Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
DCB 2 - BEGAL CUPU


__ADS_3

Sementara Aditya berusaha melindungi mobilnya agar tidak dibawa pergi oleh begal yang saat ini menyerangnya. Begal itu sepertinya hanya ingin mengincar mobilnya, karena sama sekali tidak berfokus memberikan serangan kepada Aditya.


"Lo masih pengen hidup atau mati!" Mendadak si begal mengeluarkan pistolnya dan diarahkan kepada Aditya.


"Mas, menghindar!" Denathan memperingati Aditya saat mengetahui suaminya itu ditodong pistol, seraya memberikan serangan pada begal di depannya.


Aditya mengangguk lalu dengan cepat langsung menunduk untuk menghindar. Sebelum begal itu menembakkan pelurunya ke depan, Aditya dengan kuat menendang perut begal tersebut dengan kaki kanannya sampai begal itu jatuh terduduk ke tanah, sehingga membuatnya gagal menembakkan peluru.


"Sial!" Begal yang didorong Aditya itu membanting pistolnya sampai terpental jauh ke semak-semak.


"Keparat lo anjing!!" Aditya bertindak menendang perut begal itu sekali lagi, sehingga begal itu kembali jatuh terlentang. Aditya menggunakan kesempatan itu untuk memukul wajah si begal sambil membungkuk dengan menekuk kedua kakinya. Dengan begitu begal itu tidak dapat menghindari serangannya. Aditya memukuli wajah si begal berkali-kali tanpa ampun.


"JANGKRIK!" Begal itu mengumpat kesakitan, lalu ia berguling ke kanan untuk menghindari pukulan Aditya yang menyakitkan.


Lalu si begal segera berdiri meski susah payah. Dia kembali bertarung dengan Aditya. Sementara itu Denathan dan begal yang menyerangnya masih saling adu jotos. Mereka seolah-olah tidak ada yang mau kalah.


"Gue perempuan, nggak takut sama lo!" ujar Denathan sambil menghindari tendangan begal itu.


"Perempuan sok-sokan anjing! Gue hajar mampus lo!" ejek si begal dengan ekspresi marah yang tidak terlihat karena memakai topeng. Tetapi kedua matanya sudah cukup menunjukkan bahwa saat ini dia penuh amarah.


"Lo nggak pantas diberi ampun!" Denathan kemudian meloncat ke atas, hingga cukup tinggi dari jangkauan, wanita itu memutar tubuhnya lalu menendang tepat di dahi begal itu hingga membuat begal itu terpental lalu jatuh terlentang. Sepertinya Denathan mempelajari ilmu bela diri ketika ia masih remaja, sehingga sekarang dia bisa melawan penjahat-penjahat seperti itu tanpa rasa takut.


"KEPARAT!!" teriak begal yang barusan ditendang Denathan. Begal tersebut merasakan sakit di bagian dahi serta tulang punggungnya. "Berengsek!" umpatnya sekali lagi.


Sedangkan Aditya terus menerus berusaha mencegah begal satunya agar tidak mengambil mobilnya. "Lo jangan coba-coba ambil mobil gue!"


"Halah bacot lo anjing!" Begal itu mengejek Aditya. Kemudian dia mengarahkan pukulan ke wajah Aditya tapi sesaat kemudian...


"AKKHH..." Begal tersebut mendadak jatuh ke tanah. Ternyata Denathan yang telah menendang tepat di pinggulnya dari arah samping. Tentunya hal tersebut membuat begal itu merasakan sakit yang teramat sangat.

__ADS_1


"Bos kita pergi saja. Gue nggak kuat!" teriak salah satu begal yang melarikan diri dengan terpincang-pincang sambil memegangi perutnya yang sakit.


Tadi Denathan menendang perut begal itu berkali-kali sampai begal itu batuk darah. Sungguh Denathan adalah cewek barbar. Tidak seperti Aditya yang masih ada sikap lembut.


"Sekali lagi lo hajar sama suami gue. Gue hajar lo sampai mampus!" Denathan dengan garang memberikan ancaman kepada begal yang sekarang jatuh di tanah.


Begal itu berdecih, dia berdiri dengan susah payah, lalu sedikit memberikan tatapan tajam ke arah Denathan. Setelah itu dia beranjak pergi sambil menahan rasa sakit di bagian pinggangnya.


"DASAR CUPU!" Denathan mengejek dengan suara keras saat begal itu menjauh.


Aditya cepat-cepat memeriksa keadaan istrinya. Dia takut istrinya terluka lebih parah daripada dirinya. Laki-laki itu semakin khawatir saat mengetahui wajah istrinya babak belur meski tidak banyak, hanya di beberapa bagian, termasuk di daerah pipi dan sekitar mata.


"Kita pergi ke dokter ya. Aku khawatir sama kamu," tutur Aditya dengan mimik wajah khawatir.


"Nggak perlu, Mas. Cuma luka gini doang," jawab Denathan dengan nada santai, padahal wajahnya terluka. Tetapi dalam hatinya wanita itu sedang menahan sakit.


"Wajah kamu luka, kamu bilang nggak apa-apa? Astaga..." Aditya memijit kening kepalanya. Lalu berkata lagi, "Pokoknya nggak mau tau, kamu harus berobat ke dokter."


"Wajah kamu juga luka, kan, Mas. Ya udah... kita sama-sama luka, nggak perlu berlebihan, Mas," ucap Denathan lalu mengembuskan napas panjang, sedikit jengkel.


"Aku luka nggak apa-apa, yang penting kamu harus cepat sembuh," jawab Aditya tegas. Dia laki-laki bertanggung jawab yang harus mementingkan istrinya terlebih dahulu. Keselamatan istrinya nomor satu.


"Mas, aku dari dulu sudah terbiasa luka-luka seperti ini, jadi nggak masalah kalau sekarang aku luka-luka," ungkap Denathan mengingat masa SMA-nya dulu yang sering bertengkar dan sudah terlalu sering mengalami luka-luka di bagian wajah serta tubuhnya. Hal tersebut membuat Denathan terbiasa sampai sekarang.


"Beda, Sayang. Itu dulu. Sekarang kamu sudah punya suami yang siap merawatmu kalau kamu kenapa-kenapa," ujar Aditya meyakinkan istrinya.


Denathan berpikir sebentar. Kemudian ia mengangguk, tanda setuju kalau dirinya akan diobati ke dokter. Lagipula tak ada salahnya mencoba untuk menuruti kemauan suaminya. Sekarang dia bukan lagi cewek remaja yang harus menahan sakit sendirian ketika terluka. Sekarang dia punya suami yang menjadi sandaran hidupnya ketika ia terpuruk.


"Iya sudah, aku mau diobati ke dokter, tapi kita nggak bisa pulang sekarang, Mas," kata Denathan sambil menunjuk ke arah ban mobil bagian depan yang meletus. Kalau dipaksakan untuk tetap dipakai jalan akan berdampak pada ban mobil yang akan semakin rusak.

__ADS_1


"Oh sebentar... aku hubungi bengkel langgananku, biar nanti mobil ini dibawa ke bengkel," ucap Aditya. Dia akan menghubungi bengkel langganannya untuk membawa mobilnya itu ke bengkel dengan ditarik menggunakan truk derek. Beruntung sekali dia mempunyai bengkel langganan, sehingga saat ada masalah mendesak seperti sekarang, dapat diatasi dengan cepat.


"Iya sudah, Mas." Denathan pasrah. Entah bagaimana suaminya itu akan mengatasi masalah ini.


Aditya tersenyum saat panggilan teleponnya terjawab oleh pihak bengkel. "Halo, Pak," kata Aditya memulai percakapan.


"Halo Mas Adit. Ada keperluan apa?"


Aditya langsung menjelaskan masalah yang dialaminya tanpa bertele-tele, "Begini, Pak. Ban mobil saya meletus di jalan. Saya sekarang nggak bisa melanjutkan perjalanan."


"Oh siap, Mas. Saya akan segera membawa truk derek ke sana. Mas Adit sekarang di jalan mana ya? Biar nanti saya bisa langsung datang ke sana," jawab orang di seberang telepon.


Aditya malah bertanya kepada Denathan dengan suara pelan, "Ini kita ada di jalan mana?"


Denathan menjawab, "Jalan ini nggak ada namanya, Mas. Ini, kan, jalan kecil. Lagian Mas Adit kenapa tadi lewat sini sih. Kalau tau gini, mending tadi kita lewat jalan raya." Dia mengomel karena kesalahan suaminya yang dengan nekadnya melewati jalan sepi, kecil, dan jarang dilewati kendaraan.


"Sudah, jangan ngomel, nanti didengar," ujar Aditya yang menahan istrinya agar tidak mengomel lagi. Orang di seberang telepon bisa mendengar suara Denathan dengan jelas, karena tempat ini sepi.


"Mas Adit, bagaimana?" Akhirnya orang di seberang telepon bertanya setelah beberapa detik tak ada respons dari Aditya.


"Oh begini, Pak. Saya sekarang ada di jalan kecil, bukan jalan raya. Jadi kemungkinan jalan ini nggak ada namanya." Aditya menjelaskan agak gugup. Dia berhenti sejenak lalu berkata lagi, "Bagaimana kalau saya share loc tempat ini saja, Pak?"


Orang di seberang telepon setuju dengan ucapan Aditya, "Ya sudah, Mas Adit boleh share loc tempat Mas Adit sekarang di mana. Nanti karyawan saya akan datang ke sana dengan membawa truk derek untuk mengangkut mobil Mas Adit."


"Iya, Pak. Terima kasih. Saya tunggu."


"Iya Mas Adit."


Setelah itu Aditya mengakhiri panggilan teleponnya dengan perasaan lega. Bantuan dari bengkel akan datang sebentar lagi, meski harus menunggu sampai beberapa waktu.

__ADS_1


__ADS_2