Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
LARUT MALAM


__ADS_3

"Den, gue nggak kuat," ucap Natan yang meringkuk di bawah pohon. Badannya lemas dan menggigil karena terlalu lama terkena hawa dingin. Meski sudah memakai jaket tapi tidak cukup membantunya menghangatkan badan.


"Maafin gue ya, Nat. Gara-gara gue. Lo harus berhadapan sama hal gaib yang seharusnya lo gak lihat. Maafin gue." Denathan memegang tangan kanan Natan yang sedikit bergetar. Masih trauma menyaksikan kejadian tadi.


"Gue trauma, Den. Gue tadi ngeliat hantu di sekitar sini, gue nggak kuat. Badan gue dingin banget," kata Natan dengan nada bergetar. Cowok itu memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya.


"Ya udah, sekarang kita pulang. Gue yang bawa mobilnya. Semoga aja mobilnya masih bisa jalan. Ayo gue bantu berdiri." Denathan berucap sembari memegang kedua tangan Natan lalu dengan perlahan menarik tangan Natan untuk membantunya berdiri.


Setelah Natan berdiri, cowok itu mengeluh badannya lemas. Dia seakan tidak sanggup berjalan. "Gue lemes banget. Lo bantu gue ya." Natan berucap dengan suara lemas.


"Iya, tenang aja," kata Denathan sembari merangkul pundak Natan dan membantu Natan berjalan menuju ke mobilnya.


Mereka berdua berjalan perlahan-lahan. Denathan yang menopang tubuh Natan yang lebih besar daripada tubuhnya mengeluh tidak kuat. Tapi sebagai sahabat yang baik Denathan harus bertahan demi Natan. Apalagi cowok itu sedang dalam keadaan trauma dan lemas. Sudah pasti Denathan harus sigap membantu.


Denathan mengembuskan napas lega saat dia sudah berada di dekat mobil milik Natan. Dia dan Natan tidak terkejut saat melihat badan mobil itu lecet-lecet dan sedikit penyok di beberapa bagian karena tadi penjahat-penjahat yang sekarang sudah terkapar berusaha merusak mobil itu. Beruntung pintu mobil sudah Natan kunci, sehingga begal-begal tadi tidak bisa membawa mobilnya.


"Natan, di mana kunci mobil lo? Nanti gue aja yang nyetir mobilnya," kata Denathan meminta kunci mobil pada Natan. Kemudian dia melepas rangkulannya.


Tanpa bicara apa pun, Natan mengambil kunci mobilnya yang dia simpan di dalam saku celana. Lalu dia memberikannya kepada Denathan.


Cewek itu mengambilnya lalu bertanya, "Gimana cara buka kunci mobilnya?"


Natan menjelaskan, "Tinggal lo tekan aja tombol kecil warna merah."


Denathan menekan tombol warna merah yang ada di kunci mobil itu sembari mengarahkannya ke pintu mobil bagian depan. Otomatis kunci terbuka.


"Udah, terus gimana?" Denathan bertanya lagi.


"Tinggal dibuka." Natan membuka pintu mobilnya.


"Lo duluan yang masuk."


Natan menurut lalu masuk ke mobil. Kemudian Denathan memasuki mobil dan duduk di kursi bagian kemudi. Dia menggantikan Natan menyetir mobil, karena melihat kondisi Natan yang tidak memungkinkan, takutnya Natan tidak fokus menyetir lalu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Lo bisa nyetir mobil?" Natan bertanya.

__ADS_1


"Bisa. Ayah gue pernah ngajarin gue bawa mobil. Kalau lo yang nyetir, gue takut lo nggak fokus terus--."


Natan memotong ucapan Denathan, "Udah, ayo jalan. Gue lemes banget. Pengin cepet-cepet balik ke rumah. Kita pulang ke rumah Papa gue, nggak jadi ke rumah Mama. Entar kejauhan."


"Iya gue tahu." Denathan menyalakan mesin mobilnya. Untung saja mobil milik Natan adalah mobil matic yang tentunya mudah dioperasikan.


Mobil berjalan secara perlahan-lahan kemudian semakin kencang. Menjauh dari tempat bekas pertempuran antara Denathan, Natan dan komplotan begal.


Natan cukup was-was saat melihat Denathan menjalankan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.


"Den, hati-hati. Gue takut lo nanti nggak bisa kontrol setirnya," ucap Natan.


"Tenang aja, gue bisa kok."


Membuat Natan jantungan saat tiba-tiba Denathan membelokkan mobilnya ke arah kanan lalu melaju ke depan dengan kecepatan tinggi untuk menyalip kendaraan yang ada di depannya.


"Hati-hati, Den!"


"Iya!" Bukannya hati-hati Denathan malah gila-gilaan menyalip empat mobil secara langsung.


Natan makin panik gara-gara Denathan. "Hati-hati woi!"


****


Tepat pada jam satu malam lebih lima belas menit, Denathan dan Natan akhirnya sampai di rumah Natan.


Saat mereka akan keluar, Denathan mendapatkan telepon dari mamanya. Denathan menyempatkan untuk menjawab telepon itu agar mamanya tidak khawatir.


"Sebentar, Nat. Mama gue telpon."


"Halo, Nak. Kenapa kamu nggak pulang-pulang? Ini sudah jam berapa? Kamu sekarang di mana?"


Baru saja menelepon, Desi sudah memborong pertanyaan yang ditujukan untuk Denathan. Sudah jelas Desi khawatir terhadap anaknya yang tidak kunjung pulang.


"Ma, jangan khawatir ya. Denathan sekarang ada di rumahnya Natan. Denathan nginep di rumahnya Natan, Ma."

__ADS_1


"Kamu nginep di sana? Kenapa? Apa karena pulang kemalaman?"


Denathan sebetulnya tidak ingin berbohong kepada mamanya, tapi hal yang paling memberatkan hatinya adalah jika dia berkata jujur maka sudah dapat dipastikan mamanya itu lebih khawatir kepadanya.


"Iya, Ma. Maaf ya, Ma. Aku pulang kemalaman. Denathan besok pulang, kok. Sekarang aku di rumahnya Natan. Jangan khawatir ya, Ma."


Denathan tahu, mamanya itu tidak akan khawatir jika dia bersama Natan. Atau menginap di rumah Natan, mamanya itu tentu saja mengizinkannya.


"Kalau kamu memang sama Natan, terus di mana Natan sekarang? Mama pengen ngomong sama dia." Rupanya Desi belum mempercayai ucapan Denathan.


"Iya, Ma. Sebentar." Kemudian Denathan memberikan hapenya kepada Natan. "Nat, Mama gue mau ngomong sama lo."


"Gue lemes banget, Den, gue udah nggak kuat." Suara Natan serak, lemas bercampur berat. Sehingga hal itu menimbulkan salah paham.


"Astaghfirullah, Nak! Kamu habis ngapain sama Natan? Kenapa Natan sampai lemes? Nak! Kamu sama Natan ngapain!? Astaghfirullah, Ya Allah."


Begitulah reaksi Desi ketika mendengar suara Natan yang kurang jelas dan ambigu.


Denathan pun sangat panik. "Enggak, Ma! Aku nggak ngapa-ngapain sama Natan. Serius, Ma. Aku nggak ngapa-ngapain. Percaya sama aku dong, Ma. Natan ngantuk, makanya dia bilang lemes."


"Mama nggak percaya. Apa buktinya kalau kalian nggak ngapa-ngapain. Apa Mama harus nikahin kalian berdua?" Suara Desi semakin tinggi menandakan bahwa dia begitu marah.


"Ya udah, nih kalau nggak percaya." Tanpa lama-lama Denathan mengganti telepon menjadi video call untuk membuktikan kepada mamanya.


Setelah berganti video call, kini Desi dapat melihat di mana anaknya berada. Desi melihat ada kursi mobil di belakang Denathan. Dan dia menyimpulkan anaknya sedang ada di dalam mobil.


"Oh kamu di mobil, tapi Natan mana? Dia udah keluar dari mobil?"


Tanpa menjawab pertanyaan sang mama, Denathan mengarahkan kameranya ke arah Natan yang sudah tidur.


Eh cepet amat tidurnya, batin Denathan.


"Natan tidur? Kalian sebenarnya di mana sih? Katanya di rumahnya Natan. Kamu bohongin Mama ya!"


Bukan Denathan kalau dia tidak bisa menjawab perkataan mamanya dengan mudah. "Natan kecapekan, Ma. Makanya dia ngantuk banget. Padahal udah sampai di rumah." Lalu gadis itu mengganti kameranya ke kamera belakang dan menyorot ke arah teras rumah Natan yang lampunya terang benderang.

__ADS_1


Sekarang sepertinya Desi mempercayai anaknya dan seketika nada bicaranya berubah menjadi lembut. "Oh, ya sudah. Mama lega kalau kamu sudah di rumahnya Natan. Bangunin Natan gih, suruh dia tidur di kamar, jangan di mobil. Kamu katanya mau nginep di sana."


"Iya Ma."


__ADS_2