Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
DCB 2 - MENGOBROL DENGAN TEMAN LAMA


__ADS_3

"Kamu belum menikah ya?" tanya Tia ingin tahu.


Denathan menoleh ke arah Tia lalu menjawab dengan santai, "Udah dong."


"Lah sejak kapan? Kamu nikah kok nggak bilang-bilang sama aku sih?" Tia agak terkejut dengan pernyataan Denathan.


"Baru beberapa hari yang lalu." Denathan menjawab sambil memilih-milih buah.


"Wah berarti pengantin baru nih." Tia menggoda Denathan dengan sedikit tertawa.


"Iya." Denathan mengangguk sambil tersenyum.


"Kalau boleh tahu siapa nama suami kamu?"


Denathan tertawa pelan sebelum menjawab, "Aditya."


Mendengar nama Aditya, seketika otak Tia langsung mengingat seorang cowok yang pernah satu sekolah dengannya sewaktu SMA. Namanya juga Aditya. Tetapi Tia berpikir positif, mungkin saja orang lain dan bukan Aditya yang pernah menjadi temannya di SMA. Lagipula banyak orang yang bernama Aditya.


"Oh Aditya. Namanya sama kayak Aditya, teman kita waktu SMA itu loh," ucap Tia.


Denathan tertawa pelan. "Hahah, iya emang Aditya itu."


Tia membelalakkan matanya, terkejut. "Hah!? Serius? Aditya yang pernah satu sekolah sama kita itu?"


"Iya, Tia. Aditya teman sekolah kita waktu SMA."


Tia geleng-geleng kepala lalu berucap, "Wah, wah... nggak nyangka ya. Dulu kamu sama Aditya kayak nggak pernah akur, sekarang malah jadi suami-istri, hahaha..."


"Jodoh mah nggak ada yang tau, kan," ujar Denathan santai.


"Iya bener sih. Ngomong-ngomong, Aditya masih kurus kayak waktu SMA ya?" Tia iseng-iseng bertanya seperti itu. Seingatnya dulu Aditya itu berperawakan tinggi dan kurus.


"Hahah, jelas beda dong, Tia."


"Beda, maksudnya?" Tia tidak mengerti.

__ADS_1


"Iya beda. Sekarang Aditya badannya kekar dan gagah," jawab Denathan dengan suara agak pelan agar orang-orang di sekitarnya tidak mendengar ucapannya.


"Kamu serius? Berubah drastis dong! Pasti suami kamu itu makin ganteng daripada yang dulu," ujar Tia antusias.


"Iya berubah, bener-bener bukan seperti Aditya yang dulu. Sekarang makin ganteng," Denathan menjawab dengan yakin.


"Hahaha, kamu sama Aditya definisi jodoh sejak SMA." Tia mengatakan itu sambil terkikik.


"Kalau dipikir-pikir emang bener sih."


"Nggak apa-apa jodohnya teman sekolah. Lagian banyak kok orang yang menikah sama teman sekolahnya sendiri," ucap Tia sambil menepuk-nepuk pundak Denathan.


"Iya, Tia. Nggak masalah, yang penting, kan, saling cinta."


"Nah bener tuh." Tia menjentikkan jari menyetujui ucapan Denathan. Kemudian Tia bertanya lagi, "Oh ya, ngomong-ngomong kamu sama Natan masih sahabatan kayak dulu, kan? Ya, walaupun sekarang kamu sama Natan udah punya pasangan masing-masing."


"Ya bersyukur sih, aku sama Natan sampai sekarang masih sahabatan. Walaupun kita jarang ketemu," jawab Denathan lalu tersenyum tipis. Dia tanpa sadar membayangkan semasa sekolahnya dulu yang seringkali bersama Natan. Masa-masa indah itu sekarang tak akan dapat diulangi lagi. Kini Denathan dan Natan lebih memikirkan kehidupannya masing-masing.


"Iya, aku juga sama kayak kamu. Dulu aku dekat banget sama Renita, sekarang kita juga nggak pernah ketemu. Apalagi sama Denok," ujar Tia sambil mengingat semasa sekolahnya dulu.


"Nggak apa-apa. Sekarang mah kita harus fokus sama kehidupan kita masing-masing. Renita punya kehidupan baru dengan keluarganya, begitu juga kita, kan," ujar Denathan dengan bijak.


"Bener, Den. Aku juga sekarang lebih sibuk di rumah, ngurus anak," kata Tia. Benar, sekarang Tia sudah mempunyai seorang anak laki-laki yang masih berumur tiga bulan.


"Loh kamu sudah punya anak?" tanya Denathan agak terkejut. Dia pikir Tia belum mempunyai momongan.


"Iya, Den. Anakku baru umur tiga bulan. Sekarang di rumah sama neneknya."


"Wah selamat ya, punya jagoan kecil." Denathan tersenyum lebar, mengucapkan selamat kepada teman lamanya itu.


"Iya sama-sama. Kapan nih kamu nyusul punya anak?" tanya Tia diakhiri tawa kecil.


"Ah, itu gampang. Aku nggak pengen buru-buru punya anak. Lagian aku baru nikah juga," jawab Denathan santai tanpa pikir panjang.


"Iya bener, Den. Kalau belum siap punya anak, lebih baik nggak usah dipaksain. Tunggu sampai kamu siap, Aditya juga siap." Tia menambahkan.

__ADS_1


"Iya." Denathan mengangguk singkat. Dia sejak tadi tidak fokus memilih-milih buah karena lebih fokus mengobrol dengan Tia.


Denathan teringat sesuatu. Dia ingin menanyakan tentang keberadaan Renita. "Oh ya, kalau boleh tahu Renita sekarang tinggal di mana ya?"


Tia diam sejenak seolah mengingat-ingat. Setelah itu dia menjawab, "Terakhir aku ketemu sama Renita sih enam bulan yang lalu. Setahuku dia tinggal di Solo."


"Solo, Jawa Tengah?" Denathan memastikan.


"Nah iya bener, di Jawa Tengah." Tia kemudian tersenyum lalu kembali berkata, "Suaminya orang Solo."


Denathan mengangguk-angguk sambil tersenyum. Dia memahami ucapan Tia.


"Ngobrol apaan atuh kalian berdua? Keliatannya kok seru sekali," ucap Pak Wirya secara tiba-tiba. Membuat Denathan dan Tia sedikit terkejut. Lalu kedua wanita itu menoleh ke arah Pak Wirya yang berdiri di depan mereka.


"Eh, Pak Wirya. Saya ngobrolnya seru banget sampai lupa kalau saya mau beli buah," jawab Denathan kemudian tertawa pelan.


"Ngak apa-apa, lanjutin aja ngobrolnya," kata Pak Wirya. Kemudian pria itu kembali melayani pembeli lain yang ingin membayar belanjaannya.


"Kamu mau beli buah juga?" Denathan bertanya kepada Tia.


"Iya. Anakku suka banget sama alpukat," jawab Tia. Lalu perempuan itu memilih-milih buah alpukat yang masih segar.


Sampai di sini, Denathan dan Tia tidak mengobrol lagi. Mereka kemudian memilih-milih buah yang akan mereka beli. Tia membeli buah apel, jeruk, dan alpukat. Sedangkan Denathan membeli buah jeruk, apel, buah naga, dan anggur. Setelah itu, kedua wanita itu membayar belanjaannya di lapak Pak Wirya yang menjual buah-buahan. Denathan dan Tia kembali berbelanja kebutuhan dapur di lapak berikutnya. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah selesai berbelanja. Kemudian mereka berpisah setelah keluar dari supermarket.


"Duluan ya Den!" teriak Tia yang bersiap-siap menjalankan sepeda motor matic-nya.


"Iya, hati-hati!" balas Denathan juga berteriak.


Kemudian Denathan memposisikan sepeda motornya untuk keluar dari tempat parkir. Setelah menemukan posisi yang tepat, Denathan menaiki sepeda motornya lalu segera menjalankannya. Selama di perjalanan pulang, Denathan menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Tidak cepat juga tidak lambat.


Beberapa menit kemudian, wanita itu sudah sampai di rumahnya. Denathan turun dari motor, lalu membawa barang-barang belanjaannya masuk ke dalam rumah. Beruntungnya Bi Etik tidak mengunci pintu rumahnya, sehingga dia bisa langsung membuka pintu, dan tidak harus mengetuk-ngetuk pintu terlebih dahulu dan menunggu Bi Etik membukakan pintu.


"Bi sudah selesai?" Denathan bertanya ketika melihat Bi Etik sedang minum segelas air putih.


Bi Etik seketika berdiri lalu menjawab, "Sudah, Non. Tadi ruang tamu dan ruang tengah sudah saya bersihkan."

__ADS_1


__ADS_2