
"Gue bukan teman lo ya. Gue sama lo itu cuman mantan musuh," ungkap Denathan.
Robert tersinggung dengan ucapan Denathan, "Jadi lo masih dendam sama gue? Lo nggak pernah mau maafin gue?"
"Gue nggak dendam sama lo, tapi ada satu hal yang bikin gue nggak bisa maafin lo. Karena lo pernah coba-coba santet gue! Dan hampir bikin nyawa gue melayang," ungkap Denathan dengan suara pelan tapi penuh tekanan. Nada bicaranya seperti mengintimidasi Robert.
Robert membalas ucapan Denathan, "Sampai sekarang lo masih nggak bisa maafin gue? Sedangkan kejadian itu udah lama banget, udah bertahun-tahun juga. Kenapa lo masih ingat kejadian itu? Waktu itu gue juga pernah minta maaf sama lo, tapi--."
Denathan segera memotong ucapan Robert dengan membentak. "Karena kejadian itu yang paling membekas di otak gue! Gue hampir mati gara-gara lo!"
Suara Denathan yang keras mampu mengalihkan perhatian sebagian pengunjung di dalam restoran. Membuat Aditya panik lalu segera menenangkan istrinya. Jikalau tidak ditenangkan, takut-takut Denathan akan marah besar hingga menimbulkan kegaduhan.
"Tenang, kamu harus tenang, jangan marah. Ingat, ini tempat umum." Aditya sedikit memarahi istrinya sambil memegangi kedua pundak wanita itu.
Lalu Denathan mengembuskan napas kasar dengan perasaan jengkel. Dia hampir saja ingin melayangkan pukulan ke wajah Robert kalau seandainya Aditya tidak cepat-cepat menahannya. Ternyata sikap Denathan yang barbar masih melekat sampai sekarang. Terkadang sikap seseorang yang sering dilakukan saat masih remaja, secara tidak sadar akan terbawa sampai dewasa.
Aditya menatap wajah Robert dengan mata tajam, lalu pria itu menyuruh Robert agar segera pergi sebelum kejadian yang tidak diinginkan terjadi di tempat ini. "Mending lo sekarang pergi, kalau kedatangan lo ke sini cuman bikin masalah!"
Robert menggertakkan giginya sambil mengepalkan tangan kanannya di atas meja. Ia ingin marah tapi terpaksa ditahan karena mengingat ini adalah tempat umum. Tidak baik juga membuat keributan di depan orang banyak. Apalagi tempat itu adalah rumah makan yang seharusnya bukan tempat untuk saling adu jotos.
Laki-laki itu memilih mengalah, lalu segera pergi meninggalkan Aditya dan Denathan. Banyak pasang mata yang memperhatikan Robert sampai laki-laki itu keluar restoran. Pelayan restoran yang akan melayani Robert pun berbalik arah untuk melayani pembeli lain.
"Berengsek!" Robert memukulkan kepalan tangan kanannya pada setir mobil. Lalu pria itu mengembuskan napas seraya mengusap wajahnya. Dia mengemudikan mobilnya dengan perasaan tidak nyaman dan tidak tenang. Ada rasa bersalah yang masih membekas di hatinya karena Denathan belum bisa memaafkannya.
Sementara itu di dalam restoran keadaan kembali tenang seperti semula setelah kepergian Robert. Orang-orang kembali melakukan aktivitas makannya masing-masing. Sedangkan Denathan dan Aditya saling diam, tidak ada yang mengobrol. Tadi Aditya sudah berkali-kali menasihati Denathan agar istrinya itu tidak semakin berlarut-larut dalam kemarahan. Sekarang Denathan sudah lebih tenang daripada sebelumnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Denathan dan Aditya sudah selesai makan. Denathan mengambil tisu lalu mengusap mulutnya yang berminyak sehabis makan. Aditya meminum es mangga susunya sampai habis, setelah itu ia mengucapkan rasa syukur karena kenyang.
"Sudah selesai?" Aditya bertanya.
"Sudah, Mas. Ayo kita pulang," ajak Denathan yang bersiap-siap akan berdiri.
"Ya sudah, kamu keluar dulu. Aku bayar dulu di kasir, ya?" Aditya ikut berdiri.
Denathan hanya mengangguk. Kemudian ia melangkah keluar dari rumah makan tersebut. Sementara Aditya membayar pesanannya di kasir yang letaknya di dekat pintu masuk, agak menjorok ke dalam. Setelah itu Aditya keluar restoran, menuju ke mobilnya. Ternyata di dalam mobil istrinya sudah menunggunya.
"Ayo, Mas. Aku ngantuk banget, pengen cepat-cepat tidur." Denathan menutupi mulutnya yang menguap efek mengantuk.
"Iya, sabar." Aditya berjalan menuju ke pintu sebelah, lalu ia masuk dan duduk di kursi kemudi.
Setelah itu Aditya menyalakan mesin mobil lalu menjalankan mobil itu keluar dari tempat parkir dengan perlahan-lahan, karena area parkir dipenuhi oleh kendaraan. Hanya sedikit menyisakan jalan yang hanya dapat dilewati satu mobil. Cukup sempit. Bahkan mobil Aditya hampir menyerempet badan mobil yang terparkir di sebelah kiri.
Aditya melajukan mobilnya menuju ke jalan raya, melewati jalan raya dengan kecepatan cukup tinggi. Siang ini jalan raya tidak terlalu padat kendaraan. Mungkin orang-orang lebih banyak beraktivitas di dalam rumah karena cuaca yang panas.
Aditya bertanya, "Nggak mau jalan-jalan pagi? Pengen pulang aja?"
Denathan menggeleng lalu menjawab, "Enggak, Mas. Aku ngantuk banget."
"Ya sudah, kita pulang." Aditya tersenyum. Dia menambah kecepatan mobilnya, menembus cuaca terik sinar matahari.
Di tengah-tengah perjalanan menuju ke Jakarta Selatan untuk pulang ke rumah, saat melewati jalan kecil yang sepi kendaraan, sialnya Aditya dan Denathan dihadang oleh dua orang yang memakai baju serba hitam plus topeng hitam di wajahnya. Membuat Aditya terkejut, refleks mengerem mobilnya secara mendadak.
__ADS_1
Cciiittt....
"Huh, huh, huh." Suara napas Aditya karena terkejut, hampir saja mobilnya menabrak dua orang berpakaian serba hitam di depan.
"Mas, ayo lanjut aja, itu begal," ucap Denathan berbisik.
"Iya, aku tahu. Aku tadi sempat terkejut tiba-tiba ada orang di depan," jelas Aditya yang juga berbisik.
Aditya akan menjalankan mobilnya kembali, tetapi sangat sial, salah satu begal itu menembakkan peluru ke arah ban mobil bagian depan. Suara tembakan itu mengangetkan Aditya dan Denathan.
"Anjing!" umpat Denathan tanpa sadar.
Karena ban mobil yang meletus, Aditya menjadi kesulitan akan melajukan mobilnya. Dia sekarang tidak dapat berbuat sesuatu karena terlalu panik. Dengan jiwa barbar yang masih melekat di dalam dirinya, Denathan langsung bertindak keluar mobil dan mengumpat-umpat di depan dua begal tersebut.
"Anjing, berengsek, keparat! Berani-beraninya ya kalian menembakkan peluru ke mobil saya!!" ucap Denathan dengan nada tinggi yang keras.
Melihat istrinya, Aditya segera keluar dari mobil. Dia harus melindungi istrinya apa pun yang terjadi. "Denathan, jangan gegabah," peringat Aditya.
"Mas, aku nggak terima ban mobil kita meletus gara-gara dua orang keparat itu!" jawab Denathan sembari menatap dua begal di depannya dengan tatapan tajam.
Tanpa apa-apa, dua begal tersebut bertindak menyerang Denathan dan Aditya. karena terkejut Aditya dan Denathan hampir terkena pukulan. Mereka menghindari serangan begal itu.
"Berengsek," umpat Denathan. Lalu Denathan berbalik memukul begal di depannya, sialnya begal itu berhasil menghindar. Kemudian Denathan bertindak menendang begal tersebut. Berhasil mengenai lutut si begal, membuatnya hampir jatuh ke tanah.
"Anjing." Begal tersebut mengumpat.
__ADS_1
Sementara Aditya berusaha melindungi mobilnya agar tidak dibawa pergi oleh begal yang saat ini menyerangnya. Begal itu sepertinya hanya ingin mengincar mobilnya, karena sama sekali tidak berfokus memberikan serangan kepada Aditya.
"Lo masih pengen hidup atau mati!" Mendadak si begal mengeluarkan pistolnya dan diarahkan kepada Aditya.