Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
MENJENGUK DENATHAN


__ADS_3

"Haduh, gue khawatir banget sama Denathan. Lagian kalian kenapa nggak melerai Denathan sama Rieke pas mereka bertengkar sih?" ucap Renita yang mondar-mandir di depan Thalita, Tia, dan Denok. Renita sangat khawatir dengan keadaan Denathan. Dia tidak tahu seperti apa kondisi Denathan saat ini.


"Gue juga nggak berani misahin mereka, Ren. Lo ngerti, kan, kalau mereka jago bela diri. Yang ada nanti gue yang ikut kena masalah. Makanya tadi banyak yang nggak mau misahin mereka, akhirnya malah banyak yang dukung mereka. Nggak tahu lagi deh gue," jawab Tia lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Gue juga gitu, Ren. Gue takut buat misahin mereka," jawab Denok.


Sementara Thalita tidak menanggapi ucapan Renita, kemudian cewek itu setengah berlari keluar kelas. Dia ingin menemui Denathan yang sudah pasti ada di UKS.


"Thal, lo mau kemana?" teriak Renita saat Thalita sudah keluar kelas.


Thalita tidak menyahut dan terus berlari menuju ke UKS.


"Ikuti Thalita yuk!" Denok juga ikut keluar kelas. Badannya yang gemuk membuat Denok tidak kuat berlari. Sehingga Denok memilih berjalan, mengikuti Thalita yang jauh di depannya.


Renita dan Tia berteriak hampir bersamaan. "Nok, lo jangan ikut-ikutan!"


"Haduh Denok. Pakek ikut-ikutan segala. Lagian Thalita mau ke mana sih?" ucap Renita.


Tia menebak. "Thalita pasti ke UKS. Mau jenguk Denathan."


"Bisa jadi." Renita membenarkan.


"Ya udah, kalau gitu ayo ke UKS. Kita jenguk Denathan."


Kemudian Renita dan Tia mengikuti langkah Denok yang sudah agak jauh di depan sana.


Thalita masuk ke UKS dengan terburu-buru. Saat sudah masuk, dia tidak mendapati adanya Denathan atau siapa pun di dalam ruangan. Yang ada hanyalah kosong dan keheningan. Anggota PMR juga tidak ada di UKS.


"Kemana mereka semua? Sepi banget, apa Denathan langsung pulang ke rumah?" monolog Thalita sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


Seorang siswa anggota PMR memasuki ruangan UKS dan mendapati Thalita. "Ada apa, Kak?"


Thalita yang sedang kebingungan seketika terkejut mendengar suara di belakangnya. Lalu cewek itu memutar badan. Dia tersenyum malu-malu pada siswa di depannya.


"Oh enggak, gue ke sini mau jenguk Denathan. Tapi kayaknya Denathan udah pulang ya?" Thalita berucap sekaligus bertanya.


Siswa cowok itu menjawab, "Sudah, Kak. Baru sepuluh menit yang lalu Kak Denathan pulang diantar Kak Natan. Kak Rieke juga sudah pulang."


"Oh gitu. Ya udah, makasih ya, permisi." Kemudian Thalita melangkah keluar UKS. Saat keluar dia dikejutkan oleh Denok, Tia, dan Renita yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu.


"Astaghfirullah," ucap Thalita sambil memegang dadanya yang berdebar efek terkejut, "Kalian ngagetin aja sih!" Lanjutnya.


"Gimana keadaan Denathan? Dia ada di dalam, kan?" Denok langsung bertanya.


"Enggak ada. Denathan udah pulang diantar Natan tadi. Katanya Rieke juga udah pulang. Jadi percuma gue datang ke UKS," balas Thalita.


Tia pun mendapat ide, dia berencana menjenguk Denathan setelah pulang sekolah. "Aha, gimana kalau kita jenguk Denathan pas udah pulang sekolah? Setuju, nggak?"


Denok dan Renita, termasuk Thalita sangat menyetujui usul Tia. "Kita setuju," ucap mereka hampir bersamaan.


"Ya udah, fix. Berarti nanti sore kita ke rumahnya Denathan."


****


Sore hari jam tiga sudah waktunya pulang sekolah. Renita, Thalita, Denok, dan Tia akan pulang sekolah sekaligus menjenguk Denathan.


"Ayo langsung aja ke rumahnya Denathan," ajak Thalita sambil membenarkan tasnya yang sedikit melorot.


"Gas!" sahut Renita.


Kemudian keempat cewek itu berjalan keluar kelas sambil menggendong tas masing-masing. Layaknya geng cewek, mereka berjalan beriringan melewati koridor dengan tampang pongah yang dibuat-buat. Tak sampai di situ, mereka berjalan ala model dengan menggoyang-goyangkan pinggul bersamaan dengan langkah kaki. Sampai membuat siswa lain yang lewat di samping mereka langsung mengalihkan pandangannya ke arah mereka berempat. Beberapa siswa laki-laki sampai terpanah asmara memandang geng empat cewek itu yang memiliki karisma dan kecantikan dengan ciri khas tersendiri.

__ADS_1


"Anjazz kelazz... kita udah kayak model aja," ucap Tia.


"Kita, kan, emang model empat cewek kece badai. Ya nggak?" sahut Renita.


Thalita dan Denok menjawab, "Iya dong!"


"Kurang Denathan. Kalau ada dia pasti lebih kece," ucap Tia.


"Bener banget," sahut Denok. Cewek gendut itu tidak kalah kece dengan para sahabatnya.


Keempat cewek itu sampai di parkiran, lalu mereka mengeluarkan sepeda motornya masing-masing. Thalita salah fokus pada salah satu motor matic berwarna merah yang terparkir di bagian paling pojok. Itu adalah sepeda motor milik Denathan.


"Guys, sepeda motornya Denathan masih di situ, belum diambil," ucap Thalita sambil menunjuk sepeda motor di pojokan.


"Eh iya njir," sahut Tia.


"Ya udah, biarin sepeda motornya di sana. Kita ke rumahnya Denathan dulu," ujar Renita.


"Bahaya, Ren. Takutnya nanti ada yang maling," sahut Thalita.


"Bener kata Thalita tuh!" kata Denok.


Renita menjawab ucapan Denok, "Ya terus gimana, Nok? Kalau kita bawa sekarang, gimana caranya? Sedangkan kita aja udah bawa sepeda motor masing-masing."


"Eh iya juga, baru sadar gue," jawab Denok.


"Ya udah, makanya itu kita ke rumahnya Denathan dulu. Nanti bisa dirundingkan di sana buat ngambil sepeda motornya Denathan." Renita menyalakan mesin motornya.


"Setuju!" teriak Thalita yang ada di belakang Denok.


Denok dan Tia pun ikut-ikutan. "Kita juga setuju!"


"Yuk, langsung gas!" Renita menjalankan motornya keluar area parkir dengan diikuti oleh Thalita, Denok, dan Tia di belakang.


"Thalita!!"


Thalita menyahut dengan suara keras, "Iya, kenapa!?"


"Lo duluan di depan! Gue kurang tau di mana rumahnya Denathan!!"


"Iya!!" Thalita kemudian menambah kecepatan motornya untuk berada di depan Renita.


Sekarang Thalita yang memimpin jalannya ketiga temannya itu menuju ke rumahnya Denathan.


Membutuhkan waktu setengah jam, keempat cewek itu pun sampai di rumah Denathan. Ketika mendengar deruman suara motor mereka, mamanya Denathan membuka pintu rumah lalu sedikit terkejut karena teman-teman Denathan pada datang tanpa mengabari Denathan sebelumnya.


"Eh teman-temannya Denathan ya?" tanya Desi yang sekarang berdiri di teras rumah.


Thalita menjawab, "Iya, Tante. Saya sama teman-teman saya mau jenguk Denathan."


"Oh iya, silahkan masuk. Denathan ada di kamar," jawab Desi.


Thalita melepas helmnya lalu dia taruh di atas spion agar tidak jatuh. Kemudian dia mengajak Renita, Tia, dan Denok untuk masuk ke rumah Denathan.


"Ayo, kita masuk." ajaknya.


Ketiga cewek itu mengangguk menanggapi ucapan Thalita. Mereka bertiga masih canggung datang ke rumah Denathan, karena sebelumnya mereka belum pernah berkunjung ke sini. Kecuali Thalita—dia pernah datang ke rumah Denathan walau hanya satu kali. Setidaknya orang tua Denathan sudah mengenalnya.


"Ayo, kalian silahkan masuk," ajak Desi.


"Iya, Tan," ucap Thalita.

__ADS_1


Dengan dipimpin Thalita, ketiga cewek itu masuk ke rumah Denathan secara bersamaan. Sampai di dalam rumah, mereka cukup terpukau dengan tatanan barang yang ada di ruang tamu, tertata rapi dan bersih. Apalagi terdapat tanaman hias yang terdapat di pojok ruangan serta bunga hias yang tersusun rapi di rak bunga. Penampilan ruang tamu seperti itu sangatlah memanjakan mata.


"Wow amazing," ucap Tia dengan suara pelan sambil sedikit melihat ke sekeliling ruangan.


"Bagus ya, rumah Denathan," balas Denok.


"Iya. Rapi banget loh," balas Tia.


Renita tidak berkomentar. Dia mengagumi kerapian ruang tamu itu di dalam hatinya.


"Boleh dong, Tante kenalan sama kalian dulu," ucap Desi yang duduk si sofa tunggal, di depan Thalita dan Renita. Sementara Denok dan Tia duduk di sofa sebelahnya dan tidak berhadapan dengan Desi.


"Boleh Tan, aku Thalita. Tante pasti sudah kenal aku," ucap Thalita.


Desi sedikit tertawa, "Hahah, iya dong, Tante udah kenal kamu. Kamu pernah datang ke sini, kan?"


"Iya, Tan," balas Thalita sambil mengangguk.


"Lalu temannya ini namanya siapa?" tanya Desi sambil menunjuk Renita.


Renita menyahut, "Saya Renita, Tan. Sahabatnya Denathan sama kayak Thalita."


"Ohh, lalu yang ini?" Desi beralih menunjuk Denok.


"Nama saya Denok, Tante. Sebenarnya bukan Denok sih, tapi nama saya sebenarnya Denisa Oktavia, Tan. Denok nama panggilan saya." Denok menjelaskan nama aslinya dengan jujur. Ya, itu memang nama asli Denok.


Desi tersenyum lalu berkata, "Namanya bagus, kok panggilannya Denok sih? Kenapa nggak dipanggil Nisa aja?"


Denok tertawa pelan, "Hahah, enggak apa-apa, Tan. Soalnya Mami sama Papi saya, dari saya kecil, sering manggil saya Denok. Jadi keterusan sampai sekarang, hahah."


Desi, Thalita, Renita, dan Tia ikut tertawa mendengar ucapan Denok yang lucu.


"Hahah. Oh gitu. Menurut Tante nama Denok itu nama yang unik. Jarang-jarang ada anak yang mau dipanggil Denok," ujar Desi.


"Makasih, Tan," balas Denok.


Tanpa menunggu lama, Tia langsung memperkenalkan dirinya. "Kalau saya Tissa, Tan. Panggilannya Tia."


Desi mengangguk-angguk. "Iya, salam kenal ya semuanya, nama saya Desi. Panggil aja Tante Desi."


"Iya Tante Desi," sahut Renita, Tia, dan Denok.


"Oh ya, Denathan ada di kamar. Tante panggilkan Denathan dulu ya," ucap Desi kemudian dia berdiri.


Thalita mencegah, karena dia berpikir—tidak tega menyuruh Denathan untuk menemuinya dan teman-temannya di ruang tamu. Sedangkan keadaan Denathan sedang terluka.


"Tan, apa boleh kita menemui Denathan di kamarnya? Kasihan Denathan kalau disuruh ke sini," ujar Thalita.


Desi berpikir sejenak. Mengingat kondisi anaknya yang terluka, akhirnya dia mengizinkan teman-teman Denathan untuk menemui Denathan di kamar.


"Oh iya, boleh. Denathan kondisinya sedang terluka, kasihan kalau Denathan disuruh ke sini. Ayo, Tante antar kalian ke kamarnya," ajak Desi.


Desi memimpin di depan, melangkah menaiki tangga menuju ke kamar Denathan yang ada di lantai dua.


"Nah, ini kamarnya Denathan," ucap Desi ketika sampai di depan kamar anaknya.


"Sebentar, Tante panggilkan Denathan." Desi mengetuk pintu di depannya sambil berkata dengan suara cukup keras, "Denathan, kamu ada di kamar? Teman-temanmu datang ke sini. Mereka mau jenguk kamu. Mama buka pintunya ya."


Terdengar sahutan Denathan dari dalam, "Iya, Ma. Suruh mereka datang ke kamar. Aku malas keluar."


Setelah itu Desi membuka pintu itu sampai terbuka lebar, kemudian...

__ADS_1


"HALO BESTIE!!"


__ADS_2