
"Kamu tau nggak, apa bedanya kamu sama danau?" Aditya berkata sambil tersenyum. Dia menoleh lalu mengelus-elus pundak istrinya.
Denathan yang sedang menyadarkan kepalanya di bahu suaminya pun menjawab, "Tahu dong."
"Kalau tahu, apa jawabannya?" Aditya bertanya.
"Danau itu genangan air yang dikelilingi daratan, kalau aku jelas-jelas manusia. Hahaha..." Denathan menjawab diakhiri tawa singkat. Dia berniat bercanda.
Aditya ikut tertawa. "Hahaha, jawabannya benar juga, tapi bukan itu jawaban sebenarnya."
Denathan melirik suaminya. "Terus apa dong?"
Aditya mencium singkat rambut istrinya lalu dia menjawab, "Danau ibarat seperti wadah besar yang menampung air, kalau kamu ibarat cinta yang menampung hatiku. Ahahah..."
"Hahaha, Mas Adit ada-ada aja. Gombalannya kurang seru, ahaha..." Denathan tertawa.
"Coba kamu bikin gombalan, pasti nggak bisa." Aditya sepertinya menantang istrinya membuat gombalan.
"Yee, kalau masalah gombal menggombal sini ahlinya, Mas." Denathan menjawab seperti membanggakan diri.
__ADS_1
"Coba, sekarang giliran kamu."
"Oke. Tapi masih tentang danau ya."
"Iya, coba." Aditya menyuruh istrinya.
"Danau memang luas dan menampung banyak air, tapi tidak seluas dan tidak sebanyak cintaku padamu." Denathan tertawa pelan setelah itu.
"Ahaha, kamu pinter gombal juga ternyata." Aditya lagi-lagi mengacak-acak rambut Denathan dengan ekspresi gemas.
Denathan membanggakan dirinya dengan sedikit tawa. "Ahaha, aku gitu loh, Mas. Ahlinya gombal."
"Ahaha, bisa aja sih." Aditya kemudian mendekatkan tubuh Denathan agar lebih menempel pada tubuhnya.
"Iya, kan, seger banget. Seperti udara di pedesaan," jawab Aditya.
"Iya. Ngomong-ngomong soal pedesaan, aku jadi pengen tinggal di sana." Denathan membayangkan bagaimana asyiknya tinggal di desa. Dengan keadaan alam yang masih alami, banyak persawahan, banyak kebun dan hutan. Intinya suasana desa masih sangat asri. Sangat jauh berbeda dengan suasana perkotaan yang padat penduduk, banyak gedung-gedung tinggi, dan tinggi polusi. Tetapi untungnya di setiap kota, pemerintah menyediakan taman kota yang dijaga keasriannya untuk meminimalisir polusi udara.
Aditya bertanya, "Pengen tinggal di desa?"
__ADS_1
Denathan berpikir sebentar, lalu dia menjawab, "Iya sih, Mas. Pengennya sih begitu."
"Oh begitu. Ya sudah, aku pikir-pikir dulu soal itu. Kita nggak bisa langsung tinggal di desa, kalau belum ada persiapan," jelas Aditya.
"Bener, Mas. Segala sesuatu itu harus disiapkan dulu sebelum memulai," jawab Denathan.
Kini Aditya dan Denathan saling diam. Mereka berdua saling memandang ke depan, memandang danau di hadapan mereka yang begitu luas. Matahari perlahan-lahan naik ke atas, memancarkan sinarnya semakin terik dengan bayangannya yang terlihat di permukaan air danau. Angin mulai berhembus semakin kencang, seakan-akan berusaha mengurangi hawa panas sinar matahari. Pohon-pohon tinggi dan rindang yang tumbuh di sekitar danau seolah berjasa melindungi orang-orang yang berteduh di bawahnya, termasuk melindungi Denathan dan Aditya yang duduk di bawah pohon.
Hari semakin siang, segelintir orang yang berada di danau memilih untuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka sudah puas menikmati pemandangan di danau. Tetapi berbeda dengan Denathan dan Aditya yang sepertinya masih betah berlama-lama di tempat itu. Padahal sekarang sudah jam dua belas siang. Seharusnya sudah waktunya mereka makan siang.
"Masih betah di sini?" Aditya buka suara.
Denathan menjawab, "Masih betah sih, Mas."
Sejujurnya Aditya masih betah berada di tempat itu, tetapi perutnya yang lapar seolah memaksanya agar pergi dari tempat itu dan beralih pergi ke rumah makan.
"Kamu nggak lapar?" Aditya bertanya kepada Denathan. Memastikan bahwa seharusnya Denathan juga lapar.
Denathan mengangguk pelan. "Iya, Mas. Aku lapar. Ayo deh kita cari makan dulu." Kemudian wanita itu berdiri dan membenahi bajunya yang sedikit berantakan.
__ADS_1
Aditya ikut berdiri. Cuaca panas seketika terasa menyengat kulit kepalanya, membuat Aditya refleks menutupi kepalanya menggunakan tudung jaket. Denathan juga sama halnya seperti Aditya. Mereka kemudian berjalan menjauhi danau dengan sedikit langkah cepat. Orang-orang yang berada di taman juga mulai meninggalkan area taman. Kendaraan yang ada di area parkir juga berkurang.
Aditya dan Denathan sudah masuk ke mobil. Setelah itu Aditya menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir dan menyejajarkan mobilnya dengan jalan raya. Setelah itu melaju dengan perlahan-lahan, lama-lama semakin cepat. Aditya membawa istrinya ke rumah makan di sekitar daerah Jakarta Timur.