Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
MOMEN


__ADS_3

❦︎❦︎❦︎


Natan menghentikan motornya di depan rumah Denathan. Mereka habis dari tongkrongan. Sudah puas bercengkrama dan bermain bersama teman-temannya, Natan dan Denathan pun memutuskan untuk pulang. Mereka berdua pulang pada jam sebelas malam. Tidak masalah, karena besok hari Minggu, jadi mereka libur sekolah.


Denathan turun dari jok belakang sepeda motor dengan hati-hati, sebab jok motor itu cukup tinggi.


"Oh ya Den. Besok lo ikut gue ke rumah Nyokap gue," kata Natan.


"Ngapain gue ikut ke sana? Ya, lo ke sana sendiri lah," jawab Denathan.


"Udah deh, pokoknya lo harus ikut. Sekalian besok, gue ajak lo ke GYM." Natan tetap kukuh ingin mengajak Denathan. Kemudian cowok ganteng itu berkata lagi, "Lo udah lama kan, nggak ke rumah Nyokap gue?"


Denathan ingat terakhir kali dia berkunjung ke rumah mamanya Natan, dua bulan yang lalu. "Iya, udah lama sih."


"Nah makanya itu, gue besok ajak lo ke sana. Gue bakal ajak lo ke GYM juga," jawab Natan.


"Ngapain ngajak gue ke GYM?" Denathan bingung.


"Lo besok, nemenin gue olahraga. Lo bisa ikut olahraga juga di sana. Biar badan lo sehat," kata Natan.


"Badan gue udah sehat," jawab Denathan.


"Biar lebih sehat. Udah, pokoknya lo besok harus ikut gue. Kalau lo nggak ikut, kita putus."


Denathan tertawa mendengar Natan mengatakan 'kita putus'. "Hahah, kita putus. Emang kita pacaran?"


"Hahaha, bercanda gue," jawab Natan, "Tapi kalau kita pacaran juga nggak apa-apa." Lanjutnya dengan suara lirih seperti bergumam.


Denathan kurang jelas mendengar ucapan Natan. "Hah? lo bilang apa?"


Natan geleng-geleng kepala. "Enggak. Nggak bilang apa-apa. Udah ya, gue pulang dulu."


Kemudian Natan kembali menyalakan mesin sepeda motornya. Dia bersiap akan menjalankan motornya. Sebelum itu ia pamit dulu kepada Denathan. Setelah pamit, Natan pun melajukan motornya, keluar dari halaman rumah Denathan.


Saat Natan sudah ada di jalan, Denathan berteriak keras, "Hati-hati, Nat!"


"IYAA!" balas Natan. Setelahnya ia melajukan sepeda motornya lebih kencang, menembus dinginnya udara malam. Cowok itu memakai jaket tebal, sehingga tidak akan kedinginan.


"Mah, Denathan pulang." Denathan berbicara sembari mengetuk-ngetuk pintu rumahnya yang tertutup rapat.


Tidak lama menunggu, pintu rumah pun terbuka, menampakkan sosok Desi yang berdiri di ambang pintu. Denathan sedikit mendongak menatap wajah mamanya.


"Baru pulang?" tanya Desi. Meski tahu anaknya pulang malam, tapi Desi tidak marah.


"Iya, Ma. Aku pulang diantar Natan," kata Denathan.

__ADS_1


"Oh syukurlah kalau diantar Natan. Ya sudah, ayo masuk," kata Desi begitu lega.


"Iya, Ma."


Kemudian dua wanita yang terpaut usia sangat jauh itu sama-sama masuk ke dalam rumah. Sebelumnya, Denathan sudah melepas sepatunya sebelum memasuki rumah.


"Ma, Ayah di mana? Biasanya Ayah nonton tivi," kata Denathan ketika menyadari ayahnya tidak ada di ruang keluarga. Sedangkan televisi menyala.


"Ayahmu udah tidur. Katanya udah ngantuk banget. Jadinya Mama deh yang nonton tivi," jawab Desi sembari melangkah mendekati meja kecil di dekat televisi. Dia mengambil remote, kemudian mematikan televisi itu.


"Karena sekarang kamu udah pulang, Mama mau tidur. Mama udah ngantuk," kata Desi sambil menutupi mulutnya yang menguap dengan tangan kanan.


"Iya, Ma. Mama tidur aja dulu. Aku nanti saja. Belum ngantuk soalnya," ucap Denathan yang kemudian duduk di sofa.


"Oh kamu belum ngantuk?"


"Belum sih."


"Ya udah, Mama tidur dulu. Nanti sebelum tidur, jangan lupa kamu matiin semua lampunya, kecuali lampu dapur sama lampu kamar mandi," ujar Desi.


"Iya, Ma. Tenang saja," jawab Denathan.


Setelah itu, Desi pun melangkah ke ruang sebelah, yang di mana itu adalah kamarnya serta kamar suaminya.


❦︎❦︎❦︎


Natan pulang ke rumah mama tirinya--Anissa. Dia tidak pulang ke rumah mama kandungnya--Narulita-- karena jaraknya yang jauh. Akan menghabiskan waktu sampai satu jam untuk sampai di rumah Narulita. Sedangkan untuk sampai di rumah Anissa, hanya butuh waktu sepuluh menit.


Sekarang cowok itu sudah sampai di rumah mama tirinya. Seorang satpam penjaga pintu, membukakan gerbang untuk Natan. Setelahnya Natan kembali melajukan motornya ke halaman rumah itu. Dan satpam pun kembali menutup pintu gerbang.


Natan memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah. Setelah itu dia langsung turun dari motor, tidak lupa melepas helmnya. Kemudian dia berjalan mendekati rumah di depannya.


Ketika Natan akan mengetuk pintu, mendadak Anastasya membuka pintu membuat Natan sedikit terkejut.


"Baru pulang, Kak?" tanya Tasya sambil mendongak, menatap wajah Natan.


"Iya, baru pulang. Kamu jam segini belum tidur?" Natan menjawab sekaligus bertanya.


"Belum, Kak. Aku belum ngantuk sih," jawab Tasya.


Kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah dan melakukan aktivitas masing-masing. Natan yang beranjak akan tidur di kamarnya yang terletak di lantai dua, bersebelahan dengan kamar Tasya. Dan Tasya tetap memilih untuk menonton film horor bersama Sultan--papanya.


❦︎❦︎❦︎


Esok harinya, pada jam tujuh pagi Natan sudah menjemput Denathan. Cowok itu memakai kaos putih serta kemeja hitam yang sengaja tidak dikancingkan, dan memakai celana panjang. Tak lupa sepatu putih sebagai pelengkapnya. Penampilan Natan tampak bagus didukung dengan wajahnya yang tampan.

__ADS_1


Sama halnya seperti Denathan yang juga memakai kemeja. Kemejanya warna merah bermotif kotak-kotak dipadukan dengan celana panjang warna abu-abu. Membuat aura ketomboian-nya makin terlihat, meski begitu wajah Denathan tetap terlihat manis.


"Udah siap?" tanya Natan ketika melihat Denathan keluar rumah.


"Udah dong," jawab Denathan.


Cewek itu naik ke boncengan motor Natan. Setelah Denathan memposisikan duduknya dengan nyaman, Natan melajukan motornya. Natan menyetir motornya dengan hati-hati karena pagi ini jalan raya cukup padat kendaraan.


Membutuhkan waktu perjalan selama satu jam, Natan akhirnya sampai di rumah ibu kandungnya. Ya, Narulita. Tidak hanya Natan yang datang ke rumah Narulita, tapi juga papanya, ibu tirinya, dan adiknya. Karena mereka sudah sepakat ingin mengunjungi rumah Narulita.


"Eh, Denathan ikut ke sini juga?" tanya Narulita saat melihat Denathan.


Denathan menyalami tangan Narulita, kemudian berbicara, "Iya Tante, Natan yang ngajak aku ke sini."


Narulita tertawa pelan sambil berucap, "Hahah, oh begitu."


Denathan hanya tersenyum menanggapi ucapan Narulita. Kemudian Denathan beralih melihat Sultan yang duduk di sofa. Pria itu sedang minum kopi.


"Om Sultan," ucap Denathan sambil menyalami tangan Sultan.


"Ada Denathan juga toh. Siapa yang ngajak kamu?" ujar Sultan.


Denathan melirik Natan yang sedang mengobrol dengan Devano, kemudian menjawab, "Biasa, Om. Si Natan itu."


"Bagus deh. Kamu jangan sungkan-sungkan datang ke sini," jawab Sultan.


"Iya, Om. Lagipula saya udah dua minggu nggak ke sini," jawab Denathan.


"Tante Anissa kemana Om? Nggak ikut ke sini ya?" Denathan bertanya ketika menyadari tidak ada Anissa.


Denathan sudah mengetahui bahwa Anissa adalah istri kedua Sultan dan ibu kandungnya Anastasya.


"Oh Tante Anissa lagi di dapur, mau bikin minuman katanya." Sultan menjawab sembari menunjuk ke arah belakang.


Jangan heran, Denathan memang sudah akrab dengan keluarga Sultan, karena kedua orang tua Denathan juga berteman baik dengan orang tua Natan. Orang tua Denathan dan orang tua Natan sudah seperti saudara.


Ngomong-ngomong soal rumah Narulita. Rumah Narulita yang sekarang sangat jauh berbeda dengan yang dulu. Jika dulu rumah itu masih sangat sederhana. Sekarang rumah itu bertingkat, memiliki dua lantai. Sultan yang memutuskan untuk merenovasi rumah istri pertamanya itu agar lebih layak dihuni.


Denathan terus bercengkrama dengan kedua orang tua Natan. Mereka seolah tidak kehabisan topik pembicaraan. Satu topik habis, ada topik baru lagi, begitu seterusnya.  Sampai Natan mengajak Denathan pergi ke GYM. Pembicaraan mereka pun terhenti.


"Den, ayo ke GYM. Kemarin malam, gue udah bilang sama lo, kan, kalau hari ini gue mau ngajak lo ke GYM?"


❦︎❦︎❦︎


𝑻𝒐 𝑩𝒆 𝑪𝒐𝒏𝒕𝒊𝒏𝒖𝒆...

__ADS_1


__ADS_2