
Jam tiga sore saat ini Denathan dan Natan berjalan beriringan melewati koridor menuju ke tempat parkir. Mereka sudah waktunya pulang sekolah. Kedua remaja itu mengobrol agar suasana tidak hening.
"Oh ya, lo mau ikut gue ke rumahnya Thalita, nggak?" Denathan bertanya kepada Natan.
"Ngapain lo ke sana?" tanya Natan.
"Gue mau nganterin buku tulis titipan dia kemarin malam."
"Oh pas kita ke mall kemarin?" Natan mengingat. Tapi dia tidak akan mengingat-ingat kejadian kemarin malam yang membuatnya ketakutan sekaligus trauma. Dia berharap kejadian itu tidak akan terulang lagi.
"Iya betul. Gue kemarin lupa mau nganterin bukunya."
"Gue nggak ikut ya. Soalnya nanti gue mau langsung istirahat. Gue capek banget," ujar Natan sambil memijat bahunya yang pegal. Entah kenapa hari ini Natan cepat sekali capek daripada hari-hari sebelumnya.
"Ya udah, nggak apa-apa. Gue sendiri aja."
"Tapi lo berani sendiri, kan?" Natan memastikan. Dia tidak ingin terjadi apa-apa pada sahabatnya itu.
Denathan tersenyum lalu menjawab, "Berani dong. Lagian rumahnya Thalita deket."
"Oke kalau berani sendiri." Natan mengangguk dan tersenyum.
Tidak lama mereka berjalan. Tasya memanggil kakaknya--Natan--yang berjalan di depannya cukup jauh.
"Kak Natan!"
Refleks Natan dan Denathan menoleh ke asal suara, mendapati Tasya berlari mendekati mereka berdua sambil menggendong tas.
Natan dan Denathan menghentikan langkahnya saat Tasya sudah ada di hadapan mereka.
"Kenapa, Sya?" tanya Natan.
"Kak, Papa sore ini nggak bisa jemput aku. Aku bareng Kakak ya?" ujar Tasya. Tadi sebelum pulang dia mengirim pesan kepada papanya--Sultan. Namun Sultan membalas pesan dari anaknya itu bahwa dia tidak bisa menjemput, karena ada urusan mendadak di kantor.
"Oke deh," balas Natan singkat.
"Bareng Kakak aja, nanti sekalian Kakak ajak kamu jalan-jalan," sahut Denathan yang berdiri di samping Natan.
Serta merta Tasya dan Natan mengalihkan tatapannya ke arah Denathan.
"Serius, Kak. Aku bakal diajak jalan-jalan?" tanya Tasya dengan muka polos seperti anak kecil.
"Serius dong."
Natan memberi isyarat pada Denathan lewat matanya, seakan memperingati Denathan agar tidak mengajak Tasya.
Tasya meminta izin kepada Natan, "Kak, aku ikut Kak Denathan ya?"
"Nggak boleh, jangan ikut Kak Dena ya. Lebih baik kamu langsung pulang. Nanti aku dimarahi Mama kalau kamu nggak pulang-pulang," balas Natan. Yang dimaksud 'Mama' di sini adalah Anissa--mama kandung Tasya, dan mama tirinya Natan.
"Tapi Bunda bakal ngizinin aku pergi sama Kak Dena, kok. Kan, Kak Dena deket sama keluarga kita," jawab Tasya sesuai faktanya Denathan memang dekat dengan keluarganya.
__ADS_1
"Tetep nggak boleh. Aku capek, Sya," ujar Natan sedikit jengkel.
"Yah, Kakak mah, nggak asyik." Tasya memanyunkan bibirnya seperti cemberut.
Natan mengintimidasi Denathan dengan kedua matanya, seakan mengatakan 'gara-gara lo'. Denathan sangat mengerti arti tatapan itu, tapi dia berusaha tetap terlihat tenang.
"Oke, kalau Kak Natan nggak ngizinin kamu pergi sama aku, ya sudah, kamu pulang bareng Kak Natan aja. Soalnya nanti aku pulangnya lama, takutnya entar kamu pulang kemalaman," ujar Denathan ditujukan untuk Tasya.
"Emang Kak Dena mau pergi ke mana sih?" Tasya bertanya.
"Ke rumah temen. Nanti aku lama di sana," jawab Denathan.
"Oh gitu. Kalau gitu aku pulang bareng Kak Natan aja."
"Ya sudah, ayo pulang. Gue ngantuk." Natan langsung menggandeng tangan adiknya dan membawanya menuju ke tempat parkir.
Denathan mengikuti langkah Natan dan Tasya di belakang. Sialnya Denathan tidak sengaja melihat sosok makhluk halus yang melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Sosok itu berdiri di dekat pohon, wajahnya tidak menyeramkan dan memakai seragam abu-abu putih. Sudah jelas itu adalah arwah siswi yang bergentayangan di sekitar sekolah karena matinya tidak wajar.
"Aduh dia lagi," monolog Denathan lalu berlari mengejar ketertinggalannya dari Tasya dan Natan. Sebetulnya Denathan sudah muak, karena hampir setiap hari dia menemui arwah siswi itu berkeliaran di toilet sekolah.
****
Pukul setengah empat sore...
"Assalamualaikum, Thalita..." Denathan mengucapkan salam setelah mengetuk pintu rumah Thalita sampai enam kali.
Tidak lama kemudian seorang wanita membukakan pintu untuknya. Itu adalah Dewi--mamanya Thalita.
"Iya Tante. Thalita ada di rumah?"
"Ada dong, dia lagi di kamar. Kamu nanti langsung ke kamarnya ya. Ayo masuk." Dewi mempersilakan Denathan untuk masuk.
Setelah Denathan melepas dan meletakkan sepatunya di rak sepatu, kemudian dia melangkah memasuki rumah.
Dewi menutup pintu rumahnya lalu berkata, "Kamu langsung ke kamarnya aja nggak apa-apa."
Denathan menyahut, "Iya Tan!" Kemudian cewek itu melangkah menaiki tangga satu persatu menuju ke kamar Thalita yang ada di lantai dua.
Sampai di depan kamar Thalita, Denathan mengetuk pintu di depannya berkali-kali sampai suara Thalita dari dalam kamar terdengar.
"Siapa ya? Kalau Mama masuk aja, Ma, pintunya nggak aku kunci."
Denathan pun membalas, "Gue Denathan!"
"Oh iya, Den. Lo buka aja pintunya!" balas Thalita.
"Oke." Denathan pun membuka pintu di depannya sampai terbuka lebar. Dan tampaklah Thalita yang sedang rebahan di atas kasur.
Denathan menghampiri sahabatnya itu lalu dia duduk di pinggiran ranjang, di samping Thalita. "Ini satu pak buku tulis yang lo titip ke gue kemarin." Dia mengeluarkan satu pak buku tulis dari tasnya.
"Gue cariin buku gambar Doraemon. Lo katanya suka banget sama kartun Doraemon. Ya udah, akhirnya gue kepikiran beliin lo ini," kata Denathan seraya menunjukkan sampul buku tulis itu di hadapan Thalita.
__ADS_1
Thalita tersenyum lebar lalu beralih posisi menjadi duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Dia mengambil satu pak buku tulis itu dari tangan Denathan. Wajahnya tampak sumringah.
"Wah makasih loh, Nath. Lo tau aja buku tulis yang gue mau. Padahal gue nggak bilang sama lo," kata Thalita dengan nada ceria.
"Iya sama-sama," balas Denathan.
"Harganya satu pak buku ini berapa?" Thalita bertanya.
"Empat puluh lima ribu," balas Denathan.
"Oke. Nanti uang lo gue balikin. Lo di sini aja dulu, jangan langsung pulang." ujar Thalita seraya menaruh buku tulis bersampul gambar Doraemon itu ke atas meja belajarnya yang berada di dekat ranjang.
Denathan menjawab, "Iya, lagian gue baru aja ke sini, masak langsung pulang. Tapi gue boleh tiduran di sebelah lo, nggak? Gue kok tiba-tiba ngantuk ya."
Thalita dengan senang hati berkata, "Oh boleh dong. Sini di sebelah gue. Kita tiduran sambil ngobrol juga nggak apa-apa. Mama gue juga nggak bakal marah, kan lo sahabat gue. Lo juga sering ke sini, kan."
"Oke. Lo geser sedikit. Gue tiduran di sini," ujar Denathan.
Kemudian Thalita bergeser ke sebelah kanan, dan membiarkan Denathan merebahkan tubuhnya di sebelah kiri. Lalu kedua cewek itu melanjutkan obrolannya sambil tiduran dan menatap langit-langit kamar. Rasanya benar-benar asyik.
Denathan menoleh ke samping, menatap wajah Thalita. "Lo pagi tadi masuk angin ya?"
Thalita yang sebelumnya menatap langit-langit kamar kemudian menoleh kepada Denathan, "Iya. Gue masuk angin. Tadi pagi gue muntah-muntah. Jadinya gue nggak makan deh. Sekarang udah agak baikan."
"Udah minum antangin, kan, lo?"
"Udah pagi tadi."
"Oke. Nanti malam lo pasti sembuh total," ujar Denathan.
"Aamiin." Thalita teringat sesuatu lalu berkata, "Tadi pas di sekolah ada tugas nggak? Biar gue kerjain nanti malam."
Denathan menjawab tanpa mengingat-ingat dulu. "Oh iya, ada. Tugas Bahasa Indonesia. Disuruh bikin cerpen tema horor."
"Lo udah bikin?" Thalita bertanya lagi.
"Belum sih. Nanti malam kita kerjain bareng gimana? Nulis cerpen horor bagi gue terlalu mudah, soalnya pengalaman horor gue banyak banget, bahkan hampir setiap hari. Nah gue bikin cerpen horornya, gue ambil dari pengalaman gue sendiri."
"Gue yang nggak pernah ngalamin kejadian horor gimana? Gue kurang bisa kalau ngarang cerita," ujar Thalita seraya berpikir dalam otaknya untuk menulis cerita horor tentang apa.
"Halah itu mudah, nanti gue ceritain pengalaman horor gue ke lo. Terus lo tinggal susun aja jadi kalimat cerita. Nama tokoh ceritanya bebas lo mau kasih nama apa," balas Denathan sambil menepis angin seolah mengusir kebingungan Thalita.
"Oke. Jadi lo nanti nggak pulang sampai malam?"
"Nggak apa-apa. Nanti gue bilang sama Nyokap gue," jawab Denathan lalu memejamkan mata. Dia begitu kantuk sampai membuatnya ketiduran.
"Ya elah, udah tidur aja nih anak, seragam juga masih dipakai lagi." Thalita geleng-geleng kepala melihat Denathan yang sudah tidur di sampingnya. Padahal Denathan masih memakai seragam sekolahnya.
"Maaf ya, gue tidur sebentar, gue ngantuk banget." Mendadak Denathan menyahut ucapan Thalita tapi masih menutup matanya.
"Astaghfirullah nih anak." Thalita terkejut.
__ADS_1