
"Mas, aku tunggu di depan ya." Denathan sudah tidak sabar ingin pergi jalan-jalan. Sesuai persyaratannya yang ditujukan kepada suaminya tadi malam. Kalau Aditya tidak menepati persyaratan itu, siap-siap saja Denathan tidak akan pernah memberinya jatah setiap malam.
Hari ini, hari Minggu, tentunya Aditya libur kerja. Sehingga dia dapat memenuhi syarat dari istrinya. Seandainya tidak libur kerja, tentu Aditya tidak akan dapat memenuhi persyaratannya.
"Iya, kamu duluan enggak apa-apa!" jawab Aditya yang masih di dalam kamar. Pria itu masih sibuk memakai kaosnya. Setelah memakai kaos, dia menyemprotkan parfum ke seluruh badannya lalu mengambil jaket dan memakainya. Sekarang penampilan pria itu sudah rapi dan menarik. Didukung dengan rambutnya yang tertata rapi.
Denathan turun ke lantai satu, lalu melangkah menuju ke dapur. Di sana dia menemui Bi Esih yang sedang membersihkan area dapur.
Denathan berbicara saat sudah ada di hadapan wanita tua itu. "Bi, saya sama Mas Adit mau keluar dulu ya. Bi Esih enggak apa-apa, kan, di rumah sendiri?"
Bi Esih menghentikan aktivitasnya lalu menjawab, "Iya Non. Enggak apa-apa saya sendiri."
"Ya sudah, nanti kalau saya sama Mas Adit sudah pergi, Bibi jangan lupa tutup pintu di depan ya. Jangan dibuka sebelum saya pulang," ujar Denathan dengan nada sopan. Dia harus tetap menghormati yang lebih tua, meski itu adalah asisten rumah tangganya.
"Iya Non. Saya mengerti. Hati-hati ya Non kalau keluar rumah," jawab Bi Esih sekaligus memberi nasihat.
"Iya, Bi. Ya sudah, saya keluar dulu ya." Kemudian Denathan melangkah keluar dapur dan menuju ke luar rumah.
Aditya baru keluar kamar. Laki-laki itu menuruni anak tangga satu persatu sampai menginjak lantai bawah. Kemudian dia melanjutkan langkahnya keluar rumah. Di teras rumah, ternyata istrinya sudah menunggunya.
"Nggak lama, kan, nunggunya?" tanya Aditya memastikan.
"Enggak, Mas. Orang aku baru keluar rumah," jawab Denathan.
"Oh ya sudah. Aku ke garasi ya, mau keluarin mobil dulu," kata Aditya. Lalu dia melangkah turun ke halaman rumah dan berjalan menuju ke garasi yang berada di samping rumah.
Beberapa menit kemudian, Aditya datang ke halaman sambil mengendarai mobil. Lalu pria itu melambaikan tangannya bermaksud memanggil Denathan.
"Ayo naik!" kata Aditya.
"Iya, Mas! Tunggu!" Denathan menutup pintu rumahnya lalu setengah berlari mendekati mobilnya yang sudah terparkir di halaman.
Wanita muda itu masuk ke mobil dan duduk di sebelah suaminya yang duduk di kursi kemudi.
"Udah, Mas. Ayo jalan," ajak Denathan.
"Tujuan kita ke mana dulu nih?" Aditya memastikan dulu sebelum menjalankan mobilnya.
__ADS_1
"Ke mal dulu aja, Mas. Udah lama aku nggak ke sana. Aku juga mau beli skincare sih, Mas," kata Denathan. Dia baru ingat jika skincare-nya sudah habis.
"Oke, kita mal dulu." Aditya pun menjalankan mobilnya ke arah jalan di depan rumahnya. Bukan jalan raya, melainkan jalan khusus untuk area wilayah perumahan elit. Kemudian Aditya melajukan mobilnya menuju ke jalan raya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari area perumahan.
Mobil itu terlihat menjauh, menjauh, dan semakin menjauh sampai hilang dari pandangan.
****
Sekarang pukul sembilan pagi, Aditya dan Denathan akhirnya sudah sampai di mal. Tempat jalan-jalan tujuan pertama mereka. Aditya memarkirkan mobilnya sesuai arahan dari tukang parkir yang sedang berjaga--supaya mobilnya terparkir dengan rapi. Selesai memarkirkan mobil sesuai tempatnya, Aditya segera mengajak Denathan keluar dari mobil.
Kemudian mereka berdua saling bergandengan tangan, bersama-sama melangkah mendekati pintu masuk ke mal. Sesampainya di dalam mal, Denathan langsung mengajak suaminya untuk membeli skincare di toko kecantikan dan perawatan kulit.
"Ayo Mas, kita langsung beli skincare aja. Nggak usah lama-lama," kata Denathan.
Begitulah Denathan. Jika wanita pada umumnya sangat suka jalan-jalan keliling mal. Berbeda dengan Denathan yang tidak menyukai hal tersebut, karena baginya itu hanya akan membuang-buang waktu, dan ujung-ujungnya pasti melupakan niatnya datang ke mal untuk apa. Lebih parahnya bisa tergoda barang lain lalu tertarik membelinya, padahal bukan barang yang ingin dibeli dan sudah ditentukan dari awal.
"Nggak jalan-jalan dulu, lihat-lihat mal?" Aditya memastikan.
Denathan menggeleng. "Enggak, Mas. Lagian di mal mau lihat apa? Orang jualan?"
"Iya, terserah kamu saja. Aku nurut," jawab Aditya pasrah. Dia mengikuti langkah Denathan menuju ke toko skincare.
Tidak lama-lama, Denathan segera memilih jenis skincare yang sering ia beli dan cocok untuk kulitnya. Setelah membeli produk perawatan itu, Denathan membawanya ke kasir lalu membayarnya pakai uang sendiri. Dia punya uang pemberian suaminya seminggu yang lalu. Saat Aditya ingin membayar belanjaannya pun Denathan mencegahnya.
Kemudian Denathan mengajak suaminya keluar toko. "Nah, gini kan cepet, Mas. Nggak perlu lama-lama," kata Denathan.
"Iya, Sayang." Aditya tersenyum. Dia berkata lagi, "Kamu nggak pengen keliling mal?"
Denathan memikirkan pertanyaan dari suaminya. Setelah dipikir-pikir ulang, dia menjawab, "Hmm, iya deh, Mas. Keliling mal juga boleh."
"Ya sudah, ayo. Nanti kalau kamu pengen beli sesuatu, kamu tinggal bilang aja." Aditya menggandeng tangan Denathan, mereka melangkah secara bersamaan.
Ketika mereka melewati deretan toko perhiasan, Denathan tidak sengaja melihat sahabat lamanya, yaitu Natan dan Thalita yang sekarang sedang berada di sebuah toko pakaian. Jaraknya cukup dekat dari tempatnya berdiri sekarang.
Denathan refleks menahan lengan suaminya, "Mas, Mas, sebentar."
Aditya sepertinya tidak melihat keberadaan Natan dan Thalita. Laki-laki itu bertanya, "Kenapa, Sayang?"
__ADS_1
"Itu kayaknya Natan sama Thalita," ucap Denathan sambil sedikit menunjuk Natan dan Thalita yang terlihat sedang memilih-milih pakaian.
Aditya mengikuti arah tunjuk tangan Denathan, "Eh iya bener, itu Natan sama Thalita."
"Ayo deh, Mas, kita ke sana. Ngobrol-ngobrol sebentar sama mereka," kata Denathan.
"Ya sudah, ayo." Kemudian Aditya menggandeng tangan Denathan. Mereka melangkah menuju ke toko pakaian itu.
Sesampainya di toko itu, Denathan menegur Natan dan Thalita dengan berkata, "Ekhem, ekhem ada yang pacaran nih."
Seketika itu membuat Natan dan Thalita terkejut. Lalu keduanya menoleh ke samping kanan, mendapati Denathan dan Aditya.
"Astaga Denathan, aku kira siapa," kata Thalita sambil mengelus dada. Hampir saja jantungnya copot karena terkejut.
"Hahaha, kebetulan banget ya kita ketemu di sini," kata Denathan disertai tawa pelan.
"Iya kebetulan. Kamu ke sini mau beli pakaian juga?" Thalita bertanya.
Sementara Aditya dan Natan mengobrol. Denathan dan Thalita juga bercakap-cakap. Di sekeliling mereka cukup banyak orang yang sedang memilih-milih pakaian.
"Enggak, bajuku udah banyak di rumah. Tadi kebetulan aku nggak sengaja lihat kamu di sini. Terus aku samperin kamu deh," jelas Denathan.
Thalita mengangguk-angguk. "Tadi sebenarnya aku juga nggak pengen beli baju, tapi karena Kak Natan maksa aku beli baju, ya udah, terpaksa."
Iya, Thalita memanggil Natan--suaminya dengan menyebut 'Kakak'. Sudah menjadi kebiasaannya semenjak menikah dengan pria itu.
Mereka berempat terus mengobrol tentang banyak hal. Sampai Denathan memutuskan untuk mengakhiri obrolan mereka.
"Ya sudah, aku sama Mas Adit mau lanjut jalan-jalan lagi."
"Oke."
Setelah berpamitan, Denathan dan Aditya memutuskan untuk keluar dari mal. Mereka berdua melanjutkan acara jalan-jalannya. Tujuan kedua mereka adalah pergi ke danau yang ada di wilayah Jakarta Timur.
****
Baca bab selanjutnya...
__ADS_1