
Pagi ini Natan tidak masuk sekolah karena badannya panas. Itu semua karena kejadian semalam yang membuat Natan harus menyaksikan pertarungan yang di luar nalar pemikirannya. Cowok itu juga masih trauma. Terlebih saat mengingat sosok hantu berwujud nenek-nenek tua yang menampakkan diri di dekatnya.
Denathan ikut-ikutan tidak masuk sekolah. Sebetulnya dia juga merasa tidak enak badan tapi tidak panas. Mungkin Denathan sedang meriang alias merindukan kasih sayang--eh enggak deh, bercanda.
Kemarin malam Denathan sudah menjelaskan semua kronologi kejadian yang menimpanya juga Natan kepada Sultan--papanya Natan. Setelah Denathan menceritakan dengan gamblang, Sultan tidak memarahi mereka, hanya memberi nasihat agar mereka tidak lagi keluar malam-malam dan menyebabkan celaka seperti itu. Untuk masalah mobil Natan yang tergores dan penyok di beberapa bagian, Sultan tidak ambil pusing, dia membawa mobil Natan ke bengkel keesokan harinya.
"Den, lo kenapa nggak sekolah? Lo, kan, nggak kenapa-napa." Natan bertanya kepada Denathan yang duduk di meja belajarnya. Saat ini cowok itu sedang tiduran di ranjang.
"Gue nggak enak badan sama kayak lo, tapi gue nggak panas," balas Denathan.
"Ini semua gara-gara begal tadi malam. Seandainya kita nggak keluar. Tapi mau gimana lagi, sudah terlanjur." Natan bergidik ngeri membayangkan betapa ganasnya begal-begal itu saat bertindak akan menyerangnya.
"Penyebabnya bukan begal-begal itu, tapi kita yang nggak mikir langsung kabur aja." Denathan beralih posisi duduk. Kali ini dia duduk di kursi yang dekat dengan ranjang milik Natan.
Ada dua ranjang di kamar Natan, sehingga tadi malam Denathan dan Natan bisa tidur di kasurnya masing-masing. Sebenarnya ranjang yang dipakai Denathan untuk tidur adalah ranjang milik Devano yang sudah lama tidak ditempati.
Natan tidak paham dengan ucapan Denathan, "Maksud lo langsung kabur gimana? Lo kan tau, tadi malam kita mau kabur tapi ada dua begal yang menghadang kita di depan mobil."
Denathan pun menjelaskan panjang lebar, "Bukan pas itu. Tapi pas begalnya masih satu orang, dan kita belum turun dari mobil. Nah seharusnya lo langsung tancap gas, gak peduli lo nabrak begal itu, yang penting kita selamat. Tapi lo malah ketakutan. Gue juga mikirnya, kita keluar mobil terus lawan begal itu sampai pingsan, terus kita bisa kabur. Eh nggak taunya malah berujung pertarungan. Tau gitu gue bakal nyuruh lo langsung kabur."
Natan mencoba mencerna kata-kata Denathan yang kurang dapat dipahami. Beberapa saat kemudian Natan pun paham. "Oh gitu. Iya juga ya, harusnya gue langsung tancap gas. Tapi nggak apa-apa deh, orang udah terlanjur juga, kan."
"Iya. Tapi nggak papa, yang penting kita nggak mati," ucap Denathan blak-blakan.
"Astaghfirullah, jaga mulutnya!" Natan menyahut.
Tidak lama kemudian terdengar ketukan pintu kamar. Suara seorang perempuan membuat Denathan dan Natan menoleh ke sumber suara yang berasal dari balik pintu.
"Den Natan ada di kamar? Ini Mbak bawain Den Natan makanan. Den Natan harus makan biar sembuh," ucap Mbak Tina, asisten rumah tangga yang terbilang masih cukup muda. Usianya kira-kira empat puluh tahun.
"Iya Mbak." Denathan yang menyahut sambil berjalan mendekati pintu lalu membuka pintu itu.
"Eh ada Non Denathan, dari semalam belum pulang ya, Non?" tanya Mbak Tina lalu masuk ke kamar.
Denathan tersenyum sambil mengangguk, "Belum sih Mbak. Nanti aja aku pulangnya."
Mbak Tina meletakkan nampan itu di samping meja dekat ranjang yang ditempati Natan.
__ADS_1
"Den, nanti obatnya jangan lupa diminum ya. Kasihan atuh kalau sakit terus," ucap Mbak Tina kepada Natan.
Natan tersenyum dan mengangguk, "Iya Mbak. Bakal saya minum kok."
"Nah gitu, Den Natan cakep pisan kalau senyum."
"Hehe, makasih, Mbak." Natan sedikit salah tingkah dipuji oleh Mbak Tina.
"Wah kayaknya Den Natan sama Non Denathan bakal ada tanda-tanda mau dijodohin nih, hehehe." Mbak Tina mencoba untuk bergurau.
Seketika Denathan dan Natan terkejut mendengarnya. Keduanya menyahut hampir bersamaan, "Enggak Mbak. Orang kita cuman sahabatan!"
Hal tersebut membuat Mbak Tina tertawa. Bagaimana tak tertawa, dua anak remaja itu saja kompak menjawab ucapannya. "Hahaha, nah kan bener. Kalian jodoh. Jawabnya aja barengan."
"Mbak jangan bikin salting deh," ucap Denathan berlogat seperti cewek saat sedang salah tingkah.
Sementara Natan hanya diam menatap tingkah Denathan. Lalu geleng-geleng kepala.
"Nggak apa-apa atuh. Ya udah, Mbak mau ke dapur dulu, mau masak buat Tuan Sultan." Kemudian Mbak Tina melangkah keluar kamar.
"Iya, Mbak." Denathan mengangguk singkat.
Denathan menyahut, "Iya Mbak. Nanti aku makan di rumah aja!"
Setelah itu tidak terdengar suara Mbak Tina lagi. Perempuan itu sudah turun ke lantai dua.
"Oh ya, menurut lo Thalita bakal nyariin gue nggak ya," ucap Denathan sambil mengecek hapenya. Siapa tahu ada pesan masuk dari Thalita. "Tumben nggak nyariin gue." Lanjutnya saat melihat tidak ada notifikasi pesan masuk satu pun.
Natan saat ini sedang makan. Dia menyahut ucapan Denathan, "Mungkin masih jam pelajaran, sebentar lagi juga bakal ditelpon."
Tak lama setelah Natan berucap, terdengar suara dering telepon milik Denathan.
"Eh iya, ada yang nelpon tapi bukan Thalita." Denathan melihat nama si penelpon adalah Denok.
Denathan cepat-cepat mengangkat teleponnya. Lalu suara Denok yang cempreng terdengar dari ujung telepon.
"Halo bestie!"
__ADS_1
"Iya, halo juga." Denathan membalas dengan suara lembut.
"Kok lo nggak masuk, kenapa? Katanya Natan juga nggak masuk. Thalita nyariin lo. Dia mau telpon lo tapi nggak punya kuota, ya udah akhirnya gue yang telpon lo." Denok menjelaskan.
"Maafin gue ya. Gue nggak masuk, soalnya kurang enak badan. Semalam gue nggak bisa tidur. Thalita mana sekarang?"
"Sebentar. Thalita, Denathan nyariin lo nih!"
Terdengar di ujung telepon, suara Thalita sangat senang saat Denok mengatakan Denathan sedang mencarinya.
"DENATHAN!!" Thalita berteriak memanggil Denathan.
"Iya, santai aja kali," balas Denathan.
"Kenapa lo nggak masuk, Den? Lo sakit ya?" Nada bicara Thalita berubah lembut.
"Iya, gue kurang enak badan. Gue semalam gak bisa tidur, suer deh. Sekarang gue ngantuk banget..."
"Oh pantesan. Pasti lo keluar sama Natan terus pulang malam-malam? Katanya lo pergi ke mall sama Natan?"
Denathan menjawab dengan sikap tenang, "Iya bener. Masalahnya itu, habis gue pulang dari mall. Gue nggak bisa tidur, terus gue begadang sampai jam tiga pagi."
Denathan sengaja tidak menceritakan kejadian menegangkan yang dialaminya tadi malam bersama Natan. Takutnya Thalita tidak mempercayai ucapannya, yang ada malah dia diejek tukang ngayal.
"Natan juga nggak masuk ya?"
"Kok lo tahu?" Denathan sedikit bingung, karena Thalita mengetahui Natan tidak masuk sekolah. Padahal Natan tidak satu kelas dengannya.
"Gue tahu dari Erik sama Aditya. Mereka nyari Natan juga."
Denathan mengangguk-angguk. "Oooh gittuu."
"Terus hapenya Natan nggak aktif. Dari tadi Erik udah nelpon Natan tapi nggak diangkat-angkat. Emang Natan kemana sih?" Thalita bertanya.
Denathan malah menjawab dengan kata-kata yang viral di tik tok. "Kamu nanya, kamu bertanya-tanya?"
Seketika membuat Natan memalingkan wajahnya ke arah Denathan. Dan tertawa tapi tertahan karena dia sedang mengunyah makanan.
__ADS_1
Tak lama, disusul teriakan menggelegar dari Thalita.
"DENATHAN!! Gue serius!!"