
"HALO BESTIE!!" teriak Denok yang kegirangan melihat Denathan.
Thalita langsung menyenggol lengan Denok mengisyaratkan Denok agar bersikap sopan di rumah orang. Menyadari kelakuannya, Denok merasa malu, apalagi ada mamanya Denathan yang ikut masuk ke kamar.
Denathan saat ini sedang duduk di kursi, di depan meja belajarnya. Cewek itu sedang menulis sesuatu di kertas. Entah menulis apa, tapi sepertinya dia sedang mencoret-coret kertas secara random.
"Ya udah, Tante keluar dulu ya," ucap Desi. Kemudian dia keluar kamar.
Thalita menjawab, "Iya Tan." Sedangkan yang lain hanya memberi respons dengan mengangguk.
"Ya Allah, bestie. Gue nggak tega lihat lo kayak gini. Mana pipi lo juga luka, gue, kan, jadi kasihan sama lo," ucap Denok dengan gaya bicara berlebihan. Sambil menatap Denathan dari samping.
Denathan tetap diam dan fokus mencoret-coret kertas, lalu Tia menyahut ucapan Denok, "Nggak tahu lagi deh gue, Rieke emang suka cari masalah."
Mendengar penuturan Tia, Denathan menyahut sambil memutar kursinya menghadap ke arah teman-temannya, "Bukan Rieke aja yang cari masalah, tapi gue juga."
Seketika Thalita menjawab, "Kok lo gitu sih, Nath? Kan, udah jelas-jelas Rieke yang cari masalah duluan sama lo."
"Bener tuh kata Thalita. Lo jangan gitu. Seakan-akan lo yang salah, padahal mah Rieke," ujar Denok.
"Gue malah tau, kejadian lo bertengkar sama Rieke dari adik kelas," sahut Renita yang sekarang duduk di atas tikar yang sudah tergelar di lantai. Disusul Thalita dan Denok. Sementara Tia duduk di kursi yang ada di dekat jendela kamar.
Denathan menjelaskan, "Oke, gue bakal jelasin, gue nggak bisa ngomong panjang, pipi gue sakit. Jadi intinya gue sama Rieke sama-sama salah, nggak ada yang bener. Kalau seandainya gue nggak ngelawan Rieke balik, terus gue dipukul dia sampai gue pingsan, berarti Rieke yang salah. Tapi di sini gue sama Rieke saling bertengkar, berarti gue sama Rieke sama-sama salah. Simpel, kan?" Setelah berucap, Denathan memijit pipinya yang sakit masih diplester, belum dilepas.
Renita, Thalita, dan Tia terdiam mendengar penjelasan Denathan yang mudah dipahami. Sedangkan Denok menggaruk-garuk belakang kepalanya karena gatal sekaligus tidak bisa mencerna ucapan Denathan.
"Maksud lo gimana?" Akhirnya Denok bertanya.
Denathan mengembuskan napas panjang lalu menjawab, "Ya intinya gue sama Rieke sama-sama salah, Nok. Masak lo nggak paham sih?"
Denok mengangguk-angguk, "Oke, oke. Gue paham."
Renita berargumen, dia tidak setuju dengan ucapan Denathan. "Enggak gitu konsepnya, Den. Siapa yang cari gara-gara duluan, dia yang salah. Lo aja nggak cari masalah sama Rieke sama antek-anteknya itu." Dia diam sebentar lalu melanjutkan ucapannya, "Terus, Sarah juga salah sama lo. Dia yang udah bikin lo babak belur sampai pingsan."
Thalita menyuruh semuanya untuk diam saat dia mendengar suara langkah kaki menuju ke kamar. Thalita dapat menebak itu adalah mamanya Denathan.
"Guys, diam. Jangan bahas itu. Ada mamanya Denathan," ucap Thalita dengan suara pelan. Seketika semuanya diam termasuk Denathan.
__ADS_1
"Nak, pintunya tolong dibuka!" ucap Desi dari luar.
"Iya sebentar, Tan!" balas Thalita. Lalu gadis itu cepat-cepat membukakan pintu untuk Desi. Tampaklah Desi sedang membawa nampan besar berisi empat gelas minuman sirup yang akan disuguhkan untuk teman-teman Denathan.
Lalu Desi melangkah masuk. Thalita kembali duduk di tikar. "Nah, Tante bawain minuman buat kalian. Diminum ya," ucap Desi seraya dengan hati-hati berjongkok lalu menaruh nampan itu di atas tikar dan membagikan minuman itu kepada teman-teman anaknya.
"Kok repot-repot sih Tante?" ucap Renita yang merasa kurang enak hati.
"Ah, nggak repot, kok. Nanti diminum ya, pasti kalian haus," ucap Desi lalu mengapit nampan itu di antara lengan dan ketiaknya. Kemudian Desi berdiri, seketika mengingat kalau dia belum menyuguhkan camilan. "Oh ya ampun Tante lupa, camilannya belum ada. Sebentar ya!" Lalu wanita itu keluar kamar sedikit terburu-buru.
Thalita berkata dengan suara keras, "Enggak usah, Tan. Minuman aja udah cukup!!" Namun sayangnya Desi tidak mendengar suara Thalita.
Denok yang notabenenya cewek yang suka ngemil, menyenggol lengan Thalita. "Heh, rezeki jangan ditolak. Lo emang nggak pengen ngemil?"
Thalita memutar kedua bola matanya dengan malas mendengar ucapan Denok. "Iya, iya."
Tidak lama kemudian Desi kembali ke kamar anaknya dan menyuguhkan tiga toples camilan. "Dimakan ya, Tante mau lanjut masak." Kemudian wanita itu langsung melangkah keluar kamar.
"Iya, makasih Tante." ucap Thalita.
Kalau soal makanan Denok tidak bisa menunda-nunda. Dia harus segera memakan camilan yang sudah tersedia di depan mata. "Den, gue makan ya."
"Bener tuh kata Denathan. Nih kalian makan." Denok membagikan makanan itu kepada Thalita dan Renita. Sedangkan Tia masih duduk di depan jendela—sedang memerhatikan rumah kosong yang bersebrangan dengan rumah Denathan.
"Tia! Lo ngapain duduk di depan jendela? Lihat apa sih?" Denok meneriaki Tia.
Tia masih memerhatikan rumah itu dan menjawab, "Gue ngeliatin rumah kosong itu. Ngeri banget anjazz."
"Ya elah, lo ngapain lihatin rumah kosong. Kayak nggak ada kerjaan, mending sini makan sama kita," jawab Denok sambil mengunyah makanannya.
Denathan berkata, "Rumah itu kosong udah lama banget. Bekas tempat orang bunuh diri."
Jederr!! Seketika ucapan Denathan membuat jantung teman-temannya tidak aman. Denok, Renita, dan Thalita mendadak merasa merinding meski mereka sedang tidak melihat rumah itu.
Tia langsung ketakutan lalu cepat-cepat mendekati Denathan. "Anjazz, serius lo? Pantesan kok gue lihat ngeri banget. Mana rumahnya banyak lumutnya lagi."
"Iya, itu bekas tempat orang bunuh diri. Lagian lo kenapa lihatin rumah itu sih?" jawab serta tanya Denathan.
__ADS_1
"Tia kurang kerjaan tuh, Den. Rumah kosong aja dilihat," sahut Renita.
"Ahaha, bener banget," ujar Thalita.
Sementara Denok masih asyik mengunyah camilan berupa keripik singkong balado pedas. "Enak banget keripiknya," ujarnya.
"Nggak gitu, gue penasaran aja, makanya gue lihat." Tia membela diri.
Renita bertanya kepada Denathan, "Lo nggak ngerasa ngeri ya, Den? Setiap hari harus ngeliat rumah kosong itu di depan kamar lo?"
Denathan menggeleng santai, "Enggak. Gue udah biasa lihat gituan. Nggak masalah."
Thalita pun menyikut lengan Renita, lalu Renita menoleh ke samping. "Kenapa sih?"
Thalita menjawab dengan suara pelan, "Lo lupa? Denathan, kan, anak indigo. Dia udah biasa lihat hantu."
Renita sedikit menepuk jidatnya, "Oh iya, astaga, gue baru sadar," ucapnya pelan.
"Jadi gimana soal masalah lo sama Rieke sama Sarah? Lo ada rencana mau saling minta maaf sama mereka, enggak?" Tia tadi tidak menyimak obrolan teman-temannya mengenai masalah yang Denathan hadapi saat ini.
Denathan, Thalita, Denok, dan Renita fokus menatap wajah Tia. Lalu Denathan menjawab, "Itu gampang. Kalau besok atau dua hari lagi gue udah sembuh, gue bakal minta maaf sama mereka di sekolah."
Renita menyahut, "Kayaknya jangan lo, Den, yang minta maaf. Biar mereka dulu aja. Secara, kan, mereka yang cari gara-gara duluan."
"Bener tuh kata Reni, Den. Lo jangan minta maaf duluan," ucap Denok.
"Iya gue juga setuju sama Reni," sahut Tia.
Sedangkan Thalita menjawab, "Kalau gue sih terserah Denathan ya. Soalnya Denathan yang jalanin. Enaknya Denathan gimana, kan, kita nggak tau. Kalau Denathan mau minta maaf duluan, ya enggak apa-apa, selagi Rieke juga mau minta maaf."
Denathan mengacungkan jempol untuk Thalita. "Setuju banget sama Thalita. Jadi gue nentuin kemauan gue sendiri."
Denok menyahut, "Gue sekarang setuju sama Thalita."
Renita membantah, dia tidak mau sahabatnya itu meminta maaf terlebih dulu kepada Rieke. Menurutnya harus Rieke atau Sarah yang meminta maaf kepada Denathan.
"Gue nggak setuju ya. Harus Rieke atau Sarah yang minta maaf duluan. Apalagi Sarah yang udah bikin Denathan babak belur!"
__ADS_1
Denok menatap Renita dan Thalita secara bergantian, dia bingung harus berpihak kepada siapa. Karena menurutnya pendapat Thalita dan Renita, semuanya benar.
"Udah-udah ah, enggak usah bahas itu. Kepala gue pusing," ucap Denathan yang mendadak merasakan kepalanya pusing karena teman-temannya saling adu pendapat.