Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
DCB 2 | BANTUAN DATANG


__ADS_3

"Gimana, Mas?" Denathan bertanya saat melihat suaminya sudah selesai bertelepon.


"Sebentar lagi orang bengkel bakal datang ke sini," jawab Aditya sembari memasukkan hapenya ke saku celana. "Tadi aku juga udah share loc tempat kita."


"Syukurlah deh, Mas," jawab Denathan. Lalu perempuan itu membuka pintu mobil dan duduk di dalam mobil. Dia mengambil cermin di dasbor mobil lalu mengarahkan cermin itu di depan wajahnya. Dia tidak terkejut saat mengetahui wajahnya luka-luka di sekitar pipi. Baginya itu sudah biasa, karena dulu ia sering mengalaminya. Bahkan mungkin pernah lebih parah daripada sekarang.


Aditya ikut masuk ke dalam mobil dan tidak menutup pintunya, membiarkannya sedikit terbuka. "Gimana? Enggak apa-apa nunggu lama? Kamu sabar dulu ya, nanti kita ke dokter."


Denathan kembali meletakkan cermin itu di atas dasbor mobil. Dia menjawab, "Enggak apa-apa. Sebenarnya aku nggak usah ke dokter sih, Mas."


"Enggak, Sayang. Pokoknya kamu harus ke dokter. Nanti aku juga berobat di sana," kata Aditya. Lalu laki-laki itu duduk menghadap istrinya dan menyentuh pipi istrinya di area yang tidak luka. Dia berbicara dengan nada lembut, "Sayang, ingat, sekarang kamu punya suami. Beda dengan yang dulu. Aku nggak mau kamu mengalami hal yang sama seperti dulu. Ada aku yang akan siap merawatmu."


Denathan berusaha agar tidak terenyuh mendengar ucapan suaminya. Ia tersenyum tipis, berusaha menahan air matanya yang sewaktu-waktu dapat keluar. "Iya, Mas. Aku tau hal itu. Mungkin memang benar, aku sekarang nggak bisa menahan sakit sendirian seperti dulu. Aku sekarang punya kamu, Mas."


"Dulu waktu sekolah, aku mungkin nggak sedekat kamu sama Natan. Dulu Natan yang selalu ada di sisimu, sekarang aku, Sayang," ucap Aditya dengan penuh hati. Perasaannya begitu tulus menyayangi dan mencintai Denathan. Meski dulu dia sempat membenci Denathan karena pernah mengolok-oloknya kurus dan sebagainya, tapi sekarang dia malah menjadi suami seorang cewek tomboi lagi barbar itu.


"Iya, Mas. Aku sekarang bahagia banget jadi istri Mas Aditya," ucap Denathan lalu tertawa pelan.


"Aku juga bahagia punya istri hebat seperti kamu. Kamu tau, sifatmu masih sama seperti dulu." Aditya tersenyum setelah itu.


"Sifatku yang barbar ya, Mas? Ahahah," kata Denathan bermaksud membuat lelucon.


"Ahaha, kamu nggak barbar, Sayang. Kamu itu pemberani, hebat, dan kuat. Aku bahkan nggak sehebat kamu kalau masalah bertarung sama penjahat. Aku akui, kamu perempuan yang unik," kata Aditya sembari mengelus-elus rambut istrinya. Dia tersenyum untuk yang kesekian kalinya. Memandangi wajah istrinya yang cantik dan manis memang tidak pernah membuatnya bosan. Justru semakin tercandu-candu.


"Mas, aku hebat bukan karena tanpa alasan. Aku dulu waktu kuliah pernah ikut latihan pencak silat. Sekarang terbukti, kan, latihan itu berguna buat aku," jawab Denathan.


"Iya, kamu memang wanita hebat." Aditya tersenyum. Setelah itu dia merapikan rambut istrinya yang tadi sempat ia acak-acak.


"Kamu juga hebat, Kok, Mas." Denathan terkikik setelah berkata seperti itu, dia berkata lagi, "Hebat kalau di atas ranjang, sih."

__ADS_1


"Eh, gimana-gimana? Maksud kamu?" Aditya agak terkejut mendengar ucapan sang istri. Dia sebenarnya tahu apa yang dimaksud oleh Denathan. Aditya tertawa dalam hati.


"Iya, Mas. Kamu hebat kalau bertarung di atas ranjang." Setelah itu Denathan tertawa lebar sambil menutup mulut.


Aditya ikut tertawa. Ternyata istrinya berniat bercanda. "Ahaha, kamu bisa aja. Jelas dong kalau soal itu."


"Aduh, duh." Denathan seketika merasakan sakit di kedua pipinya karena ia terlalu tertawa lebar. Sehingga menimbulkan respons kejut pada kedua pipinya yang terluka.


"Kenapa, Sayang? Pipinya sakit?" Aditya khawatir.


"Iya, Mas. Tadi aku ketawa terlalu kenceng, sekarang sakit," jawab Denathan sambil sedikit memijat pipi kanannya.


"Ya sudah, nanti kita ke dokter. Aku pesan taksi online dulu ya." Aditya cepat-cepat memesan taksi online di aplikasi go-car. Agar nanti bisa datang tepat waktu bersamaan dengan bantuan dari bengkel.


Sembari menunggu bantuan dari bengkel dan taksi online datang ke tempat mereka, Aditya dan Denathan terus mengobrol membahas banyak hal. Sesekali mereka juga bercanda. Setengah jam menunggu, akhirnya mobil taksi yang tadi dipesan oleh Aditya sudah sampai di tempat, bersamaan dengan truk derek dari bengkel.


Aditya keluar dari mobil, lalu mengobrol dengan orang bengkel yang akan mengangkut mobilnya. Sementara Denathan mengobrol dengan sopir taksi.


"Ban mobil bagian depannya meletus, Pak. Yang sebelas kanan," kata Aditya sambil menunjuk ban mobil bagian depan sebelah kanan yang sangat kempes, sudah tidak tersisa udara di dalamnya.


"Ya sudah Mas Adit. Mobilnya akan segera saya angkut menggunakan truk derek. Nanti kalau mobilnya sudah beres, bos saya akan telpon Mas Adit. Kemungkinan agak lama ya, Mas," jelas pria itu sambil memeriksa kondisi ban mobil itu yang memprihatinkan.


"Enggak apa-apa, Pak. Saya sabar menunggu, kok, yang terpenting mobil saya segera diperbaiki," jawab Aditya.


"Iya Mas Adit." Kemudian pria itu menghampiri truk dereknya lalu masuk ke dalam truk itu. Dia akan menarik mobil milik Aditya menggunakan truk itu dan membawanya menuju ke bengkel.


Kemudian Aditya menghampiri taksi yang sejak tadi sudah stay di tempatnya. Aditya kemudian mengobrol dengan Denathan.


"Gimana, Mas?" tanya Denathan.

__ADS_1


"Sudah beres, orang bengkel akan membawa mobil kita. Kita sekarang bisa pergi ke dokter," jawab Aditya sambil tersenyum. Dia sudah sangat lega.


"Ya sudah ayo, Mas." Denathan mengajak suaminya untuk segera masuk ke dalam mobil taksi. Sopir taksi sudah menunggu dari tadi.


"Iya." Aditya ikut masuk dan duduk di sebelah Denathan.


"Tujuannya mau ke mana, Pak?" tanya sopir taksi itu sebelum menjalankan mobilnya.


"Ke ru--." Ucapan Aditya dipotong oleh Denathan.


"Ke puskesmas, Pak," kata Denathan memotong ucapan Aditya.


"Kok ke puskesmas?" Aditya bingung.


"Mas, kita nggak luka berat. Ke puskesmas saja sudah cukup," bantah Denathan. Dia benar, tidak perlu ke rumah sakit hanya untuk mengobati luka-luka di wajahnya yang tidak terlalu parah dan hanya lebam-lebam. Seandainya parah, mungkin Denathan akan memilih berobat ke rumah sakit.


"Iya sudah nggak apa-apa. Yang penting lukamu cepat sembuh," jawab Aditya. Lalu laki-laki itu menyuruh sopir taksi agar segera menjalankan mobil. "Ayo jalan, Pak."


Mobil taksi itu berjalan menuju ke arah Utara. Dia akan membawa Aditya dan Denathan menuju ke puskesmas terdekat dari tempat itu, sesuai permintaan pasangan suami-istri itu.


Butuh waktu setengah jam perjalanan, akhirnya Aditya dan Denathan sudah sampai di puskesmas tujuan mereka. Kemudian Aditya berbicara dengan sopir taksi.


"Pak, Bapak bisa menunggu saya dan istri saya berobat dulu? Nanti sekalian saya pulang ke Jakarta Selatan. Daripada nanti saya pesan taksi lagi, sekalian Bapak yang antarkan saya sama istri saya. Bisa, kan, Pak?"


Sopir taksi itu menimbang-nimbang perkataan Aditya. Dia ragu-ragu. "Mohon maaf, Pak, saya nggak bisa kalau menunggu terlalu lama."


Denathan menyenggol lengan suaminya lalu berucap dengan suara pelan, "Nggak apa-apa, Mas, nanti pulang kita pesan taksi lagi. Kasihan bapaknya."


Aditya sepertinya menyetujui ucapan Denathan. Kasihan juga sopir taksi disuruh menunggu dirinya dan istrinya berobat yang kemungkinan membutuhkan waktu lama, belum lagi harus antri dengan pasien lain.

__ADS_1


"Ya sudah, Pak, Nggak apa-apa. Nanti saya bisa pesan taksi lagi. Berapa ongkosnya, Pak?"


"Dua puluh ribu, Pak."


__ADS_2