
"Hah?" Denathan sedikit membuka mulutnya. Sedikit tidak percaya saat mendengar ucapan Thalita barusan.
"Ya, gue suka sama Natan." Thalita mengulangi perkataannya.
"Lo serius, Thal?"
"Iya serius, Den. Bahkan gue suka sama Natan udah dari kelas satu SMP," jawab Thalita jujur.
"Astaga, lo suka Natan sejak SMP. Wah gila sih lo. Selama itu lo suka Natan tapi sampai sekarang lo nggak berani ngungkapin perasaan?"
Thalita mengangkat kedua bahunya lalu berkata, "Ya gimana. Habisnya gue malu kalau ngungkapin perasaan duluan. Gue penginnya Natan duluan."
"Iya juga sih, lebih pantas cowok dulu yang ngungkapin perasaan ke cewek," jawab Denathan.
"Lo serius kan, lo sama Natan cuman sahabatan? Kalau lo sama dia paca—."
Denathan cepat-cepat memotong perkataan Thalita. "Oh iya dong, gue sama Natan cuman sahabat."
Thalita mengangguk lalu berkata, "Tapi lo jangan bilang-bilang ke Tia, Reni, sama Denok ya, kalau gue suka sama Natan. Gue mau lo jaga rahasia ini."
Denathan tersenyum lebar sambil menepuk pundak Thalita berkali-kali, kemudian menjawab, "Lo tenang aja Thal. Gue orangnya nggak ember. Gue bisa jaga rahasia lo. Santai aja pokoknya."
"Iya, gue percaya sama lo," jawab Thalita seraya mengangguk. Thalita sepenuhnya sudah percaya dengan Denathan. Karena dia yakin, Denathan bisa menjaga rahasia dan tidak munafik. Terlihat dari aura wajah Denathan yang positif.
"Oh ya. Gue bisa bantu lo deket sama Natan," kata Denathan sambil mengangkat satu alisnya dan tersenyum tipis.
Thalita cukup terkejut mendengar perkataan Denathan. "Hah, lo beneran mau bantu gue?"
"Iya dong beneran. Lagian gue nggak mau lihat lo menderita gara-gara memendam perasaan. Gimana? Lo mau gue bantu nggak?" Denathan mengangkat satu alisnya.
Thalita berpikir sebentar, lalu menjawab, "Kalau lo emang mau bantu gue, ya nggak apa-apa."
"Oke. Nanti malam gue ke rumah lo," kata Denathan.
"Buat apa?" Thalita sedikit mengerutkan keningnya.
"Gue mau nyusun rencana awal biar lo bisa deket sama Natan," jawab Denathan percaya diri. Dia merasa bangga bisa membantu sahabat.
"Iya udah, terserah lo," kata Thalita kemudian tersenyum.
"Gue lihat-lihat, lo sama Natan kayaknya cocok. Soalnya lo sama Natan, sama-sama pintar."
"Makasih."
❦︎❦︎❦︎
Natan dan Aditya sedang melewati lorong kelas yang sepi karena sekarang masih jam pelajaran. Mereka berdua ingin pergi ke toilet untuk buang air kecil. Saat mereka melewati koridor, mereka tidak sengaja melihat Robert sedang menghadang seorang gadis yang sedang lewat. Gadis itu tampak sangat tidak asing di mata Natan. Ya, itu adalah adiknya, Tasya. Dari kejauhan Tasya terlihat sedang berusaha menghindari Robert, tapi Robert dan satu temannya tetap menghalangi Tasya, membuat Tasya pasrah dan ketakutan. Melihat hal itu, Natan sangat geram. Termasuk Aditya.
"Si anjir Robert. Dia ganggu Tasya lagi," kata Aditya sambil menatap sepenuhnya ke arah Robert.
__ADS_1
"Berengsek!" Natan dengan langkah lebar menghampiri Robert yang posisinya berdiri membelakanginya.
Tasya melihat Natan dari balik bahu Robert. Tapi gadis itu tetap diam, seolah-olah tidak mengetahui keberadaan kakaknya.
"Tasya cantik. Ayo, Kak Robert ajak main," kata Robert dengan nada bicara menggoda. Dia bertindak ingin mengurung Tasya di tembok, tapi Tasya dengan cepat menampar pipi Robert.
Bukannya sakit, Robert malah terkekeh pelan. "Heheh, main-main sama gue ya. Lo harus diberi pelajaran."
"ANJING. Berani-beraninya lo ganggu Adek gue lagi!" kata Natan ketika dia sudah tepat di belakang Robert.
Robert pun memutar badan dan langsung berkata, "Bro. Santai dong. Jangan salah paham. Gue cuman ngobrol sama Adek lo."
Natan tidak sepenuhnya percaya, lalu dia bertanya kepada Tasya. "Apa bener yang dibilang Robert?"
Tasya menggeleng pelan-pelan tanpa bersuara. Cewek itu melangkah mendekat dan bersembunyi di balik punggung Natan.
"Anjing. Lo makin berani ganggu Adek gue! Lo jangan macem-macem sama Adek gue, atau lo bakal tau akibatnya!" kata Natan membentak disertai ancaman.
"Lo culun, nggak pantes ngomong anjing!" Robert mengejek Natan.
"Anjing!" Natan naik pitam. Dia dengan cepat melayangkan pukulan ke arah wajah Robert, tapi Robert dengan lihai dapat menghindarinya.
"Hahah, Natan, Natan. Gue yakin, lo bakal kalah lawan gue," ucap Robert percaya diri.
"Lo bisanya cuman bacot!" Natan kembali melayangkan pukulan ke arah wajah Robert, tapi lagi-lagi Robert bisa menghindar.
Natan sangat geram. Pukulannya tidak mengenai sasaran. Dia kemudian bertindak menendang kaki Robert, sialnya Robert bisa menghindari tendangannya.
Natan tidak terima disebut lemah. Cowok itu kembali mengarahkan pukulan ke wajah Robert, tapi Robert dapat menahan kepalan tangan Natan hanya dengan satu telapak tangannya. Robert beralih memegang tangan Natan lalu memelintirnya ke belakang. Sebelum Natan memberontak, Robert menggunakan kesempatan, memukul wajah Natan dengan cepat. Hal itu membuat Natan jatuh terduduk karena saking kerasnya pukulan Robert.
"Hahahah, kemarin-kemarin lo bisa bilang, gue lemah. Sekarang lo yang lemah! Culun lo!" ejek Robert makin menjadi-jadi.
"Lo cowok, kebanyakan bacot!" Natan mengusap pipi kananya yang memerah, lalu dia bangkit dan kembali menyerang Robert. Dia hampir berhasil memukul Robert.
Robert sepertinya telah belajar bela diri, karena setiap Natan akan memukul wajahnya, dia dengan lihai dapat menghindarinya.
"Lawan gue lo!" Tyo menantang Aditya.
Aditya mengusap mulutnya lalu meludah ke lantai. "Ayo, siapa takut!"
Tyo dan Aditya pun ikut-ikutan saling adu jotos.
Natan menghapal gerakan Robert saat menghindari pukulannya. Natan menyipitkan mata. Dia mengecoh Robert dengan mengarahkan pukulan ke arah wajah. Saat Robert menghindar ke samping, Natan menggunakan tangan kanannya memukul wajah Robert. Karena terkejut, Robert tidak sempat menghindari pukulan Natan. Robert terhuyung ke belakang dan hampir jatuh.
Natan menggunakan kesempatan. Dia dengan cepat memukul wajah Robert, membuat Robert yang belum sepenuhnya siap langsung jatuh ke lantai. Dan Natan langsung berjongkok di atas tubuh Robert. Cowok itu memukul wajah Robert berkali-kali.
Robert tidak diam begitu saja. Dia juga bertindak memukul wajah Natan. Mereka berdua saling baku hantam. Tidak ada yang lemah di antara mereka. Sama-sama kuat dan ingin menang.
"Lo jangan cari gara-gara sama gue!" kata Natan seraya memukul-mukul wajah Robert di tengah-tengah menahan rasa sakit di wajahnya.
__ADS_1
"Gue nggak cari gara-gara sama lo!" balas Robert yang juga tak henti-hentinya memukul wajah Natan, "Adek lo cantiknya kebangetan. Gue pengen perkosa Adek lo, anjing!!" ucap Robert dengan bahasa frontal yang membuat Natan makin marah.
"ANJING. LO PANTESNYA MATI!" kata Natan dengan suara keras sampai menggema di koridor. Hal itu membuat sebagian siswa dari kelas, berhamburan keluar kelas.
Natan semakin brutal memukul wajah Robert. Membuat Robert tidak berdaya. Tapi Natan tidak memberi ampun, karena ucapan Robert yang tidak pantas itu.
"Kak Natan udah. Kak Natan!" Tasya panik. Dia berusaha menenangkan Natan.
"Lo jangan belain cowok berengsek kayak gini! Dia nggak pantes hidup!" Natan makin menjadi-jadi memukul Robert hingga babak belur.
Denathan yang kebetulan lewat di koridor tidak sengaja melihat pertengkaran Natan dan Robert. Cewek itu segera berlari menghampiri Natan. Dengan cekatan Denathan pun memisahkan Natan dan Robert dengan cara menarik kerah seragam Natan dari belakang. Sehingga Natan langsung berdiri, karena refleks terkejut. Robert mengumpat, merasakan sakit di wajahnya yang babak belur.
"Bangsat!" Natan mengumpat karena aksinya memukul Robert digagalkan oleh Denathan, "Lo jangan ikut campur!" Lanjutnya.
"Kenapa? Ada masalah apa? Kenapa lo pukul Robert sampai kayak gitu!" Denathan menunjuk Robert yang sudah lemah tidak berdaya dengan wajah yang penuh luka. Terutama di bagian pipinya yang memerah.
"Jadi lo belain Robert?" Natan tidak terima sambil menunjuk wajah Denathan.
"Kenapa sih lo?" Denathan bingung.
"ROBERT MAU PERKOSA ADEK GUE! Gue nggak terima!" teriak Natan tepat di wajah Denathan.
"Oke, lo nggak terima Adek lo mau diperkosa, tapi lo jangan sampai buat Robert mau mati. Robert bisa mati, kalau lo terus-terusan pukul dia! Jangan sampai lo masuk penjara gara-gara bunuh orang!"
"Apa yang lo tahu. Lo jangan ikut campur urusan gue sama Robert!" Natan kemudian berbalik badan dan kembali bertindak ingin memukul Robert tapi dengan cepat Denathan memegang tangan kanan Natan lalu memutarnya ke belakang.
Natan langsung berbalik badan. Denathan pun menonjok wajah Natan tepat di bagian pipi. Natan terkejut dengan perlakuan Denathan barusan.
"Lo jangan sampai bunuh orang, Nat!" kata Denathan dengan suara membentak.
"Lo jangan belain dia, bangsat!" Natan berbalik memukul wajah Denathan. Membuat Denathan hampir jatuh.
Denathan tidak membalas pukulan Natan, karena dia tidak ingin memperpanjang masalah. "Gue nggak belain dia. Gue cuman peringatin lo!"
"Lo nggak tau masalah gue sama dia apa!" balas Natan seraya berbalik badan. Tanpa menunggu lama, Natan kembali memukul Robert yang sudah berdiri tapi masih dalam keadaan lemah.
Robert terjatuh ke belakang dan kepala bagian belakangnya membentur dinding. Natan kemudian memukul pelipis Robert berkali-kali. Denathan tidak bisa tinggal diam. Cewek itu pun menarik kerah baju Natan dari belakang untuk menghentikan aksi Natan yang dapat membahayakan nyawa orang. Tapi tidak berhasil. Sehingga Denathan menggunakan cara lain.
"LO HAMPIR BIKIN DIA MATI, ANJING!" teriak Denathan seraya menendang perut Natan. Hal itu membuat Natan langsung jatuh berguling ke samping Robert.
Natan memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Dia menatap wajah Denathan dengan sangat tajam. Natan makin emosi. Dia tetap berusaha berdiri walau susah payah. Kemudian tanpa aba-aba, Natan mengarahkan pukulan ke pipi Denathan. "GUE PENGEN ROBERT MATI. LO JANGAN IKUT CAMPUR!"
"SSTTOOPPP! KENAPA KALIAN BERTIGA BERTENGKAR!?" Tiba-tiba Bu Dayu. Guru BK yang terkenal cukup galak, datang menghampiri mereka. Tadi ada satu siswa yang melaporkan pertengkaran Natan dengan Robert.
Natan seakan kesetanan. Dia tidak peduli teriakan Bu Dayu. Cowok itu akan bertindak memukul Denathan kembali dan Bu Dayu segera memukul punggung Natan menggunakan penggaris kayu berukuran besar. "NATAN, SUDAH!! HENTIKAN!"
Natan mengumpat pelan. Sangat geram, Bu Dayu menggagalkan aksinya.
Bu Dayu berkata langsung ke intinya. "KALIAN BERTIGA, IKUT SAYA KE RUANG BK. SELESAIKAN MASALAH DENGAN CARA BAIK-BAIK. BUKAN DENGAN CARA SEPERTI INI!"
__ADS_1
❦︎❦︎❦︎
𝑻𝒐 𝑩𝒆 𝑪𝒐𝒏𝒕𝒊𝒏𝒖𝒆...