Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
LAGI - LAGI


__ADS_3

Natan menjemput Denathan seperti biasanya. Ada yang berbeda dari Natan. Yang biasanya cowok itu sangat bahagia ketika menjemput Denathan, tapi pagi ini raut wajah cowok itu seperti murung, seperti tidak mempunyai semangat hidup. Tentu Denathan tidak perlu bertanya lagi apa penyebab Natan seperti itu. Jelas karena penolakannya tadi malam.


"Ayo berangkat," ujar Denathan dengan suara pelan setelah dia menaiki motor Natan.


Natan tidak memberi respons apa pun, lalu dia menjalankan motornya. Denathan menunduk karena merasa bersalah kepada Natan. Tetapi mau bagaimana lagi, pernyataan yang Natan katakan tadi malam benar-benar tidak bisa dia terima. Sesuatu yang sangat sulit untuk diterimanya.


"Natan, maaf kalau gue bikin lo sakit hati," kata Denathan sangat pelan, hanya dia yang bisa mendengarnya.


Selama di perjalanan menuju ke sekolah, Natan menjalankan motornya dengan kecepatan rendah. Dia ingin berbicara dengan Denathan tentang tadi malam setidaknya untuk sekali lagi.


"Denathan, lo masih mikirin pernyataan gue tadi malam?" tanya Natan seraya melirik Denathan dari kaca spionnya. Cewek itu terus menunduk sehingga menimbulkan pertanyaan di benak Natan.


Denathan sedikit kaget lalu dia mendongak. "Enggak, gue nggak mikirin itu. Gue ngantuk." Dia hanya beralasan, faktanya memang benar seperti yang diucapkan Natan.


"Nggak usah bohong, lo nggak mungkin ngantuk sepagi ini. Gue tau, lo masih mikirin itu, kan? Iya, gue juga. Gue akan tetap menunggu kepastian dari lo. Gue bener-bener cinta sama lo, Den." Setelah mengatakan itu, Natan menambah kecepatan motornya begitu tinggi hingga menyalip kendaraan roda empat yang padahal sudah berjalan cepat di depannya. Cowok itu kecewa dengan penolakan Denathan tadi malam.


Denathan mengurungkan niatnya untuk membalas ucapan Natan. Dia tau Natan sedang tidak baik-baik saja. Dia dengan erat memegangi kedua pundak Natan yang kokoh.


Sesampainya di sekolah, Denathan meminta Natan untuk menurunkannya di depan gerbang, dia tidak mau ikut sampai ke parkiran.


"Turunin gue di sini," katanya.


Natan menurut dan menghentikan motornya di depan gerbang. Setelah Denathan turun, cowok itu kembali menjalankan motornya menuju ke area parkir tanpa mengatakan apa-apa.


Denathan berjalan dengan tampang lesu menuju ke koridor. Hal itu menarik perhatian para siswa yang berpapasan dengan Denathan dan menyadari ada yang berbeda dari Denathan. Biasanya Denathan selalu energik dan ceria, tapi kali ini seperti tidak bersemangat.


"Denathan kenapa tuh?"


"Denathan, kok jadi murung gitu sih?"


"Namanya juga manusia, kan, pasti ada aja masalahnya."


"Gue jadi curiga sama Denathan."


Begitulah bisik-bisik para tetangga, tapi Denathan tidak memedulikan itu semua. Mereka tidak akan pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


Denathan sampai di depan kelas. Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah, kelasnya kosong dan belum ada satu pun siswa yang datang. Dia melihat jam di dinding kelas. Benar saja teman-temannya belum pada datang, sekarang saja masih jam enam lebih lima menit. Dia terlalu pagi datang ke sekolah.


"Pagi banget. Tumben gue datang jam segini. Natan jemput gue kepagian sih," ujar Denathan lalu melangkah masuk kelas. Dia menaruh tasnya di meja.


Suasana hening yang menemani Denathan saat ini. Di luar kelas juga sepi. Tidak ada suara, tidak ada aktivitas, atau paling tidak ada satu anak yang lewat di depan kelasnya. Yang ada malah sosok hantu perempuan yang sekarang ada di pojok kelas, seakan hantu itu menemani Denathan.


Denathan tidak memedulikan hantu itu. Hantu yang setiap hari dia lihat di kelasnya. Tempatnya memang di pojok kelas dan tidak akan pindah ke mana-mana. Menurut yang Denathan lihat, hantu itu adalah siswi yang bunuh diri di sekolah pada tahun 1980 lalu menetap di kelas itu.


"Aku tetap nggak peduli sama kamu ya! Kamu jangan ganggu aku lagi. Aku nggak bisa bantu kamu, karena kamu udah mati dari tahun 1980 dan aku nggak tau siapa orang yang kamu maksud. Kenapa kamu nggak balas dendam sendiri sama orang yang udah bikin kamu depresi?" ujar Denathan saat hantu siswi itu menghampirinya. Ya, hantu itu sangat pemaksa. Sejak pertama kali Denathan masuk ke kelas 11 IPA 2 itu, hantu itu terus-menerus meminta bantuan kepada Denathan, padahal Denathan sudah menolaknya berkali-kali.


"Aku tidak bisa balas dendam dengan orang yang sudah membuatku depresi," kata hantu siswi itu dengan suara halus dan pelan, "Aku sudah menerornya tapi aku belum puas." Lanjutnya.


"Sangat jelas, karena kamu berbeda alam dengan orang itu. Kamu hanya bisa menerornya, tapi tidak akan bisa membunuhnya. Sudah ya, jangan meminta bantuan kepadaku lagi," ujar Denathan lalu melangkah keluar kelas. Dia tidak ingin terus-terusan berbicara dengan hantu siswi itu karena dapat menghabiskan energinya.

__ADS_1


"Denathan lo mau kemana!?" Renita berteriak dari ujung koridor saat melihat Denathan keluar kelas.


Denathan menoleh ke belakang bersamaan dengan Renita yang datang menghampirinya.


"Lo mau kemana?" tanya Renita.


"Ke kantin sebentar. Lo jangan masuk kelas dulu. Kelasnya sepi banget," ujar Denathan sambil menunjuk ke kelas.


"Sepi? Itu ada orang, kok." Renita melihat di bangku tempatnya Denathan ada seorang siswi, "Tapi kok duduknya di bangku lo ya? Anak baru ya?" Padahal aslinya itu adalah hantu siswi tadi yang sengaja menampakkan diri di depan Renita.


Denathan terkejut dengan ucapan Renita. Hantu itu benar-benar membuatnya jengkel. Bisa-bisanya menampakkan diri di depan temannya yang tidak tahu apa-apa.


"Eh anjir! Bukan. Dia bukan--."


"Halo, kamu anak baru ya?" Renita masuk ke kelas dan menyapa siswi itu.


"Renita!!" Denathan langsung menarik Renita keluar kelas sebelum sampai mendekati hantu itu.


Renita jengkel. "Kenapa sih, Nath? Itu ada anak baru. Gue, kan, mau kenalan."


"Goblok anjir! Itu bukan anak baru!" Kemudian Denathan berbisik di telinga Renita, "Itu sebenarnya hantu siswi yang menghuni kelas kita. Masak lo nggak tau rumornya?"


Renita terbelalak sangat terkejut. "Anjir! Seriusan lo? Aduh bisa-bisanya gue tadi nyapa dia. Bego banget gue anjir!" Dia menepuk jidatnya berkali-kali. Kemudian Renita bertanya, "Hantu itu tadi ngobrol sama lo?"


Renita sudah sangat mengetahui kalau Denathan mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh banyak orang. Sangat jarang orang yang mempunyai kemampuan supernatural seperti Denathan.


"Iya anjir. Makannya lo jangan masuk kelas dulu. Ikut gue ke kantin, jam segini Mbak Yuni udah buka."


Kemudian Renita dan Denathan setengah berlari melewati koridor dan menuju ke kantin.


"Ngomong-ngomong Tia, Thalita sama Denok belum berangkat?" Denathan bertanya ketika sudah mendekati kantin.


"Belum. Gue tadi lihat di parkiran, belum ada mereka," jawab Renita.


****


Thalita sudah sampai di tempat parkir. Setelah itu dia memarkirkan motor maticnya dengan rapi dan melepas helmnya. Thalita akan meninggalkan area parkir, tapi tertunda saat dia mendengar suara seorang cowok memangilnya dari kejauhan.


"THALITA!" Ternyata cowok itu adalah Juna.


Thalita menoleh ke belakang. Tepat dari arah jalan masuk ke tempat parkir cowok itu berlari ke arahnya.


"Iya, kenapa? Lo Juna ya?" Thalita bertanya saat Juna sudah ada di hadapannya. Thalita sudah mengetahui nama cowok itu, karena dulu saat kelas 10 Juna pernah satu kelas dengannya sebelum mereka dipindah ke kelas jurusan yang berbeda. Juna kelas IPS. Thalita kelas IPA.


"Iya, gue Juna. Lo dulu pernah satu kelas sama gue, kan? Di kelas 10 E kalau nggak salah," ujar Juna mengingat.


"Iya, bener banget. Gue juga masih ingat teman kita namanya Bombom, Adel, Ginuk, sama siapa itu, ah iya, Natan," jawab Thalita.


Mereka terus mengobrol dan berjalan beriringan menuju ke koridor. Sampai tidak sadar mereka berdua diperhatikan oleh Denok dan Tia dari tempat parkir.

__ADS_1


"Tumben Thalita akrab sama cowok," kata Tia.


Denok menyipitkan matanya lalu mengamati cowok yang bersebelahan dengan Thalita di sana. "Itu kayaknya Juna deh."


Tia bertanya, "Juna siapa?"


"Juna anak kelas IPS, satu kelas sama Natan," jawab Denok.


Tia mengangguk-angguk paham, "Ooh itu. Gue juga sempat tahu namanya, tapi belum kenalan sama dia."


Sementara Thalita dan Juna terus mengobrol sampai mereka berhenti dan di persimpangan koridor karena kelas mereka berbeda arah.


"Oh ya, lo nanti malam ikut gue," kata Juna sambil tersenyum.


"Kemana?" Thalita bertanya.


"Pokoknya lo ikut gue aja. Enggak bakal lama, kok."


"Tapi gue nggak tau alamat rumah lo."


"Udah, biar gue yang jemput lo. Gue minta nomer hapenya ya."


"Iya boleh." Kemudian Thalita menyebutkan nomer hapenya tanpa pikir panjang.


****


"Denathan!" Natan berlari mengejar Denathan yang berada di depannya. Cewek itu berlari karena tadi Natan mencoba untuk menciumnya di toilet perempuan. Sungguh, Denathan tidak akan membiarkan Natan menciumnya. Natan sahabatnya, seharusnya cowok itu bertindak sewajarnya saja.


Saat berlari, Denathan tidak melihat ke depan, yang terjadi selanjutnya cewek itu menabrak Robert yang ada di depannya. Membuat Denathan jatuh terduduk di lantai. Sontak hal itu diketahui oleh banyak siswa, mereka semua mengalihkan perhatian ke arah Denathan dan Robert.


"Anjing!" umpat Denathan lalu segera berdiri. "Anjir! Kalau ada orang lari tuh minggir, bukannya di tengah jalan!"


Robert menaikkan satu alisnya. "Kok lo nyalahin gue? Bukannya lo yang lari tapi nggak lihat-lihat jalan? Masih sempat-sempatnya nyalahin gue."


Denathan menggertakkan giginya geram. Jelas-jelas Robert yang tidak melihatnya sedang berlari. Tadi cowok itu fokus dengan hapenya sehingga tidak mengetahui ada Denathan sedang berlari.


"Den, maafin gue." Natan memegang lengan kanan Denathan.


Denathan memalingkan wajah ke belakang lalu berbicara, "Enggak!"


Kemudian cewek itu berlari dan sedikit menyenggol lengan Robert. Natan hanya menatap wajah Robert sekilas lalu mengejar Denathan. Robert pun dibuat bingung dengan sikap dua orang tadi.


"Mereka kenapa sih? Aneh," monolognya. Kemudian Robert melanjutkan langkahnya.


Ketika Natan hampir sampai mendekati Denathan, cowok itu segera memegang lengan Denathan dan membuat Denathan terpaksa berhenti berlari. Lalu Denathan menoleh ke belakang.


"Lo apa-apaan sih Nat? Gue nggak mau sahabatan sama lo lagi kalau sikap lo kayak gitu sama gue!" ujar Denathan. Dia benci gara-gara sikap Natan saat di toilet perempuan tadi. Cowok itu ingin mencium bibirnya tapi gagal.


Natan tidak memedulikan ucapan Denathan, lalu dengan sangat kuat menarik Denathan ke pelukannya.

__ADS_1


"Maaf, tapi gue bener-bener cinta sama lo."


__ADS_2