Denathan Cewek Barbar (Lengkap)

Denathan Cewek Barbar (Lengkap)
UNIT KESEHATAN SISWA


__ADS_3

Dua orang siswi anggota PMR datang ke ruangan UKS tempat Denathan diobati. Denathan dan Rieke ditempatkan di ruangan UKS yang terpisah, karena atas perintah Natan. Cowok itu tidak mau sahabatnya ditempatkan satu kamar dengan Rieke, cewek yang Natan benci.


Dua siswi PMR itu mengeluarkan obat merah serta plester dari kotak P3K. Lalu salah satu dari mereka memberi obat merah pada luka yang terdapat pada kaki dan tangan Denathan. Cewek itu belum sadarkan diri. Siswi anggota PMR itu mengobati luka Denathan dengan hati-hati.


Natan memegangi tangan kanan Denathan sambil menatap wajah cewek itu, berharap Denathan cepat siuman. Dia tidak tega melihat kondisi sahabatnya yang belum siuman.


"Denathan, cepat sadar," ucap Natan dengan suara pelan.


"Kak, jangan khawatir. Kak Denathan pasti siuman," ucap siswi PMR itu--adik kelasnya--yang mengobati luka Denathan.


Natan mengangguk merespons ucapan siswi itu. Lalu dia bertanya, "Lo tau, kejadiannya gimana?"


Siswi itu langsung paham apa yang ditanyakan Natan. "Aku enggak tahu pasti, Kak. Kata temanku tadi, Kak Rieke yang cari gara-gara duluan. Terus Kak Denathan emosi. Ya udah, akhirnya mereka bertengkar. Terus kata temanku yang lain, Kak Rieke pingsan duluan. Nah, Kak Sarah temannya Kak Rieke, nggak terima, terus Kak Sarah bertengkar sama Kak Denathan."


Natan mengangguk-angguk memahami ucapan adik kelasnya itu. "Makasih udah dikasih tahu."


"Iya, Kak. Sama-sama," jawab siswi itu sambil meletakkan plester di pipi kanan Denathan yang terluka dan sedikit mengeluarkan darah. "Kak, Kak Denathan udah aku obati. Nanti Kak Denathan disuruh minum obat ya, Kak. Biar badannya enggak panas dan lukanya cepat kering." Lanjutnya setelah mengobati Denathan.


"Sudah? Makasih ya," jawab Natan sedikit tersenyum menatap adik kelasnya.


"Iya, Kak, sama-sama. Ya sudah, Kak. Aku mau ke ruangan sebelah, mau ngobatin Kak Rieke." Siswi itu kemudian berjalan ke ruangan sebelah bersama satu temannya.


Natan tersenyum tipis menatap wajah Denathan yang tampak damai, meski sebenarnya cewek itu sedang pingsan. Ada rasa bersalah yang timbul di hati Natan. Dia merasa tidak bisa menjadi sahabat yang baik dan sigap melindungi Denathan. Natan mulai sekarang berjanji kepada dirinya sendiri untuk selalu siap menjaga Denathan, ke mana pun Denathan pergi. Denathan adalah sahabatnya sejak kecil yang sangat dia sayangi.


Natan mengelus-elus tangan kanan Denathan sambil berkata dengan nada pelan. "Denathan, maaf gue nggak bisa jadi sahabat yang siap jaga lo, sampai lo kayak gini. Seharusnya gue selalu ada di sisi lo, nggak peduli lo di sekolah atau di mana pun. Gue juga enggak nyangka lo bakal kayak gini. Gue yang awalnya berpikir kalau lo cewek kuat, sekarang gue tahu, lo juga enggak selamanya kuat, lo juga butuh seseorang yang siap jaga lo kalau lo kenapa-napa. Maaf, kalau gue selama ini kurang perhatian sama lo."


Kemudian Natan mencium punggung tangan kanan Denathan dan tersenyum. Entah kenapa setelah itu dia merasa lega. Tidak lama kemudian, Denathan sedikit menggerakkan tangannya, lalu matanya perlahan-lahan terbuka.


Denathan melirik ke samping dan sedikit terkejut mengetahui keberadaan Natan yang duduk di sampingnya. Cowok itu sedang menunduk. "Nat, kenapa?" tanyanya.


Seketika Natan mendongak dan menatap Denathan. "Syukurlah lo siuman," ucapnya bahagia. Hatinya merasa lega.


"Lo kenapa di sini?" Suara Denathan masih terdengar lemah.


"Gue jaga lo, Den, gue enggak mau lo kenapa-kenapa lagi," ujar Natan jujur. Lalu dia memegang tangan kanan Denathan, "Tadi lo pingsan." Lanjutnya.


Denathan seketika mengingat pertengkarannya dengan Rieke dan Sarah. Dia juga mengingat detik-detik terakhir Sarah menendangnya sebelum dia pingsan. Mengingat kegigihan Sarah untuk mengalahkannya membuat Denathan sedikit takut.


Lalu Denathan menyadari, "Gue salah, Nat. Gue seharusnya enggak bertengkar sama Rieke sama Sarah."


Natan tersenyum lalu menasihati Denathan. "Lo jangan nyalahin diri sendiri, Den. Di sini enggak ada yang benar. Lo, Rieke, atau pun Sarah, semuanya sama-sama salah. Kalau lo nyalahin diri sendiri, lo sama aja membenarkan Rieke sama Sarah. Cukup, lo jangan bertengkar sama siapa-siapa lagi, gue enggak tega lihat lo kayak gini."


Denathan menjawab, "Gue tadi sebenarnya nggak ada niatan mau bertengkar sama Rieke, Nat. Tapi Rieke--."


Natan memotong ucapan Denathan, "Iya gue tahu, Rieke yang cari gara-gara. Lo nggak usah bahas itu lagi. Yang terpenting sekarang lo selamat."


Denathan terdiam mendengar ucapan Natan. Lalu gadis itu memegang kepalanya yang mendadak pusing karena efek benturan keras di bagian belakang kepalanya.

__ADS_1


"Gue pusing, Nat," keluh Denathan.


"Iya, sebentar. Gue ambilin obat dulu." Natan dengan cekatan mengambilkan obat untuk Denathan yang sudah disediakan anggota PMR sebelumnya.


Lalu Natan menyuguhkan sebutir obat dan segelas air minum untuk Denathan, "Ini obatnya lo minum. Biar lo cepat sembuh."


Denathan sedikit tersenyum lalu merubah posisinya menjadi duduk. Lalu dia menerima segelas air dan sebutir obat dari Natan. Kemudian Denathan meminum obat itu dan menghabiskan segelas airnya.


"Sudah?" Natan bertanya.


"Udah, makasih," kata Denathan sambil memberikan gelas kosong itu kepada Natan.


Natan menerimanya dan meletakkan gelas itu ke meja yang terdapat di samping ranjang. Denathan kemudian kembali merebahkan tubuhnya.


"Menurut lo, gue harus minta maaf sama Rieke sama Sarah, enggak?" Denathan meminta pendapat pada Natan.


Natan menarik kursi lalu duduk di samping ranjang tempat Denathan berbaring. Dia menjawab, "Itu kembali ke diri masing-masing. Gue nggak bisa nentuin kemauan lo kayak gimana. Kalau memang lo mau minta maaf sama Rieke sama Sarah, ya udah, lo minta maaf sama mereka. Tapi kalau lo belum ikhlas maafin mereka, itu terserah lo, yang penting lo bakal maafin mereka."


Denathan mengangguk. "Ya udah, besok atau kapan hari, gue bakal coba minta maaf sama Rieke dan Sarah. Gue enggak bisa terus-terusan ngerasa bersalah."


"Iya." Natan mengangguk singkat.


Tidak lama setelah itu, seorang siswi anggota PMR datang memasuki ruangan UKS dan menemui Denathan serta Natan.


"Bagaimana. Sudah siuman? Syukurlah," ucap siswi itu--anggota PMR, kakak kelas--menanyai Denathan. Dia lega saat mengetahui Denathan sudah sadar.


Denathan sedikit tersenyum menatap wajah kakak kelasnya itu yang tampak berkelas sekaligus cantik. Dari gaya bicaranya saja sudah membuktikan.


"Oke, gue di sini mau ngasih tahu, sesuai anjuran Bu Dayu, Denathan disarankan pulang ke rumah. Karena enggak mungkin, Denathan mengikuti pelajaran dengan keadaan seperti itu. Natan boleh mengurus surat izin untuk Denathan ke ruang BK ya. Bu Dayu menunggu di sana. Oke?" ucap siswi itu dengan nada bicara yang ekspresif.


"Oke, Kak." Natan menyahut lalu cowok itu beranjak keluar ruangan UKS, menuju ke ruang BK untuk mengurus surat izin.


"Denathan udah minum obat, kan?" Siswi itu bertanya.


Denathan menjawab sambil sedikit tersenyum, "Udah, kok, Kak."


"Iya udah, Kakak doakan semoga cepat sembuh ya." Siswi itu tersenyum. Kemudian dia pergi ke ruangan sebelah untuk menemui Rieke.


Denathan menjawab, "Makasih, Kak."


Natan masuk ke ruang BK dan menemui Bu Dayu sedang menulis sesuatu di buku kerjanya.


"Permisi, Bu," ucap Natan di ambang pintu.


Bu Dayu melihat ke arah pintu dan mempersilakan Natan masuk. "Oh ya, Natan boleh masuk."


Natan kemudian masuk ke ruangan lalu duduk di kursi, berhadapan dengan Bu Dayu.

__ADS_1


"Saya ke sini mau meminta surat izin untuk Denathan. Saya yang mewakilkan," ucap Natan langsung ke intinya.


Bu Dayu sedikit tertawa, "Hahah, iya saya sudah tahu, kok. Kan, nggak mungkin Denathan sendiri yang ke sini." Natan hanya tersenyum menanggapi ucapan Bu Dayu. Lalu Bu Dayu berkata lagi, "Enggak-enggak, saya bercanda, kok. Sebentar saya ambilkan surat izinnya."


Kemudian Bu Dayu beranjak ke meja sebelah untuk mengambil buku kecil yang berisikan surat izin. Lalu dia kembali ke meja sebelumnya dan duduk di hadapan Natan.


Bu Dayu merobek salah satu kertas itu yang sudah tertulis surat izin. Kemudian dia menanyai Natan.


"Denathan nggak ada nama panjangnya ya?" tanyanya.


Natan menjawab sambil menggeleng, "Enggak ada, Bu. Namanya hanya Denathan."


Bu Dayu menimpali, "Namanya unik, jarang-jarang ada anak yang namanya hanya satu kalimat."


Natan tersenyum, "Iya Bu."


"Denathan kelas berapa?"


"Kelas sebelas IPA 2, Bu."


"Baik. Alasannya karena sakit."


Setelah menulis nama, kelas serta alasan Denathan diizinkan pulang. Bu Dayu menanda tangani surat izin itu lalu memberikannya kepada Natan.


"Kamu berikan surat izin ini ke wali kelasnya Denathan ya. Biar nanti ditanda tangani, setelah itu kamu boleh mengantarkan Denathan pulang. Tapi jangan lupa kamu kembali ke sekolah ya. Ibu kasih kamu waktu sampai jam sembilan, kamu harus sudah ada di sekolah. Mengerti ya." Bu Dayu berkata sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan pagi.


Natan mengangguk mantap, "Iya, saya mengerti kok, Bu."


"Ya sudah, kamu sekarang boleh keluar."


"Baik, Bu. Terimakasih."


"Iya, sama-sama."


Kemudian Natan beranjak keluar dari ruang BK. Bu Dayu mengamati punggung Natan dengan tersenyum lalu melanjutkan kegiatannya.


Setelah meminta tanda tangan dan memberikan surat izin kepada wali kelas Denathan di ruang guru, Natan kembali ke ruang UKS, menemui Denathan yang saat ini sedang duduk di ranjang. Gadis itu meminum segelas air yang tadi diberikan oleh salah satu anggota PMR.


"Den, ayo pulang. Gue udah minta surat izin ke ruang BK. Sekarang lo boleh pulang. Gue yang nganterin lo pulang," ucap Natan kemudian duduk di samping Denathan.


Denathan menoleh ke samping lalu berkata, "Gue nggak mau pulang, takut Mama atau Ayah gue bakal marah. Kok pulang-pulang anaknya sakit."


Natan memegang kedua pundak Denathan dari samping. "Orang tua lo enggak bakal marah. Nanti biar gue yang jelasin ke mereka."


"Gue takut lo kena marah. Gue takut orang tua gue berpikir kalau lo yang nyakitin gue, padahal enggak." Denathan menjadi khawatir pada Natan. Cowok itu sudah terlalu baik kepadanya.


"Enggak apa-apa, orang tua lo nggak bakal marah sama gue. Nanti gue yang jelasin ke mereka kalau lo sakit karena kecelakaan. Gue nggak bakal ngasih tau, kalau sebenarnya lo bertengkar di sekolah," bujuk Natan.

__ADS_1


"Iya udah, gue mau pulang. Badan gue sakit semua," ucap Denathan saat merasakan kaki, tangan, dan pipinya sakit.


__ADS_2