
"Aku tidak kasihan sama kamu!" Natan memalingkan muka, lalu anak laki-laki itu berjongkok di depan Denathan dan kembali berkata, "Kamu jangan pura-pura menangis ya!"
Denathan pun menahan untuk tidak menangis walau pun air matanya memberontak untuk keluar.
"Kamu bukan temanku lagi. Aku tidak suka sama kamu," kata Natan dengan membentak lalu kembali berdiri dan sedikit menendang kaki Denathan. Kemudian anak laki-laki itu keluar dari kamar meninggalkan Denathan.
Denathan kecil sudah tidak kuasa menahan air matanya, kemudian air matanya keluar dengan deras. Denathan menangis tapi tidak mengeluarkan suara, tangisannya sesenggukan. Dia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lengan dan lututnya.
"Natan, kenapa kamu jahat sama aku? Apa salahku? Hiks, hiks, aku nggak salah, hiks, hiks." Denathan berkata dengan terbata-bata karena menangis.
Tidak lama kemudian, Mbak Riska--baby sitter Tasya--masuk ke kamar dan agak kaget melihat Denathan menangis. Mbak Riska panik lalu cepat-cepat mendekati Denathan. "Loh, Non Denathan kenapa menangis?"
Denathan mendongak menatap wajah Mbak Riska. Wajah anak perempuan itu penuh bekas air mata yang mengalir melewati pipinya. Matanya merah habis menangis. Tentu saja Mbak Riska bingung, apa penyebab Denathan menangis. Lalu wanita paruh itu mengambil dua lembar tisu untuk membersihkan pipi Denathan.
"Non, jangan nangis lagi ya. Mbak nggak tau, kenapa kamu menangis di sini?" Mbak Riska memapah Denathan menuju ranjang. Denathan kemudian duduk di atas kasur dengan kakinya yang bergelantungan.
Mbak Riska menanyai Denathan sekali lagi, "Non Denathan kenapa bisa menangis?"
Denathan ingin menjawab jujur bahwa Natan yang menyebabkan dia menangis, tapi entah kenapa Denathan ragu dan takut untuk mengatakannya. Akhirnya Denathan hanya menggeleng pelan dan tidak berkata apa-apa. Mungkin Denathan tidak ingin Natan disalahkan oleh mamanya lagi, walau pun kenyataannya memang salah. Maklum saja Denathan masih kecil.
Mbak Riska hanya tersenyum karena tidak segera mendapat jawaban dari Denathan. Dia juga memaklumi Denathan masih anak-anak, sehingga takut berkata jujur.
"Ya sudah, Non Denathan yang tenang. Jangan menangis lagi ya. Ayo ikut Mbak ke dapur. Non Denathan pasti lapar." Mbak Riska berniat mengajak Denathan ke dapur untuk makan. Mungkin dengan makan anak perempuan itu bisa lebih tenang.
Denathan menggeleng lagi, "Aku nggak mau makan, Mbak."
Mbak Riska bertanya, "Loh, kalau nggak mau makan, maunya apa dong?"
"Aku pengen main sama Natan," kata Denathan sambil mengusap air matanya yang sedikit menetes.
Mbak Riska tersenyum sambil mengangguk-angguk. "Oh, mau main sama Den Natan? Ya sudah, Mbak panggilkan Den Natan ya?"
Lagi-lagi Denathan menggeleng, "Nggak mau, Mbak. Aku nanti panggil sendiri saja."
Mbak Riska menampilkan senyuman sambil mengelus-elus rambut Denathan yang lurus dan lembut. "Ya sudah, Mbak antarkan kamu ke Den Natan ya. Den Natan lagi nonton tivi sama papanya. Kamu mau nonton tivi sama mereka?"
Denathan mengangguk polos. "Iya Mbak, aku mau nonton tivi."
"Pinter." Mbak Riska tersenyum tipis. Kemudian wanita paruh baya itu menggendong Denathan dan membawanya turun ke lantai dua di mana Tuan dan anaknya sedang menonton televisi.
Saat akan turun tangga, Narulita memanggil Mbak Riska. "Mbak Riska!"
Mbak Riska menoleh ke arah Narulita yang sedang menggendong Tasya. "Iya, kenapa Nyonya?"
"Denathan mau diajak kemana, Mbak?" tanya Narulita yang sedang menggendong Tasya sambil berjalan mendekati Mbak Riska.
"Denathan ingin menonton televisi. Jadi saya akan membawanya ke ruang tengah," jawab Mbak Riska. "Kebetulan ada Tuan dan Den Natan sedang menonton televisi." Lanjutnya.
"Oh kebetulan. Saya juga mau turun ke bawah. Tasya katanya mau makan," ucap Narulita.
"Iya, Nyonya. Makanannya sudah ada di meja makan, tadi Bi Sari yang memasak," jelas Mbak Riska sambil turun dari tangga menuju ke lantai dua. Narulita mengikuti di belakang sambil menggendong Tasya.
Sesampainya di ruang tengah di lantai dua, Mbak Riska menghampiri Sultan yang sedang menonton televisi bersama Natan. Anak laki-laki itu duduk di alas tikar sambil bermain mobil-mobilan.
"Tuan, Non Denathan ingin menonton televisi. Boleh, kan?" Mbak Riska meminta izin kepada tuannya.
Sultan tersenyum lalu menjawab, "Oh tentu saja boleh. Itu Natan sedang bermain. Mungkin Denathan mau main sama Natan."
"Aku lihat tivi saja, nggak mau main," ucap Denathan sedikit merengek. Dia takut dengan Natan karena sikap anak laki-laki itu kepadanya tidak mengenakkan.
"Kenapa, Nak? Den Natan juga mau main sama kamu," bujuk Mbak Riska sambil mendudukkan Denathan di alas tikar. Lalu Denathan segera beringsut agak menjauh dari Natan.
"Natan, nggak suka sama aku, Mbak, aku takut." Denathan keceplosan, tapi anak kecil itu tidak bereaksi terkejut atau menyadari seperti saat orang dewasa keceplosan berbicara. Yang namanya anak kecil pasti berbicara sesuai isi hatinya, tidak akan pernah berbohong.
__ADS_1
"Loh kenapa? Lihat, Den Natan aja senyum sama kamu." Mbak Riska berkata lembut sambil menunjuk Natan yang sedang tersenyum ke arah Denathan.
Denathan melihat senyuman itu seperti tidak tulus. Natan hanya pura-pura. Lalu Denathan kembali merengek, "Aku nggak mau. Aku mau main sendiri!"
"Non Denathan tadi bilang, katanya mau main sama Den Natan. Kok sekarang nggak mau? Hayo, kenapa?" Mbak Riska masih mengingat perkataan Denathan saat di kamar tadi. Dia pun memaklumi. Terkadang pemikiran anak kecil belum bisa tetap atau plin-plan.
Denathan pun menjawab, "Aku mau nonton tivi sama Om Sultan aja!"
Mbak Riska sedikit tertawa. Denathan gampang berubah pikiran. Pertama, ingin bermain bersama Natan. Kedua, ingin bermain sendiri. Ketiga, ingin menonton televisi. Sungguh anak kecil itu menggemaskan.
"Ya udah, nonton tivi sama Om Sultan aja ya?" Kemudian Mbak Riska pergi ke dapur.
"Iya, Mbak." Denathan berdiri lalu berjalan mendekati Sultan yang duduk di sofa sedang menonton televisi. Kemudian Denathan naik ke atas sofa dan duduk di sebelah Sultan.
Sultan menyadari kehadiran Denathan. "Denathan nggak ikut main sama Natan?"
"Enggak Om. Aku mau lihat tivi saja," balas Denathan sambil memperhatikan televisi yang menayangkan berita siang. Meski anak perempuan itu tidak paham apa yang sedang dibicarakan dalam berita itu tapi dia tetap menontonnya. Seolah-olah dia memahami berita itu.
Sultan tersenyum melihat Denathan lalu berinisiatif untuk mengganti ke channel lain yang menayangkan kartun anak-anak. "Nah, kamu lihat ini saja ya."
"Iya, Om. Aku suka ini," ucap Denathan lalu tersenyum lebar menatap wajah Sultan.
Kemudian Sultan berdiri dan berkata, "Om mau kerja dulu. Denathan baik-baik sama Natan di rumah ya."
Denathan memberi anggukan singkat lalu menjawab, "Iya Om."
Sultan tersenyum sebentar kepada Denathan lalu melangkah mendekati Natan yang sedang bermain. "Natan, Papa berangkat kerja dulu. Kamu jangan nakal lagi sama Denathan ya. Denathan itu teman kamu."
Natan menatap wajah papanya sambil tersenyum lalu dia mengangguk. "Iya, Pa. Aku nggak nakal lagi sama Denathan. Aku nanti mau minta maaf sama Denathan."
Tadi Sultan tidak sengaja melihat Natan sedang bertengkar bersama Denathan di kamar. Jadi saat Natan menghampirinya menonton televisi, Sultan menasihati anak laki-lakinya itu secara baik-baik agar tidak menyinggung perasaannya. Nasihat dari papanya membuat Natan menyadari kesalahannya dan akan berniat meminta maaf kepada Denathan.
Sultan tersenyum lebar sambil mengusap-usap rambut anaknya. "Pinter, anak Papa. Sama temannya nggak boleh nakal ya."
"Ya sudah, Papa berangkat kerja dulu. Nanti kalau kamu mau makan, kamu ajak Denathan juga ya."
"Iya, Pa. Aku mau ajak Denathan makan." jawab Natan.
Setelah berpamitan pada anaknya, Sultan berdiri lalu melangkah menuju ke lantai satu.
Natan memanggil Denathan. "Denathan!"
Tapi Denathan tidak memberi respons karena masih kesal kepada Natan.
Anak laki-laki itu memanggil sekali lagi. "Denathan ayo main sama aku!"
Denathan tetap tidak peduli. Tatapannya masih fokus ke layar televisi yang menayangkan kartun kesukaannya.
"Denathan!" Natan memanggil lebih keras. Tapi tetap saja tidak mendapat respons. Lalu anak itu berdiri dan menghampiri Denathan.
"Denathan." Natan berkata sambil tersenyum tipis dan sengaja berdiri di depan Denathan agar tidak dapat melihat televisi. Tingkah Natan membuat Denathan jengkel.
"Kamu pergi saja. Aku mau lihat tivi." Denathan sedikit mendorong tubuh Natan ke samping, tapi anak laki-laki itu tidak beringsut sama sekali. Tetap di hadapan Denathan dengan senyuman lebar. Seakan-akan mengejek Denathan kalau dia tidak akan berpindah tempat.
Kemudian Natan memegang tangan kanan Denathan lalu berbicara, "Ayo kita bermain. Aku sudah bosan melihat tivi. Lebih baik kita bermain ini!" Dia menunjukkan mainan rumah-rumahan.
Denathan tersenyum melihatnya. Mainan itu yang sebenarnya dia inginkan. "Aku mau mainan ini," ujarnya seraya mengambil mainan itu dari tangan Natan.
Tapi Natan menarik mainan itu membuat Denathan gagal memegangnya. Yang terjadi kemudian anak laki-laki itu tertawa seakan-akan mengejek Denathan.
"Hahaha. Aku tidak mau memberimu mainan. Kamu bukan temanku lagi!" Kemudian anak laki-laki itu melempar mainannya ke lantai dan berlari menuju ke arah tangga. Lagi-lagi Natan bersikap nakal kepada Denathan. Rupanya Natan hanya pura-pura baik pada Denathan saat di depan papanya.
Denathan pun terdiam melihat Natan. Lagi-lagi Denathan tertipu dengan sikap Natan yang awalnya menyenangkan mendadak berubah menjengkelkan.
__ADS_1
Sialnya saat Natan berlari menaiki tangga sampai di tengah-tengah, anak laki-laki itu terpeleset dan jatuh. Lututnya berbenturan dengan anak tangga membuat Natan langsung kesakitan dan menangis.
"Mama, aduh sakit. Huaaa. Mama, Papa. Huaa." Anak itu jatuh dalam posisi tengkurap di atas tangga.
Denathan pun panik. Dia menghampiri Natan yang jatuh dan berniat menolongnya. Tapi sayangnya hal itu malah menimbulkan salah paham. Ketika Narulita sudah ada di lantai dua, dia melihat Natan jatuh dan Denathan sedang berdiri di samping Natan. Di mata Narulita seakan-akan Denathan yang sengaja menjatuhkan Natan, padahal sebenarnya Denathan ingin membantu Natan.
"Denathan, kenapa Natan bisa jatuh?" tanya Narulita sambil menjauhkan Denathan dari Natan.
"Tante. Tadi Natan jatuh sendiri. Aku mau menolongnya," ujar Denathan jujur.
"Iya." Narulita membalas dengan nada ketus karena tidak mempercayai ucapan Denathan. Lalu wanita itu menggendong Natan dan membawanya ke kamar. Denathan mengikuti langkah Narulita.
"Denathan, kamu jangan ikut! Berdiri saja di situ!" ucap Narulita ketus ketika menyadari Denathan mengikutinya.
Denathan pun menurut. Dia berhenti di anak tangga terakhir lalu menundukkan wajahnya. Hatinya benar-benar sedih sekarang. Sakit sekali. Sebagai anak kecil, dia merasa tidak adil diperlakukan seperti itu. Seharusnya Narulita tidak bersikap ketus kepadanya.
"Mama, aku mau pulang saja. Natan sama Tante Narulita jahat sama aku. Huuaaa..." monolog Denathan sambil menangis. Tangisannya pun tidak bisa terbendung lagi. Suaranya semakin kencang, tapi tidak ada yang memedulikannya. Tidak ada orang selain Narulita yang saat ini sedang ada di kamar--sibuk mengobati luka di lutut Natan.
Denathan turun ke lantai dua sambil menangis berharap ada orang yang mendengarnya, tapi percuma karena semua orang di rumah itu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing dan tidak ada waktu untuk mengurus satu anak yang menangis.
Narulita menanyai Natan, "Tadi kenapa kamu bisa jatuh? Denathan yang menjatuhkan mu?"
Natan tidak berkata jujur, "Tadi aku didorong sama Denathan, Ma."
"Kamu benar? Jangan bohong sama Mama." Narulita mengancam Natan agar berkata jujur.
Natan tetap tidak mau jujur. Dasar anak nakal dan pembohong. "Aku tidak bohong, Ma. Denathan mendorongku sampai jatuh."
"Ya sudah, nanti Mama yang bicara sama Denathan. Awas kalau kamu bohong!"
****
Denathan saat ini sedang duduk di atas tikar. Dia ada di lantai dua dan televisi masih dalam keadaan menyala. Setelah beberapa menit dia menangis, akhirnya anak perempuan itu berhenti menangis saat melihat tayangan kartun kesukaannya yang lucu.
Narulita menghampiri Denathan. Lalu berjongkok di depan anak itu. Denathan tampak takut melihat Narulita. "Tante, jangan marah sama aku. Aku takut."
Narulita tersenyum lalu mengelus pundak Denathan. "Enggak, Tante nggak marah sama kamu. Tante mau tanya, kenapa tadi Natan bisa jatuh?" tanya Narulita dengan nada lembut.
Denathan menjelaskan dengan bibir bergetar. Matanya berkaca-kaca. "Ta-tadi Na-Natan jatuh sendiri. Aku mau menolongnya, tapi--."
Narulita pun segera menenangkan Denathan sebelum anak perempuan itu menangis. "Iya, Tante percaya sama kamu. Jangan nangis ya. Sekarang ayo ikut Tante."
Denathan bertanya, "Kemana?"
"Ke kamar, Natan mau bicara sama kamu."
"Enggak, Tante. Natan jahat. Aku nggak suka sama dia," ujar Denathan dengan suara keras. Dia tidak ingin tertipu lagi dengan sikap Natan.
"Enggak apa-apa. Natan mau minta maaf sama kamu. Ayo." Narulita pun menggendong Denathan. Awalnya Denathan memberontak tapi akhirnya menurut.
Narulita membawa Denathan masuk ke kamar lalu mendudukkan Denathan di sebelah Natan yang sedang tiduran.
"Natan mau minta maaf sama kamu. Ya sudah, Tante keluar dulu ya." Kemudian Narulita keluar dari kamar.
Natan melihat Denathan sambil tersenyum tipis. "Denathan aku minta maaf ya. Aku nggak mau nakal lagi sama kamu. Aku minta maaf," ujar Natan dengan nada lembut.
Denathan ikut tersenyum lalu menjawab tanpa pikir panjang. "Aku maafin kamu. Tapi janji kamu nggak nakal lagi sama aku. Aku mau kita sahabatan."
Natan mengangguk seraya menampakkan senyum lebar. "Iya, aku janji nggak nakal lagi sama kamu. Aku juga mau sahabatan sama kamu, dan janji kita akan menjadi sahabat selamanya."
Denathan pun kegirangan dengan ucapan Natan lalu anak perempuan itu bertindak memeluk Natan yang dalam posisi berbaring.
"Kita sahabat selamanya, yeeii..."
__ADS_1
Flashback off.