
Aditya menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di rumah makan yang terkenal di Jakarta Timur. Rumah makan itu tempatnya strategis sehingga banyak orang yang mudah menemukan restoran itu lalu mengunjunginya. Tadi sejujurnya Aditya bingung akan membawa istrinya ke rumah makan mana, kemudian Aditya mencari rekomendasi rumah makan di Jakarta Timur. Akhirnya inilah yang menjadi tujuannya, di rumah makan Ibu Wiwik.
Denathan dan Aditya masuk ke restoran, lalu memilih tempat duduk di dekat jendela.
Seorang pelayan datang menemui mereka lalu memberikan buku menu kepada Denathan. "Mbak, Mas, silahkan."
Denathan menerimanya lalu membuka buku menu itu, dia memilih-milih menu yang semuanya tampak menggiurkan. "Mas, kamu mau apa?"
Aditya sedikit menarik buku menu dari tangan istrinya agar dia bisa melihat lebih jelas. Lalu Aditya ikut memilih menu. Denathan membuka ke halaman selanjutnya, dan ada salah satu menu makanan yang menarik perhatiannya, yaitu rawon daging sapi. Kebetulan wanita itu ingin makan sayur tradisional itu.
"Mas, aku rawon aja ya. Kamu mau apa?" ucap Denathan sambil menunjuk ke menu makanan itu.
Aditya melirik gambar sayur rawon yang ditunjuk Denathan. Dia memerhatikan makanan itu. Sesaat kemudian, akhirnya ia tertarik untuk mencobanya. "Boleh deh, aku juga rawon saja."
"Minumannya?" Denathan bertanya.
"Terserah kamu, aku nurut," jawab Aditya. Dia tidak masalah kalau menyangkut tentang minuman. Apa pun minumannya, dia tetap akan meminumnya. Karena Aditya bukan orang yang suka memilih-milih minuman, kecuali makanan.
Denathan berlanjut memilih menu minuman pada halaman berikutnya. Di sini Denathan cukup bingung karena terlalu banyak pilihan minuman yang segar dan enak-enak, membuatnya kesulitan untuk mencari minuman yang cocok. Aditya sekilas melirik salah satu gambar minuman yang bertuliskan es mangga susu. Minuman mangga yang dicampur susu serta jeli.
"Ini aja, es mangga susu. Aku pernah coba, rasanya enak banget," kata Aditya sambil menunjuk minuman itu.
"Mangga campur susu, kayaknya enak. Ya udah ini aja." Kemudian Denathan memberikan buku menu kepada pelayan yang berdiri di samping meja.
"Mbak, jadinya mau pesan apa?" tanya waiters itu.
"Rawon daging sapi dua porsi, sama es mangga susu dua porsi juga ya," jawab Denathan sembari tersenyum.
"Baik, Mbak. Ditunggu sebentar, permisi." Setelah itu si pelayan beranjak dari tempatnya, menuju ke belakang untuk menyerahkan catatan menu pesanan kepada koki yang bertugas di dapur.
Sembari menunggu pesanan datang, Denathan dan Aditya memutuskan untuk mengobrol.
__ADS_1
"Oh ya, Mas. Sebelumnya Mas pernah datang ke sini?" Denathan hanya iseng-iseng bertanya.
Aditya mengerutkan keningnya, dia menjawab, "Pernah ke sini gimana, orang baru kali ini."
"Ya siapa tahu pernah ke sini, kan," jawab Denathan.
"Ngomong-ngomong rumah makan ini lumayan bagus juga ya," kata Aditya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Banyak pembeli yang keluar masuk restoran, seakan tidak ada hentinya. Lalu di bagian dalam ruangan restoran yang begitu luas juga banyak pembeli yang sedang menikmati makanannya masing-masing. Ada yang mengobrol, bercanda, makan dengan tenang, dan aktivitas lain selama itu masih wajar.
"Iya, Mas. Pantesan dari tadi banyak pembeli. Tapi di sini aman, kok, Mas. Nggak pakek penglaris," kata Denathan yang tadi sempat menerawang rumah makan ini. Kemampuan supernaturalnya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Tetapi sekarang Denathan tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk gaib, dia ingin menikmati kehidupannya bersama suaminya dengan tenang. Sudah cukup masa-masa remajanya lebih banyak ia gunakan untuk berurusan dengan yang tak kasat mata. Berurusan dengan hal yang seperti itu dapat membawa masalah besar dalam kehidupannya.
"Ya sudah, kalau kamu nanti ngeliat yang aneh-aneh, kamu bilang sama aku. Kita pergi dari sini," ujar Aditya.
"Nggak kok, Mas. Di sini aman." Denathan mengedarkan pandangannya lalu kembali menatap wajah suaminya.
Mereka berdua melanjutkan mengobrol. Sampai akhirnya dua orang pelayan yang mengantarkan makanan dan minuman ke meja mereka, sesuai dengan yang mereka pesan. Dua pelayan itu meletakkan makanan dan minuman ke atas meja dengan hati-hati.
"Silahkan, Mbak, Mas," ucap salah satu pelayan yang menyiapkan makanan. Sementara waiters yang menyiapkan minuman hanya diam.
"Permisi." Dua pelayan itu kemudian pergi ke belakang.
"Mas, ayo makan." Denathan menggeser piring nasi dan mangkok berisi sayur rawon ke arah suaminya. Lalu menggeser minuman.
"Iya," jawab Aditya.
Sebelum makan, mereka membaca doa makan terlebih dahulu. Lalu mereka mulai memakan makanan yang sudah tersedia. Selama makan mereka tidak ada mengobrol dan lebih menikmati makanan masing-masing. Adab makan yang benar seharusnya memang seperti itu. Diam dan bersikap tenang.
Tak lama kemudian, ada seorang pria berbadan tinggi yang memasuki restoran. Pria itu memandang Denathan dan Aditya yang sedang makan. Sepertinya pria itu mengenali Denathan dan Aditya.
"Itu bukannya Denathan sama Adit. Coba aku samperin mereka," monolog pria itu dengan suara pelan.
Lalu pria tersebut melangkah mendekati Denathan dan Aditya. Sesampainya di sana, pria itu menyapa, "Selamat siang."
__ADS_1
Refleks Aditya dan Denathan mendongak menatap pria yang berdiri di depannya.
"Robert?" ucap Denathan cukup kaget melihat keberadaan Robert. Sedangkan Aditya tetap diam, ia tidak memberi reaksi terkejut atau bingung.
"Iya, gue Robert. Lo Denathan, kan?" Robert kemudian duduk di kursi, berhadapan dengan Denathan.
Denathan hanya mengangguk. Dia meletakkan sendoknya ke atas piring. Saat berbicara dengan orang lain, lebih baik menghentikan aktivitas makannya.
"Iya, gue Denathan. Kenapa?" Denathan menjawab dengan nada sarat akan ketidaksukaan. Meski Robert adalah mantan musuhnya.
"Enggak kenapa-napa, tadi gue nggak sengaja lihat lo sama Aditya," jawab Robert yang bersikap tenang. "Udah lama ya kita nggak pernah ketemu."
Denathan memutar kedua bola matanya. "Kalau kita nggak pernah ketemu, terus kenapa?"
Robert mengangkat bahunya, dia menjawab, "Ya nggak apa-apa sih, kali aja lo kangen sama gue."
Denathan merespons ucapan Robert dengan ekspresi ingin muntah yang dibuat-buat. Sungguh, Robert adalah mantan musuhnya yang menyebalkan.
"Jaga omongannya. Dia istri gue," sahut Aditya. Ia harus menjaga istrinya dari pria itu.
Mendengar hal itu, Robert tentunya terkejut. Karena selama ini Robert sama sekali tidak mendengar kabar bahwa Aditya dan Denathan sudah menikah. Sudah pasti karena saat Denathan dan Aditya menikah, Robert tidak diundang ke acara pernikahan mereka.
"Lah, lo sama Denathan udah nikah?" tanya Robert masih dengan ekspresi terkejut yang sama.
"Udah, gue sama Denathan baru nikah, lima hari yang lalu," jawab Aditya santai.
"Waduh, waduh, waduh..." Robert menggeleng-gelengkan kepalanya sampai tiga kali, kemudian dia berbicara lagi, "Ada yang nikah tapi gue nggak diundang."
"Maaf, gue nggak kepikiran sama lo," jawab Denathan.
"Yeee, gimana sih, sama teman sendiri kok lupa," ejek Robert dengan nada candaan.
__ADS_1
"Gue bukan temen lo ya. Gue sama lo itu cuman mantan musuh."