
"Mas. Aku tadi siang beli barang-barang buat kita honeymoon," ucap Denathan pada suaminya yang tengah berganti celana pendek.
"Oh ya? Barang-barang apa saja?" tanya Aditya yang bertelanjang dada. Lalu pria itu mendekati Denathan.
Sementara Denathan mengambil barang-barang belanjaannya tadi siang, Aditya sudah menunggunya di atas ranjang.
Kemudian Denathan melangkah menuju ranjang sambil membawa barang belanjaannya. Dia menunjukkan itu kepada Aditya.
"Nah ini, Mas, barang belanjaan aku," ucapnya sambil naik ke atas kasur.
"Apa aja?" Aditya bertanya karena penasaran.
Denathan mengeluarkan satu persatu barang belanjaannya dari dalam kantong plastik berwarna hitam.
"Ini ada kaca mata hitam. Satu untuk aku, satunya untuk kamu," ucap Denathan sambil menunjukkan kaca mata hitam itu kepada Aditya. "Nah, kaca mata ini cocok banget kalau dipakai buat ke pantai, Mas." Lanjutnya.
"Terus ada lagi?"
"Ada. Ini topi pantai buat aku, kamu nggak usah ya." Denathan menunjukkan topi pantainya.
"Iya, aku nggak perlu pakai topi topi segala," jawab Aditya. "Terus apa lagi?"
"Nah aku beli baju ini juga!" Denathan mengambil bajunya yang khusus untuk memantai.
"Baju mini?" tanya Aditya sambil mengamati baju itu.
"Iya, Mas. Baju mini buat mantai," jawab Denathan.
Kemudian Denathan mengeluarkan kamera Canon-nya dari dalam kardus. Dia menunjukkan benda itu kepada Aditya. Sempat membuat Aditya kaget karena setahunya kamera itu harganya mahal.
"Itu bukannya kamera mahal?"
__ADS_1
"Nggak terlalu mahal sih, Mas. Cuman empat juta aja," jawab Denathan dengan santainya. "Lagian aku beli kamera ini pakek uang tabunganku sendiri, kok, Mas. Barang-barang yang lain juga belinya pakek uangku sendiri."
Aditya tersenyum. Istrinya itu memang suka menabung setiap kali Aditya memberinya uang bulanan. Sebagian dari uang bulanannya, Denathan tabung di kartu kreditnya, sebagian lagi untuk kebutuhan sehari-hari selama satu bulan. Gaji dari suaminya yang besar lebih dari cukup untuk itu semua.
"Iya, aku tau kamu memang suka menabung," kata Aditya.
"Iya Mas, biar kalau butuh uang mendadak kita nggak bingung. Kan, ada, uang tabungan," jawab Denathan pandai.
"Kamu memang istri yang cerdas." Aditya memuji istrinya.
"Makasih, Mas." Denathan bahagia dipuji oleh suaminya.
"Oh ya, berapa total semua belanjaan kamu?" Aditya ingin tahu soal itu.
Sejenak Denathan berpikir. Jika diperhitungkan, total harga semua belanjaannya mungkin bisa sampai lima juta lebih. Termasuk harga kamera.
"Lima juta lebih sih, Mas. Itu pun sama harga kamera," jawab Denathan.
Denathan tersenyum tipis, menjawab dengan semangat. "Ya jadi dong, Mas. Aku udah ada rekomendasi tempat yang cocok untuk honeymoon kita nanti. Tadi pagi aku cari rekomendasi sama referensi di google sih, Mas. Cukup membantu lah buat kita yang belum pernah ke Bali."
"Wah bakal seru pasti." Aditya ikut semangat seperti istrinya.
"Oh jelas dong, Mas. Aku jamin rekomendasi tempat dari Google, nggak bakal mengecewakan," jawab Denathan menggebu. Lalu dia bertanya kepada suaminya. "Tapi kapan, Mas, kita pergi bulan madu?"
"Secepatnya kalau bisa. Aku sudah dapat izin cuti kerja dari Natan," ucap Aditya lalu tersenyum.
"Dapat cuti berapa Minggu, Mas?"
"Ya semingguan lah kira-kira."
"Kok cutinya sedikit, Mas? Dua minggu gitu, nggak bisa? Kalau satu Minggu waktunya terlalu pendek buat kita bulan madu, Mas. Nggak cukup kalau cuman satu minggu." Denathan memprotes cuti kerja suaminya yang hanya satu minggu. Sedangkan satu minggu, baginya tidak cukup untuk menikmati bulan madu di Bali. Apalagi banyak tempat yang Denathan ingin kunjungi.
__ADS_1
Aditya menyentuh jemari tangan Denathan. Dia menjawab dengan tenang, "Nggak bisa, Sayang. Soalnya satu minggu lagi, aku dan Natan ada kepentingan di luar kota. Makanya aku dapat cuti hanya satu minggu."
Denathan sedikit kecewa dengan jawaban suaminya. Lagipula dirinya juga ingin lebih lama menikmati bulan madunya. "Ya tapi, kan, Mas. Kita harus mengunjungi banyak tempat di Bali. Sedangkan satu minggu itu nggak cukup."
Aditya tetap sabar menghadapi sikap Denathan. Laki-laki itu tahu, istrinya menginginkan yang terbaik untuk bulan madu mereka nanti. Tetapi Aditya tidak bisa. Ada pekerjaan yang harus ia utamakan. Mungkin Aditya terdengar egois, tapi percayalah ia berkerja juga untuk mencukupi kebutuhan istrinya. Apalagi ia juga menginginkan kehadiran seorang anak dan pasti butuh biaya yang lebih besar.
"Sayang, dengar. Satu minggu itu sudah cukup untuk kita pergi bulan madu. Nggak perlu mengunjungi banyak tempat. Kita bisa mengunjungi tempat yang paling bagus di sana, jadi kita nggak akan kecewa, walaupun bulan madunya hanya sebentar. Paham, kan, maksudku?" Aditya menasihati istrinya dengan kata-kata yang lembut.
Denathan sedikit mengangguk. Dia berubah pikiran dan memahami nasihat suaminya. Secara umum, bulan madu tidak harus berlangsung lama. Satu hari pun tidak masalah selama itu tidak mengecewakan dan membuat pasangan suami-istri yang berbulan madu menjadi puas.
"Iya deh, Mas. Enggak apa-apa cuman satu minggu. Yang penting kita nanti bisa puas menikmati bulan madu," jawab Denathan lalu tersenyum. Wanita itu kemudian kembali memasukkan barang-barang belanjaannya ke kantong plastik. Sementara kamera dibiarkan ada di atas kasur.
"Nah betul itu." Aditya menjentikkan jarinya kemudian menarik kedua sudut bibirnya sampai sedikit terlihat giginya yang rapi.
"Jadi besok kita beli tiketnya buat ke Bali?" Denathan bertanya.
"Bukan sekarang, Sayang. Aku cutinya Minggu depan. Kalau sekarang ya nanggung, kan."
"Lah, ternyata cuti kamu masih Minggu depan? Terus minggu depannya lagi kamu harus keluar kota sama Natan?" Denathan memborong pertanyaan. Dia agak terkejut dengan ucapan suaminya. Denathan pikir tadi cuti suaminya tepat pada minggu ini, ternyata masih minggu depan.
Aditya sedikit tertawa melihat tingkah Denathan. "Hahah. Iya, Sayang, aku cutinya masih minggu depan. Kalau aku cuti sekarang, ya nanggung dong. Sekarang aja udah hari Rabu."
Denathan mengangguk. Merasa menyetujui ucapan Aditya yang ada benarnya. "Iya sih, Mas, bener. Ya udah, berarti hari Sabtu kita harus cari tiket pesawat."
"Iya. Kita cari tiket pesawat hari Sabtu, hari Minggu kita berangkat ke Bali," jelas Aditya.
Denathan tersenyum lebar, lalu dia dengan cepat memeluk tubuh suaminya masih dalam posisi duduk. Dia menenggelamkan wajahnya di dada suaminya sambil berkata, "Makasih, Mas. Kamu mau ajak aku bulan madu."
Aditya balas memeluk Denathan. Dia mengusap-usap rambut istrinya sambil tersenyum tipis, lalu berkata, "Iya, sama-sama sayang. Sudah sepantasnya aku membahagiakan kamu."
Denathan lalu melepas pelukannya, menatap wajah suaminya sambil tersenyum.
__ADS_1