Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
ENDING - KEBAHAGIAAN KELUARGA DENATHAN


__ADS_3

9 bulan kemudian...


Jam sepuluh pagi, Denathan merintih kesakitan merasakan perutnya keram, seperti tanda-tanda mau melahirkan. Wanita itu memanggil-manggil suaminya yang sedang mandi.


"Mas Adit! Mas Adit, aduh sakit," ucap Denathan seraya menyentuh bagian perutnya.


"Mas Adit." Denathan memanggil suaminya sekali lagi.


Aditya samar-samar mendengar suara istrinya. Lalu pria itu cepat-cepat keluar kamar mandi dalam keadaan setengah telanjang alias hanya memakai celana pendek.


"Sayang, kenapa?" tanya Aditya dengan raut wajah panik.


"Perutku sakit, Mas, aduh," jawab Denathan sesekali merintih.


Aditya panik melihat kondisi istrinya. Dia menyambar jaketnya yang tersampir di gantungan baju dan segera memakainya. Lalu pria itu menggendong Denathan dengan hati-hati. Aditya membawa istrinya keluar kamar lalu pergi ke luar rumah.


Kebetulan sekali mobilnya sudah terparkir di halaman rumah, sehingga pria itu dapat segera mendudukkan istrinya di dalam mobil. Lalu Aditya masuk ke mobil dan duduk kursi kemudi. Dengan segera Aditya melajukan mobilnya keluar halaman rumah.


Bi Etik ke luar rumah tergopoh-gopoh ketika mengetahui majikannya pergi dengan terburu-buru. Berbagai pertanyaan muncul di benak wanita tua itu. Ada gerangan apakah yang terjadi dengan majikannya?


****


"Suster, tolong. Istri saya akan melahirkan," teriak Aditya kepada salah satu suster yang kebetulan lewat di lobi utama rumah sakit. Pria itu menggendong istrinya ala bridal style. Sesekali Denathan merintih, karena bayi di dalam kandungannya seperti memberontak ingin keluar dari rahimnya.


"Baik, Pak. Ikuti saya, Pak!" ucap suster itu berjalan dengan cepat menuju ke ruangan persalinan. Denathan harus segera ditangani agar bayi di kandungannya bisa selamat.


Aditya membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang rumah sakit. Kemudian pria itu membisikkan kata-kata di telinga istrinya. Aditya berusaha menyemangati istrinya demi keselamatan calon anak mereka.


Sementara seorang dokter akan menangani Denathan yang akan melahirkan, Aditya diminta untuk menunggu di luar ruangan. Pria itu keluar lalu seorang suster segera menutup pintunya. Aditya menunggu di luar ruangan dengan perasaan gelisah dan cemas. Dia selalu berdoa di dalam hati supaya istri dan calon anak mereka selamat.


Suara erangan Denathan yang menyakitkan, dengan sekuat tenaga melahirkan bayinya, membuat Aditya makin cemas dan khawatir. Pria itu ingin masuk ke ruangan, tapi pintunya ditutup. Aditya baru boleh masuk apabila proses melahirkan sudah selesai.


Beberapa menit berlalu, akhirnya suara seorang bayi menangis kencang yang terdengar dari dalam ruangan, membuat Aditya begitu senang dan bersyukur, anaknya lahir dengan selamat. Lalu pria itu segera masuk ke dalam ruangan dan mendapati istrinya yang terbaring lemah di atas ranjang. Sementara seorang suster membawa bayinya ke ruang sebelah untuk dibersihkan tubuhnya dari darah.

__ADS_1


Seorang dokter yang tadi menangani Denathan, berbicara kepada Aditya yang tampak khawatir dengan keadaan Denathan. "Tenang, Pak. Istri Bapak hanya pingsan. Sebentar lagi akan siuman. Alhamdulillah bayinya lahir dengan selamat dan normal, Pak."


Aditya menatap wajah dokter itu dengan mata berbinar-binar, menunjukkan kebahagiaan. "Benar, Dok?"


"Iya, Pak." Dokter itu menjawab sambil tersenyum tipis dan mengangguk.


"Alhamdulillah." Aditya seketika mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mengucap rasa syukur yang teramat dalam kepada Sang Pencipta.


Tidak lama kemudian, suster yang tadi memandikan bayinya, sekarang keluar dari ruangan dan menggendong bayi itu yang sudah bersih dan seluruh tubuh mungilnya tertutup kain putih.


Suster itu memberikan bayi itu kepada ayahnya. "Selamat ya, Pak. Bayinya laki-laki. Bayinya lahir dengan selamat dan sehat. Alhamdulillah, bayinya normal, Pak."


Aditya beralih menggendong anaknya dengan hati-hati. Pria itu tersenyum lalu berkata, "Terima kasih suster."


Setelah suster pergi. Aditya segera mengadzani anaknya dan mendekatkan mulutnya tepat di telinga bayi itu. Suara Aditya yang merdu saat melantunkan adzan membuat Denathan tersadar dari pingsannya dan tersenyum menatap wajah suaminya.


Usai Aditya selesai mengadzani anaknya. Pria itu beralih menatap Denathan yang sudah sadar.


"Sayang, alhamdulillah anak kita lahir dengan selamat," ucap Aditya dengan kedua tangannya menggendong sang bayi.


"Laki-laki, Sayang. Dia tampan sepertiku," jawab Aditya tersenyum, lalu membelai pipi istrinya dengan lembut.


****


Satu hari kemudian...


Kini Denathan boleh pulang setelah menjalani perawatan intensif pasca melahirkan seorang bayi. Aditya mengajak Denathan pulang dengan membawa sang anak yang baru berumur satu hari dan masih sangat mungil. Bayi itu terlihat menggemaskan di gendongan Aditya.


Sesampainya di rumah, Aditya dan Denathan mengobrol tentang nama yang cocok dan bagus untuk anak mereka.


"Sayang, menurutmu, nama apa yang cocok untuk anak kita?" tanya Aditya kepada Denathan.


Denathan terdiam sejenak. Tampaknya sedang berpikir. Setelah menemukan ide, dia segera menjawab, "Bagaimana kalau Aden, Mas?"

__ADS_1


Aditya menatap wajah Denathan lalu kembali menatap wajah bayinya di dalam gendongannya. "Aden?" beonya.


"Iya, Mas. Itu gabungan nama kita. A, diambil dari nama kamu. Terus Den, aku ambil dari namaku," jelas Denathan.


Aditya berpikir sebentar. Lalu menjawab, "Enggak apa-apa, nama itu juga bagus kok."


"Nama panjangnya, Mas?"


"Nama panjang ya." Aditya tersenyum lalu menjawab, "Nama panjang anak kita. Putra Laksana Aden."


Sejak saat itu, nama bayi itu adalah Putra Laksana Aden.


****


Satu tahun kemudian...


"Aden, sini, Nak. Ayo main sama Papa!" ucap Aditya sambil merentangkan kedua tangannya ke depan, bermaksud akan memeluk anaknya. Pria itu terus tersenyum.


Aden kecil yang sudah berumur satu tahun, berjalan dengan gembira mendekati sang papa. Di belakang bayi itu ada Denathan yang sejak tadi menampilkan senyuman bahagianya.


"Anak Papa ganteng banget sih," ucap Aditya lalu segera bertindak menggendong sang anak dan mencubit pelan hidung mungil bayi itu. Dia terlalu gemas dengan anaknya.


Aden yang berada di gendongan papanya pun seketika tertawa kecil. Suaranya imut khas anak bayi. Mendengar anaknya tertawa, Denathan dan Aditya pun ikut tertawa. Mereka ikut begitu bahagia melihat sang anak yang bahagia.


"Papa ajak jalan-jalan Aden sama Mama ya?" ucap Aditya lalu berjalan keluar dari rumah. Denathan mengekor di belakang suaminya.


Denathan dan Aditya masuk ke mobil. Aditya tidak menyetir mobilnya sendiri, tapi ada sopir pribadinya yang akan mengendarai mobil itu. Aditya memang mempekerjakan orang untuk menjadi sopir pribadinya, supaya mempermudah saat ia ingin pergi ke mana-mana.


Setiap perjalanan menuju ke tempat tujuan berlibur kali ini, Aditya tidak henti-hentinya menimang sang anak dan sesekali menyayikan lagu anak-anak. Dibandingkan dengan Denathan, rupanya Aditya yang lebih dekat dengan sang anak. Karena pria itu ingin menjadi sosok ayah yang baik dan bertanggung jawab menjaga istri serta anaknya.


Aditya dan Denathan sangat bersyukur. Mereka berdoa agar kehidupan mereka dengan sang anak selalu bahagia dan sejahtera. Sebagai ayah sekaligus seorang suami. Tentunya Aditya memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjaga, membahagiakan, mengayomi, dan menyayangi istri serta anaknya. Lalu Denathan sendiri yang berperan sebagai seorang ibu dan seorang istri di dalam keluarganya juga memiliki tanggung jawab yang tidak kecil. Dia harus bisa menjadi ibu yang baik untuk anaknya, selalu memberikan pengajaran agama, moral, akhlak, dan etika. Supaya sang anaknya tumbuh dengan akhlak yang terpuji.


****

__ADS_1


-TAMAT-


__ADS_2