
Sekarang kamar Denathan sudah terlihat bersih, rapi, dan kinclong. Tadi wanita itu membersihkan kamarnya sampai ke sela-sela paling dalam. Di kolong meja, kolong ranjang atau di bawah kasur, dan tempat-tempat sempit di setiap sudut kamarnya. Denathan membersihkan debu-debu dan kotoran di kamarnya menggunakan alat sedot debu atau yang disebut vacuum cleaner. Sehingga dengan alat tersebut, pekerjaannya dapat terselesaikan dengan mudah dan cepat.
"Akhirnya beres," kata Denathan lalu dia duduk di tepi ranjang. Lalu wanita itu mengambil sehelai tisu dan diusapkan pada wajahnya yang berkeringat. Denathan membuang tisu itu ke tempat sampah yang terletak di dekat meja.
"Kayaknya nanti aku harus ke supermarket beli bumbu dapur," monolog Denathan saat mengingat bahan-bahan dan bumbu-bumbu di dapur sudah menipis. Sudah waktunya menyetok bahan makanan.
Denathan pun memutuskan untuk mandi supaya tubuhnya terasa segar. Enggak usah lama-lama, Denathan segera masuk ke kamar mandi sambil membawa handuk. Dia mandi pakai air hangat setengah dingin, karena wanita itu kurang menyukai air dingin bila mandi pagi, kecuali saat siang hari dia lebih suka mandi pakai air dingin.
Singkat cerita, Denathan sudah selesai mandi lalu berpakaian lengkap, dan sekarang sudah berpenampilan rapi. Wanita itu keluar kamar, dan menuju ke lantai bawah. Dia ke dapur untuk menemui Bi Etik yang sedang membersihkan dapur. Tadi pagi Bi Etik sudah memasak makanan dibantu oleh Denathan.
"Bersihin dapur, Bi?" tanya Denathan.
"Iya, Non." Bi Etik tersenyum sambil menyapu lantai.
"Ya sudah, Bibi lanjut bersih-bersih. Saya mau ke supermarket dulu. Bahan-bahan di dapur sudah mau habis," ujar Denathan sambil mengecek bahan-bahan makanan di dalam kulkas yang akan habis. Sementara yang masih banyak tidak masuk ke dalam daftar belanjaannya hari ini. Denathan hanya membeli bahan-bahan yang sudah menipis agar tidak mengeluarkan banyak uang.
Kemudian Denathan mengambil pulpen dan kertas kecil yang tersedia di atas kulkas. Lalu dia mencatat beberapa bahan-bahan yang nanti akan dibeli agar tidak lupa. Denathan memang sengaja menyiapkan kertas dan pulpen di atas kulkas untuk mencatat bahan-bahan setiap dia akan pergi berbelanja.
"Bi, saya pergi ke supermarket sekarang ya. Nanti pintu depan jangan lupa ditutup. Mungkin nanti saya agak lama di supermarket," ujar Denathan sebelum wanita itu melangkah keluar dapur.
"Iya, Non." Bi Etik mengangguk merespons ucapan Denathan.
Denathan akan pergi ke supermarket dengan memakai pakaian sederhana dan tidak terlihat mencolok. Lalu wanita itu menuju ke garasi, mengeluarkan sepeda motor matic-nya dari sana, dan menjalankan motornya itu menuju jalanan di depan rumahnya.
__ADS_1
Membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai di supermarket. Sekarang Denathan sudah sampai di tempat perbelanjaan itu. Denathan memarkirkan sepeda motornya di tempat parkir sesuai dengan arahan petugas. Kemudian dia melangkah masuk ke supermarket yang begitu besar dan berlantai dua. Denathan lebih memilih berbelanja di lantai satu agar tidak perlu susah-susah naik turun tangga.
Pertama Denathan menuju ke penjual sayuran yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk supermarket. Di sana tersedia banyak sekali jenis sayuran yang bagus-bagus dan masih segar. Tidak hanya Denathan yang membeli sayuran, ibu-ibu yang lain juga ikut membeli.
Denathan memilih sayur bayam yang sekiranya masih sangat segar agar nanti tidak cepat layu saat dibawa pulang. Lalu wanita itu memasukkannya ke dalam keranjang. Tadi Denathan mengambil keranjang itu yang tersedia di dekat pintu masuk. Di supermarket memang disediakan keranjang untuk memudahkan para pembeli agar tidak perlu membawa keranjang dari rumah.
Setelah mengambil sayur bayam, Denathan memilih sayur wortel dan tomat. Dia mengambil beberapa wortel dan tomat tanpa perlu memilih-milih mana yang paling segar, karena wortel dan tomat di sana terlihat segar-segar semua. Lagi pula sayur wortel dan semacamnya itu tidak gampang busuk atau layu. Terkecuali sayuran hijau, seperti bayam, kangkung, kubis, dan semacamnya.
Selanjutnya Denathan membayar belanjaannya itu ke penjual sayuran, di dalam lapaknya. Bapak penjual sayur itu menghitung belanjaan Denathan, kemudian membungkusnya dengan plastik berwarna hitam. Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih, Denathan memasukkan belanjaannya itu ke dalam ranjang. Selanjutnya Denathan akan membeli daging dan telur di lapak sebelah yang juga dikunjungi banyak pembeli.
Denathan sempat mengobrol dengan seorang ibu-ibu yang membeli telur di sana. Mereka membahas harga telur dan daging yang naik akhir-akhir ini.
"Mbak, sayang banget ya, harga telur ayam sekarang naik. Padahal saya suka setok telur ayam di rumah, sekarang agak dikurangi biar hemat uang," ucap ibu-ibu berjilbab cokelat di samping Denathan. Wanita itu yang mengajak Denathan mengobrol.
"Iya, Bu. Kemarin harganya masih tiga puluh ribuan per kilonya, sekarang tiga puluh enam ribu per kilo," jawab Denathan sambil memilih-milih telur ayam yang masih terlihat bagus dan besar. Ada beberapa telur ayam yang kecil dan belum sepenuhnya bersih, masih terdapat sedikit kotoran ayam yang biasanya menempel di kulit telur.
"Iya Bu. Tahun ini sedang inflasi," kata Denathan menyetujui pendapat ibu-ibu itu.
"Untung sih, Mbak, harga daging ayam masih stabil," jelas ibu-ibu tersebut.
"Iya Bu." Denathan menjawab sambil mengangguk.
Setelah memilih telur dan daging ayam, Denathan membawa belanjaannya itu ke penjualnya. Lalu melakukan pembayaran. Denathan kemudian pergi ke lapak sebelah untuk membeli buah-buahan segar. Ada empat lapak yang menjual buah-buahan, tapi Denathan sudah mempercayakan lapak Pak Wirya sebagai tempat langganannya. Di lapak Pak Wirya, buah-buahan yang dijual sudah terjamin kesegarannya dan matang dari pohonnya tanpa menggunakan obat untuk mematangkan buah lebih cepat.
__ADS_1
"Eh, Mbak Natha," ucap Pak Wirya saat mengetahui Denathan datang ke lapaknya. Pak Wirya sudah terbiasa memanggil Denathan dengan sebutan 'Natha'.
"Iya, Pak Wirya." Denathan tersenyum sambil mengangguk.
"Mau beli buah seperti biasanya?" tanya Pak Wirya.
"Oh ya jelas dong, Pak, hahah," jawab Denathan diakhiri tawa singkat.
Sembari memilih-milih buah, Denathan mengobrol dengan Pak Wirya. Pembeli yang lain tidak seakrab Denathan dan Pak Wirya. Mereka hanya mengobrol seadanya dengan Pak Wirya. Sampai obrolan Denathan dan Pak Wirya terhenti ketika seorang wanita tiba-tiba datang dari arah belakang dan menegur Denathan.
"Denathan ya?" tanya wanita itu begitu semangat. Senyumannya lebar menunjukkan dia amat bahagia.
Denathan agak terkejut lalu menoleh ke samping. "Astaga, kamu--." Dia menghentikan ucapannya sejenak, mengamati wajah perempuan di depannya, dan begitu senang saat mengetahui ternyata wanita itu adalah Tia, teman dekatnya semasa sekolah. "Tia."
"Iya, Den, aku Tia. Udah lama ya kita nggak ketemu," ucap Tia sangat senang.
"Bener, terakhir kita ketemu satu tahun yang lalu ya kalau nggak salah, sebelum kamu pindah rumah ke Surabaya," ungkap Denathan sambil tersenyum.
"Iya, Den. Waktu itu aku ikut orang tuaku ke Surabaya. Ayahku kerja di sana," jawab Tia.
"Kamu datang ke Jakarta Selatan dari kapan?"
"Dari dua hari yang lalu sih, aku ke sini juga ikut suami."
__ADS_1
Denathan mengangguk-angguk. "Oohh..."
"Kamu belum menikah?" Tia bertanya ingin tahu.