
Sekarang Aditya dan Denathan melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat tujuan kedua mereka. Aditya akan mengajak jalan-jalan istri tercintanya ke sebuah tempat yang indah tapi jarang dikunjungi orang-orang. Namanya Danau Cinta. Sebuah danau yang letaknya satu lokasi dengan taman Kota Jakarta Timur. Aditya yakin, istrinya akan sangat senang bila dia mengajaknya ke sana.
Untuk saat ini Aditya tidak memberitahukan kepada istrinya tentang danau itu. Biarlah nanti Denathan yang akan mengetahuinya sendiri.
"Mas, kita mau jalan-jalan ke mana lagi?" tanya Denathan sambil menoleh ke arah suaminya. Sebelumnya wanita itu melihat ke arah jalanan.
"Pokoknya kamu ikut saja. Tempatnya sangat indah, dan jarang ada orang yang tahu. Kamu pasti suka," jawab Aditya tidak menjelaskan secara lengkap.
"Indah banget?" Denathan bertanya.
"Iya, tempatnya indah sekali, sepertinya kamu belum pernah ke sana." Aditya menjawab.
Denathan menatap langit-langit mobil, seolah-olah membayangkan seperti apa indahnya tempat yang dimaksud suaminya itu. Kemudian wanita itu berkata, "Aku jadi penasaran banget deh, Mas."
"Iya, makanya kamu ikuti aku saja. Jangan banyak tanya," kata Aditya tanpa menoleh. Dia tetap fokus mengendarai mobilnya.
Denathan mengangguk-angguk. Entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa begitu bahagia. Seakan-akan ucapan suaminya telah membiusnya dan langsung tertarik untuk mengunjungi tempat seperti yang diucapkan Aditya. Padahal Denathan belum tahu tempatnya seperti apa. Yang jelas wanita itu sudah tidak sabar ingin mengunjungi tempat itu.
Selama perjalanan menuju ke tempat tujuan, mereka berdua tidak mengobrol. Sama-sama fokus mengamati jalanan. Terutama Aditya yang sedang menyetir mobil. Dia tidak boleh sampai lalai dalam berkendara, sehingga dapat menyebabkan kecelakaan. Ada nyawa orang tercinta yang begitu dia jaga.
Tidak membutuhkan waktu lama. Perjalanan dari Jakarta Selatan ke Jakarta Timur hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Sekarang mereka sudah sampai ke tempat tujuan. Iya, Danau Cinta.
Aditya memarkirkan mobilnya di area parkir yang sudah disediakan khusus oleh petugas taman kota. Petugas tidak memungut uang imbalan untuk tempat parkir.
Setelah memarkirkan mobilnya, Aditya dan Denathan keluar dari mobil. Tanpa berlama-lama lagi, mereka segera memasuki area taman kota, melewati jalan yang disediakan khusus untuk pejalan kaki.
"Mas, ternyata yang kamu maksud taman kota?" kata Denathan setelah menyadari tempat ini adalah taman Kota Jakarta Timur.
Aditya tertawa pelan, dia menjawab, "Oh tentu bukan itu yang aku maksud. Ada tempat lain yang lebih indah dari taman ini. Kamu tidak percaya?"
__ADS_1
Denathan menggeleng pelan, dia ragu-ragu untuk mempercayai ucapan suaminya. Tetapi memilih percaya juga tidak ada salahnya, karena bisa saja tempat yang dimaksud suaminya itu nyata adanya.
"Karena kamu belum pernah ke tempat itu. Aku dulu pernah sekali mengunjungi tempat itu. Tempatnya indah sekali," jelas Aditya.
"Oh benarkah?" Denathan bertanya.
Mereka berdua terus melangkah memasuki taman sambil berbincang-bincang.
"Iya, Sayang. Aku tidak bohong dan tidak mengada-ada," jawab Aditya. Lalu laki-laki itu menggandeng tangan Denathan.
Kini mereka sudah berada di halaman utama taman kota. Di tempat ini terdapat banyak pohon dan berbagai jenis bunga yang tertanam rapi di sekitar taman. Apalagi terdapat air mancur mini yang terletak di tengah-tengah area taman. Semakin menambah kesan cantik dan indah. Itu belum seberapa jika dibandingkan dengan keindahan Danau Cinta.
"Mas, tempat yang kamu maksud mana?" Denathan bertanya. Dia penasaran dengan tempat yang dimaksud Aditya.
"Kita akan ke sana sekarang." Aditya menggandeng tangan Denathan, lalu mereka melangkah menjauhi area utama taman itu. Mereka menuju ke sebelah Timur. Yang di mana itu adalah letak Danau Cinta. Letaknya paling ujung dari wilayah taman kota ini.
Rumput yang hijau, pohon-pohon rindang yang menjadi tempat berteduh, dan tanaman bunga yang tumbuh di sekitar danau, semakin menambah kesan indah dan cantik. Denathan sampai terpukau melihatnya. Sama halnya seperti Aditya.
Lalu Aditya mengajak istrinya itu untuk duduk di bangku yang telah disediakan di bawah pohon rindang. Denathan duduk berdekatan dengan suaminya. Kemudian mereka mengobrol.
"Mas, bener kata kamu, danaunya indah banget," kata Denathan sambil terus memandangi danau yang berjarak cukup dekat dari tempatnya sekarang.
"Iya, kamu pasti belum pernah ke sini?" tanya Aditya. Dia kemudian merangkul pundak Denathan dengan tangan kanannya.
Denathan menjawab, "Belum pernah sih, Mas. Baru kali ini aku datang ke sini."
"Nah makanya itu, aku mengajakmu ke sini. Soalnya aku dulu pernah ke sini." Aditya tersenyum lebar menampakkan giginya. Pria itu mengelus-elus rambut Denathan.
"Dulu kapan?" Denathan bertanya.
__ADS_1
Aditya sedikit memiringkan kepalanya, memandang ke arah langit, seolah-olah sedang mengingat. "Hmm, kalau nggak salah pas kita masih SMA."
"Pas kita masih SMA?" beo Denathan sambil memiringkan kepalanya menatap wajah suaminya.
"Iya, aku dulu pernah datang ke sini, kalau nggak salah sama Denok. Hahaha." Aditya sedikit tertawa mengingat dia dulu sempat berpacaran dengan Denok. Cewek gendut yang sekarang sudah jadi mantan pacarnya dan menjadi istri orang lain. Denok menikah dengan orang luar Pulau Jawa, sekarang wanita itu tinggal di Kalimantan.
Denathan terkejut mendengar pengakuan suaminya. "Hah... serius Mas, kamu pernah pacaran sama Denok? Hahah, lucu sekali."
"Iya, Sayang. Dulu itu Denok suka sama aku. Malah dia yang nembak duluan. Karena aku kasihan sama dia, aku terima aja. Kita baru dua minggu pacaran langsung putus. Hahaha, kalau diingat-ingat sih emang lucu banget." Aditya menjelaskan dengan nada humoris.
Denathan tertawa dengan penjelasan Aditya yang lucu. "Hahaha, serius. Baru dua minggu pacaran langsung putus?"
"Iya. Soalnya, jujur aku nggak suka sama Denok. Aku terima cinta dari Denok, ya karena kasihan aja sama dia. Dia nembak aku sampek nangis-nangis," jelas Aditya lalu tertawa pelan.
"Lucu ya Mas, kalau ingat zaman kita sekolah dulu. Banyak banget kenangannya," ungkap Denathan lalu tersenyum.
Angin semilir menerpa wajah Denathan membuat anak-anak rambutnya berterbangan. Udara di danau begitu sejuk.
"Iya. Banyak kenangan yang dulu kita jalani. Sekarang kita dan teman-teman kita yang lain, udah menjalani kehidupannya masing-masing. Kita nggak bisa mengulangi kenangan waktu kita masih sekolah," ungkap Aditya mengingat-ingat masa SMA-nya yang penuh kenangan indah mau pun kenangan buruk.
"Benar, Mas. Sekarang teman-teman kita sudah banyak yang berumah tangga dan mempunyai anak. Mereka nggak bisa kumpul-kumpul kayak dulu lagi." Denathan menambahkan.
Aditya tersenyum, lalu mencium rambut istrinya dari samping. Rambut istrinya tercium sangat wangi. Kemudian Aditya menjauhkan bibirnya dari rambut Denathan.
"Enggak apa-apa, kita nggak bisa kumpul-kumpul kayak dulu lagi. Yang penting sekarang kita harus fokus menjalani kehidupan kita sendiri. Masa depan itu ditentukan dari diri sendiri, bukan?" kata Aditya bijak.
Denathan mengangguk, lalu dia menyenderkan kepalanya di bahu kanan suaminya yang kokoh. "Benar, Mas. Aku beruntung banget punya suami kayak kamu. Perhatian, penyayang, baik, suka bercanda. Pokoknya my best husband, deh."
Aditya tertawa mendengar ucapan sang istri, dia mengusap-usap rambutnya istrinya dengan gemas. "Hahah, kamu bisa aja."
__ADS_1