalu tertawa ringan.
"Mas, kamu mandi gih." Denathan mengalihkan topik pembicaraan. Lalu wanita itu berdiri.
__ADS_1
"Iya, aku mandi." Aditya pun ikut berdiri.
Kemudian Aditya melepas celana panjangnya dan tinggalah celana boxer pendek yang dikenakannya. Sedikit ada benjolan yang bersembunyi di balik boxer. Hanya Denathan yang mengerti seberapa besar benjolan itu walaupun belum turn on. Hei, ayolah... kau jangan berpikir negatif.