Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
KEPIKIRAN


__ADS_3

Thalita menghentikan langkahnya di koridor saat melihat Tasya berlari sambil sesekali menyeka air matanya. Tentu menimbulkan pertanyaan di benak Thalita. Kenapa adiknya Natan itu bisa menangis? Apa sebabnya?


Tasya berhenti berlari ketika sampai di depan Thalita. Lalu gadis itu mendongak menatap Thalita dengan air matanya yang masih sedikit menetes.


"Kamu kenapa nangis, Dek? Ada apa?" Thalita bertanya dengan nada lembut.


Tasya menjawab dengan tampang polos, "Kak Natan, Kak. Dia bilang Kak Dena cewek nggak bener. Kan, aku nggak terima Kak Dena dibilang begitu."


"Denathan?" beo Thalita karena masih belum mengerti apa maksud perkataan Tasya.


"Iya, Kak. Masak Kak Natan bilang sama aku kalau Kak Dena cewek nggak bener. Kak Dena, kan, cewek baik-baik, Kak," ujar Tasya.


Thalita tersenyum mencoba memaklumi sifat Tasya yang belum dewasa. Dia berpikir positif, "Mungkin Kak Natan sedang marah. Mungkin juga dia nggak sadar ngucapin itu, Dek. Kamu jangan mikir yang macam-macam ya. Kak Denathan emang baik, kok."


Tasya membantah ucapan Thalita, "Kak Natan sengaja bilang gitu, Kak! Aku nggak bohong!"


Saat Thalita akan menjawab perkataan Tasya, tiba-tiba terdengar suara Natan dari kejauhan sedang memanggil Tasya.


"Tasya!!" teriak Natan sambil berlari mendekati Tasya dan Thalita.


Tasya panik, "Kak. Aku ke kelas ya! Aku nggak mau ketemu Kak Natan. Dia jahat!" Kemudian Tasya cepat-cepat berlari menjauhi Thalita sebelum Natan sampai di dekatnya.


Natan kembali berteriak saat mengetahui adiknya menjauh, "Tasya! Jangan lari kamu!"


Thalita pun bingung dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sebenarnya apa yang terjadi dengan adik-kakak itu sampai Tasya ingin menghindar dari Natan.


"Natan! Natan!" Thalita memanggil Natan.


Natan berhenti berlari di depan Thalita. "Kenapa?"


"Sebenarnya lo sama Tasya kenapa sih? Kok Tasya jauhin lo? Lo habis berantem ya sama adik lo itu?" Thalita langsung bertanya ke intinya.


"Enggak, gue enggak berantem sama Tasya. Enggak tahu kenapa, tiba-tiba dia nangis terus lari jauhin gue," jelas Natan.


"Katanya lo ngejek Denathan cewek nggak bener?" Thalita memastikan, "Tasya tadi ngomong sendiri sama gue." Lanjutnya.


"Sejak kapan--." Natan mengelak tapi sesaat kemudian dia teringat dengan ucapannya itu. "Iya, gue enggak sengaja bilang gitu. Terus Tasya nganggep gue beneran ngejelekin Denathan. Padahal enggak. Mungkin Tasya marah gara-gara gue nggak sengaja bilang gitu."


"Ooh begitu. Emang lo habis berantem sama Denathan?" Thalita bertanya lagi.


"Enggak kok." Natan menggeleng lalu kembali berkata, "Udah ya, gue mau ke kelas. Bentar lagi masuk jam pelajaran." Kemudian Natan berjalan santai menuju ke kelasnya.


Thalita memandangi punggung Natan dengan ekspresi bingung. Masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara Tasya, Natan, dan Denathan.


"Sebenarnya ada apa sih? Kok aneh gini," monolog Tasya. "Ah udah deh, mending gue ke kelas daripada mikirin yang enggak jelas." Lanjutnya seraya menepis angin seolah mengusir pemikirannya itu. Lalu Tasya melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya.


Saat hampir sampai di depan kelas, Thalita menghentikan langkahnya saat mengetahui Denathan sedang berbicara dengan tiga orang cewek yang dikenal dengan nama trio wek wek. Tiga orang cewek nakal yang sering mem-bully adik kelas dan siswi yang dianggap lemah.


"Oh jadi ini cewek yang namanya Denathan. Cewek yang sok-sokan punya kemampuan kayak anak indigo. Halah palingan juga ngada-ngada," ujar si ketua dari trio wek wek itu bernama Rieke.

__ADS_1


Denathan membalas dengan suara santai dan tenang. Dia tidak perlu marah-marah untuk meneladani tiga cewek itu yang tidak selevel dengannya. "Terserah lo mau percaya atau enggak, yang jelas gue nggak nyuruh lo percaya."


"Iya, iya yang punya kemampuan SUPERNATURAL!" Rieke sengaja menekan kata 'supernatural' bermaksud mengejek dan menatap Denathan dengan sinis.


"Come on girls. Di sini bukan level kita!" ucap Rieke sambil menggerakkan tangan, mengisyaratkan antek-anteknya untuk segera pergi dari hadapan Denathan. Karena Rieke tahu, Denathan bukan cewek yang mudah menangis apalagi cewek lemah yang mudah untuk dibully. Sehingga Rieke memilih pergi daripada nanti dia terkena masalah.


"Huu... dasar trio bebek wek wek, CUPU!!" Denathan berteriak mengejek trio wek wek yang sudah berjalan menjauhinya.


Thalita setengah berlari mendekati Denathan, "Kenapa lagi sih?"


Denathan menjawab sambil melangkah masuk kelas, "Biasa. Tiga bebek tadi mau cari masalah, tapi mereka nggak berani sama gue. Mereka iri sama gue kali."


Thalita ingin tertawa mendengar ucapan Denathan tapi dia tahan. "Mereka, kan, sukanya bully adek kelas sama cewek yang penampilannya cupu."


"Iya lo bener. Kemarin gue nemuin mereka bully cewek pakek kacamata. Eh nggak tahunya cewek yang pakek kacamata justru lebih jago dari mereka. Gue yang awalnya mau bantuin, akhirnya nggak jadi pas tahu cewek kacamata itu jago bela diri." Denathan menjelaskan sesuai apa yang dilihatnya kemarin.


"Serius lo? Berarti bener dong, enggak semua cewek kacamata itu cewek cupu. Mereka sebenarnya punya keahlian yang ditutupi," sahut Thalita.


"Iya bener," jawab Denathan.


Kedua cewek itu meletakkan tas di bangkunya masing-masing. Renita, Tia, dan Denok baru memasuki kelas.


"Halo bestie bestie ku!!" Denok berbicara heboh ketika mengetahui Denathan dan Thalita.


"Halo juga bestie!!" balas Thalita. Sedangkan Denathan hanya diam.


Denathan menyahut dengan jawaban, "Tadi gue ada urusan sama anak kelas sebelah. Ya udah, gue terpaksa berangkat pagi."


"Emang urusan apa?" tanya Renita yang kini sudah duduk di belakang bangku Denathan.


"Lo nggak perlu tahu. Ini rahasia." Denathan kemudian menatap ke depan bertepatan dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia memasuki kelas.


"Selamat pagi!"


"Selamat pagi, Bu!"


"Oke, untuk hari ini mari kita mempelajari bab tentang menulis novel. Di antara kalian ada yang tahu apa itu novel?"


Thalita langsung menjawab sebelum didahului siswa lain. "Saya Bu! Novel adalah karangan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita  kehidupan dengan menonjolkan watak dan sifat setiap tokohnya."


"Nah benar sekali Thalita. Jawaban yang tepat, good!" Guru wanita itu memuji Thalita dengan mengacungkan satu ibu jari.


"Terimakasih," ucap Thalita merasa senang telah dipuji.


"Kemudian, silahkan kalian buka halaman lima puluh empat. Nah di situ ada contoh novel karya Tere Liye. Sekarang kalian baca dulu, setelah itu nanti kita akan membahas soal yang ada di halaman lima puluh enam. Mengerti semua?"


Sebagian siswa di kelas itu menjawab, "Mengerti, Bu!"


****

__ADS_1


Sementara itu di kelas 11 IPS 2, terjadi kebisingan di sana-sini karena tidak ada guru yang mengajar di kelas itu. Jam kosong yang menyebabkan mereka bebas melakukan apa pun tanpa ada guru yang menghentikan mereka. Ketua kelas juga sudah memperingatkan semua teman-temannya agar tidak ramai, tapi nyatanya teman-temannya itu malah semakin ramai. Hal itu membuat si ketua kelas bernama Juna pasrah dan membiarkan teman-temannya bertingkah semaunya. Tetapi berbeda dengan Natan yang memilih diam daripada ikut ramai. Dua sahabatnya--Erik dan Aditya ikut bergabung dengan yang lain.


Mengetahui Natan yang kini sedang duduk sendiri, Juna berinsiatif mengajak Natan mengobrol. Natan tidak seperti teman-temannya yang lain. Natan tidak suka ramai, selalu disiplin, dan patuh pada aturan sekolah.


"Woi, Bro!" Juna menepuk pundak Natan.


Natan tidak terkejut, dia menoleh ke samping. Juna sudah duduk di sebelahnya.


"Kenapa?" Natan bertanya.


"Lo kenapa, gue lihat dari tadi diam mulu. Biasanya lo ngobrol sama Erik sama Aditya," ucap Juna menyadari ada yang berbeda dari Natan. Tidak seperti biasanya.


"Gue ngerasa bersalah sama Denathan," jawab Natan. Dia memikirkan ucapannya yang tadi. Saat dia tidak sengaja menyebut, 'Denathan cewek nggak bener'. Hal itu yang membuat Natan kepikiran. Meski Denathan tidak mengetahuinya tapi entah kenapa Natan merasa sangat bersalah. Mungkin karena persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak kecil yang membuat Natan tidak ingin menjelek-jelekkan Denathan.


"Denathan anak IPA itu? Yang biasanya sering nemuin lo?" Juna bertanya untuk memastikan.


"Iya itu."


"Emang lo sama dia kenapa?"


"Gue tadi nggak sengaja bilang, dia cewek nggak bener. Sampai sekarang gue kepikiran. Gue belum sempet minta maaf," ucap Natan menjelaskan.


"Oh gitu. Gue saranin lo nggak perlu terlalu mikirin itu. Nanti, kan, lo bisa minta maaf sama Denathan." Juna menepuk-nepuk pundak Natan yang lebih besar daripada pundaknya. Dia akui Natan cowok yang paling gagah di kelasnya tapi juga yang paling kalem dan tidak banyak tingkah.


"Oke. Gue coba nanti. Semoga dia nggak marah," kata Natan lalu tersenyum. Juna juga ikut tersenyum.


"Lo mau ke kantin sama gue? Di kelas rame. Gue nggak terlalu suka ramai-ramai kayak gini," ujar Juna lalu dia berdiri.


Natan mengangguk, "Iya, gue ikut. Kebetulan gue juga mau beli minum. Haus gue."


Kemudian Juna dan Natan melangkah keluar kelas. Hal itu diketahui oleh Erik dan Aditya.


"Bos Natan sama Juna kemana tuh? Ikuti mereka yok!" Aditya langsung turun dari meja temannya yang dia duduki.


Erik yang duduk di kursi sebelah Aditya langsung menyahut, "Ayo!"


Kemudian Aditya dan Erik tanpa sadar berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke luar kelas. Saat sadar mereka saling bergandengan, mereka terkejut.


"Woi! Lo kenapa gandeng gue? Kayak pacaran aja!" Erik langsung melepas tangan Aditya yang memegang pergelangan tangan kanannya.


Aditya tertawa, "Hahaha. Kita pacaran juga enggak apa-apa. Hahaha."


Erik mengejek, "HOMO LO!"


Aditya malah bertindak memeluk Erik dari belakang. "Mas Erik, gendong Adek, dong."


"Anjir!! Jijik gue!!" Erik berteriak lalu setengah berlari meninggalkan Aditya yang entah kesambet apa sampai bertingkah seperti itu.


Aditya tertawa terpingkal-pingkal di depan kelas. "HAHAHAHA. Lucu banget loh."

__ADS_1


__ADS_2