
❦︎❦︎❦︎
Ketika hampir sampai di rumah Denathan, Natan mengurangi kecepatan motornya. Perlahan-lahan dia masuk ke halaman rumah Denathan yang cukup luas. Tidak terlalu luas jika dibandingkan dengan rumah lama papanya yang ada di perbukitan.
"Udah sampai," kata Natan sambil mengerem motornya.
"Iya gue tau." Kemudian Denathan turun dari motor dengan hati-hati. Gadis itu masih memakai baju olahraga milik Natan.
"Nanti malam ikut gue," kata Natan sembari bersiap-siap menjalankan motornya.
"Ikut ke mana?"
"Biasa, tongkrongan."
"Iya deh, gue ikut," jawab Denathan.
"Ya udah, gue sekarang mau pulang."
"Baju olahraga lo?" Denathan memegang baju olahraga sambil digerak-gerakkan.
"Lo bawa dulu. Kapan-kapan lo balikin," jawab Natan. "Ya udah, gue pulang. Sampai ketemu nanti malam." Kemudian cowok itu menjalankan motornya, keluar dari halaman rumah Denathan.
"Iya, makasih ya udah nganterin gue pulang!" teriak Denathan sambil melambai-lambaikan tangan.
Setelah Natan pergi menjauh, Denathan masuk ke rumahnya dan disambut oleh mamanya--Desi yang sedang menonton acara televisi di ruang tengah.
"Eh anak gadis Mama baru pulang. Kenapa pulang sore banget?" tanya Desi sambil menatap anaknya yang memakai baju olahraga. Dia pun dapat menebak, kalau anaknya itu ikut ekstra, "Oh ada ekstra bulu tangkis?" Lanjutnya.
"Iya, Ma, ada ekstra. Makanya aku pulang sore," jawab Denathan.
"Ya sudah, sekarang kamu ke kamar. Langsung mandi terus ganti baju."
"Iya, Ma."
Denathan melangkah mendekati anak tangga menuju ke lantai dua. Ruangan di lantai dua hanya ada kamarnya, tidak ada ruangan lain. Setelah masuk ke kamar Denathan langsung melempar tasnya ke atas kasur, lalu dia segera masuk ke kamar mandi di kamarnya untuk membersihkan diri. Dia sudah tidak betah mencium bau keringatnya yang kecut. Sebelum mandi, Denathan mengeringkan keringatnya terlebih dahulu supaya tidak masuk angin
Waktu yang dibutuhkan Denathan untuk mandi tidak lama. Cukup lima belas menit gadis itu sudah selesai. Bau badannya kini kembali segar dan wangi. Kemudian Denathan keluar kamar mandi dengan memakai handuk jumbo yang menutupi tubuhnya dari atas dada sampai dengkul. Rambut panjang sepunggungnya masih basah habis pakai sampo sengaja dibiarkan terurai berantakan. Malah hal itu membuat Denathan terlihat cantik dan manis.
Denathan membuka lemarinya. Dia memilih-milih baju ganti. Seperti biasanya, Denathan memilih baju kaos dan celana pendek sebatas--bawah lutut. Dia tidak suka berpakaian ribet seperti kebanyakan perempuan. Dia lebih suka berpakaian simpel seperti laki-laki.
"Nah pas," ucapnya saat dia sudah menemukan pakaian yang pas untuk hari ini.
Denathan pun menanggalkan handuknya, kemudian ia memakai pakaiannya satu persatu. Sekarang dia sudah berpakaian lengkap. Penampilannya seperti anak laki-laki. Maklum Denathan memang tomboi. Meskipun begitu dia tidak lupa akan kodratnya sebagai perempuan.
Kata Natan, malam ini cowok itu akan mengajak Denathan nongkrong di tempat tongkrongan yang hits di Jakarta Timur. Banyak anak muda seumuran Denathan yang nongkrong di sana. Apalagi saat malam Minggu, tongkrongan akan sangat banyak dikunjungi anak muda.
Denathan dan Natan sekarang sedang chat-an seperti biasa.
𝙉𝙖𝙩𝙖𝙣
𝐷𝑒𝑛, 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚 𝑖𝑛𝑖 𝑙𝑜 𝑖𝑘𝑢𝑡 𝑔𝑢𝑒 𝑛𝑜𝑛𝑔𝑘𝑟𝑜𝑛𝑔 𝑘𝑎𝑦𝑎𝑘 𝑏𝑖𝑎𝑠𝑎𝑛𝑦𝑎..
__ADS_1
^^^𝘿𝙚𝙣𝙖𝙩𝙝𝙖𝙣^^^
^^^𝐼𝑦𝑎, 𝑛𝑛𝑡𝑖 𝑗𝑎𝑚 𝑏𝑟𝑎𝑝𝑎?^^^
𝙉𝙖𝙩𝙖𝙣
𝐽𝑎𝑚 𝑑𝑒𝑙𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑎𝑗, 𝑗𝑎𝑛𝑔𝑛 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚2
^^^𝘿𝙚𝙣𝙖𝙩𝙝𝙖𝙣^^^
^^^𝑜𝑘𝑒^^^
𝙉𝙖𝙩𝙖𝙣
𝑌𝑎 𝑢𝑑𝑎ℎ, 𝑛𝑎𝑛𝑡 𝑔𝑤 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑟𝑖𝑛 𝑙𝑜 𝑑𝑖 𝑟𝑢𝑚𝑎ℎ
^^^𝘿𝙚𝙣𝙖𝙩𝙝𝙖𝙣^^^
^^^𝑖𝑦𝑎 𝑠𝑎𝑦𝑎𝑛𝑔 😙^^^
𝙉𝙖𝙩𝙖𝙣
😘
Setelah berkirim pesan singkat, Denathan mematikan ponselnya kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Mendadak rasa kantuk menyerangnya, mungkin karena kelelahan sehabis latihan bulu tangkis tadi sore.
"Gue ngantuk banget. Tidur dulu deh," ucapnya yang kemudian menutup matanya.
Tanpa sadar Denathan sudah memasuki alam mimpi. Dia tidur pulas, terdengar dengkuran halus yang keluar dari hidungnya.
❦︎❦︎❦︎
Sultan mempunyai dua istri, yaitu Narulita dan Anissa. Istri pertama dan istri keduanya tidak tinggal dalam satu rumah. Mereka mempunyai tempat tinggal masing-masing, meski begitu Narulita dan Anissa tetap akur walau harus berbagi suami. Bahkan keduanya sekarang makin akrab. Narulita sudah menganggap Anissa adalah adiknya. Begitu juga Anissa, menganggap Narulita seperti kakaknya sendiri.
Sultan, sebagai suami sering berpindah-pindah tempat tinggal. Tapi Sultan lebih sering tinggal di rumah Anissa, karena jarak rumah menuju ke kantornya cukup dekat. Sedangkan rumah Narulita, jaraknya menuju ke kantor cukup jauh. Hal itu akan membuat Sultan terlambat datang ke kantor, maka dia memutuskan untuk tinggal lebih sering di rumah istri keduanya. Sultan mengunjungi istri pertamanya hanya dua kali dalam seminggu.
Ketiga anaknya Sultan ikut tinggal di rumah ibunya masing-masing. Anastasya tinggal bersama sang Ibu, yaitu Anissa. Devano tinggal bersama ibunya, yaitu Narulita. Kecuali Natan, anak pertama Sultan dan Narulita itu sering kali berpindah-pindah tempat tinggal, kadang di rumah Anissa, kadang di rumah Ibu kandungnya, kadang juga tinggal di rumah lama papanya. Tapi Natan sering tinggal di rumah Ibu tirinya, yaitu Anissa. Alasannya karena sekolah Natan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah ibu tirinya dibandingkan dengan rumah ibu kandungnya. Jika Natan tinggal bersama Narulita, maka setiap hari cowok itu akan terlambat sekolah. Natan berkunjung ke rumah ibu kandungnya, seminggu sekali atau saat ada waktu luang.
Sultan memang mempunyai rumah sendiri, yaitu rumah lamanya yang berada di perbukitan. Tetapi sekarang, rumahnya tersebut jarang sekali ia tempati. Tenang saja, meski Sultan jarang menempati rumah lamanya, tapi ada Bi Laksmi, Bi Sari dan beberapa asisten rumah tangga lainnya yang menempati rumah itu. Jika dulu hanya Bi Laksmi dan Bi Sari yang menjadi asisten, sekarang asisten di rumah lama Sultan ada lima orang dan mereka mendapatkan tugas masing-masing. Selain itu, ada empat satpam serta lima pengawal yang menempati rumah lama milik Sultan. Tugas mereka adalah untuk berjaga-jaga dari pencurian, mengingat rumah itu berada di atas bukit yang jaraknya cukup jauh dari perkotaan.
Malam ini Sultan dan keluarganya ada di rumah lama. Sultan memang sudah menentukan rumah lamanya sebagai tempat untuk acara makan malam bersama kelurganya. Dua istri serta tiga anaknya yang sudah sama-sama berusia remaja. Semuanya berkumpul di rumah ini.
Anggota keluarga itu sekarang sedang mengobrol. Apalagi Devano, anak ketiga Sultan itu yang paling aktif mengobrol bersama kakak keduanya, yaitu Anastasya. Usia Devano dan Anastasya terpaut dua tahun. Anastasya berumur 16 tahun, Devano 14 tahun. Sedangkan Natan 17 tahun. Ketiga saudara itu sama-sama berwajah sempurna, tidak ada yang cacat. Sama-sama memiliki kecerdasan dan kepintaran serta wajah mereka yang good looking.
"Kamu mau makan apa? Mama ambilin ya?" tanya Narulita kepada anak keduanya yang duduk di sebelahnya.
"Aku mau ayam goreng sama telur aja, Ma," jawab Devano.
"Cuman itu saja? Nggak mau sayur?" tanya Narulita.
"Boleh deh, Ma," jawab Devano.
__ADS_1
"Kamu harus makan sayur juga biar sehat. Jangan makan daging saja," kata Narulita yang kemudian mengambilkan Devano makanan.
Devano beralih melihat wajah Tasya yang duduk di sebelah Natan. Tasya dan Devano duduk berhadap-hadapan.
"Kak." Devano memanggil Tasya.
Tasya, gadis berambut poni itu mendongak, menatap sang adik. "Iya kenapa, Dev?"
"Sekali-kali dong, Kak, kamu ke rumah Mama. Perasaan cuman Bang Natan aja yang sering ke rumah Mama," kata Devano.
Tasya beralih menatap wajah bundanya. Seolah mengerti maksud sang anak, Anissa--wanita berumur tiga puluh lima tahun itu hanya mengangguk sebagai isyarat.
"Oh ya, besok aku ke rumah Mama sama Bunda deh. Ya, kan, Bun?" Tasya menjawab sembari menatap wajah bundanya.
"Iya dong," jawab Anissa.
"Wah asyiik." Devano girang.
"Tapi besok Kak Tasya sekolah dulu," kata Narulita pada Devano.
"Besok hari Minggu, Ma. Jadi aku bisa langsung ke rumah Mama," jawab Tasya.
"Oh ya ampun, aku lupa." Narulita sedikit menepuk jidatnya sambil tertawa pelan.
"Iya, Kak. Aku juga pengin ke rumah kamu," kata Anissa kepada Narulita.
Narulita mengangguk lalu berkata, "Ya sudah, besok kalian boleh datang ke rumahku. Mas Sultan kalau sibuk kerja, nggak datang juga nggak apa-apa."
Sultan menyahut ucapan istri pertamanya, "Enggak, aku akan tetap datang ke rumah kamu, kok. Hari Minggu, aku libur kerja."
"Iya, Mas," balas Narulita disertai anggukan kecil.
❦︎❦︎❦︎
Berbeda dengan keluarga Natan yang berjumlah besar, keluarga Denathan hanya ada mamanya dan ayahnya. Denathan tidak mempunyai adik. Dia adalah anak gadis tunggal satu-satunya yang sangat disayang kedua orang tuanya. Apa pun kemauan Denathan, ayahnya yang bernama Darma pasti akan selalu menurutinya, tapi Denathan bukanlah anak manja yang selalu meminta apa-apa. Denathan anak sederhana, meski orang tuanya kaya. Dia tidak pernah meminta yang macam-macam. Dia hanya akan meminta sesuatu yang penting-penting saja.
Malam ini seperti biasa, keluarga kecil itu makan malam bersama.
"Yah." Denathan memanggil ayahnya--Darma.
"Iya kenapa, Nak?" tanya Darma sembari menyendok nasi.
"Aku nanti diajak jalan-jalan sama Natan. Biasa lah, Yah," kata Denathan.
"Oh diajak Natan?"
"Iya." Denathan mengangguk.
Desi menjawab, "Enggak apa-apa. Kamu, kan, sering keluar sama Natan."
"Iya betul kata Mama kamu," sahut Darma.
__ADS_1
"Iya, Ma, Yah."
❦︎❦︎❦︎