Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
DCB 2 - DENATHAN NGIDAM


__ADS_3

Lima bulan kemudian...


Kehamilan Denathan sudah berjalan selama lima bulan. Sekarang perut perempuan itu terlihat besar dan buncit. Pertumbuhan janin di dalam perutnya berjalan normal. Aditya bersyukur mengetahui istrinya sehat-sehat saja selama kehamilan.


"Mas, aku mau makan sesuatu deh," jelas Denathan sambil mengelus-elus perutnya yang buncit.


"Mau makan apa? Aku akan menuruti permintaan kamu," jawab Aditya. Lalu pria itu berganti mengelus-elus perut istrinya.


Denathan dan Aditya sekarang tengah duduk saling berdekatan di sofa, jauh di depan mereka ada sebuah televisi yang menyala dan menayangkan berita malam.


"Aku mau makan rujak buah," jawab Denathan lalu tersenyum.


"Sayang, malam-malam enggak ada yang jualan rujak buah. Yang lain aja." Aditya bukannya tidak mau menuruti kemauan istrinya, hanya saja tidak ada penjual rujak buah kalau sudah malam hari. Apalagi sekarang sudah pukul delapan malam.


"Enggak mau tahu, aku pokoknya mau rujak buah." Denathan sedikit merengek. Entahlah, kenapa ia ingin sekali makan rujak buah, mungkin karena bawaan bayi di dalam kandungannya. Istilahnya mengidam.


Aditya menyadari gelagat istrinya seperti orang mengidam. "Kamu ngidam ya?"


Denathan tersenyum tipis. "Iya, Mas. Aku pengen banget makan rujak buah. Udah lama juga aku nggak makan itu."


Aditya terdiam sejenak. Pikirannya berkelana ke suatu tempat, mengingat-ingat di mana tempat ia pernah menemui seorang penjual rujak buah saat malam hari. Sayangnya Aditya tidak mengingat tempat itu. Pikirannya pun kembali ke rumah, dan seketika teringat Bi Etik. Mungkin wanita paruh baya itu bisa membuatkan istrinya rujak buah. Mumpung masih ada beberapa buah segar yang tersimpan di kulkas.


"Bagaimana kalau Bi Etik saja yang membuatkan kamu rujak buah? Mungkin Bi Etik bisa?" tanya Aditya.


"Iya, Mas. Bi Etik bisa, kok," jawab Denathan lalu tersenyum. Bi Etik pernah membuat rujak buah dan itu rasanya enak banget.


Aditya berdiri, berniat ingin meminta tolong kepada Bi Etik agar membuatkan Denathan rujak buah. "Kamu tunggu di sini ya. Aku ke dapur dulu."


"Iya, Mas."


Aditya turun ke lantai satu lalu menuju ke dapur dan memanggil-manggil nama Bi Etik. "Bibi, Bi Etik!"

__ADS_1


Bi Etik yang ada di dalam kamar seketika keluar kamar dengan tergopoh-gopoh saat majikannya itu memanggilnya. "Iya, Den, ada apa?" tanyanya ketika sudah ada di hadapan Aditya.


"Nah kebetulan Bibi ada di sini," ucap Aditya begitu lega. Lalu pria itu kembali berkata, "Bi, bisa tolong buatkan istri saya rujak buah?"


"Rujak buah, Den?" beo Bi Etik untuk memastikan.


"Iya, Bi. Rujak buah, Bibi bisa kan?"


Bi Etik terdiam sejenak lalu mengangguk. "Iya, Den. Kebetulan saya bisa."


"Baguslah, Bi. Jadi saya tidak perlu keluar rumah untuk membeli rujak," jawab Aditya sambil tersenyum.


Kemudian Aditya mengikuti langkah Bi Etik menuju ke dapur. Sesampainya di sana, Bi Etik segera menyiapkan bumbu-bumbu untuk rujak buah, sementara Aditya menyiapkan buah yang disimpan di dalam kulkas. Ada buah semangka, mangga, nanas, timun, dan bengkuang. Kebetulan buah-buahan itu Aditya beli baru dua hari yang lalu, sehingga masih tampak segar. Aditya mengupas dan memotong buah-buahan itu dengan ukuran kecil-kecil sesuai petunjuk dari Bi Etik. Kalau boleh jujur, ini pertama kalinya Aditya akan membuat rujak buah.


"Sudah saya potong-potong, Bi. Lalu bagaimana?" tanya Aditya sambil menunjukkan potongan buahnya yang ada di wadah.


"Kalau perlu buah-buah itu dicuci dulu, Den," jawab Bi Etik dengan nada lembut.


Aditya selesai mencuci buah bersamaan dengan Bi Etik yang telah selesai membuat bumbu rujak buah.


"Sudah selesai, Bi?" tanya Aditya saat melihat bumbu rujak yang sepertinya sudah siap disajikan.


"Iya, Den. Bumbunya sudah jadi," jawab Bi Etik.


"Ya sudah, ini saya bawa ke kamar ya," kata Aditya sembari mengambil bumbu rujak yang ditempatkan di wadah.


"Iya, Den. Non Denathan pasti udah nggak sabar nungguin."


Aditya sedikit tertawa merespons ucapan Bi Etik. Lalu menjawab, "Iya, Bi. Denathan ngidam banget sama rujak buah."


Kemudian Aditya membawa bumbu rujak serta buah-buahan yang tadi sudah dipotong dan dicuci, menuju ke kamarnya. Segera Aditya masuk ke kamar dan menemui Denathan yang tengah duduk-duduk santai di sofa.

__ADS_1


"Lihat, Sayang. Aku bawa apa?" ucap Aditya sambil menunjukkan rujak buah itu di hadapan Denathan.


Denathan seketika tersenyum senang. Keinginannya akhirnya keturutan. "Wah, makasih loh, Mas. Udah bikinan aku rujak buah. Pasti enak," ucap Denathan. Rujak bua di hadapannya seolah menggiurkan.


"Iya sama-sama, ini Bi Etik yang bikin bumbunya. Aku bagian yang potong-potong buahnya," jawab Aditya sambil mencomot sepotong buah mangga lalu mengoleskannya pada bumbu rujak yang telah jadi. Lalu pria itu memakannya. Seketika lidahnya menggeliat merasa nikmat. "Hmm, enak banget. Bumbunya pas."


Denathan tersenyum lebar saat merasakan bumbu rujak buah itu pas sesuai seleranya, tidak pedas tapi ada rasa gurih dan sedap. "Iya, Mas. Enak banget."


Mereka berdua terus memakan rujak buah itu. Apalagi Aditya yang lebih banyak memakannya. Istrinya yang sedang mengidam, tapi pria itu yang malah seperti mengidam. Memang lucu sekali.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah selesai menikmati rujak buah itu. Kemudian Aditya membereskan wadah kotor itu dan membawanya ke dapur untuk dibersihkan. Tidak lama kemudian Aditya kembali ke kamar sambil membawa minuman.


"Kamu minum dulu," kata Aditya sambil meletakkan teko dan gelas ke atas meja.


"Iya, Mas." Denathan menuangkan air putih ke dalam gelas lalu meminumnya sampai habis.


"Gimana? Sudah lega habis makan rujak buah?" tanya Aditya.


"Lega banget, Mas. Makasih ya," kata Denathan lalu tersenyum.


Kemudian wanita itu menyenderkan kepalanya di bahu suaminya yang kokoh. Denathan tersenyum tipis. Aditya bertindak merangkul pundak Denathan lalu tangan kanannya mengelus-elus perut sang istri. Sudah ada kehidupan di dalamnya.


"Kamu sudah lima bulan di perut Bunda, cepat lahir ya, Nak. Papa nggak sabar nunggu kamu," kata Aditya kepada calon anaknya di dalam perut Denathan. Lalu laki-laki itu mencium perut Denathan cukup lama. Terlihat romantis sekali.


Denathan tersenyum tipis lalu menjawab, "Mas, semoga anak kita lahir dengan sehat ya."


Aditya mengelus-elus pipi istrinya dan berkata, "Aamiin, Sayang. Kita berdoa sama Allah, supaya calon anak kita selalu baik-baik saja di dalam kandungan sampai lahir."


Denathan dan Aditya kemudian saling berpelukan. Saling menyalurkan rasa kasih sayang dan cinta. Saling menyalurkan rasa kepercayaan terhadap diri mereka masing-masing. Dan saling mengenalkan diri mereka kepada calon anak mereka nantinya. Dengan berpelukan, kemungkinan janin di dalam kandungan Denathan, bisa merasakan pelukan hangat dari papanya. Tidak menutup kemungkinan juga, janin itu tersenyum di kandungan ibunya.


"Nak, Papa akan menyambutmu dengan gembira saat kamu lahir," kata Aditya berbisik di telinga Denathan. Membuat sang istri merinding.

__ADS_1


__ADS_2