Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
RENCANA


__ADS_3

✯✯✯


Malam ini pukul tujuh, Denathan bersiap-siap akan pergi ke rumah Thalita. Sesuai tujuannya yang ingin membantu Thalita agar bisa dekat dengan Natan, yaitu dengan cara membuat rencana awal. Denathan ingin membantu Thalita, karena cewek itu kasihan kepada Thalita yang telah lama memendam perasaan pada Natan, dan sampai sekarang tidak berani mengungkapkan perasaan.


"Nak, mau ke mana?" Desi bertanya ketika melihat Denathan menuruni anak tangga.


"Ke rumah Thalita, Ma," jawab Denathan.


"Kamu ke sana ada apa?" Desi bertanya lagi.


"Nggak ada apa-apa, Ma. Biasa, aku ke sana mau main." Denathan menjawab santai.


"Ya sudah, kamu boleh ke sana, tapi pulangnya jangan malam-malam," ucap Desi.


"Iya, Ma, santai saja. Sekarang aku berangkat ya," kata Denathan sambil pamit kepada mamanya.


"Iya." Desi mengangguk singkat.


Kemudian Denathan melangkah ke luar rumah. Dia mengambil sepeda motornya di garasi. Meski orang tuanya kaya, tapi tidak memiliki sopir atau pembantu rumah tangga. Desi setiap hari membersihkan rumah sendiri, dan Darma pergi ke kantor naik mobil sendiri.


Denathan melajukan motornya keluar pelataran rumah, menuju ke jalan beraspal di depan rumahnya yang tidak banyak dilewati kendaraan.


✯✯✯


Beberapa menit di perjalanan, Denathan akhirnya sampai di rumah Thalita. Dari rumahnya ke rumah Thalita hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit. Tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat.


Denathan mematikan sepeda motornya, kemudian turun. Cewek itu melangkah mendekati pintu rumah Thalita. Saat akan mengetuk pintu, ia dikejutkan oleh Thalita yang tiba-tiba membuka pintu. Denathan memegang dadanya yang berdebar efek terkejut.


"Astaga, bikin kaget aja lo," ucap Denathan.


Thalita tertawa, "Hahah, ya maaf. Gue tadi denger suara motor lo. Terus gue langsung buka pintu, eh gak taunya ada lo."


"Lo ke sini sendiri?" Thalita bertanya.


Denathan menjawab dengan muka jutek, "Enggak. Gue ke sini sama hantu!"


"Ngerriii, hahah," jawab Thalita disertai tawa singkat.


"Udah tau gue ke sini sendiri, pakek tanya lagi," kata Denathan.


"Hahah, udah deh. Yuk masuk ke rumah gue." Thalita kemudian mengajak Denathan masuk ke rumahnya.


Kedua gadis itu masuk ke rumah. Thalita mengajak Denathan masuk ke ruang keluarga. Di ruangan itu ada mamanya Thalita yang tengah menonton televisi. Thalita melangkah ke dapur untuk mengambil camilan yang akan disuguhkan untuk Denathan.


Mamanya Thalita bernama Dewi. Wanita paruh baya itu tersenyum saat melihat Denathan.


"Denathan ke sini ternyata," ucap Dewi.

__ADS_1


Denathan menjawab, "Iya Tante. Tadi Thalita yang nyuruh saya ke sini."


"Ooh, nggak apa-apa. Justru Tante seneng kamu main ke sini," jawab Dewi. "Kamu duduk di sini dulu." Kemudian Dewi menyuruh Denathan untuk duduk di sebelahnya.


"Saya duduk di sini saja, Tan." Denathan memilih duduk di sofa tunggal yang berdekatan dengan rak bunga. Di samping rak bunga terdapat televisi.


"Kamu tunggu Thalita dulu, dia masih ngambil camilan," ucap Dewi.


"Iya, Tan." Denathan mengangguk singkat.


"Oh ya, kamu sama Thalita di sekolah ngapain aja?" Dewi iseng-iseng bertanya seperti itu untuk memulai pembicaraan.


Denathan menjawab dengan percaya diri dan santai, "Ya biasa, Tan. Belajar, habis belajar, istirahat di kantin, biasanya ke perpus baca-baca buku."


"Bagus deh kalau gitu," jawab Dewi.


"Iya, Tan. Thalita yang biasanya sering banget ke perpus. Saya mah jarang ke perpus," jawab Denathan.


"Kurang suka baca buku ya?" Dewi bertanya.


"Iya bisa bilang begitu, Tan, heheh," jawab Denathan diakhiri kekehan pelan.


Thalita melangkah ke ruang keluarga sambil membawa dua toples camilan. Lalu menyuruh Denathan pergi ke kamarnya.


"Natha, lo ke kamar gue dulu," ucap Thalita seraya meletakkan dua toples itu ke atas meja.


Thalita sedikit mendesah lalu menjawab, "Ya, masak harus gue jelasin sih."


Denathan tertawa singkat. "Haha, iya. Ya udah gue ke kamar lo. Nggak apa-apa, kan?"


Thalita melihat mamanya hanya sekilas lalu kembali menatap wajah Denathan, "Nggak apa-apa. Orang gue yang nyuruh."


Dewi menatap wajah anaknya dan Denathan secara bergantian dengan mimik muka bertanya-tanya. Dia tidak tahu apa yang dibicarakan anaknya bersama temannya itu.


"Tan, saya ke kamar Thalita dulu ya," kata Denathan.


Dewi menjawab, "Oh ya, silahkan."


Setelah mendapat izin, Denathan pun melangkah mendekati tangga. Dia melanjutkan langkahnya menaiki tangga satu persatu, menuju ke lantai dua, lalu ke kamar Thalita.


Denathan masuk ke sana. Dia langsung kagum ketika pertama kali melihat kamar Thalita yang dipenuhi dengan berbagai barang cantik serta tembok yang bercat merah muda. Sangat menunjukkan bahwa si pemilik kamar adalah orang yang feminin. Berbeda jauh dengan kamar Denathan yang bernuansa biru gelap dan tidak banyak barang.


"Cewek banget, kamar Thalita," ucap Denathan sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kamar, "Ogah banget gue punya kamar pink kayak gini." Lanjutnya.


"Natha, gue denger apa yang barusan lo bilang." Mendadak Thalita muncul di depan pintu.


"Astaga." Denathan pura-pura kaget.

__ADS_1


"Iya, gue emang suka warna pink," jawab Thalita lalu menaruh dua toples camilan di atas meja belajar.


Denathan berucap, "Ooh, selain warna pink, lo suka warna apa?"


"Kuning, putih sama hijau sih. Kalau lo?" jawab Thalita kemudian mengambil satu toples yang berisi biskuit cokelat.


"Gue suka semua warna, tapi yang paling gue suka itu warna hitam, merah dan biru," jawab Denathan. Dia mengambil satu toples berisi biskuit kelapa. "Gue makan ini ya." Lanjutnya.


"Iya, lo makan aja. Gue bawa camilan, kan, buat lo," kata Thalita.


Denathan mengunyah biskuit sambil berkata, "Lo tau, kan, apa tujuan gue datang ke rumah lo?"


"Iya gue tau. Mau buat rencana biar gue bisa deket sama Natan, kan?"


"Nah betul." Denathan menjentikkan jari.


"Emang lo nggak keberatan?" Thalita bertanya.


"Keberatan kenapa?" Denathan bingung dengan pertanyaan Thalita.


"Natan, kan, sahabat lo," jawab Thalita.


"Apa salahnya gue bantu lo deket sama Natan? Lo juga sahabat gue," ujar Denathan.


"Iya juga sih." Thalita bergumam.


"Emang lo yakin cinta sama Natan?" Denathan bertanya seperti itu untuk memastikan.


Thalita menjawab, "Ya gue yakin, Den. Kan, udah gue bilang, gue suka sama Natan udah dari SMP. Selama itu gue suka sama Natan."


"Oke. Kalau lo emang yakin suka dan cinta sama Natan, gue bakal bantu lo. Seenggaknya rencana gue nggak sia-sia," jawab Denathan.


"Rencana awal lo gimana?" Thalita bertanya. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui rencana Denathan.


"Oke, ini rencana awal biar lo sama Natan bisa dekat." Denathan bersiap-siap akan memberitahukan rencana awalnya kepada Thalita.


Thalita semakin tak sabar, "Apa rencana awalnya?"


"Jadi besok, kalau Natan bawa minuman di kantin. Lo pura-pura jalan sambil lihat hape, nah tapi lo sengajain senggol Natan, otomatis minumannya Natan jatuh, kan--." Denathan belum sempat berkata lebih lanjut.


Thalita sudah menyahut dengan mimik terkejut, "Rencana apaan itu? Kok gitu sih? Yang ada nanti Natan benci sama gue."


Denathan langsung menjawab, "Justru itu. Dari benci terus jadi cinta, kayak di novel-novel anak SMA. Ahahah."


✯✯✯


𝑻𝒐 𝑩𝒆 𝑪𝒐𝒏𝒕𝒊𝒏𝒖𝒆...

__ADS_1


__ADS_2