
"Gue yang bener." Tiba-tiba Natan sudah berdiri di samping mereka.
"Anjir. Bikin kaget aja lo!" Aditya terkejut.
Kemudian Natan menjelaskan secara langsung, "Gue tadi nggak sengaja jatuhin gelas. Thalita juga udah maafin gue. Jadi sekarang lo mending balik ke meja. Jangan bikin rusuh. Ayo!"
Tanpa pikir panjang Natan menarik lengan Aditya agar Aditya kembali ke tempatnya.
"Duh, Nat. Jangan tarik-tarik gue."
"Lo orangnya kepoan." Kemudian Natan melepaskan genggamannya pada lengan Aditya.
"Itu namanya gue peduli sama lo. Bukan kepo. Ya elah." Aditya membela diri.
"Ada apa nih?" Erik bertanya saat mendapati dua sahabatnya itu sedang adu mulut.
"Itu si Adit kepo sama urusan orang," ucap Natan sambil menyenggol lengan Aditya yang duduk di sampingnya.
"Gue nggak kepo. Cuman pengen tahu aja, hehehhe." Adit terkekeh pelan.
"Sama aja kepo!" Natan mengejek.
"Nggak sama dong."
"Iya terserah lo deh. Yang penting lo nggak makan meja," ucap Natan berniat bercanda.
"Ya kalau gue makan meja, namanya bukan orang lagi tapi buto ijo! Hahahah." Aditya membalas dengan candaan juga.
"Hadeh dasar kalian berdua, ribut mulu." Erik menyeruput es tehnya dan tidak memedulikan Aditya ataupun Natan.
Sekarang Denathan dan Thalita masih melanjutkan obrolan mereka.
"Nah, kan, gue punya firasat kalau lo bakal dekat sama Natan," ucap Denathan sambil menjentikkan jari.
Thalita bertanya karena bingung, "Maksud lo?"
"Kemarin gue, kan, ngasih lo tantangan biar lo bisa dekat sama Natan. Eh secara nggak sadar Natan sendiri yang ngelakuin tantangan itu."
"Tantangan yang lo maksud, gue harus jatuhin gelas di depan Natan itu, kan?" Thalita sangat mengingat tantangan yang Denathan berikan.
"Iya itu. Sekarang tantangan itu udah nggak berlaku, karena Natan udah ngelakuin itu ke elo! Jadi ya, tinggal nunggu waktu aja lo sama Natan bisa dekat. Gue yakin, nggak lama lagi Natan bakal deketin lo."
Thalita sedikit tidak mempercayai ucapan Denathan. "Hah serius."
Denathan mengangkat kedua bahunya sambil berkata, "Ya mungkin begitu. Gue nggak bisa memastikan."
Thalita sangat berharap Natan mendekatinya. Jatuh cinta itu menyakitkan jika tidak ada salah satu pihak yang mengungkapkannya terlebih dahulu. "Tapi gue harap, Natan suka sama gue."
__ADS_1
"Mending lo berdoa setelah sholat, istilahnya lewat jalur langit. Pasti keinginan lo buat deket sama Natan terwujud." Denathan memberi saran kepada Thalita.
"Iya juga sih, bener kata lo. Insyaallah nanti malam habis sholat isya," jawab Thalita kemudian tersenyum.
"Nanti malam gue sama Natan mau jalan-jalan. Natan yang ngajak gue, lo jangan salah paham."
Thalita yang tadinya merasa lega mendadak merasa tidak nyaman dengan ucapan Denathan. Kalau boleh jujur Thalita cemburu sama Denathan karena bisa dekat dengan Natan setiap waktu, kapan pun yang Denathan mau. Ingin menjauhkan Denathan dari Natan pun tak mungkin Thalita lakukan. Thalita tidak ingin menjadi musuh dalam selimut. Denathan adalah sahabat terbaiknya.
"Iya iya, yang setiap hari deket sama Natan," ucap Thalita lalu sedikit membuang muka.
"Dih, lo cemburu ya? Hahaha." Denathan tertawa.
"Gue nggak cemburu. Lagian lo sama Natan cuman sahabatan."
"Nah pinter." Denathan memuji Thalita.
"Oh ya tapi gue titip ya," ucap Thalita.
"Titip apa? Biar sekalian nanti gue beliin."
"Titip buku tulis satu pak ya," balas Thalita. "Pakek uang lo dulu ya. Besok pas di sekolah gue kembaliin."
"Santai aja. Uang gue nggak dibalikin juga nggak apa-apa."
"Hah serius? Ya udah berarti lo beliin gue."
Denathan sedikit tertawa sambil memukul tangan kanan Thalita yang di atas meja. "Hahah. Enak aja lo."
"Hahaha, gue nggak serius." Denathan bercanda.
"Iya iya, tetep gue balikin uang lo, kok. Tapi serius loh ya, gue titip buku sama lo."
"Baik, Nyonya Thalita. Permintaan Anda akan saya kabulkan," ucap Denathan berlogat layaknya asisten seorang majikan.
Thalita ngakak dengerin omongan Denathan yang berlagak jadi babu. "Ahahaha lucu banget sih lo."
****
Malam harinya pukul tujuh, Denathan sekarang sedang memilih-milih baju di lemarinya. Sebenarnya tidak perlu ribet memilih baju yang mana yang cocok untuk digunakan pergi ke mall. Lagipula Denathan bukan tipe cewek yang suka bingung saat memilih baju.
Denathan pun mengambil kaos lengan panjang berwarna abu-abu bergambar kucing oren. Lalu melemparnya ke atas kasur. Dia kemudian mengambil celana sepan. Tak butuh lama-lama, Denathan segera memakai baju serta celana yang baru dia ambil dari lemari. Kini penampilannya sudah kece badai. Apalagi rambutnya yang lurus dan panjang dikucir ala ekor kuda, semakin meningkatkan kecantikan wajahnya.
"Nah kalau gini kan gue kece badai," ucapnya sambil mengibas-ngibaskan rambutnya di depan cermin lemari.
"Oke. Sekarang tinggal nunggu Natan."
Denathan keluar dari kamar. Tak lupa dia mengenakan jaket dan membawa tas selempang kecil berisi dompet dan hape. Setelah berpamitan kepada mamanya, cewek berjiwa laki-laki itu melangkah keluar rumah dan menunggu Natan. Dia duduk di kursi yang tersedia di teras sambil memainkan hapenya.
__ADS_1
Tiga menit berselang, Natan sudah datang ke rumah Denathan. Cowok itu menggunakan mobil.
"Sok-sokan bawa mobil." Denathan mengejek Natan.
Sepertinya Natan tidak turun dari mobil. Dia langsung menyuruh Denathan untuk naik ke mobilnya. "Den, ayo cepat naik!"
"Iya!" Denathan berlari lalu masuk ke mobil Natan. Dia duduk di samping Natan yang duduk di kursi kemudi.
"Tumben lo bawa mobil. Motor lo mana?" Denathan bertanya.
"Motor gue di bengkel, makanya gue pakek mobil. Gue udah izin sama Papa. Dibolehin, kok." Natan menjawab seadanya.
"Perasaan lo tadi pagi sekolah pakek motor?"
"Tadi pas pulang sekolah, motor gue bocor. Tadi jam lima sore baru sempet gue bawa ke bengkel."
"Oh kirain kenapa. Ya udah, ayo berangkat. Keburu malam. Tapi lo bisa bawa mobil, kan. Awas loh ya!"
"Iya gue bisa. Gue bisa bawa mobil dari kelas satu SMA."
"Hebat juga lo." Denathan memuji Natan.
"Gue gitu loh!"
"Iya iya si paling bisa bawa mobil." Denathan memutar kedua bola matanya.
Natan kemudian menjalankan mobilnya keluar dari pelataran rumah Denathan dengan hati-hati. Saat sudah berada di jalan, Natan mengajak Denathan mengobrol.
"Oh ya, tadi katanya Thalita titip buku tulis."
"Kok lo tahu? Kan gue belum bilang sama lo."
"Tadi sebelum pulang sekolah, Thalita ngomong sama gue."
"Ooh ya udah."
****
Denathan dan Natan memasuki mall secara bersamaan. Banyak sekali orang yang berlalu-lalang di dalam mall. Ada anak sekolah, ibu-ibu, bapak-bapak, suami-istri, orang pacaran. Termasuk Denathan dan Natan yang juga pacaran. Eh enggak deh, mereka kan sahabat.
"Lo ngajak gue ke mall mau beli apa sih?" Denathan bertanya.
"Devano minta mainan. Kalau gak dituruti, dia ngambek," ucap Natan sambil berjalan.
Denathan berjalan di samping Natan dan mengobrol. "Kok Devano nggak lo ajak?"
"Devano di rumah Mama. Jadi dia nggak bisa ikut. Nanti habis beli mainan, gue ke rumah Mama." Yang dimaksud 'Mama' oleh Natan adalah Narulita.
__ADS_1
"Oh ya gue lupa. Lo, kan, tinggal di rumah Bokap lo."
Denathan dan Natan pun menjelajahi seluruh ruangan mall untuk mencari toko mainan sekaligus jalan-jalan.